Umroh Sekeluarga Dari Perancis, MasyaAllah Nikmatnya (bagian I)


Perjalanan
Pengalaman perantau
schedule 20 Agustus 2018
Montpellier, Perancis
39568624 434142730325736 2856830795815845888 n

Umroh berdua dengan suami mualaf saja sudah bagaikan mimpi, pada akhirnya rezeki itu malah datang untuk mencukupi kami sekeluarga berempat berangkat ke Tanah Suci

Umroh pernah saya jalani ketika saya masih remaja. Masih ingat bagaimana kala itu suasana di Mekkah begitu berbeda ketika saya kembali dengan keluarga.

Pemicu positif keinginan saya untuk kembali umroh adalah, ketika seorang kawan, mengirimkan whatsaap kepada saya dia berkata "Teh doakan saya ya, saya insyaAllah akan pergi haji tahun ini, ini sedang daftar, doakan lancar ya".

Saya sempat kaget, bagaimana mungkin kok prosesnya secepatnya itu? Daftar pas bulan puasa dan langsung bisa berangkat di tahun yang sama untuk ibadah haji? Dengan sabar jadilah saya mengikuti perjalanan Hajinya. Bahkan ia sempat menuliskan pengalaman hajinya di rubrik surat dunia ini.

Saya yang mengedit tulisan teman saya itu, hati saya serasa diiris. Ada rasa rindu, rasa sakit sekali, ingat Tanah Suci, ingat ketika orang tua yang mengajak kami menjalankan umroh sepulang dari perjalanan liburan ke Amerika. Tapi saya merasa sebaiknya kami bisa memulai dengan umroh dulu, mengajak suami mendatangi rumah Allah.

Bulan Oktober, rasa sakit saya semakin. Dada ini kok rasanya perih sekali ya? Dan yang membuat semakin menjadi adalah ketika suara Azan terdengar terus di telinga. Berapa kali saya sampai bertanya, ke suami, ke teman, "ini sudah azan ya? atau "Eh ada suara azan ya?" "Hp saya bunyi azan ya?". Jawaban mereka selalu seperti orang kebingungan "Dini ini ngomong apa sih?"

Saya pasrah saja, tapi keinginan itu saya sampaikan pada suami. Suami saya seorang mualaf, mantan atheis kepala batu. Alhamdulillah hidayah datang begitu indah padanya. Hingga sayapun luluh..

Kami mulai menghitung tabungan, apalagi baru saja agustus kami pulang ke Indonesia, si bungsu di khitan dan namanya kalau pulkam sudah pasti liburan, dan biaya membengkak. Jadi rasanya kalau, umroh di tahun yang sama, mungkin agak berat. Jadi kami pastikan insyaAllah tahun depan.

Tapi hati ini semakin sakit, saya sampai menangis setiap shalat. Suami selalu menenangkan dengan berkata "sabar ya cheri, atau kalau mau ya berangkat saja akhir tahun." "Tapi habis itu kita hemat ya".

Mungkin itu yang namanya panggilan, akhir Oktober kami mendapat rezeki tak disangka. Saya dan suami berniat bila ada rezeki lebih, maka umrohlah yang akan kami lakukan. Saya sangat haru waktu itu, tapi juga panik. Karena keinginan saya untuk pergi umroh akhir tahun sangatlah mepet.

Mulailan saya cari tahu soal biaya, akomodasi dan keperluan lainnya untuk umroh.

Nah di sinilah saya baru tahu mengapa menggunakan travel agent jauh lebih baik dan memang sebaiknya dengan cara fasilitas dari mereka.

Pada awalnya, saya dan suami berniat untuk pergi berdua saja. Tapi sulung, bertanya mengapa dia tidak bisa ikut. Betapa inginnya dia melihat rumah Allah. Saya dan suami jadi pandang-padangan. Hitung menghitung bisalah. Lalu bungsu bertanya, "dan aku sama siapa saat kalian pergi nanti?". "Kalian selalu pergi ajak Aa (panggilan kakak bahasa sunda) tapi saya selalu kalian tinggal". Jadilah kami sedih, kembali lihat budget. Aamiin, semoga cukup berempat, kalaupun tidak, tabungan masih mencukupilah.

Dan saya mulai mencari bagaimana pergi umroh itu? Dari mulai sistim backpacker, travel agent dan cara lainnya.  Banyak orang yang kami hubungi sebagai bahan masukan. Dari mulai sesama jurnalis kontributor di luar negeri, kerabat yang pernah pergi umroh dan haji.

Ada yang menganjurkan pergi dengan cara bebas. Yaitu tiket, visa, vaksin, hotel di tempat diurus sendiri. Nanti untuk di sana, kita mengambil pemandu yang bertempat tinggal di Madinah dan Mekah. 

Cara kedua, yaitu, pesawat kita yang beli sendiri begitu juga dengan visa. Selebihnya hotel dan transport serta konsumsi diatur oleh pemandu di sana, nah ini biasanya orang indonesia yang bekerja di Jedah.

Cara satu dan dua akhirnya tak bisa kami jalani, kenapa?

Setelah kami lihat biaya perjalanan sendiri jauh lebih mahal. Harga tiket pesawat per-orang lumayan jatuhnya.  Lalu penghambat yang sudah pasti adalah masalah visa. Saat kami kontak agen perjalanan untuk visa atau agen yang mengurus khusus visa, mereka menyatakan tidak menerima pembuatan visa untuk umroh. Mereka bisa membuatkan visa ke Arab Saudi untuk kunjungan keluarga atau dinas. Arab Saudi tidak mengeluarkan visa turis.

Nah, jadilah kami mulai cari agen yang bisa memberikan hanya visa. Rupanya travel agent umroh dan haji semua sama, melayani sistim paket umroh tidak bisa hanya visa. Saat itu kami masih penasaran, jadilah kami menanyakan jika membuat visa kunjungan bagaimana? Rupanya harus ada surat dari pihak pengundang dan harga visanya ratusan euros!

Padahal rencana awal adalah, tiket kami beli sendiri, dan di sana kami menyerahkan kepada pembimbing sekaligus yang mengurus akomodasi kami. Mahal memang jatuhnya, karena dijamin makanan dari pagi hingga malam juga transport. Dan pembimbing dalam bahasa indonesia. Tapi karena terbentur oleh masalah visa, dan mereka tidak bisa mengeluarkan surat undangan untuk kami jadilah, mereka menyarankan agar kami memakai agen umroh.

Agen umroh ternyata banyak di Perancis, siapa yang sangka. Ada yang berbasis di Paris, Marseille, Lyon, Toulouse bahkan di kota sayapun ada, Montpellier. Saya mencoba dengan cara telepon. Kalau soal ini rasanya memang rasa ikut main ya dalam kepercayaan. Entah berapa travel umroh yang saya telepon, semua memberikan harapan baik. Tapi rata-rata meminta langsung membayar. Ini yang membuat saya sedikit khawatir.

Saya lalu ingat teman saya di Paris, dengan grup pengajian Parisnya pernah pergi umroh dengan travel. Jadilah saya mengontak kawan saya itu, Ida Digon. Dia langsung memberikan nama agennya. Saya mencoba menghubungi agen tersebut, kontak telepon sudah membuat saya sedikit tenang, karena tidak ada bicara masalah harus langsung bayar karena sebentar lagi penuh.

Sistim umroh dengan travel biasanya per-paket dan per-orang juga diadakan saat liburan sekolah. Namun ada juga yang menawarkan umroh pribadi di luar paket.

Memang sudah diatur, November saya dan suami harus ke Paris untuk pekerjaan kami berdua. Kesempatan ini kami pakai sekaligus untuk melihat secara langsung travelnya. Walaupun mereka telah menyatakan semua bisa diatur via korespondensi. Tapi berhubung ini pengalaman pertama pergi umroh dengan suami dan kedua anak kami rasanya lebih afdol jika melihat langsung di mana travelnya.

Travel yang diberikan kepada kami namanya adalah El Moslim. Di bawah akan saya berikan alamat linknya. Orang yang menerima kami sangat ramah. Suami saya agak sensitif soal tata bahasa dan cara orang bertutur, pria yang menerima kami begitu sopan dan menerangkan dengan sabar semua pertanyaan kami hingga kami menjadi yakin.

Setelah semua pertanyaan terjawab, suami bertanya lalu bagaimana apakah saya membayar penuh sekarang atau uang muka dulu? berapa persen yang harus keluarkan?

Dengan santai ia menjawab, "comme vous-voulez" (terserah anda) .

Jawaban ini membuat kita kaget, karena agen lainnya meminta sekian persen dan harus secepatnya. Sementara ia, dengan senyum seolah sudah mempercayai kita. Saat itu biaya umroh per orang adalah sekitar 1290 euros. Dan itu termasuk paket confort, dalam arti hotel bintang empat dan lima lengkap dengan sarapan. Akomodasi telah ditanggung dari mulai kedatangan hingga kepulangan juga visa! Pembimbing juga sudah termasuk. Lamanya Umroh adalah dua minggu sudah termasuk dengan perjalanan.

Jauh berbeda harganya bila kami yang mengurus sendiri. Karena ketika kami mencoba cara pribadi, pesawat saja sudah mencapai hampir 1000 euros/pp (dari Marseille ke Madinah). Belum hotel, transportasi, dan biaya guide dan tentunya soal visa yang sulit didapatkan jika dari Perancis.

Waktu itu kami memberikan uang muka sebesar 1000 euros sebagai tanda bukti untuk kami berempat. Pria di travel memberikan kami buku kuning yaitu buku vaksin, petunjuk menjalankan umroh dan pedoman lainnya yang akan kami butuhkan nantinya.

Surat-surat semua mereka yang akan atur sekitar 10 hingga 15 hari sebelum keberangkatkan kami umroh.

Nah di sinilah kami bersyukur menggunakan travel rekomendasi teman. Hingga awal Desember, kami menayakan terus kapan kami harus membayar penuh, jawaban selalu, nanti ketika harga pasti sudah bisa kami berikan. Berhubung ternyata semua tergantung juga kepada banyaknya jumlah jamaah dan biaya pesawat.

Selama menunggu kepastian, kami melaksanakan kewajiban kami yaitu divaksin sesuai dengan ketentuan peraturan negara setempat. Berikut syarat yang diminta oleh travel umroh:

-Dua foto identitas berwarna dengan latar putih
-Pasport berlaku hingga 6 bulan
-Carte de résident (ktp) bagi orang asing.
-Vaksin A + C + YW135, ini bisa dilakukan di vaksin center di kota tinggal
-Buku nikah atau Livret de famille atau akte nikah
-Bagi mualaf dibutuhkan sura sertifikat islam, bila tidak ada, pihak travel akan membantu pembuatannya.
-Semuanya bisa dikirimkan via Chronopost.

Jangan heran atau kaget bila kita menerima email yang menyatakan jika adanya kenaikan harga. Hal ini dikarenakan akibat fluktuasi harga dari berbagai faktor. Namun harga pasti akan diberikan setelah penutupan pendaftaran dan negosiasi travel dengan berbagai hal selesai.

Jangan juga cemas, karena mendekati keberangkatan bagi yang tidak tinggal satu kota dengan travel belum juga mendapatkan surat-surat atau tiket untuk keperluan umroh. Karena biasanya, seperti kami yang berangkat dari Montpellier, pesawat kami yaitu Turkish Airlines, penerbangan dari kota Marseille. Dan kami pada hari H berangkat belum mendapatkan apapun sebagai bukti perjalanan untuk keperluan umroh.



Di Marseille atau kota keberangkatan dari Perancislah nanti akan ada orang yang memberikan segala surat, pasport dan kepentingan lainnya yang akan dibutuhkan guna perjalanan umroh.

Adapun biaya akhir dari biaya kami adalah 5600 euros untuk berempat. Paket confort yang kami ambil. Dan saran saya sebaiknya mengambil paket ini karena hanya berbeda biasanya 100 hingga 200 euros/orang dengan paket ekonomi, namun hotel dan jarak menuju ke Mesjid dan Kabah sangatlah berbeda. Kenyamanan juga sangat mencolok dari segi penginapan.

Dan berangkatlah kami saat itu pada 27 Desember 2017. Kebahagiaan dan haru saat itu rasanya tak terbendung, melihat suami dan kedua anak kami begitu bersemangat datang ke rumah Allah.

(bersambung)

https://www.elmouslim.com/


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Indonesia Hadir Di Pusat Kota Paris Selama Satu Minggu!

01 Juni 2018 - Paris, Perancis

Yuyu Hagenbucher


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.