Muslimah Indonesia Ini Menjadi Tokoh Pembicara di Teknopreneur di Stockholm.


Berita setempat
schedule 16 September 2018
Stockholm, Swedia
Pict4

Shinta Dhanuwardoyo baru saja menjadi pembicara di Stockholm Tech Fest, Ia menyampaikan pesannya dalam tema "Future of Diversity".

Shinta Dhanuwardoyo baru saja menjadi pembicara di Stockholm Tech Fest pada 3 September 2018. Di dalam panel diskusi yang juga melibatkan 5 (lima) CEO dan pendiri perusahaan di industri AS dan Eropa, Shinta menyampaikan pesannya dalam tema "Future of Diversity". Panel tersebut merupakan bagian dari Festival Teknologi Stockholm yang dimulai dari tanggal 2 dan berakhir tanggal 4 September ini. Festival ini merupakan ajang pertemuan setiap tahun yang menghadirkan 5.000 pengusaha bisnis startups (start-ups businessmen), dan perusahaan besar yang bergerak di bidang teknologi dan apilkasi.

Stockholm Tech Fest selama 4 hari ini merupakan ajang berkumpulnya para teknopreneur untuk mengikuti 14 diskusi panel, dan 50 eksibisi (pameran). Diperkirakan dikunjungi 36.000 pengunjung, sebagaimana tahun lalu kegiatan diharapkan ini akan menjadi pertemuan antara investor, developer,  para pelaku bisnis digital, dan masyarakat umum.

Shinta Dhanuwardoyo, pemimpin sekaligus pendiri perusahaan digital, PT Bubu Kreasi Perdana atau dikenal dengan Bubu.com merupakan alumnus Universitas Negeri Oregon, Eugene, Amerika Serikat. Shinta menegaskan bahwa keragaman, terutama di industri teknologi pada dasarnya adalah tantangan. Masyarakat dan perusahaan sulit untuk berkembang jika tidak siap menghadapi tantangan ini.

Terutama sebagai negara besar yang berpenduduk lebih dari 260 juta jiwa dan memiliki 17.000 kepulauan, kompleksitas keragaman Indonesia sudah menjadi tantangan sejak awal yang seharusnya juga bisa menjadi kekuatan. Shinta juga menjelaskan pesatnya perhatian apresiasi masyarakat Indonesia akan pentingnya Internet. Perusahaan yang dipimpinnya juga melakukan proses alih teknologi internet kepada masyarakat sehingga secara tidak langsung pun turut mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia.



Di dalam perjalanannya kali ini, Shinta sebenarnya tidak hanya menghadiri panel diskusi, namun memang khusus menemani salah satu pemenang ajang Virtual Startup Hunts pada Bubu Awards 2017 lalu, yakni JALA Tech, sebuah startup yang bergerak di bidang budi daya udang (smart shrimp farm technology). Startup yang dimotori para alumnus UGM ini berfokus pada pemantauan dan pendekteksian kondisi lahan budi daya udang.

Kehadiran Shinta Dhanuwardoyo ke Stockholm ini adalah hasil kerja sama dengan pemerintah Swedia. Sudah beberapa tahun ini, Kedubes Swedia di Indonesia memang mendukung pagelaran digital terbesar Indonesia, IDBYTE yang rutin diselenggarakan 2 tahun sekali oleh Bubu.com. Dan bentuk kerja sama tahun kemarin adalah kontribusi Kedubes Swedia untuk mengirimkan pemenang Virtual Startup Hunts ke salah satu acara tekno di Swedia, yakni Stockholm Tech Fest ini. Tidak hanya mengikuti Stockholm Tech Fest, Kedubes Swedia dan Bubu.com sebagai penyelenggara utama juga turut berkontribusi membantu JALA Tech melakukan beberapa kunjungan seperti ke Norrsken, Klarna, Spotify, iZettle, dan King.

Sejak tahun 2013, ekosistem startup di Swedia memang tergolong telah berkembang pesat. Di dalam kurun waktu 10 bulan terakhir, Stockholm telah menghasilkan 3 unicorns dan menjadi salah satu hub digital Eropa mengikuti jejak Silicon Valley.Istilah perusahaan unicorn mengarah kepada bidang industri yang kekayaannya mencapai 1 milyar dollar AS dalam market share.

Memang, di era globalisasi yang serba dinamis ini, Indonesia memang membutuhkan lebih banyak startups anak negeri berdaya saing internasional agar bisa menjadi pemain terdepan dunia.

Sumber: KBRI Stockholm


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.