Meskipun Sulit Para Pengusaha Indonesia Di Perancis Tetap Berjuang Mempromosikan Produk Tanah Air.


Berita setempat
schedule 02 Oktober 2018
Marseille, Perancis
42992851 275756906388237 5885103874200567808 n

Di Foire International Marseille, dengan dukungan dari KJRI setempat, para UKM setempat mencoba memanfaatkan kesempatan untuk melihat secara langsung peluang dagang yang dapat memajukan usaha mereka.

Pameran dagang Foire  International Marseille (FIM) ke 94 berlangsung  dari tanggal 21 September hingga 1 Oktober 2018  di Parc Chanot Marseile, kegiatan ini  merupakan acara tahunan dan merupakan  salah satu agenda pameran yang terpenting di Perancis setelah Foire International de Paris.

FIM diikuti oleh  1250 stand 200 stand di dalamnya berasal dari negara asing, Canada, Italia, Peru, Vietnam, Maroko, Indonesia dan negara asing lainnya. Pengunjung yang datang diperkirakan selama pameran berlangsung sekitar tiga ratus lima puluh ribu orang.

Stand Indonesia yang disediakan oleh KJRI Marseille, diisi oleh UKM Escale à Java dengan produk kerajinan tangan dari Yogyakarta. Toko ADA, menawarkan produk kain Batik juga tas anyaman dari berbagai daerah di Jawa  Tengah. Toko BUYATI untuk produk warung klontong, dan UKM cafe "esCUPade" menawarkan produk berbagai jenis kopi dari Ijen, Gayo Aceh, Toraja dan Flores.


Nia Leroy/ esCUPade

Nia Leroy, sebagai penanggung jawab marketing "esCUPade" menyatakan ini adalah yang pertama kalinya berpartisipasi di pameran tingkat internasional di Marseille. Salah satu alasan lain adalah karena karena adanya merek baru, café d'exception d'indonésie untuk bisa diperkenalkan kepada publik di Bouche des Rhônes. Kesempatan yang ditawarkan oleh pihak KJRI Marseille, baginya merupakan sarana yang baik untuk lebih memperkenalkan secara luas produk kopi Indonesia, yang secara rasa dan kualitas sangat bersaing di pasaran kopi dunia. 

Tidak mudah menurut Nia Leroy bersaing di Perancis, karena itu ajang expo seperti ini sangatlah berguna untuk mempromosikan kopi-kopinya. Karena saat ini, Perancis salah satunya, masih lebih mengenal kopi luwak. Padahal menurut Nia, kopi jenis indonesia lainnya tidak kalah dibandingkan kopi dari negara lain. Bahkan banyak yang mengomentari setelah mencicipi kopi Gayo Aceh misalnya, menemukan aroma yang lebih enak dan segi rasa lebih lembut.

Merek cafe esCUPade, prosesnya dilakukan di Perancis. Mereka membeli kopi mentah, kemudian proses bakarnya dilakukan di daerah Marseille, disesuaikan dengan selera masyarakat Perancis. "Jadi kopi kami memang kualitasnya adalah sudah kualitas Perancis, dengan bahan mentah dari Indonesia".

"Sebagai UKM yang menetap di Perancis, kami harus terus menerus dengan gencar mempromosikan produk Indonesia, seperti kopi yang saya tawarkan ini, tanpa adanya promosi sulit juga kopi dari Tanah Air yang mutunya sangat baik bisa masuk di pasaran Luar Negeri, karena itu dukungan dari pemerintah sangatlah kami harapkan kepada kami para UKM di Perancis ini". Tutur Nia Leroy.

Beberapa cafe sudah mulai tertarik dan menawarkan kerja sama dengan kopi dari Indonesia ini. Nia Leroy berharap kopi-kopi dari Indonesia bisa semakin bersaing di Perancis. Karena itu, esCUPade akan lebih sering berpartisipasi di setiap pameran untuk memperkenalkan lebih luas lagi kepada publik.


Yati Darmadi/ Toko BUYATI

UKM BUYATI yang juga ikut berpartisipasi di FIM ini memiliki prinsip seperti warung klontong yang mana menjadi tempat yang sudah sangat popular di Indonesia dalam jual beli kebutuhan sehari-hari. Bila toko BUYATI, dinamakan sesuai dengan pemilik toko yaitu Yati, bisa mengikuti expo internasional ini dikarenakan adanya dukungan dari pihak KJRI Marseille, yaitu penyediaan tempat secara gratis. "Ikut serta di acara seperti ini sangatlah mahal biayanya, kami para pengusaha kecil belumlah sanggup untuk mengeluarkan biaya sebesar ini, karena itu, dukungan seperti ini haruslah lebih diperbanyak lagi karena ini juga merupakan salah satu cara untuk memperkenalkan produk bumbu, makanan mentah dan jajanan masyarakat indonesia di Perancis".

Menurut 
Yati Darmadi, konsumen terbesar tokonya memang saat ini adalah masyarakat indonesia yang berada di wilayah Perancis Selatan. Ia menambahkan, "masih banyak yang belum mengenal adanya perbedaan antara bumbu masakan Indonesia dengan Asia lainnya, seperti Cina dan Thailand, mereka pikir semua masakan Asia itu sama, setelah saya jelaskan, mengenai isi bumbu dan bagaimana cara mengolahnya barulah banyak yang mulai tertarik. Mungkin juga karena restauran Indonesia jarang, hingga kuliner indonesia masih belum terlalu akrab di Perancis ini".

Karena itu, bagi pemilik toko BUYATI sangatlah membantu jika dalam setiap expo di Perancis para UKM di sini bisa diberikan kesempatan untuk memperkenalkan lebih luas khususnya mengenai bumbu masakan Indonesia.


Agus Kurniawan (baju batik)/ Escale à Java

Berbeda dengan UKM lainnya, Escale à Java, sudah lebih lama berkecimpung dibidang bisnis kerajinan dari Yogyakarta. Butiknya berada di daerah pantai Palavas Les Flot, daerah pariwisata, Montpellier dan sekitarnya. Agus Kurniawan, pemilik Escale à Java,  menerangkan selain menjual barang kerajinan di dua toko pribadinya, usaha lainnya adalah sebagai penyalur bagi beberapa toko di Perancis Selatan.

Escale à Java sudah terbiasa mengikut beberapa pameran lokal dan partisipasi di acara perwakilan Indonesia. Namun untuk expo setaraf internasional, menurut Agus, meskipun produk kerajinannya sudah cukup mendapat tempat di publik perancis, tetap saja membayar sebuah tempat untuk satu stand seperti di FIM ini masih terasa berat, merupakan kesempatan dan peluang bagi para UKM seperti mereka ketika adanya dukungan dari perwakilan dengan menyediakan tempat secara gratis.

Berbeda dengan jenis makanan, produk kerajinan yang Agus Kurniawan tawarkan lebih bersifat cendera mata,  asesoris dan dekorasi rumah. Produk seperti ini lebih mudah diterima oleh publik perancis yang menyukai barang yang bersifat eksotik. Juga karena produk kerajinan seperti yang ia tawarkan kini sudah banyak ditemukan di kota dan tempat yang padat dengan turis.

Salah satu yang paling laris di FIM adalah kipas batik, karena udara di Perancis cenderung lebih panas dan barang ini simpel untuk bisa dibawa dalam tas juga  "Dream Catcher". Rupanya selain karena bentuknya yang dianggap unik oleh pembeli juga dianggap memiliki sisi mistik.

Meskipun produknya sudah mendapat tempat di masyarakat perancis, Agus Kurniawan masih memiliki harapan dengan bisa selalu ikut serta di acara pameran-pameran seperti ini. "Target saya itu adalah, bisa mendapatkan buyer  besar (whole sale), nah di pameran seperti ini biasanya mereka suka datang, jadi kesempatan di expo internasional adalah salah satunya". Tutur pemilik Escale à Java.


Budi Gunanto/ Toko ADA

Toko ADA yang berbasis di Toulon, di ajang FIM juga mencoba ikut dalam mempromosikan produk Indonesia. Budi Gunanto pemilik Toko ADA di sini, lebih menawarkan barang dagangannya berupa kain, tas anyaman dan karpet sumbu. Kain batik yang ia coba tawarkan kepada publik perancis, selain kain pakai, juga bed cover dan pajangan. Karpet sumbu juga menjadi salah satu produk yang ia harapkan bisa menggaet hati komsumen di Perancis. Budi menyatakan meskipun jenis karpet yang ia miliki sudah ada kesamaan dengan kerajinan dari negara lain, namun ia mencoba menerangkan kepada pengunjung yang datang jika karpet sumbu yang ia tawarkan berupa hasil daur ulang sisa kain yang ditenun secara tradisional.

Masyarakat perancis sangat tertarik dengan hal semacam ini, daur ulang, bahan alami dan kerajinan asli buatan tangan. Apalagi produk yang ia jual berkisar dari 10 euros hingga 50 euros untuk bed cover misalnya. Harga yang relatif murah di pasaran Perancis. Budi menyatakan, "Masyarakat perancis, biasanya mau membayar lebih untuk sesuatu yang dibuat dari tangan 'hand made' mereka sangat menghargai, hanya sayangnya produk seperti ini masih belum dikenal di sini, karena itu, penting bagi kami para UKM di Perancis ini untuk diberikan kesempatan agar dapat terus berpartisipasi di ajang expo internasional seperti ini, karena itulah dukungan pemerintah sangatlah penting agar kami bisa selalu memperkenalkan lebih luas".

"Dalam Foire International Marseille ini, banyak juga yang membeli kain batik! Itu yang paling laris dan yang kedua adalah tas anyaman, semoga saja untuk kedepan bisa akan bekerja sama dengan toko-toko di Perancis dan ada whole sale yang mau membeli barang-barang kerajinan dari saya". Harapan Budi.

KJRI Marseille telah lebih dari 20 tahun ikut berpartisipasi dan memanfaatkan kesempatan ini sebagai ajang untuk mempromosikan keaneka ragaman budaya dan kekayaan Indonesia di Wilayah Prancis Selatan. Karena itu KJRI memberikan peluang kepada para UKM indonesia di wilayah naungan KJRI Marseille untuk ikut mempromosikan produk-produk mereka, dengan menyediakan stand secara gratis.


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.