Seniman Indonesia Tampilkan Karya Kontemporer di Art Biennale Venice


Berita setempat
schedule 16 Mei 2019
Venezia, Italia
60320710 324646534877461 5237872600708808704 n

Bertema lost verses Paviliun Indonesia seluas 500m di Festival Seni Kontemporer biennale venezia ini berhasil membuat para pengamat seni menilai Paviliun Indonesia sebagai salah satu stand terbaik dengan seni yang tinggi.

Paviliun seluas 500m2 ini adalah bekas gudang senjata tua di tepi laut yang diisi dengan serangkaian instalasi terdiri dari lima komponen karya. Buaian raksasa dari kayu yang berputar/ Meja Runding/ Susunan Kabinet/ Ruang Merokok/ dan Mesin Narasi. Di sini para penikmat seni berkesempatan untuk memiliki interpretasi masing-masing terhadap karya yang ditampilkan.



Untuk Art Biennale ke 58 di Venice ini, paviliun Indonesia yang bertempat di kawasan Arsenale tidak lagi menampilkan karya seorang seniman tunggal namun merupakan akumulasi visi dari beberapa seniman yang bergabung dalam satu tim. Terdiri dari seniman Syagini Ratna Wulan dan Handiwirman Saputra dengan kurator Asmudjo Jono Irianto dan ko-kurator Yacobus Ari Respati.



Kedua seniman Syagini Ratna Wulan dan Handiwirman Saputra menyatakan tema lost verses yaitu akal tak sekali datang runding tak sekali tiba, yang merupakan pribahasa minang memang mereka merupakan proses dan interaksi dalam menghasilkan karya mereka.

"Dari judulnya sendiri itu sebenarnya menggaris bawahi proses kita dari awal, dari awal kita sudah mencari runding dengan tim kita sendiri dan terus berdiskusi, sampai prosesnyapun kita banyak sekali diskusi dan berunding dengan berbagai pihak jadi ya seperti doalah", tutur Syagini Ratna Wulan kepada Surat Dunia.

Handiwirman Saputra sebagai koloborasi dan juga seniman Indonesia yang karyanya justru sudah lebih dikenal di Venezia ini lebih menekankan jika karya yang mereka buat memang disengaja dirancang untuk mendapatkan interaksi kepada pengujung, menurutnya bagaikan sebuat wahana.



Paviliun Indonesia yang diresmikan oleh kepala Bekraf Indonesia Triawan Munaf, menegaskan pentingnya dukungan pemerintah untuk memajukan kesenian di tanah air yang memiliki beragam seni budaya.

"Tidak saja mereka berkreasi dengan gagasan-gagasan baru tapi juga mengawinkan gagasan baru mereka yang kaya dengan tradisi-tradisi yang ada di Indonesia, jadi modal tersebut kalau kita tidak kelola dan membantu dalam mempromisikan secara maksimal disayangkan akan terbuang percuma sedangkan seperti yang kita lihat di sini, karya seniman indonesia sudah sangat bernilai dan dihargai, bagi saya tidak ketinggalan dengan seniman dunia lainnya".

Kurator Asmodjo sendiri menilai agar sarana kegiatan seperti ini harus didukung untuk para seniman indonesia baik untuk ke luar negeri dan juga di tanah air itu sendiri agara para seniman memiliki dan bisa menyalurkan refleksi kritisnya.

Banyak pengamat seni yang datang dari berbagai negara menyatakan kekagumannya atas karya seniman indonesia karena dinilai unik dan nilai presentasi tinggi. Pameran kali ini memang mencermikan keunikan Indonesia akan perbedaan budaya yang ada. Berbagai benda seni yang diperlihatkan selalu memiliki makna atas sebuah rundingan dan refleksi diri. Salah pengunjung yang datang Elisabeth dari Paris misalnya mengaku jika Paviliun Indonesia menjadi salah satu stand favoritnya di Arsenale dan yang terbaik dari beberapa stand yang telah ia kunjungi.



Festival seni kontemporer yang bertema May You Live in Interesting Time diikuti oleh 90 negara ini belangsung untuk umum mulai tanggal 11 Mei hingga 24 November.


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.