Indonesian Village Meriahkan Festival Musim Panas Frankfurt 2019


Berita setempat
schedule 27 Agustus 2019
Jerman
Foto depan kjri frankfurt

Festival ini merupakan salah satu festival tahunan musim panas terbesar di Jerman yang dihadiri oleh lebih dari 1 juta pengunjung.

KJRI Frankfurt mempersembahkan Indonesian Village pada festival tahunan musim panas Museumsuferfest 2019. Festival ini merupakan salah satu festival tahunan musim panas terbesar di Jerman yang dihadiri oleh lebih dari 1 juta pengunjung.



Selama 3 hari, Indonesian Village hadir ditepi sungai Main yang indah dan menghadirkan berbagai booth dengan suasana khas Indonesia terdiri sajian kuliner Indonesia, kerajinan seni (handycraft), batik, hingga informasi pariwisata Indonesia. Disekitarnya terdapat pula panggung yang menampilkan seni budaya Indonesia dari waktu ke waktu.

Beberapa pertunjukan tarian tradisional daerah dari berbagai wilayah di Indonesia, vocal group, dan fashion show busana Nusantara ditampilkan dalam acara Panggung Gembira. Pengisi acara didukung oleh anggota Bhayangkari Polda Papua, Sulsel, NTT, Kalsel, dikoordinasi pengurus Bhayangkari Pusat.



Kehadiran Indonesian Village ini juga merupakan rangkaian peringatan HUT ke-74 Republik Indonesia. Mengingat lokasinya yang strategis tepat didepan lokasi peluncuran kembang api dan disebelah jembatan utama Franfurt, maka Indonesian Village ini dikunjungi oleh ribuan pengunjung. Mengawali rangkaian acara Indonesian Village, anggota Bhayangkari Polda Papua pada tanggal 23 Agustus 2019 telah memperagakan beberapa kebudayaan Papua, di antaranya demo pembuatan tas Noken yang berlangsung di Weltkulturen Museum (Museum of World Culture) Frankfurt.

Demo pembuatan Noken ini merupakan kerjasama KJRI Frankfurt dengan Weltkulturen Museum di Frankfurt. Demo ini bertujuan untuk mengenalkan cara pembuatan tas tradisional Indonesia dan keunikannya kepada masyarakat Jerman. Beberapa pengunjung asal Jerman yang hadir mengamati secara detail dan menyatakan kekagumannya terhadap kekuatan tas yang dibuat dari kulit kayu ini hingga dapat digunakan untuk menggendong bayi atau barang belanjaan.

"Sangat menarik karena prosesnya unik, yaitu dari kayu yang diolah dalam beberapa tahap hingga menjadi bahan anyaman. Teknik anyamannya menggunakan bambu, tidak menggunakan jarum”, jelas kurator Weltkulturen Museum, Vanessa von Gliszcynski.



Para penari yang merupakan masyarakat Indonesia di Frankfurt dan sekitarnya menampilkan pentas Candra Kirana dengan menampilkan tarian dari berbagai daerah di Indonesia pada tanggal 23 Agustus 2019. Di hari kedua, acara Panggung Gembira pada tanggal 24 Agustus 2019 menampilkan tari-tarian nusantara yang bersifat dinamis, seperti Tari Doger Kontrak dan Tari Melinting.

Selain itu juga terdapat Tari Gebyar Batik, Gamelan Jawa hingga pertunjukan Angklung persembahan dari Ibu-Ibu Dharma Wanita Persatuan KJRI Frankfurt. Lebih 1000 pengunjung, memadati area Panggung Gembira ini. Kemeriahan Panggung Gembira ini semakin bertambah dengan joget bersama diiringi lagu “Kopi Dangdut“. Pengunjung pasangan muda-mudi juga diajak bernyanyi bersama melalui lantunan lagu-lagu romantis yang sedang hits.

Dalam acara Panggung Gembira tersebut terdapat kuis berhadiah tiket perjalanan Frankfurt – Denpasar pp. yang dimenangkan oleh warga negara Jerman dari kota Gießen bernama Stephan. Stefan berhasil menjawab dengan tepat nama-nama 10 pulau di Indonesia. Selain itu dibagikan pula untuk penginjung 150 kaos berlogo tema kemerdekaan ke-74 Indonesia.

Bhayangkari Indonesia juga menampilkan beberapa tarian daerah Papua, Sulsel, NTT, dan Kalsel. Tarian suku Dayak telah memukau pengunjung karena kesan magis yang ditampilkan penarinya. Sementara dari Papua menampilkan Tarian Yospan atau Yosim Pancar, yang menarik perhatian penonton untuk menyaksikan dan ikut menari bersama. Penari Bhayangkari Papua mengibarkan bendera Merah Putih di atas panggung sebagai penutup rangkaian. Pada hari ketiga, tanggal 25 Agustus 2019, telah ditampilkan penampilan fashion show dari Papua, dan Kalimantan Selatan. Dari Papua ditampilkan batik Papua, kebaya noken, dan pakaian adat.

Batik Papua tersebut sangat istimewa karena dibuat dengan lukisan tangan. Ini merupakan kesempatan langka adanya fashion show batik Papua di luar negeri. Booth pariwisata Indonesia menarik banyak perhatian pengunjung. Di antaranya banyak yang ingin mendapatkan informasi mengenai tujuan-tujuan baru wisata di Indonesia. Banyak kalangan muda memiliki ketertarikan tidak hanya pantai di Indonesia melainkan juga keragaman alam, dan budayanya Menurut Konjen RI Toferry P. Soetikno "Pertunjukan seni budaya Indonesia Tengah dan Timur adalah untuk mengenalkan keragaman dan kekayaan budaya Indonesia, sehingga mendorong masyarakat Jerman untuk mengunjungi Indonesia di luar pulau Bali."



Selain itu "Partisipasi Indonesia di festival Frankfurt ini juga bermanfaat untuk menambah keragaman Frankfurt sebagai kota internasional,” terang Konsul Jenderal RI Frankfurt, Toferry Primanda Soetikno. Kedatangan para penari dari Indonesia sangat menonjol melalui beragam kostum tradisional asli yang dibawa dari berbagai daerah. Hal tersebut menambah daya tarik pentas seni Indonesia, dimana banyak pengunjung meminta berfoto bersama dengan kostum yang unik dan jarang dilihat di Eropa. Acara promosi seni, budaya, kuliner, dan pariwisata Indonesia yang dikemas dalam bentuk Indonesian Village ini dianggap sangat efektif. “Indonesian Village perlu kita hadirkan kembali pada tahun-tahun berikutnya di Frankfurt, karena dengan pengunjung yang sangat banyak, tentunya menjadi potensi besar untuk mengenalkan Indonesia bagi masyarakat Jerman“, tutup Konjen RI.

Nara sumber dan koleksi foto: KJRI Frankfurt


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.