Spesial Cannes Festival "Indonesia tidak ikut ke Cannes Festival"


Berita setempat
schedule 21 Mei 2018
Cannes, Perancis
33146726 10213362941480266 7333873137156620288 n

Tahun ini tahun yang sangat menyedihkan bagi dunia film indonesia. Tidak adanya film yang lolos ke Cannes Festial dan tidak adanya booth Indonesia. Apakah ini berarti perfileman indonesia semakin sulit menembus ajang bergengsi seperti Cannes Festival?

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, di mana booth Indonesia selalu hadir di ajang bergengsi internasional ini. Tahun ini, saya sebagai jurnalis, tidak berhasil mendapatkan pertemuan dengan salah satu inhsan perfileman dari Indonesia.

Bukan karena sulit menemukan karena memang tidak ada. Film indonesia tidak ada satupun yang lolos tahun ini, dan booth Indonesia yang biasanya digunakan untuk tempat penjualan film asal Tanah Air dan juga mencari pasaran agar para cineas mau menggunakan lokasi di Indonesia sebagai tempat syuting tak terlihat.

Rupanya hal ini dikarenakan beberapa alasan. Menurut Dimas Jayasrana sebagai Ketua bidang festivak internasional dan hubungan luar negeri Badan Perfileman Indonesia (BPI), dengan dibukanya booth indonesia tidak terlihat dampak kelanjutannya. Istilahnya hanya basa basi, seolah-olah kita menjadi bagian dari masyrakat perfileman dunia. Menurutnya itu hanya delusi.

Ia melihat sebaiknya saat ini Indonesia tidak perlu hadir dulu untuk dua atau tiga tahun ke depan di Cannes festival. Sudah bertahun-tahun Indonesia hadir di ajange tesrebut, tapi tidak memiliki strategi yang baik, hingga hasil yang kita dapatpun sangat mengecewakan.

Ada baiknya menurut ketua BPI ini membereskan masalah yang ada di dalam negeri, mempersiapkan strategi yang baik dan matang, tidak hanya datang dan buang waktu dan juga uang.



Saya sendiri sebagai jurnalis yang sudah mengenal Cannes Festival sejak lama, sejak media saya saat itu adalah Kompas dan kini di NET TV melihat benar bagaimana banyaknya kekurangan dalam strategi pemasaran.

Padahal lokasi yang bisa dijual untuk para cineas sangatlah banyak. Dan saya sendiri melihat bagaimana, banyak sekali beberapa film indonesia yang lolos seleksi ke Cannes Festival ini. Semuanya anak muda berbakat. Mereka sangat kreatif dalam berkarya. Memang dorongan ekstra bagi mereka inilah justru yang harusnya semakin ditingkatkan.

Bahkan saya sangat mendukung bila Indonesia lebih memfokuskan kepada para cineas muda. Karena cara kerja mereka sangat efektif dan efisien! Mereka dengan lihat dan semangat mencari peluang-peluang agar film mereka diputar atau pertukaran dalam produksi hingga mencari dana. Mereka inilah yang perlu kita dukung.

Bilapun akan ada booth Indonesia kembali, sebaiknya memang orang-orang yang terjum langsung seperti para Inhsan muda perfileman inilah yang harusnya diberi peran besar untuk berpartisipasi di sini.

Karena bagi saya melihat tahun ini tidak adanya satupun film dari Indonesia yang lolos atau bisa diputar di ajang bergengsi ini sangatlah memprihatinkan. Di sinilah dibutuhkan kerja sama antara pemerintah dengan para cineas indonesia, agar film indonesia tetap bisa tampil. Menggarap film bukanlah hal mudah , dibutuhkan dana, pemasaran dan masih banyak hal lainnya. Karena sudah terbukti, beberapa film indonesia yang ditayang di sini meskipun tidak masuk ke dalam seleksi namun selalu mendapat sambutan positif dari para cineas film di festival ini. Dan penghargaan pun pernah di raih oleh para cineas muda berkat karya mereka.

Bahkan kita tidak boleh lupa, bagaimana artis kawakan kita Christine Hakim, pernah mendapatkan kehormatan sebagai juri festival. Hal yang sangat luar biasa.

Semoga kedepannya perfileman indonesia bisa semakin maju di dunia perfileman dunia.

Dini Kusmana Massabuau


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.