Danau Ini Di Kenal Berwarna Biru Surgawi


Perjalanan
schedule 30 Mei 2017
Verdon, Perancis
Danau 1

Biru surgawi begitu yang dilontarkan orang-orang yang pernah datang ke danau Sainte Croix di Alpes de Haut-Provence, Perancis Selatan. Mungkin karena begitu indahnya air danau tersebut, sehingga kekaguman yang pantas terpujikan adalah disamakan dengan keindahan surga.

Bulan mei lalu, saat bunga mulai berbunga, udara menjadi hangat dan usia saya bertambah. Seperti setiap tahunnya, Kang Dadang, alias David, suami saya mengajak istrinya merayakan ulang tahun di suatu tempat yang selalu menjadi kejutan bagi saya.
Dan memang merupakan sebuah kejutan yang indah. Tanpa disengaja danau berwarna biru seolah dicampur dengan susu, adalah danau buatan yang dibangun bersamaan dengan tahun saya dilahirkan, pada 1973. 41 tahun sudah danau Sainte Croix tersohor sebagai danau terindah di Provence, dengan berbagai warna biru memukau dan terjaga kebersihannya, sehingga semakin membuat pengunjung yang datang menjuluknyai dengan danau surgawi.
Saya akan bercerita sedikit mengenai perjalanan ulang tahun saya. Karena sebelum menyentuh kesegaran air danau, kami terlebih dahulu melewati berbagai kota kecil yang sangat istimewa.
Jumat pagi itu tepatnya tanggal 2 mei, kami berempat memulai perjalanan. Seperti biasa, kang Dadang, tak terbuka mulutnya untuk menyatakan kemana kami akan pergi. Hanya satu daerah yang ia sebutkan provence ! tanpa memberitahukan nama kota ke mana kami akan menuju. Begitulah, tradisi suami saya selama bertahun-tahun, setiap hari kelahiran istrinya menjadi rezeki, maka dibawanya saya menikmati daerah baru baik di Perancis maupun di luar.
Perjalanan menuju daerah Provence pada awalnya kami gunakan melalui jalan tol. Ketika keluar dari jalan jalur bebas hambatan inilah, baru kota-kota kecil cantik mulai menjadi pemandangan indah bagi kami. Kota Sisteron, menjadi tempat singgah kami untuk menikmati makan siang. Kota ini tak terlalu istimewa, hanya ada satu peninggalan berupa benteng bekas militer yang patut dikunjugi. Dan dari atas benteng inilah, jurang dan ngarai sungai dengan warna biru azur begitu memukau. Mendecak sudah lidah ini berkali-kali, saking terpesona. Tapi saya semakin kaget saat kang Dadang berkata ‘ini belum seberapa cherie, nanti kamu lihat saja tempat yang akan kita datangi untuk menginap lebih spektakuler !’.
Kota itupun kami tinggalkan menuju tujuan berikutnya. Saya masih menerka-nerka nama kota yang akan kami datangi, setiap melihat papan petunjuk dengan nama kota, langsung saya bertanya, ke sinikah kita akan menuju, yang selalu dijawab dengan gelengan kepala kang Dadang.
Papan petunjuk Verdon mulai menjadi bagian utama dalam menunjukan arah jalan. Ahhh, tentu saja daerah ini yang akan kami datangi, namun nama kota akhirnya baru saya bisa ketahui ketika mobil kami sudah mendekat. Moustiers ! begitu nama kota yang akan menjadi tempat beristirahat kami selama dua malam.
Kota ini bagaikan gerbang Grand Canyon dari Verdon di Alpes-de-Haute-Provence. Moustiers Sainte-Marie, menjadi salah satu desa yang paling indah di Perancis. Keunikannya adalah seolah dibangun di bawah langit murni.
Desa ini di persimpangan situs megah dari Gorges du Verdon dan jalanan bunga lavender yang melintasi kota Valensole. Kota kecil menanjak dengan patung bunda maria, yang dipercaya bisa membawa kajaiban memberikan keturunan, dengan membawa telur sambil berdoa, termasyur sebagai kota pengrajin gerabah, khususnya porselin yang unik dan cantik.
Kota ini memang bagaikan sebuah perpaduan antara tanah berbukit dengan air. Dengan sungai yang mengalir di dalam kota, dan pemandangan dari atas bukit adalah, biru menakjubkan dari danau Sainte Croix.Namun hari sudah sore, kami hanya bisa berjalan santai mengelilingi kota keramik ini. Kota yang sangat turistik, bersih dan sedikit borjouis. Menu makanan di sini, lumanyan harganya lebih mahal di bandingkan harga rata-rata. Tapi hari itu adalah hari kelahiran saya, menikmati santapan malam, menikmati rezeki usia, sekali-kali tanpa terbebani oleh rasa bersalah mengeluaran uang, kadang perlu juga.
Pagi hari usai sarapan, di penginapan yang sangat charming, kami telah siap dengan pakaian sportif. Karena hari itu adalah, waktunya bagi kami menikmati danau yang bagi saya warnanya bagaikan batu jade.
Perjalanan menuju danau melewati jurang, di mana batu terbelah, hingga ngarai mengalir, warna jade seolah meleleh, menjadi air biru bagaikan permata di antara dua batu raksasa. Mobil kami tak putus berhenti dan menepi. Menyaksikan dengan rasa takjub, namun waswas, karena antara tepian dan jurang, seolah tak ada batas, kaki tergelincir, putuslah sudah kehidupan.
Bulu kuduk saya merinding. Setiap kali menyaksikan keindahan alam, memang rasa magic selalu hadir, karena bagi saya, ini adalah cara Tuhan memperlihatkan kekuasaannya dengan rasa seni yang tak seorangpun dapat melakukannya. Kemewahan yang dihadirkan bagi umatnya, secara gratis, kapan saja disajikan bagi yang ingin mengunjunginya. Kecantikan panorama, yang hanya diminta oleh Tuhan, dengan memeliharanya.
Kadang air keluar dari celah batu, sebuah air tejun kecil, namun beberapa. Membuat semakin amboi saja keluasan mata dalam menikmati daerah di Verdon ini.
Jangan ditanya soal berapa foto yang saya ambil, namun terkejut juga, karena hasil foto tak seimbang dengan penglihatan langsung. Ahhh bahkan foto kopi pun masih kalah dibandingkan buatan langsung dari Allah.
Setelah puas menikmati Gorges du Verdon, dari ketinggian, waktunya bagi kami menyentuh secara langsung air biru susu tersebut. Kamipun mulai menuju danau, di mana tempat wisata yang menyediakan berbagai fasilitas bagi pengunjung seperti canoe, sepeda perahu, perahu mesin bisa digunakan. Sungguh saya kagum dengan kebersihan yang sangat terjaga di tempat wisata ini. Saat tadi mobil kami parkir, tak ada sampah satupun. Tempat sampah juga dengan mudah ditemukan. Tak ada kaki lima yang jualan sudah tak aneh memang bukan budaya di sini. Sehingga kebiasaan para pengunjung membawa piknik dari rumah. Sebuah tempat kecil untuk menikmati piknik disediakan, bangku dan meja kayu buat bersantai juga ada. Sebuah mobil caravan yang menjual tiket dan berbagai snack, melayani kami dengan ramah. Orang-orang yang membeli minuman, tak ada sisa botol atau kaleng yang berserak. Saya agak miris mengingat tanah air kalau sudah begini. Karena moto bersih adalah bagian dari iman, atau moto lainnya selalu terlihat di mana-mana. Sayangnya kesadaran mungkin yang belum terpatri. Di tempat ini, tak ada satupun tulisan atau peringatan tentang membuang sampah atau menjaga kebersihan wisata, namun kenyamanan dari ketertiban dan kebersihan, saya acungkan jempol.
Hari itu, bagi kami yang belum pengalaman dalam menggunakan canoe, dan mengingat usia Bazile, si bungsu yang baru 6 tahun, kami cara aman. Sepeda perahu yang kami pilih untuk berempat. Sulung Adam dan suami yang akan menggenjot perahu, saya dan si kecil duduk santai…
Bila tadi kami menikmati keindahan air jade dari atas kini tangan kami dengan rasa cita bisa menikmati air biru. Dari danau Sainte Croix, sepeda perahu kami mulai memasuki ngarai, di antara batu jurang. Batu-batu yang mengeluarkan air…kadang hanya kosong, bagaikan gua kurcaci.
Begitu kecil diri ini terasa di antara himpitan batu menjulang, menyentuh langit. Ahh air biru surgawi itu, dengan heboh kedua anak kami membiarkan jemari mereka bermain. Sulit bagi saya menggambarkan secara tulisan warna biru yang saya lihat. Bukan azur tepatnya bukan pula jade. Biru yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Seolah warna biru buatan, olahan dari seniman raksasa.
Kami bebas menepi bila melihat pinggiran jurang dengan batu yang unik. Matahari mulai menghilang tertutup oleh awan abu-abu. Saat kami akan menaiki sepeda perahu, petugas sudah mengingatkan jika kemungkinkan akan turun hujan dalam waktu kurang dari 1 jam. Sehingga meminta kami agar tak terlalu terlena hanyut keasikan tergoda dengan keindahan Verdon.
Belum puas memang, diri kami. Namun tidak rasional jika memaksakan diri, untuk terus bertahan sementara langit semakin terlihat kelam. Besok masih ada waktu untuk kembali menikmati Gorges du Verdon ini, bahkan masih banyak sisi lainnya yang bisa kami nikmati selain dari danau Sainte Croix. Sisi lain di mana kami bisa berenang menyatu dengan air biru kehijuan..
Situs ini memang menakjubkan bagi saya. Sebuah paradise dengan air kristal…..

 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.