Wow Kota Muchen di Jerman Mendapat Julukan "The Gamelan City of Eropa!"


Berita setempat
schedule 12 Juni 2018
Muchen, Jerman
34825102 1002068059952801 3306284739496771584 n

Festival gamelan terbesar di Eropa diselenggarakan untuk pertama kalinya di München. Selain menjadi tuan rumah acara ini, München melalui museum kotanya selama 30 tahun menjadi tempat orang-orang bermain gamelan.

Indonesia memberikan julukan baru bagi kota Munchen sebagai “The Gamelan City of Europe”. “Kami dengan senang hati memberikan julukan baru bagi Munchen sebagai the Gamelan City of Europe“, ujar Arif Havas Oegroseno, Duta Besar RI untuk Jerman dalam sambutannya pada pembukaan acara “Internationales Gamelan Musikfestival Müunchen, Indonesia #Bronze. Bamboo Beats”, 8 Juni 2018 di Munchner Stadmuseum, Munchen German.

Andil Kota Munchen dalam mempromosikan Gamelan di Eropa terlihat nyata. Tidak hanya sebagai tuan rumah dan penyelenggara kegiatan festival ini, namun lebih dari itu, Munchner Stadmuseum, telah mempromosikan Gamelan di Eropa selama kurang lebih 30 tahun dan lebih dari 20.000 orang dari berbagai negara mengikuti kegiatan Gamelan yang diselenggaran Museum ini.

Untuk itu tidak berlebihan kiranya jika kota ini diberikan julukan sebagai Kota Gamelan di Eropa.  Dan Wakil dari Kota Praja Munchen, Dr. Constanze Söllner-Schaar, dalam pidatonya juga menyampaikan kekaguman pada kekayaan budaya Gamelan, peralatan, dan perkembangan musiknya

Gamelan, peralatan, dan perkembangan musiknya dan perannya dalam mempromosikan people to people kontak di berbagai negara, dan menanggapi pernyataan Dubes RI mengenai julukan Munchen sebagai City Gamelan of Europe, menyampaikan bahwa Kota Praja Munchen akan memberi perhatian dan sumberdaya lebih kepada pengembangan dan promosi Gamelan dan musik Gamelan di Munchen.



Festival Gamelan Internasional Munchen merupakan festival gamelan terbesar pertama yang diselenggarakan di Eropa. Festival ini diikuti oleh sekitar 300 peserta dari berbagai negara hadir, antara lain dari Indonesia, Amerika Serikat, Kanada, Spanyol, Belanda, dan Jerman.

Tidak kurang dari 20 grup gamelan dari beberapa negara turut memeriahkan Festival Gamelan Internasional yang digelar selama 10 hari dari tanggal 8 – 17 Juni 2018. Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan gamelan, grup Gamelan tersebut juga akan berbagai pengalaman dan pengetahuan dengan para peserta melalui workshop yang menjadi bagian dari acara festival ini.

Salah satu keunikan festival Gamelan kali ini terlihat dari pertunjukan gamelan yang disajikan dengan memadukan alunan tradisional gamelan Bali dengan musik kontemporer. Pagelaran Gamelan Internasional Munchen ini diawali pertunjukan grup gamelan Salukat dan grup Kiai Fatahillah yang dimainkan Salukat dan grup Kiai Fatahillah yang dimainkan bersamaan dengan tabuhan lonceng gereja (Carilon) Mariahilkirche.



Sebelum dibuka secara resmi oleh Konzil Kota Munchen, Dr. Constanze Söllner-Schaar, acara festival juga diawali dengan parade Bale Ganjur, yaitu prosesi pawai yang diiringi musik Gamelan dari gereja Mariahilkirche ke Munchner Stadmuseum. Selain Konzil Söllner-Schaar dan Dubes Oegroseno, juga turut hadir dalam acara pembukaan antara lain  Direktur Münchner Stadmuseum, Dr. Isabella Fehle, dan Kepala Divisi Koleksi Musik, Munchner Stadmuseum Dr. Andras Varsanyi.



Acara pembukaan Festival Gamelan Internasional Munchen turut dimeriahkan dengan penampilan berbagai jenis Gamelan dan aneka citarasa aliran musik dari grup Puspa Gita Pertiwi, Gamelan Salukat, Tingklik dan India, Balawan dan Batuan Ethic Fusion, Kyai Fatahillah dan Jegog Art Project.

Sebanyak kurang lebih 10000 (sepuluh ribu) pengunjung diharapkan akan melihat berbagai penampilan pertunjukan musik gamelan di berbagai tempat di Munich selama 10 hari tersebut.


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.