Arènes de Nimes, bangunan gladiator nomor satu di Prancis!


Perjalanan
schedule 16 Mei 2017
Nimes, Perancis
Arenes nimes

Sejarah romawi dapatlah dirasakan dengan mendatanginya. Sebuah monumen bersejarah berbentuk colosium yang teruji melewati masa dengan kekokohan bangunannya sejak jaman antik hingga kontemporer. Sebuah permata yang ditinggalkan oleh bangsa Romawi.


Monumen ini berada di kota Nïmes, menjadi nomor 1 di Perancis, sebagai Arena yang masih terjaga kelestariannya. Terpilih menjadi salah satu dari monumen terindah di dunia. Arena yang berada di tengah kota antik, kaya akan peninggalan romawi yang padat dengan festival dan pesta. Kota kecil namun turistik dan simpatik saat berjalan menyusuri jalanan kecil berbatu. Restoran, cafe tempat pelepas  lelah kebanyakan memiliki dekorasi interior campuran antara Perancis Provençal dan Occitan. Suvenir yang ditawarkan juga kadang didominasi oleh gambar banteng hitam. Karena Nïmes, juga terkenal dengan pesta corridanya, dimana banteng dilepas, memburu manusia yang berlari ketakutan namun sesekali mengejek keperkasaan si binatang, membuatnya berang.
Kota ini menjadi acuan bagi saya, untuk kenalan kami yang akan datang ke daerah Perancis Selatan. Karena mudah sekali dari segi transport. Dengan kereta, dari Paris, hanya memakan waktu kurang dari 3 jam, padahal berjarak 720km, namun dengan kereta kecepatan tinggi (TGV) jarak jauh menjadi singkat. Dan yang memudahkan adalah, stasiun di kota ini, menjadi sarana penting untuk pergantian tujuan ke kota lainnya, maka banyak beberapa orang yang sengaja, sebelum meneruskan ke tempat wisata lainnya, mereka singgah di Nimes, untuk menganggumi peninggalan antik jaman kejayaan Romawi. Apalagi, dari stasiun kereta, tanpa kesulitan hanya dengan jalan kaki sekitar 5 menit, Arènes de Nïmes, langsung menyambut kedatangan kita. Karena tak terlalu jauh dari tempat saya tinggal, dengan mobilah yang menjadi pilihan untuk mengunjungi setiap kali membawa kenalan ke kota yang didirikan oleh Nemausus yang menurut legenda adalah anak dari Hercules.
14 tahun menjadi penduduk perancis, entah sudah berapa orang yang saya ajak mendatangi Amphiteater yang tercatat di unesco sebagai monumen bersejarah dunia ini. Terakhir saya membawa teman dari jerman yang datang mengunjungi kami sekaligus pelesir ke beberapa tempat di Perancis. Dan tentu saja, mereka langsung saya ajak melancong ke Nïmes, dan Arena di kota ini yang pertama saya persembahkan kepada pasangan itu. Teman saya, termasuk orang yang senang melakukan perjalanan, baik dalam maupun luar negeri. Tapi saat mereka berada di depan Arènes de Nïmes ini, rasa senang tak bisa saya tutupi melihat kepuasaan mereka. Apalagi saya kenal betul dengan mereka berdua adalah penganggum bangunan peninggalan Romawi.
‘Amazing is extraordinary!’. Kalimat pembuka sebagai pujian yang dilontarkan teman saya itu. Dirinya terkagum, bukan hanya karena arena ini memang memukau, namun karena saat dirinya berkeliling, keutuhan bangunan yang masih bisa digunakan sebagai tempat acara hingga masa ini, yang membuatnya terkagum. Karena memang, amhiteater di Perancis berjumlah banyak, namun hanya di Nïmes inilah Arena berbentuk oval dengan panjang 133 meter dan lebar 101 meter, seolah tak pernah mengalami benturan jaman di masa itu yang padat dengan peperangan.
Padahal pada abad ke 6, Arènes de Nïmes yang dapat menampung sebanyak 24.000 orang di jaman antik itu, berubah fungsi menjadi benteng pengungsian bagi penduduknya, saat kota ini menghadapi serangan musuh. Serangan musuh yang menyebabkan jatuhnya kekaisaran di masa itu. Penduduk mengungsi dalam arena, menutup lobang-lobang batu, membangun parit di sekeliling arena. Selama bertahun-tahun yang penuh gejolak kaum Visigoth mencoba bertahan dalam benteng. Sementara di Hispania dan Septimania, keruntuhan kaum Visigoth terus berlangsung, belum lagi invasi bangsa muslim yang datang ke Eropa menaklukan para Raja. Perang itu membuat para bangsawan dan penduduknya, untuk tetap bertahan dalam Arènes de Nïmes. Berlindung dari serangan dan gempuran musuh.
Para bangsawan yang telah terbiasa hidup di dalam amphiteater ini, pada abad ke 8 mulai membangun istana. Bahkan dua gerejapun dibangunnya. Arena yang pada awalnya digunakan sebagai tempat pertunjukan bangsa Romawi berubah wujud menjadi kota kecil dengan penduduk sekitar 700 orang. Barulah pada 1786, gereja, istana dan rumah penduduk, dihancurkan atas perintah penguasa saat itu. Pemimpin merasa, kejayaan dan kegunaan dari amphiteater harus dikembalikan ke semula. Mengembalikan penampilan aslinya, memulihkan peninggalan atas kebesaran Romawi. Arsitek Henri Revoillah yang menyelesaikan restorasi monumen bersejarah ini pada ke 9.
Meskipun sudah tak bisa terhitung berapa kali saya menyapa bangunan yang memiliki ketinggian 21meter dan terbagi dua tingkat itu, tetap saja, tradisi menyalaminya selalu tak membosankan. Pertama, saya akan mengajak orang yang baru pertama kali melihatnya, untuk langsung melihat patung matador yang berada di muka arena, simbol jika Arena Nïmes masih tetap digunakan untuk tempat adu banteng dengan lawannya, matador yang dengan perkasa dan nyali besar, meliak-liuk dengan kain merahnya, menepis kemarahan si binatang, menghindar dari serangan tajam  dua tanduk lawannya. Corrida atau pesta pertarungan banteng, yang dari tahun ke tahun selalu membuat polemik bagi masyrakat perancis. Pertahankan tradisi atau menghapuskan kebiadaban terhadap hewan. Bulan februari adalah pesta corrida bagi kota Nïmes dan Arènes de Nïmes, akan menjadi ajang saksi pertarungan antara matador dan banteng. Hanya sekali, saya dan keluarga suami, melihat keramaian corrida di sini. Kebesaran terasa sekali saat itu, namun melihat, binatang dengan darah bercucuran, masih mencoba mengerahkan segala kekuatan hingga akhirnya tewas, membuat saya sempat merasa seolah tenggelam jaman dahulu dimana para gladiator dan hewan buas, saling bertarung, mempertahankan nyawa. Sangat tragis dan memilukan, bagi saya pribadi. Bangunan yang dibangun dengan arsitek canggih dan kompleks 2000 tahun yang lalu, di  mata saya adalah sebuah karya seni.
Selanjutnya saya akan memulai mengelilingi amphiteatre, menikmati dari luar kekokohan dan keindahannya. Melihat bagaimana, lengkungan yang bolong seolah sebuah lorong, gelap tak bisa ditebak dalamnya seperti apakah. Setelah puas menikmati sisi luar, barulah mulai memasuki gerbang besi untuk dalam menengok bagian dalam Arena Nïmes ini. Tentu saja, kunjungan ke dalam bangunan bersejarah ini harus membayar tiket mulai dari 7 euros. Biasanya memang setelah masuk, langsung ingin melihat bagian lapangannya. Namun, bagi saya yang memukau harus menjadi terakhir yang dilihat. Banyak memang, kenalan yang tak sabar, bahkan mendumel karena, setelah masuk, masih saya ajak memutar sebentar melihat bagaimana lorong dengan atap tempat para penonton duduk, justru juga menjadi bagian penting dan menarik untuk diselusuri. Barulah kemudian, menaiki sedikit anak tangga dari batu. Arena Nïmes, memang dibangun dari batu berkapur yang mengandung silika, kuat dan bebas nitrat.
Naiklah hingga mencapai bagian paling atas arena ini. Pandanglah ke bawah, tempat di mana para bangsawan dan kaisar Romawi mendapatkan hiburan. Julius Cesar adalah salah satu raja yang gemar menyaksikan tontonan kesukaannya, pertarungan hewan melawan manusia. Untuk selalu mengenang masa jaya Romawi, setahun sekali para Nimois (masyarakat Nïmes), mengadakan pesta jaman antik. Mereka mengenakan pakaian bangsa romawi lengkap dengan kereta kuda, dan para prajurit dengan atribut seragamnya pada masa itu. Penonton diajak tenggelam pada 20 abad silam. Pertunjuan yang diadakan di akhir pekan di bulan april atau mei selama dua hari itu, memadukan antara sejarah bangsa romawi dan atraksinya. Saya dan anak-anak, sudah empat kali sejak pertama diadakannya festival romawi ini, mendatangi salah satu harinya. Bukan hanya anak-anak saja yang senang, dengan barisan berbaju putih ala romawi, namun orang dewasapun turut antusias menyaksikan pawai dan pertunjukan di masa Cesar masih berjaya.
Pesta ini memang baru dimulai sejak 2010, namun partisipasi untuk meramaikan dan memeriahkan pesta romawi itu, membuat banyak masyrakat dari Eropa lainnya ternyata bersedia untuk turut andil. Misalnya rekonsitusi masa Romawi, yang di dalam Arènes de Nïmes, dilakukan oleh lebih dari 500 orang dari berbagai penjuru negara. Bagaimana anak-anak dan orang dewasa tak merasa senang, sebelum pawai itu berlabuh di dalam arena, sejumlah permaianan jaman romawi ditawarkan kepada pengunjung. Anak-anak saya paling suka dengan panahan. Apalagi mereka didandani layaknya manusia jaman antik, semakin semangatlah mereka. Karena selalu mendapatkan kesuksesan, dari pesta-pesta yang diadakan oleh kota seni dan sejarah ini, maka saran saya bagi yang ingin bermalam, sebaiknya memesan kamar jauh hari sebelumnya.
Tidak hanya masyarakat saja yang ingin berpartisipasi meramaikan dan mendatangi Arènes de Nïmes sebagai tempat istimewa, sejumlah artis dunia, ketika mengadakan tour di Perancis Selatan, memilih Arena Nïmes sebagai panggung pertunjukan show mereka. Dari mulai penyanyi populer Mika, Metalica, Elton John, mengubah bangunan zaman antik menjadi semakin romantik dan Bjork dengan keunikan dan energi suaranya yang menggema. Dan tentunya masih banyak artis beken lainnya yang menginginkan Arena Nïmes ini menjadi panggung spektakuler mereka.
Sudah tiga tahun belakangan ini, pesta kota seluas 162km bertambah satu yaitu pertunjukan menjelang akhir tahun secara gratis bagi publik berupa pesta cahaya. Pesta yang diadakan di bulan desember itu, sebenarnya dilakukan untuk tiga monumen penting di Nïmes, dan tentunya salah satunya adalah Arènes de Nïmes. Di mana setiap malam, dalam rangka menyambut natal dan tahun baru, arena yang keseharian terlihat gagah dan kokoh, ketika matahari terbenam, menjadi menggemaskan. Sisi muka arena, melalui projeksi gambar, tiba-tiba menjadi bergerak. Berdansa, berwarna-warni begitu gempita hingga pengunjung yang menontonnya dibuat terpukau. Bahkan amphiteater yang terkenal dengan kekuatan bangunannya, menjadi terbelah-belah. Saat pertunjukan berlangsung setiap 15 menit dari pukul 6 sore hingga 10 malam itu, wajah arena di kota penemu celana jean, berubah ! Menjadi ceriah, gemerlap, glamour kadang kocak. Penonton mulai melontarkan kekagumanya, anak-anak berteriak dan berjingkrak kegirangan. Anak bungsu kami, dibuat terheran ‘bagaimana bisa Arènes de Nïmes memiliki magic untuk berubah-ubah ?’. Tuturnya.
Itulah Arenes de Nïmes, sebuah monumen bersejarah dari masa lampau yang bertahan dengan waktu memasuki abad moderen, tanpa sedikitpun kehilangan kharismanya. Nïmes menghidupkan masa lalu Romawi, dan Arènes de Nïmes salah satu saksinya.








Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.