Idulfitri di Berlin: War Kuota Halalbihalal dan Rebutan Kursi Resto Indonesia

Catatan Aulia Kurnia Hakim – Jerman

Halo sobat Surat dunia, izinkan saya mengawali cerita ini dengan ucapan selamat hari raya Idulfitri, mohon maaf lahir batin. Namanya manusia, pasti tidak luput dari salah dan dosa, semoga tahun depan kita kembali dipertemukan dengan Ramadan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, aaminn!

Tahun ini jadi pertama kalinya, saya merayakan Idulfitri di Berlin, ibu kota Jerman, tempat saya merantau. Perjalanan ini menjadi pengalaman yang berkesan, bukan hanya karena suasana ujung Ramadan dan lebaran yang berbeda, tetapi juga karena merasakan sejumah hal baru saya alami. Hal-hal tersebut cukup berbeda dengan apa yang pernah saya rasakan empat kali lebaran di Frankfurt.

Tahun ini saya bersama seorang teman sesama diaspora Indonesia bernama Aliya, memutuskan mencoba Salat Idulfitri dan mengikuti Halalbihalal di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Berlin. Rupanya, kuota buat merayakan hari kemenangan di gedung KBRI itu terbatas. Kami para diaspora harus mengikuti ‘´war’’ alias berebut jatah tempat pada hari Senin 16 Maret lalu mulai pukul 17.00. Setelah pasang alarm dan website dibuka, kami harus mengisi dan mengirim data ke Google form KBRI. Untungnya internet di ponsel lancar, saya dan Aliya bisa mendaftar. Tak disangka, jatah 300 pun laris manis dalam 5 menit.

Hari Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriyah di Jerman sudah pasti jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026. Saya dan Aliya berangkat dari Frankfurt pada hari Kamis, 19 Maret. Perjalanan kami Alhamdulillah berjalan lancar dan saat tiba di Berlin, kami disambut setitik sinar mentari, langit cerah dan cuaca cukup hangat pada suhu 10-12 derajat Celcius. Buka puasa di Berlin lebih cepat sekitar 15 menitan dari Frankfurt. Selanjutnya, serupa dengan Frankfurt, malam takbiran di Berlin jelas beda dengan di Indonesia. Di sini tak ada gemar takbir, sehingga pukul 22.00, saya dan Aliya sudah terlelap karena kami harus bangun pagi saat Idulfitri, mengingat KBRI sudah dibuka mulai pukul 06.30 pagi.

Saya, Aliya dan diaspora Indonesia yang tinggal di Berlin bernama Filza berangkat sekitar pukul 06.15 dan kami tiba di gedung KBRI yang beralamat di Clara-Wieckstrasse 1 sekitar pukul 06.50. Dimulai dengan mengecek daftar tamu dan petugas memberikan kami kantung plastik untuk sepatu dan kupon berisi nomor konsumsi. Lalu, kami diarahkan untuk menuju Garderobe atau ruang penutupan jaket dan sepatu. Selanjutnya, kami bergegas mengisi shaf salat Ied.

Agenda kegiatan berjalan sesuai dengan rundown yang dibuat panitia. Salat berlangsung dari pukul 08.00-08.15, dilanjut dengan Khutbah oleh Ustaz Suharsono.

Setelah itu, warga dapat bersalam-salaman dengan Duta besar RI untuk Jerman, Abdul Kadir Jailani. Seneng banget Pak Dubes yang ramah mau ngobrol dengan masyarakat, termasuk saya yang datang jauh dari Frankfurt. Saya juga melihat warga banyak yang saling bersilaturahmi, meski tak sedikit yang buru-buru pulang karena harus kembali bekerja atau sekolah, seperti teman saya Filza.

Usai halalbihalal, kami bisa menukarkan kupon dengan satu buah bingkisan yang isinya ada makanan khas lebaran (opor, sayur, telur balado, minus ketupat yang diganfi nasi), kerupuk, buah dan air mineral. Bahagia deh! Hal ini agak berbeda dengan di Frankfurt yang biasanya kami langsung menikmati sajian khasnya di Wisma. Namun, intinya sih sama aja, dapat makanan pelepas rindu Idulfitri khas Tanah air hehehe.

Kesan saya, KBRI Berlin gedungnya mumpuni, bersih, dan cukup nyaman. Acara salat dan halalbihalal yang sederhana dan menyenangkan, berlangsung pun tepat waktu.

Cuaca cukup hangat membuat saya dan teman-teman memutuskan makan sajian lebaran kami di kawasan Museum insel dan kami juga jalan-jalan ke Landmark Berlin, Brandenburger Tor dan foto-foto di sana. Turis banget yak! Selanjutnya, kami menikmati bubble tea yang tokonya banyak tersebar di pusat perbelanjaan ibu kota.

Oiya kisah lebaran kami belum berakhir. Malam harinya karena lapar, saya dan teman-teman ingin berburu bakso dan tentu saja resto Indonesia jadi destinasi. Kami pun bergegas ke Koempul Restoran dan ternyata rame banget. Entah karena Jumat, lebaran atau karena waktunya makan malam. Kami tidak dapat kursi dan meja di dalam resto, sehingga kami makan di suasana outdoor dengan menunggu cukup lama karena resto pekerjanya cuma 3 orang. Kami pun memaklumi dan nggak banyak protes.

Bakso tiba dan segera kami santap karena udara Berlin semakin dingin hihihi. ‎

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *