HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT V (78A)

Karya RD. Kedum

Sudah dua malam ini aku tinggal di istana Puyang Pekik Nyaring. Istana Pekik Nyaring yang sederhana namun asri di sisi gunung Dempu. Istana yang menghadap ke barat ini masih seperti dulu, berdiri tegak dan karismatik. Rumah-rumah panggung yang tertata, pohon yang rindang, dan gemericik air ke luar dari sisi batu. Satu malam lagi bulan akan bulat sempurna.

Puyang Pekik Nyaring akan membawaku untuk tirakat entah di mana. Semua diundang untuk hadir pada malam purnama tersebut, dengan alasan untuk memanjatkan doa bersama terlebih dahulu. Makanya beberapa hari ini aku melihat para kerbai sibuk mempersiapkan berbagai macam hal. Ada yang menampi beras, bergotong-royong memasak lemang di ruas buluh, membuat bajik, ruti benar, juadah basah dan lain-lain.Untuk mengisi waktu, aku berjalan keliling kampung sendiri. Beberapa perempuan dan lelaki menghampiriku mengajak singgah ke rumah mereka. Mereka ramah-ramah. Tua muda menyalami aku, bahkan ada yang sujud mencium tanganku membuat aku risih dan kikuk. Sebab, jika dilihat dari usia mereka lebih tua dariku. Tidak jarang kepala kami beradu gara-gara hendak sujud berbarengan. Sekali lagi aku menikmati hawa dan pemandangan sepanjang jalan. Kerajaan tak kasat mata terletak di sisi jurang dan beting ini, tak kalah asrinya dengan kerajaan di puncak gunung Dempu sisi timur yang menghadap ke kota Pagaralam dan sebagian lagi luasnya ke arah Lintang. Kampung tempat nenek Ceriwis, saudara dan keluarga Nenek Kam dari bangsa nenek gunung. Kampung yang beberapa kali kukunjungi ketika ada yang bagok’an (hajatan). Aku terus berjalan-jalan sendiri menikmati hawa kampung yang sejuk. Aku sengaja memilih jalan sendiri, meski aku tahu ada dua pengawal yang mengikuti aku dari belakang dan sengaja membuat jarak denganku. Pengawal itu diperintah Puyang untuk menjagaku. Padahal aku tidak suka dikawal-kawal.

“Mau kemana Putri Selasih? Mengapa berjalan sendiri?” Seorang lelaki tua menyapaku sembari melihat-lihat ke arah belakangku. “Iya, Wak, sengaja berjalan sendiri. Aku hanya keliling-keliling dekat sini saja” Jawabku. “Mengapa tidak ada yang mengawalmu? Tidak mungkin dibiarkan sendiri. Tunggu Selasih.” Ujarnya sembari lenyap di hadapanku. Aku heran siapa beliau? Mengapa beliau begitu perhatian denganku. Belum lagi kering lidahku, orang yang kusapa Wak sudah ada di hadapanku bersama dua orang pengawal. “Mereka berdua bertugas mengawalmu selama kau pergi kemana-mana, Selasih,” ujarnya. “Tapi Wak, aku sudah biasa berjalan sendiri. Tidak mesti dikawal,” balasku. Sebenarnya aku risih mendapat perlakuan yang berlebihan seperti ini. Aku tidak biasa dikawal-kawal. Wak tersenyum sambil mengangguk tetap bersikukuh supaya aku dikawal. “Bagaimana pun, kau adalah cucung Puyang Pekik Nyaring junjungan kami, Selasih. Kami akan merasa bersalah jika tidak menjagamu. Dan ini tugasku, Selasih.” Ujarnya lagi. Aku serasa tersanjung. Akhirnya meski terasa kurang nyaman, kupatuhi saja kemauan Wak. Mungkin kalau di dunia nyata, beliau adalah komandannya. Melihat penampilannya beliau seorang jawara yang gagah dan tegas. Ini terlihat dari bentuk rahangnya yang kokoh dan bersegi. Sebenarnya aku ingin berjalan bersama A Fung. Tapi adik Tionghoaku itu sedang belajar bersama kawan-kawannya. Macan Kumbang juga sedang ada pekerjaan bersama Nenek Kam. Eyang Kuda bersama sesepuhku yang lain sedang kumpul-kumpul di rumah baghi bagian istana Pekik Nyaring. “Paman, itu jalan ke mana?” Tanyaku ketika nelihat ada jalan lurus ke atas. “Itu ke puncak gunung Dempu” Ujar Paman pengawal. “Aku boleh ke sana kan? Aku ingin mendekat ke kawahnya. Sudah lama sekali aku tidak berjalan-jalan sekitar itu. Melihat sawah dan perkampungan di sana,” pintaku penuh harap. “Tentu saja boleh, Selasih. Mari,” ajak Paman pengawal mendahului aku. Kami berjalan melalui perkampungan kecil. Nampaknya ini kampung yang paling pinggir, karena masih terbilang sepi. Rumah panggungnya jarang-jarang. Tapi aku sungguh menikmatinya. “Ada baiknya kita pakai kendaraan saja, Selasih?” Ujar Paman pengawal satu lagi. Kendaraan yang beliau maksud tentu angin atau awan. Memang nampaknya bagian yang kutunjuk puncak Dempu dekat. Jika di jajaki lumayan jauh. Akhirnya aku menyetujui. Paman memanggil angin. Dalam waktu sekejap, kami sudah berada di puncak. “Allahu Akbar!”Aku berteriak bahagia di gundukan tanah agak bertebing. Di alam nyata aku melihat tanah berbatu dan kayu panjang umur terhampar di bawah sinar rembulan. Aku menarik nafas kala melihat kayu panjang umur sudah semakin sedikit. Banyak bagian puncak yang ompong. Aku kecewa. Ini pasti kelakuan pendaki amatiran. Muncak, tapi tidak punya kesadaran untuk merawat alam.

Di alam tak kasat mata, wilayah ini adalah perkampungan yang asri, memiliki istana serta masjidnya seperti warna emas. “Ini jalan ke rumah nenek Kam, kan Paman?” Tanyaku setelah melalui jalan lurus datar dan bersih. Rumah-rumah panggung berpagar kayu panjang umur. “Benar, Selasih. Hanya saja rumah-rumahnya terlihat sepi. Karena orang-orangnya jika tidak pergi ke sawah, ke kebun, sebagian lagi pergi ke pasar.” Ke pasar? Pasar mana, Paman?” Tanyaku ingin tahu. Paman menarik tanganku. Lalu dalam sekejap aku sudah berada di pasar. “Lihatlah aktivitas orang-orang di pasar, Selasih. Di puncak Dempu bagian Selatan ini ada pasar. Ini pasar yang paling ramai di sekitar kerajaan Dempu. Ujar Paman pengawal menjelaskan. Beberapa tahun yang lalu ketika aku ikut nenek Kam ke mari, aku melihat keramaian tidak jauh dengan istana kerajaan. Rupanya ini pasar lain lagi. Aku melihat banyak orang seleweran. Tapi bangsa nenek gunung alias manusia hariamau semua. Berbeda ketika aku berada di kota Hatam Maras. Makhluknya berbeda-beda bentuk. Bahkan ada bangsa manusia yang jalan-jalan ke sana. Aku turun hendak melihat aktivitas pasar dari dekat. Paman pengawal tidak melarang. Mereka mengiring aku dari Belakang. Tak kusangka, beberapa orang menghampiri dan menyalami aku baik tua mau pun muda. Aku bingung. Mengapa mereka menyalami aku? “Mereka warga kerajaan Pekik Nyaring, Selasih. Mereka tahu siapa dirimu. Kamu mereka anggap tamu terhormat.” Kata Paman penjaga. Aku hanya memahami bahwa mereka warga Pekik Nyaring. Artinya rakyat Puyangku. Tapi bagaimana mereka bisa memastikan jika aku adalah keturunan Pekik Nyaring? Aku tertarik melihat aktivitas di pasar. Banyak sekali yang menjual bahan pokok. Termasuk juga pakaian dan kebutuhan lainnya. Ada juga yang menggelar dagangannya di pinggir jalan. Oh, ternyata di sini ada yang menjual jamur. Dan jamurnya pun bermacam-macam. Aku tersenyum dengan perempuan penjual jamur yang memandangku dari atas sampai bawah. Mungkin aku dianggap makhluk aneh di matanya. Sebab jarang-jarang ada perempuan memakai baju ciri khas kerajaan berkeliaran di tempat umum.Aku masuk makin dalam, pasar semakin ramai. Sesekali aku mendengar mereka berinteraksi. Mereka menggunakan bahasa nenek gunung. Aku mencoba memahami apa yang mereka obrolkan. “Kalau melihat penampilannya, nampaknya dia bukan seratus persen makhluk gunung. Tapi jika melihat pakaiannya, dia keluarga Puyang Pekik Nyaring,” ujar salah satu ibu-ibu yang ngobrol dengan pedagang. Baru aku paham jika kehadiranku menarik perhatian banyak orang karena atribut yang kukenakan. Aku memakai baju kebaya kurung, lalu di bagian leher ada benang emas mirip bordiran yang melengkung seperti pucuk-pucuk pakis.

“Paman, mari kita ke luar dari pasar ini.” Ujarku ketika melihat perhatian orang semakin banyak padaku. Padahal aku ingin memperhatikan bagaimana cara jual beli di alam ini. Aku ingin melihat mata uang yang mereka jadikan sebagai alat tukar. Tapi demi melihat mereka seperti menatapku sebagai pejabat teras, akhirnya aku memilih untuk ke luar pasar. Atau mereka heran karena melihat aku dikawal dua lelaki kerajaan yang gagah. Entahlah. Yang jelas, pasti tak sedikit di antara mereka bertanya-tanya siapa aku. Akhirnya kami sepakat ke luar dari pasar. Paman mengajakku berjalan ke arah Tenggara, bagian yang lebih lapang. “Paman, izinkan aku melihat ke dataran tinggi itu. Nampaknya ramai, Paman?” Ujarku setelah mendengar suara seperti kelompok anak muda. “Silahkan Selasih. Itu bangsamu yang sedang bermalam. Mereka pendaki dan bermalam di puncak.” Lanjut Paman. Benar dari jauh aku melihat ada empat tenda berdiri. Tak lama aku mendekati tenda pendaki. Sekelompok anak muda nampak gembira sekali. Mereka tertawa cekikikan, perempuan dan laki-laki tidur-tiduran tanpa batas tidak ada rasa malunya. Aku yang malu sendiri melihat tingkah mereka. “Aku jijik melihat tingkah mereka , Paman. Mereka bukan pendaki sejati. Mereka hanya ‘beladasan’ datang ke mari!” Ujarku agak kesal. Semua dibuat mereka bercanda. Di antara mereka ada yang mengingatkan, kalau gembira jangan berlebihan, tetap jaga etika. Tapi tidak mereka hiraukan. “Yang perempuan sebaiknya di tenda perempuan nanti ada dua orang yang gantian menjaga tenda kalian. Silakan istirahat, fajar masih agak lama. Nanti setelah fajar baru dibangunkan untuk melihat matahari terbit.” Ujar di antara mereka. Namun ternyata tidak diindahkan oleh para pemuda itu. Aku menatap Paman pengawal. Aku berharap mereka melakukan sesuatu? “Ada apa Selasih?” Tanyanya. “Apa perlu dikasih peringatan anak-anak ini, Paman?” Tanyaku setelah melihat tingkah laku mereka yang tidak senonoh. “Sangat perlu, Putri Selasih! Mereka bangsa manusia yang tidak punya tata krama.”

Tiba-tiba di belakangku berdiri lelaki tinggi besar seperti pendekar. Di pinggangnya terselip parang dengan gagang menyembul di balik rompi yang dikenakannya. “Assalamualaikum” Nadaku kaget. “Walaikum Salam, Selasih. Selamat datang di kampung halamanmu. Mereka rombongan anak-anak dari Palembang, Prabumulih, Batu Raja, dan Pagaralam. Dari mulai naik, lelaki dan perempuan sama saja, teriak-teriak, tertawa, bercanda tidak ada henti sampai ke mari. Suara mereka kencang sekali. Tidak sopan!” Ujar paman yang tidak kuketahui namanya namun nampaknya sangat mengenal aku. Aku membenarkan perkataan beliau jika anak-anak ini tidak sopan. Dari cara mereka berkumpul lelaki dan perempuan dalam satu tenda, tidak wajar dan melebihi batas. Aku menongolkan kepala ke dalam tenda mereka. Rasanya mau kuangkat tendanya ketika melihat ada lelaki dan perempuan yang tidur sembari berpelukan tanpa menghiraukan yang lain. Kulanjutkan melongokkan kepala ke tenda ke dua, kulihat semua perempuan berbaring sambil bercerita. Tenda ke tiga lelaki semua, lalu tenda ke empat ada perempuan dan lelaki sama dengan tenda pertama. “Paman, mau diapakan mereka? Kulihat ada beberapa orang keningnya ada tanda. Mau diapakan mereka Paman?” Tanyaku ketika melihat seperti jempol kaki nenek gunung di keningnya. “Mereka akan dijemput. Dia harus mempertanggujawabakan kelakuannya karena sudah mengotori tempat kita ini.” Ujar Paman penjaga lagi. “Dijemput? Maksudnya akan dijodohkan?” Tanyaku yang segera dijawab Paman dengan gelengan. “Mereka akan diambil lalu di bawa alam kita, karena sudah keterlaluan. Akan kita jemput satu-satu” Ujar Paman penjaga lagi. Aku tidak mengira begitu kerasnya hukum di sini. Kupikir cukup dengan memberi peringatan, menakuti-nakuti mereka saja. Dan jika diizinkan aku bisa membuat mereka kapok. Namun melihat di kening mereka sudah ada tanda, artinya tidak bisa diurungkan lagi. Ibarat sebuah perjanjian, maka tanda di kening itu semacam materai dan stempel. Tiba-tiba di alam nyata aku melihat awan gelap yang sengaja di dorong dan dikumpulkan di puncak Dempo oleh salah satu penjaga. Angin lembab berhembus sedikit kencang. Awan gelap pelan-pelan semakin rendah seperti membalut area tenda para pendaki. Tak lama tenda para pendaki ada yang roboh sementara kabut semakin tebal. Tiba-tiba hujan turun sangat lebat. Aku melihat mereka sudah mulai panik. Ada yang teriak-teriak memanggil ibu mereka, ada yang menyebut dan memuji nama Tuhan, beristighfar dan lain sebagainya. Dalam keadaan cemas salah satu kawan mereka segera azan. Tak lama aku mendengar suara merdu azan salah satu pendaki. Meski puncak sudah diguyur hujan namun suara pendaki tetap terdengar syahdu. Mendengar suara azan yang dilatunkan salah satu pendaki tersebut paman penjaga menghentikan mendorong angin dan gumpalan awan yang berarak. Suasana pelan-pelan hening. Angin tidak menderu lagi. Awan mulai menyingkir. Masya Allah, di sinilah aku melihat dengan mata dan kepala sendiri bagaimana alam ikut khusuk ketika mendengar azan dilantunkan, mengisi puncak, lereng, dan lembah. Semula kabut dan hujan lebat. Sekarang langit berubah terang karena diazani. Tanpa terasa air mataku mengambang karena haru. Bulu kudukku meremang karena suara azan yang dilantunkan salah satu pendaki itu memang sangat merdu. Begitu juga dengan paman pengawal dan paman penjaga. Semua khusuk mendengarkan hingga selesai.

Aku kembali memperhatikan rombongan pendaki. Karena dua tenda mereka roboh, sekarang mereka berkumpul menjadi dua tenda yang sempit. Tidak ada yang berbaring. Semua hanya bisa duduk membisu. Jika sebelumnya mereka tertawa, bercanda tidak henti, sekarang terlihat wajah-wajah cemas.Bahkan yang perempuan terisak-isak, menangis ingin pulang. “Kita tidak tahu apakah akan terus hujan atau tidak. Jika kita paksakan turun dalam keadaan hujan, aku khawatir kita akan kedinginan. Dan ini lebih berbahaya. Berdoa saja semoga kita semua selamat dan kabut serta hujan segera berhenti.” Kata salah satu mereka menyakinkan kaum perempuan yang mulai berurai air mata. Lampu badai yang mereka pegang nampak kelap-kelip remang-remang karen berembun. Melihat kondisi para pendaki seperti ini, muncul rasa kasihanku. Jika sebelumnya aku ingin marah, namun sekarang muncul rasa iba. Apalagi ketika melihat wajah cemas mereka. Terlihat sekali jika mereka tidak punya nyalih sama sekali.

Tiba-tiba hujan berhenti, angin berhenti, kabut pun menyingkir. Aku melihat langit berubah cerah. Bersih tanpa awan. Bulan pun nampak seperti tergantung di awang-awang. Namun bagi pandangan anak-anak pendaki tersebut alam tetap buram, namun tidak hujan dan berkabut saja. Dalam hati aku mengagumi para nenek gunung ini. Mereka memiliki kemampuan yang bermacam-macam. Mengelabui pandangan lewat sedikit halimun, mengundang angin dan hujan, dan lain sebagainya. Dengan mudah mereka membuat pandangan pendaki yang nakal dengan meniup wajah mereka satu-satu. Namun umumnya yang mendapatkan gangguan, mereka yang mendaki bukan karena niat hati yang bersih dan selalu menjaga etika, tapi lebih banyak untuk bersenang-senang. Meski rasanya berat, akhirnya aku meninggalkan para pendaki. Beberapa orang yang diberi tanda, tinggal menunggu kabar eksekusi saja. Mungkin pulang dari sini mereka ada yang sakit lalu meninggal. Atau ada yang langsung diambil, dan lain sebagainya. Di gunung Dempu ini, selain bangsa nenek gunung, ada juga makhluk yang jahil. Mereka penghuni gunung Dempu ini dari golongan jin fasik selalu mencari selah untuk mengganggu dan mencelakakan bangsa manusia. Mereka tidak tinggal di perkampungan dan kerajaan nenek gunung. Mereka tinggal di lembah-lembah, lereng-lereng yang jauh dari istana Dempu dan Pekik Nyaring. Mereka Kerap menyesatkan para pendaki. Kadang kabut halimun mereka jadikan kesempatan untuk menyesatkan. Kesadaran para pendaki sering mereka ubah seperti orang bingung. Ketika berjalan, perasaan mereka sudah berjalan jauh, padahal berkeliling di area mereka berdiri. Lalu sering manusia mereka sembunyikan di alam gaib sehingga mereka tidak pernah bisa mencari jalan pulang akhirnya meninggal karena lapar dan kedinginan.

Sebenarnya, tidak sedikit para pendaki yang ditolong bangsa nenek gunung, jika kebetulan para nenek gunung mengetahui dan melihat mereka seperti kena sihir. Maka para nenek gunung mengantar dan membimbing para pendaki hingga batas pintu gerbang dengan cara mereka. Akhirnya aku dan Paman pengawal mohon diri. Paman penjaga menyilahkan kami melanjutkan perjalanan. Kali ini aku mendekati kawah gunung Dempu. Uap belerang tidak terlalu menyengat. Air telaga nampak agak tenang dibandingkan hari-hari tertentu kadang menggelegak mengeluarkan hawa panas dan kabut asap yang menggumpal. “Paman, aku merasakan penjaga kawah ini marah. Apakah ada hubungan dengan anak-anak pendaki itu?” Ujarku pelan. “Tidak hanya karena anak-anak itu. Tapi banyak hal yang membuat puyang Naga Merah marah. Yang naik ke puncak ini tidak semua memiliki moral baik, beretika, berhati bersih. Banyak di antara mereka tidak paham adat istiadat. Mereka berbuat maksiat. Mereka kira pegunungan ini sepi. Hanya mereka saja makhluk hidup. Mereka tidak mempercayai alam kita. Makanya mereka berbuat sesuka hati. Apalagi di lembah, kemaksiatan merajalela. Sudah beberapa kali kawah ini batuk memberi peringatan pada makhluk hidup, terutama manusia. Namun masih juga tidak dihiraukan. Masih juga banyak yang gemar berbuat dosa. Berjudi, mabuk-mabukkan, berzinah, suka sesama jenis, dan lain-lain. Anak yatim piatu ditelantarkan, orang tua jompo tidak dihiraukan. Dan masih banyak yang lainnya yang membuat gunung ini menahan amarah. Entah kapan jika sudah tak terbendung lagi, dan kesabaran Puyang Naga Merah habis, maka kawah ini akan kembali mengamuk…” Tutur Paman Pengawal.

“Astaghfirullahal adziim, Yaa Allah…ternyata tak hanya laut menahan amarah terhadap tingkah laku manusia, Paman. Ternyata gunung juga.” Ujarku sedikit bergetar. Baru kutahu jika telaga ini dijaga Puyang Naga Merah. “Benar Selasih, gunung, bukit, laut, angin, hujan, hanya menunggu waktu saja untuk meluapkan amarahnya.” Lanjut Paman pengawal. “Masya Allah…semoga kita termasuk hamba yang senantiasa bersyukur, Paman,” ujarku tak mampu berkata-kata lagi. “Aamiin Yaa Rabbal Alamin. Semoga. Meski banyak bangsa manusia selalu mengatakan bencana adalah fenomena alam. Semoga mereka mendapatkan hidayah. Mereka melupakan siapa pemilik semesta alam ini. Meski telah diberi pencerahan, namun banyak juga bangsamu tidak memanfaatkan akal sebagai karunia. Banyak yang tidak mendapat hidayah karena berhati batu. Tidak bisa menerima kebaikan. Kemusyrikan masih berkembang, ilmu teluh santet, perdukunan, dan lain sebagainya menjadi kegemaran. Percaya dengan alam gaib, namun tidak membuat mereka meyakini siapa pemiliknya.” Ujar Paman Pengawas sambil menggesek-gesekan kakinya ke atas batu.

Kami masih berdiri di bibir kawah. Aku memandang ke dalam telaga dalam-dalam. Aku membatin berbicara pada telaga. Agar memaafkan kesalahan bangsa manusia dan bersama berdoa agar mereka mendapat hidayah dan kembali ke jalan-Nya. Wussss!!! Aku kaget ketika melihat sosok mengeliat dari dalam telaga ke atas kawah. Asap kecil yang semula mengepul lurus, menjadi buyar. Tak lama naga itu seperti terbang di atas kawah. Tubuhnya berwarna merah dengan mata terang seperti lampu sorot berwarna merah juga. Suasana bibir telaga menjadi terang benderang. Gerakannya membuat angin sedikit mendesing. Tak lama ular naga tersebut mendarat. Tubuhnya besar sekali. Kumisnya yang panjang, gigi bertaring mirip mata gergaji, dan sisik yang tebal mengkilap, membuat ular naga merah seperti bara api. Aku dan dua paman Pengawal hanya sebesar sebelah kakinya. Aku menatapnya lekat-lekat. Nampaknya inilah yang dimaksud Paman Pengawal tadi, makhluk naga pejaga telaga kawah merapi gunung Dempu.”Assalamualaikum Warohmatullahi Wabarokatuh, Puyang. Kenalkan, aku Putri Selasih, cucu Puyang Pekik Nyaring. Maafkan telah mengganggu peristirahatan Puyang.” Aku langsung sujud menghadap Puyang Naga Merah. Demikian juga dua Paman Pengawal ikut sujud penuh hikmat. Setelah aku mengangkat kepala, batinku mengatakan aku pernah melihat dan bersua dengan puyang Naga Merah ini. Namun bukan dalam sosok naga. Iya, aku ingat, baru beberapa malam yang lalu aku bersua dengan beliau di rumah baghi Puyang Bukit Selepah. “Maafkan aku Puyang, aku lancang, lamban mengenal Puyang.” Aku kembali sujud setengah kaget. Puyang Naga Merah tertawa ringan. Dirinya telah mengubah menjadi sosok seorang kiayi bergamis putih, kepalanya diikat sorban. Posturnya tinggi besar dan gagah, berjenggot sedikit panjang. Alisnya pun panjang, bahkan sudah berwarna putih semua.”Kukira siapa yang bertamu. Ternyata gadis Besemah, cucung kesayangan saudaraku Puyang Bukit Selepah dan Pekik Nyaring. Selamat datang Cung,” Puyang Naga Merah masih tersenyum. Aku bahagia sekali bisa mengenal beliau. “Terimakasih sudah mengizinkan kami ke mari, Puyang.” Ujarku lagi. Puyang Naga Merah mendekat. Langkahnya ringan sekali. “Ini area milik kalian juga, tidak ada hak Puyang untuk melarang. Kalian bebas bermain di sini. Namun tetap hati-hati. Bibir dan tebing ke kawah ini licin. Banyak anak-anak yang jatuh karena kekuranghatian mereka ketika uji nyali ingin lebih dekat ke dalam kawah. Mereka umumnya terpeleset sehingga terjatuh di bibir kawah. Akhirnya muncullah rumor di kalangan manusia bahwa Dempu minta korban. Padahal, disebabkan keteledoran bangsa manusia sendiri” Ujar Puyang Naga Merah sembari menatap ke arah telaga. “Iya, Puyang. Manusia pandai sekali merekah pikiran dan menyimpulkan sebuah kejadian. Praduga namun diyakini seakan benar-benar ada” Ujarku.”Benar sekali! Hal inilah yang sering dijadikan kesempatan bagi bangsa halus yang sengaja ingin menyesatkan bangsa manusia. Mereka masuk ke wilayah pikiran manusia agar manusia semakin yakin. Akhirnya kami yang di sini kena fitnah bukan?” Kata Puyang Naga Merah lagi. Aku mengangguk setuju. Apa yang dikatakan Puyang Naga Merah benar adanya. “Dan ini berlangsung terus menerus ya, Puyang. Seringkali ada makhluk yang menyamar menjadi bangsa nenek gunung, menyerupai kami, Selasih. Padahal mereka para jin-jin fasik yang juga tinggal di area gunung dan bukit sekitar sini,” lanjut Paman Pengawal pula. “Namanya juga makhluk hidup, ada yang baik ada yang jahat. Seperti di alam nyatamu Selasih, ada malam ada siang. Tidak ada warna hitam jika tidak ada putih. Kita bisa membedakan karena ada dua hal yang berbeda. Ada yang baik ada pula yang jahat. Namun terkadang yang baik selalu mengalah, tidak mau ikut mengusik karena tidak ingin buat masalah.” Ujar Puyang kembali. “Tapi tidak baik juga jika dibiarkan, Puyang,” ujarku. “Jika sangat terdesak tentu saja akan kita lawan dan di usir dari area Dempu ini. Tapi namanya makhluk hidup, ada saja lengahnya. Makhluk itu berusaha mencari sela. Mereka paling gemar memperdaya bangsa manusia.” Kata Puyang Naga Merah.

Aku sedikit tercenung. Apa yang beliau katakan benar adanya. Lagi-lagi bergantung pada keimanan manusia sebagai benteng agar tidak mudah dijerumuskan oleh bangsa setan, jin fasik, dan iblis. Mereka memang bertugas untuk menggoda dan menyesatkan manusia. Baru saja aku hendak pamit pulang, tiba-tiba aku mendengar angin kencang di belakangku. Hujan sudah berhenti. Halimun jatuh rendah di atas daratan tiba-tiba bergeser cepat. Kulihat tenda para pendaki roboh semuanya. Suara para perempuan menjerit berbarengan. Aku langsung menoleh. Tak lama aku melihat di antara mereka ada yang kesurupan. Tanganku ditarik Paman Naga Merah untuk jangan dulu mendekat ke sana. “Kita perhatikan dulu sejenak, Selasih. Nanti baru kita melakukan tindakan. Anak-anak itu diganggu oleh bangsa jin fasik yang berdiam di sekitar sini.” Ujar Puyang Naga Merah lagi. Akhirnya aku diam berdiri menatap anak-anak pendaki yang panik. Mereka terlihat ramai dan sangat sibuk memanggil-manggil nama kawannya. Ada yang berusaha memperbaiki tenda, ada yang berusaha memegangi kawannya yang kesurupan. Sebagian lagi ada yang berusaha menyadarkan kawan mereka dengan menyebut asma Allah dan membaca berbagai macam ayat suci. Tak lama satu orang lagi menyusul tumbang sambil menggeram seperti harimau. Sekarang ada dua anak yang kesurupan berbarengan. “Mengapa kalian di sini ha? Kalian mengganggu ketenangan kami” Ujar salah satu yang kesurupan. Aku melihat yang masuk ke dalam tubuh anak itu dua-duanya makhluk bertanduk tinggi besar bermata merah. “Kami hanya hendak menikmati keindahan alam puncak Dempu ini, Nek. Maafkan jika kami melakukan kesalahan” Nada di antara mereka gemetaran. “Kalian tidak tahu diri, tidak sopan masuk ke wilayah kami” Ujarnya kembali. Anak-anak pendaki semakin pucat. Yang perempuan tidak mampu lagi menangis. Tiba-tiba area puncak hening. Hanya suara geraman yang kesurupan dan gigil tubuh para pendaki karena rasa takut yang sangat. Melihat anak-anak pendaki ketakutan, para jin fasik tertawa senang. Mereka nampak sangat puas melihat manusia ketakutan mirip seperti anak ayam melihat elang. Tidak bisa berkutik. Bahkan mereka memanggil kawan-kawan mereka lebih banyak.

Aku seperti melihat sebuah pertunjukan drama. Karena dua tokoh hitam bertanduk itu bukan penghuni gunung Dempu dari golongan nenek gunung dan kelompok jin putih lainnya. Mereka kerap mengatasnamakan nenek gunung dan golongan putih di area ini untuk mengganggu bangsa manusia. Aku melihat anak yang kesurupan menjadi bulan-bulan para jin fasik tersebut. Sementara secara kasat mata si anak menjerit dan menggeram dengan mata terbelalak merah seperti hendak ke luar. Tak berapa lama datang kembali pasukan jin fasik ini. Angin berkesiur kencang. Mereka tertawa terbahak-bahak. Sementara yang kesurupan terus mereka ganggu. Jantungnya di pukul-pukul, hatinya di remas-remas, kepalanya ditusuk-tusuk dan lain sebagainya. Ada juga yang menginjak-nginjak perutnya. Melihat itu sungguh aku tidak tega. Aku menahan emosi hingga gigiku gemelutuk. “Puyang…” Aku menatap Puyang Naga Merah minta izin untuk turun tangan. Hiaaaaaaat!! Beberapa sosok dari golongan manusia harimau kulihat melompat dan langsung menyerang jin fasik. Mereka terpental bahkan ada yang mati di tempat. Selebihnya mereka di kejar hingga menjauh dari area gunung. Jin fasik tak sempat untuk membela diri kecuali kabur. Aku menarik nafas lega. Pendaki yang kesurupan sudah sadar kembali. Tubuhnya lemas seperti tak bertenaga. Tenda yang roboh mereka tegakkan kembali. Semuanya kembali masuk ke dalam tenda masing-masing tanpa suara. Aku yakin malam ini mereka tidak bisa memicingkan mata sedikit pun. “Sebelum matahari terbit, kalian harus turun dari sini. Awas jika kalian masih cengegesan tidak keruan batas, akan aku lempar kalian.” Salah satu pengawal berdiri tegap menghadap empat tenda. Anak-anak itu hanya mendengar suara saja tanpa melihat fisik yang berbicara. Suasana terlihat semakin mencekam. Anak-anak pendaki sudah tidak mampu berbicara. Mereka hanya bisa menarik nafas setengah pingsan. Udara pegunungan sangat dingin sebenarnya, darah terasa beku. Namun keringat mereka seperti anak sungai mengalir deras. Mereka tidak tahu jika telah ditolong oleh nenek gunung penjaga. “Mengapa kalian diam semua? Tadi tingkah kalian seperti iblis, tertawa tidak henti, tidur berbarengan tanpa jarak padahal kalian bukan suami istri. Kalian tidak beradat! Tidak beretika. Tingkah kalian melebihi hewan!” Ujar paman Penjaga satu lagi sambil menarik ujung tenda. Tenda menjadi bergoyang-goyang seperti akan roboh kembali.

Gggrrrhhh….gggrrrhhh…gggrrrrhhh. Seeokor harimau sumatera tiba-tiba ke luar dari balik semak-semak kayu panjang umur. Mendengar suara harimau sangat dekat, para pendaki semakin ketakutan bahkan kulihat sembilan puluh persen pingsan. Padahal paman penjaga dan ‘ingunan’nya sekadar berdiri mengawasi. Aku melihat beberapa pasang mata dari bangsa nenek gunung ikut mengawasi aktivitas paman Penjaga dan para pendaki. Untung para nenek gunung di kampung ini sedang sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Aku hanya melihat sawah-sawah yang masih hijau di hilir tidak jauh dari area kemah, dan rumah-rumah yang hanya terbuka beberapa jendela. Kalau tidak pasti di sini akan lebih ramai. “Mereka pingsan semua, Puyang,” bisikku disambut Puyang dengan anggukan kecil. “Semoga bisa jadi pelajaran untuk mereka.” Ujar Puyang lagi. “Mari Putri Selasih” Puyang Naga Merah membimbingku mendekati penjaga gunung yang masih berdiri mengawasi para pendaki. Aku mengikuti beliau, berjalan di belakangnya. Sementara dua paman Pengawal berjalan berbarengan di belakangku. Entah apa yang akan dilakukan Puyang Naga Merah. Akankah beliau melempar para pendaki ke lembah?

Bersambung..

J’adoreCommenterPartager

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *