Masjid Soeharto di Sarajevo: Jejak Solidaritas Indonesia di Jantung Balkan
Sarajevo, Bosnia dan Herzegovina —Di tengah perbukitan Sarajevo yang sarat jejak sejarah konflik dan rekonsiliasi, berdiri sebuah masjid yang namanya merekam hubungan lintas benua: Masjid Soeharto. Rumah ibadah ini bukan sekadar bangunan religius, melainkan simbol nyata solidaritas Indonesia terhadap rakyat Bosnia dan Herzegovina pascaperang Balkan pada dekade 1990-an.

Masjid Soeharto dibangun sebagai bagian dari dukungan kemanusiaan Indonesia kepada Bosnia, yang kala itu baru keluar dari konflik berdarah menyusul pecahnya Yugoslavia. Perang yang berlangsung antara 1992–1995 meninggalkan luka mendalam, tidak hanya pada infrastruktur fisik, tetapi juga pada sendi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat Muslim Bosnia.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia dan memiliki komitmen kuat terhadap perdamaian internasional, mengambil peran aktif dalam proses pemulihan. Pembangunan masjid di Sarajevo menjadi salah satu bentuk konkret dari solidaritas tersebut—sebuah pesan bahwa Bosnia tidak sendiri dalam menata kembali kehidupan pascakonflik.

Masjid ini kemudian dikenal luas sebagai Masjid Soeharto, merujuk pada Presiden Republik Indonesia ke-2, di masa kepemimpinannya Indonesia memberikan dukungan signifikan bagi Bosnia. Di kalangan masyarakat setempat, masjid ini juga sering disebut sebagai Masjid Istiklal Sarajevo, menegaskan nilai kebebasan, kemerdekaan, dan kebangkitan yang diusung pembangunannya.

Secara arsitektural, Masjid Soeharto memadukan gaya Islam modern dengan sentuhan lokal Bosnia. Bangunannya sederhana namun fungsional, dirancang untuk menjadi pusat ibadah sekaligus ruang aktivitas sosial dan pendidikan. Seiring waktu, masjid ini berkembang menjadi titik pertemuan komunitas Muslim Sarajevo, tempat berlangsungnya pengajian, diskusi keagamaan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan.
Lebih dari dua dekade setelah perang berakhir, Masjid Soeharto tetap berdiri sebagai pengingat akan fase penting sejarah Bosnia—masa ketika dukungan internasional menjadi penopang utama pemulihan bangsa. Bagi Indonesia, masjid ini merupakan warisan diplomasi kemanusiaan yang melampaui hubungan formal antarnegara.
Kunjungan tokoh-tokoh Indonesia ke Masjid Soeharto, termasuk pejabat tinggi negara, kerap dipandang sebagai penegasan kembali hubungan historis Indonesia–Bosnia dan Herzegovina. Di tengah dinamika global yang terus berubah, masjid ini menjadi simbol bahwa diplomasi tidak selalu diwujudkan melalui perjanjian politik atau kerja sama ekonomi, tetapi juga melalui empati, iman, dan kepedulian lintas bangsa.
Masjid Soeharto di Sarajevo dengan demikian bukan hanya bagian dari lanskap keagamaan Bosnia, melainkan juga bagian dari jejak sejarah Indonesia di panggung internasional—sebuah monumen sunyi tentang bagaimana solidaritas dapat membangun jembatan abadi di antara bangsa-bangsa.

