Indonesia Culinary Diplomacy Festival 2026: Berdiplomasi Lewat Makanan Indonesia di Berlin

Catatan Aulia Kurnia Hakim – Jerman

Halo, Sobat-sobat Dunia! Rabu, 21 Oktober 2026, aku berkesempatan datang ke Kedutaan Besar Republik Indonesia atau KBRI Berlin untuk meliput sebuah acara bertajuk Indonesia Culinary Diplomacy Festival 2026.

Acara yang diselenggarakan oleh GEKRAFS Jerman, atau Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional di Jerman, ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ekonomi Kreatif Nasional atau HEKRAFNAS, yang diperingati setiap tanggal 24 Oktober.

Dalam kesempatan ini, turut diundang masyarakat Jerman, perwakilan negara sahabat, serta berbagai organisasi yang berkolaborasi dengan KBRI Berlin. Tujuannya bukan sekadar memperkenalkan makanan khas Nusantara, tetapi juga menjadikan kuliner sebagai salah satu sarana diplomasi budaya Indonesia di Jerman.

Saat saya datang sekitar pukul 17.15, sudah ada sejumlah diaspora dan tamu undangan. Rangkaian acara utama dimulai sekitar pukul 17.40 waktu setempat.

Seperti halnya acara resmi Indonesia pada umumnya, kegiatan diawali dengan sambutan yang disampaikan oleh perwakilan GEKRAFS Jerman, Hendri Utami, dan Wakil Duta Besar RI untuk Jerman, Fajar Wirawan Harijo.

Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan prosesi pemotongan tumpeng dan pertunjukan tari tradisional Indonesia. Tarian yang ditampilkan adalah Tari Piring dari Sumatra Barat.

Salah satu bagian menarik dari acara ini adalah pemutaran video yang menampilkan Dimas Samudro, seorang chef asal Indonesia yang bekerja di Hamburg, Jerman. Melalui video tersebut, Chef Dimas memperkenalkan kuliner khas Nusantara, di antaranya nasi goreng dan tempe.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi talk show yang membahas peran kuliner dalam memperkenalkan Indonesia kepada dunia internasional. Nah, ada pesan menarik dari diskusi ini. Diplomasi tidak selalu harus dilakukan melalui pertemuan resmi antarnegara. Diplomasi juga bisa berlangsung melalui meja makan, karya seni, musik, bahkan cerita sederhana yang kita bagikan kepada orang lain.

Melalui makanan, kita sebenarnya juga sedang memperkenalkan identitas, tradisi, dan budaya suatu bangsa.Dalam diskusi tersebut juga dibahas tantangan menghadirkan cita rasa autentik Indonesia di Jerman. Salah satunya adalah sulitnya mendapatkan bahan makanan dan rempah-rempah asli Indonesia.

Bahkan ketika bahan tersebut tersedia, aroma dan karakteristik rasanya terkadang tidak sama dengan yang ada di Tanah Air. Kadang, keotentikan masakan Indonesia sangat bergantung pada kekayaan rempah-rempahnya.Selain diskusi dan pertunjukan budaya berupa Tari Piring dan tari Bali, festival ini juga menghadirkan berbagai pilihan kuliner Indonesia melalui bazar makanan.

Tapi nih, agak berbeda dengan bazar pada umumnya, pengunjung tidak bisa langsung membeli makanan di lokasi. Pasalnya, penyelenggara menerapkan sistem pre-order atau PO, sehingga pengunjung harus memesan makanan terlebih dahulu melalui WhatsApp sebelum acara.

Jadi nih, ketika datang ke KBRI Berlin, kita tinggal mengambil makanan yang sudah dipesan.

Pilihannya ada batagor seharga 10 euro per porsi. Lalu, ada nasi bakar dengan tiga pilihan isian, yaitu teri, ayam suwir, dan cumi, seharga 13 euro.

Selain itu, tersedia juga aneka kue tradisional dan jajanan pasar, mulai dari harga 2 euro. Dan tentu saja, aku beli beberapa dengan total nyaris 50 euro atau kalau dihitung dalam rupiah, ya lumayan juga harganya, hehe.

Jujur nihhh, aku termasuk orang yang agak malas kalau harus memasak makanan Indonesia yang prosesnya panjang dan bumbunya kompleks.

Jadi, kalau ada kesempatan menikmati makanan Indonesia yang sudah siap disantap, tentu saja tidak boleh dilewatkan!

Menurutku, acara seperti ini menarik karena mengingatkan kita bahwa makanan punya peran yang lebih besar daripada sekadar mengenyangkan perut, tetapi juga punya misi budaya. Apalagi, kalau dibandingkan dengan kuliner Thailand atau Vietnam, menurut pengamatanku, makanan Indonesia masih belum terlalu dikenal secara luas di Eropa. Padahal, Indonesia memiliki begitu banyak hidangan khas dengan cita rasa dan cerita budaya yang berbeda-beda.

Karena itulah, berbagai kegiatan yang diselenggarakan komunitas Indonesia, seperti GEKRAFS Jerman, dengan dukungan KBRI maupun KJRI setempat, menjadi salah satu cara untuk semakin memperkenalkan kuliner Nusantara di pasar internasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *