Satukan buku dan musik, menikmati diskusi akhir pekan diaspora Indonesia di Jerman

Halo Sobat Surat Dunia!
Bagaimana dengan akhir pekan kamu? Mumpung cuaca masih baik, biasanya saya suka lihat ada event apa saja di sekitar kota Frankfurt. Nah, kebetulan Sabtu, 5 September kemarin ada sebuah acara diskusi buku yang digelar di gedung KJRI Frankfurt, Zeppelinallee 23, Frankfurt. Buku yang jadi bintang hari itu judulnya menarik, Pelangi di Batas Cakrawala: Memilih Bahagia di Usia Senja. Buku tersebut ditulis oleh Lina E. Muksin dan Ticke S. Soekrani.

Acara diskusi dihadiri langsung oleh salah seorang penulisnya, Lina E. Muksin. Lina dimoderatori oleh putri kandung beliau yang juga diaspora Indonesia di Jerman, Kania. Para hadirin ada lebih dari 20-an diaspora Indonesia yang didominasi usia senior, berlangsung intim dan hangat.

Isu yang diangkat dalam buku itu dekat dengan kita sebagai manusia. Dalam hidup, umumnya manusia mengalami masa kanak-kanak, remaja, dewasa muda hingga memasuki usia senja. Saat umur dianggap sudah tidak produktif atau mungkin sudah pensiun, banyak hal yang berubah, khususnya secara fisik dan emosional.

Dalam buku ini juga, Lina tidak hanya menceritakan hobi gowes yang ternyata membawanya ke berbagai pengalaman berkesan, bahkan berbau mistis. Di antaranya, bertemu sosok menyeramkan di Garut yang sampai sekarang belum ketahuan siapa itu. Bisa jadi itu adalah orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) yang di Indonesia sayangnya masih banyak dibuang oleh keluarganya.

Inti dari buku Pelangi di Batas Cakrawala ini adalah bagaimana kita di usia tidak muda lagi ini bisa kembali banyak belajar dan menjadi lebih bahagia untuk mengisi babak baru kehidupan. Cara kita menciptakan kebahagiaan di berbagai tahapan hidup bisa bervariasi, misalnya dengan mencoba hobi baru atau hobi yang sudah lama ditekuni. Lina juga meng-highlight:
“Kebahagiaan itu tidak dicari, tapi diciptakan.”

Dalam acara ini, ada penampilan kejutan dari duo musisi, yakni Baruna Dîmaz dengan gitarnya dan Diksi Rerefany dengan biola. Mereka membawakan lagu Burung Camar yang dipopulerkan oleh Vina Panduwinata. Lagu Burung Camar sendiri berkesan bagi Lina, lantaran salah satu teman bersepedanya, Iwan Abdulrachman, adalah penulis lirik lagu legendaris tersebut.

Para diaspora yang rata-rata sudah pensiunan tersebut bernyanyi bersama saat duo musisi memainkan lagu. Saat di ujung acara pun, keduanya kembali makin meramaikan ruang serbaguna lewat lagu-lagu nostalgia. Hal ini membuat saya dan beberapa hadirin yang milenial cuma bisa saling pandang karena tak tahu itu lagu apa, berasa ikutan Berpacu dalam Melodi, hihihi.
Bagi saya yang saat ini memasuki usia tidak muda, belum tua, kegiatan seperti ini juga bisa jadi perenungan.

Bagaimana bisa mengisi sisa usia kita dengan hal-hal yang berguna, membuat happy diri sendiri, tapi juga kalau bisa bermanfaat buat sekitar. Duh, dalam, enggak tuh? Hehehe!
Saya yang tinggal di Frankfurt, jujur ada rasa sedikit bangga karena diaspora yang saya kenal dan tahu, Alhamdulillah, kooperatif dan positif. KJRI Frankfurt pun cukup aktif merangkul sejumlah komunitas diaspora untuk berkegiatan di ruang serbaguna. Organisasi-organisasi yang ada juga memiliki banyak kegiatan positif yang bisa mengajak komunitas atau warga untuk bersilaturahmi sebagai penggiat di bidang sosial budaya atau mereka yang punya hobi yang sama.

Oiya, kegiatan diskusi buku diadakan oleh Wortschatz Book Club dan didukung oleh KJRI Frankfurt, Permif e.V. (Persatuan Masyarakat Indonesia-Frankfurt), MERPATI e.V., dan Selindo.
Dukungan tidak hanya berupa soal penyebarluasan publikasi dan informasi acara, tapi juga aneka makanan yang melimpah tersaji dalam event tersebut. Ada buah-buahan, kue nastar, lapis legit, onde-onde, bolu, lapis Surabaya, dan masih banyak lagi.
Wortschatz Book Club ini digagas oleh salah satu diaspora yang aktif bersosialisasi sana-sini, yakni Etty Prihantini Theresia dan kawan-kawan. So, buat kamu yang tinggal di Jerman dan pengen ikut kegiatan diskusi buku atau read aloud, bisa cek Instagram @wortschatz.bookclub yaa 🙂

