Ketika Merantau Mengajarkanku Tentang Arah Hidup

Catatan Nasya Tanaya- France

“Merantau Jauh Akan Membuatmu Kehilangan Arah”
Namun, Bukankah Tersesat Justru Menjadi Proses Menemukan Jalan Pulang?

Memutuskan untuk kuliah di luar negeri adalah salah satu keputusan terbesar dalam hidupku. Rasanya seperti melompat ke dunia yang benar-benar baru: bahasa yang berbeda, budaya yang berbeda, dan orang-orang yang sepenuhnya asing.

Aku berangkat bersama ibuku. Di pesawat, tanganku digenggam erat oleh tangannya yang hangat, penuh nasihat dan senyum yang menenangkan. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti pelindung terakhir sebelum aku menapaki dunia baru yang belum kukenal.

Namun, begitu tiba saatnya ibuku pulang dan hari pertama kuliah dimulai, semuanya berubah. Rasanya seperti dilempar begitu saja ke dunia nyata tanpa pegangan, tanpa pelindung—hanya aku dan realitas hidupku yang baru.

Tersesat sebagai Bagian dari Perjalanan

Aku tidak jarang mendengar orang-orang berkata bahwa merantau akan membuatmu merasa kehilangan arah, terlebih lagi ketika harus hidup sendiri di negara orang, jauh dari rumah, dan menghadapi hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Namun, bukankah tersesat terkadang justru menjadi bagian dari proses menemukan jalan pulang?

Bagiku, merantau justru menjadi ruang untuk lebih mengenal diri sendiri. Yang menarik, merantau membuatku merasa lebih dekat dengan asal-usulku, Indonesia. Jauh dari rumah, aku mulai menghargai budaya, bahasa, dan kebiasaan yang dulu terasa biasa saja.

Di tengah kesibukan dunia baruku, aku menemukan sunyi yang menuntunku kepada Tuhan. Setiap kesulitan terasa sebagai bukti kasih-Nya, sekaligus pembuka jalan untuk mempertemukanku dengan orang-orang baik.

Aku juga menjadi lebih menyadari pentingnya kehadiran orang tua dan momen-momen sederhana bersama keluarga. Hal-hal yang dulu mungkin luput dari perhatian kini terasa begitu berharga.

Merantau mengajarkanku bahwa hidup bukan hanya tentang mengikuti alur, tetapi tentang menemukan jalanku sendiri. Aku mulai menyadari bahwa banyak keputusan yang dulunya terasa berat atau membingungkan bukan karena sulit, melainkan karena aku mencoba menyesuaikan diri dengan ekspektasi orang lain.

Di sini, jauh dari rumah, aku dipaksa untuk mendengarkan diriku sendiri: apa yang kuinginkan, apa yang membuatku nyaman, apa yang kupercaya, dan apa yang benar-benar penting bagiku.

Setiap Pilihan adalah Cerminan Diri

Setiap pilihan, sekecil apa pun, kini menjadi cermin dari siapa diriku sebenarnya. Aku belajar untuk bertanggung jawab atas diriku sendiri, sekaligus menerima konsekuensi dari setiap keputusan yang kuambil.

Ada rasa takut, tentu saja—takut salah, takut gagal, takut merindukan rumah. Namun, di balik ketakutan itu, ada kebebasan yang luar biasa: kebebasan untuk mencoba, untuk gagal, untuk bangkit, lalu gagal lagi, dan bangkit kembali.

Menemukan Diri Sendiri

Merantau membuatku menyadari bahwa menjalani hidup sendiri bukan sekadar memilih jalan yang berbeda dari orang lain, melainkan tentang memahami siapa diriku, mempercayai keputusan yang kuambil, dan memiliki keberanian untuk melangkah meski belum selalu mengetahui arah yang pasti.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa tersesat sesekali bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses menemukan diri sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *