Inilah Mengapa di Prancis Tanggal 1 Mei Dinamakan Hari Bunga Muguet

Di Prancis, Hari Buruh yang jatuh pada tanggal 1 Mei termasuk hari ‘sakral’ dan diusahakan terjaga kelestariannya. Hari itu dunia kerja seolah beku. Toko-toko, restoran-restoran, termasuk boulangerie atau toko roti. Toko roti merupakan tempat penting untuk mengisi perut. Bagi kebanyakan orang Eropa, roti seperti nasi bagi orang Asia.

Bahkan di beberapa kota besar, misalnya Bordeaux dan Lyon, misalnya, pada tanggal 1 Mei kendaraan umumnya pun tak berfungsi. Semua libur! Kecuali tentu saja polisi, rumah sakit dan hotel. Jika toh ada restoran yang buka, itu karena ada pengecualian. Untuk mendapatkan pengecualian, tentu harus memenuhi kriteria atau syarat tertentu. Setiap tahun selalu muncul perdebatan terkait bidang komersial apa saja yang dianggap penting untuk tetap bisa buka pada tanggal ‘keramat’ itu.

Jawaban atas permintaan toko-toko roti yang menginginkan bisa buka pada tanggal 1 Mei adalah: boleh buka asal tidak meminta pegawainya bekerja. Artinya si pemilik sendiri yang bekerja. Namun, ada tradisi lain yang sangat menarik pada Hari Buruh di Prancis, yaitu saling memberi ucapan “Bonne fête de travail” atau selamat hari buruh, dan memberikan setangkai bunga muguet (baca: mugé) atau lily lembah, baik secara langsung maupun melalui kartu elektronik.
Menurut salah satu versi sejarah yang banyak beredar, tradisi memberi setangkai lily lembah pada keluarga atau orang-orang terdekat dimulai sejak abad pertengahan. Dikisahkan, raja Charles IX bersama ibundanya, Catherine de Medicis, mengunjungi kota Saint-Paul-Trois Châteaux (Kastil Saint Paul Trois) di daerah Drôme di Tenggara Prancis. Saat itu tepat tanggal 1 Mei 1560, awal musim semi. Keduanya berjalan-jalan di kebun milik ksatria Louis de Girard de Maisonforte. Di situ bunga lily lembah tengah bermekaran. Pemandangan di kebun itu menjadi begitu indah.
Si pemilik kebun pun memetik dan memberikannya pada raja yang saat itu masih berusia 10 tahun. Rupanya perhatian tersebut sangat berkesan di hati sang raja muda. Tahun berikutnya, Charles IX masih saja terkenang pada kejadian tersebut. Atas kenangan indah itu, Charles IX membagikan bunga lily lembah pada setiap perempuan di istananya. Harapannya si penerima mendapat keberuntungan. So sweet, ya? Tak berhenti di situ, dia pun berketetapan hati untuk meneruskan tradisi ini tahun-tahun berikutnya.
Kini dari rumah abadinya di atassana, tentunya raja Charles IX boleh tersenyum bahagia karena hingga kini kebiasaan membagikan lily lembah masih berlangsung.
Pada umumnya pada satu tangkai berisi antara 5 hingga 13 bunga berbentuk deretan lonceng mungil indah berwarna putih. Konon, tangkai yang memiliki jumlah 13 lonceng pada satu tangkainya membawa keberuntungan bagi si penerima. Ah, berapapun jumlah lonceng bunga lily lembah yang kita terima, tentu tetap membuat hati kita senang. Itu juga sudah merupakan bentuk keberuntungan, bukan?

Nah, bunga lily lembah dikaitkan dengan Hari Buruh sebenarnya baru dimulai pada tahun 1941, pada zaman rejim Vichy berkuasa di Prancis (1940 – 1944). Bunga warna putih itu menggantikan bunga eglantine (sweet briar) yang berwarna merah. Bunga eglantine merah yang menjadi lambang perjuangan kaum buruh sejak akhir abad ke-19 dianggap terlalu lekat dengan warna revolusioner, merah.

Bunga lily yang berwarna putih dianggap lebih netral. Meskipun cantik dan wangi, bunga lily lembah bisa membawa petaka terutama bagi anak-anak balita dan binatang peliharaan. Iritasi di mulut, pusing maupun sakit perut bisa terjadi. Namun, tak perlu khawatir secara berlebihan. Jika hanya satu dua batang, tentu tidak begitu berbahaya. Kasus keracunan akibat bunga lily lembah juga dilaporkan hanya berkisar pada angka 2% tiap tahunnya.

