Dari Wonosobo ke Côte d’Azur: Pelukis Indonesia Menghidupkan Alam Jawa Lewat “Onirique”

Wawancara dengan Pelukis Indonesia di Prancis, Kumala Dewi Srikinasih (Lala Bastiani) Saint-Paul-de-Vence, Prancis bersama Dini Kusmana Massabuau dari Surat Dunia.

Dalam balutan warna emas dan hijau lembut, seorang pelukis asal Wonosobo, Jawa Tengah, menghadirkan kembali lanskap hutan dan kabut masa kecilnya di jantung Prancis Selatan. Pameran tunggal bertajuk “Onirique” karya Kumala Dewi Srikinasih, yang dikenal dengan nama artistiknya “Lala Bastiani”, resmi dibuka di Galerie Cercle des Artistes, Saint-Paul-de-Vence, pada 8 November ini.

Lala Bastiani

Acara pembukaan berlangsung hangat dan penuh apresiasi, dibuka oleh Walikota Saint-Paul-de-Vence, Jean-Pierre Camilla, bersama Ketua asosiasi Cercle des Artistes, tempat sang pelukis bernaung. Hadir pula para seniman Prancis, kolektor.

Walikota Saint-Paul-de-Vence, Jean-Pierre Camilla sebelah kiri Lala Bastiani
Pembukaan pameran

Melalui “Onirique”, wanita lulusan Desain Komunikasi Visual ini mengundang penonton menyelami dunia batin yang menghubungkan dua lanskap: hutan Jawa yang mistis dan cahaya keemasan Côte d’Azur yang melahirkan mimpi.

Berikut petikan wawancara kami dengan sang pelukis.

Apa makna di balik judul “Onirique” dan bagaimana ia merefleksikan dunia batin Anda sebagai pelukis?

Judul Onirique merujuk pada dunia mimpi dan menjadi cerminan dunia batin saya. Bagi saya, seni adalah medium untuk merekonstruksi ingatan dan emosi, ruang di mana lanskap masa kecil saya di Jawa dapat hidup berdampingan dengan realitas di Côte d’Azur. Onirisme adalah kabut dan misteri yang menyelimuti kanvas, memungkinkan dua realitas itu berpadu dengan anggun.

Karya ini disebut sebagai “sanctuaires imaginaires” — tempat perlindungan imajiner. Apa yang ingin dilindungi di dalamnya?

Saya ingin melindungi esensi alam liar yang murni dan tak tersentuh — sesuatu yang kini terancam di dunia nyata. Dengan menciptakan tempat-tempat suci ini, saya menyelamatkan lanskap masa kecil dari penebangan dan keterlupaan, juga semangat satwa seperti rusa. Tempat-tempat ini menjadi suaka abadi bagi segala yang berharga. Melalui kanvas, saya menyalurkan ingatan, rasa, dan emosi agar mereka tetap hidup — menjadi penjaga alam di habitat aslinya yang asri.

Mengapa rusa Jawa menjadi simbol utama dalam karya-karya ini?

Saya tumbuh di Wonosobo, di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Saat remaja, saya sering mendaki gunung dan kadang melihat rusa betina, bahkan beberapa kali rusa jantan dari jauh. Sosoknya bagi saya seperti penjaga hutan yang penuh karisma dan kedamaian.

Rusa Jawa menjadi lambang sentral karena dua hal. Pertama, secara budaya, dalam tradisi keraton Jawa, rusa melambangkan kesucian hutan dan keseimbangan alam. Kedua, karena kenyataan pahit: spesies ini telah punah di alam liar. Saat saya melukisnya, saya merasa menghidupkannya kembali di habitat semestinya — menjadi hantu mulia yang mengingatkan kita pada apa yang telah hilang.

Bagaimana pengalaman tinggal di Saint-Paul-de-Vence, dengan cahaya khas Côte d’Azur, memengaruhi palet warna dan atmosfer lukisan?

Cahaya di sini luar biasa intens dan keemasan. Ia memperkaya palet saya, melembutkan kepadatan hijau tropis, dan menambahkan nuansa “oker hangat”. Cahaya Côte d’Azur mengubah hutan masa kecil saya menjadi mimpi keemasan yang diselimuti kabut Wonosobo — wujud nyata dari “perpaduan oniris” yang menjadi inti karya ini.

Rusa Jawa juga disebut sebagai lambang identitas. Apakah itu refleksi dari posisi Anda sebagai pelukis Indonesia di Prancis?

Tentu saja. Rusa Jawa adalah simbol dualitas diri saya. Saya adalah seniman dengan dua hati dan dua budaya. Seni saya menjadi jembatan antara masa lalu Indonesia yang memberi saya jiwa, dan masa kini di Prancis yang memberi inspirasi dan cahaya untuk melukisnya.

Karya Anda terasa seperti dialog antara dua dunia — hutan Jawa dan alam Eropa Selatan. Bagaimana menjaga keseimbangan keduanya dalam proses kreatif?

Keseimbangan tidak saya cari lewat simetri, melainkan lewat emosi. Suasana berkabut menjadi elemen pemersatu. Tekstur akrilik dengan pisau palet membawa kekasaran gunung berapi dan bebatuan Alpen, sementara warna “oker” dan hijau pekat mengingatkan pada kemewahan cahaya Côte d’Azur dan hutan tropis. Dalam perpaduan teknik dan warna itulah dialog dua dunia terjadi secara alami.

Karya ini tampak mengandung pesan ekologis yang halus. Bagaimana Anda memandang peran seni dalam pelestarian alam dan satwa liar?

Seni punya peran krusial: mengedukasi tanpa berteriak. Pesan saya adalah “seruan sunyi”. Emosi yang saya hadirkan menjadi awal refleksi. Karena itu, sebagian hasil penjualan pameran ini saya sumbangkan kepada asosiasi “KALAWEIT”, yang berjuang menyelamatkan hutan dan satwa liar Indonesia. Bagi saya, tindakan artistik harus meluas menjadi tindakan nyata.

Seberapa penting unsur kenangan dan nostalgia dalam proses penciptaan karya?

Nostalgia dan kenangan adalah mesin penggerak karya saya. Saat melukis lanskap berkabut dan hutan, saya tidak menciptakannya — saya memanggilnya kembali. Kanvas saya adalah upaya berkelanjutan untuk memulihkan fragmen masa lalu di Jawa, bentuk ketahanan melalui kuas dan warna.

Karya Anda disebut sebagai “appel silencieux” — seruan sunyi. Apa makna di balik keheningan itu?

Saya ingin menyampaikan bahwa alam tidak perlu berteriak untuk memberi peringatan. Keheningan hutan adalah undangan untuk merenung. “Seruan sunyi” adalah ajakan untuk mendengarkan, menghormati, dan memulihkan hubungan manusia dengan alam di tengah dunia yang kian bising.

Apa yang diharapkan dirasakan pengunjung ketika berdiri di depan karya-karya dari seri “Onirique”?

Saya berharap mereka merasakan hubungan pribadi dengan “tempat perlindungan imajiner” itu. Saya ingin mereka bertanya-tanya tentang dunia batin mereka sendiri, lalu pulang dengan kesadaran bahwa keindahan itu rapuh — dan harus dilindungi.

Tentang Sang Pelukis:

Pelukis asal Wonosobo, Jawa Tengah, yang kini tinggal di Côte d’Azur, Prancis, ini bernama lengkap Kumala Dewi Srikinasih, dikenal dengan nama artistik Lala Bastiani. Kerabat dekat banyak memanggilnya dengan nama “Eliah”.

Wanita lulusan D3 Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Sebelas Maret Surakartadan S1 Desain Komunikasi Visual Universitas Negeri Malang ini kini berprofesi sebagai seniman penuh waktu dan ibu rumah tangga. Ia juga dikenal aktif dalam kegiatan seni komunitas lokal dan berpartisipasi dalam pelestarian lingkungan.

Istri dari Jean-Charles Bastiani ini memiliki hobi panjat tebing, canyoning, traveling, serta mengunjungi museum untuk mempelajari sejarah dan budaya.

Tentang Pameran “Onirique”

Pameran “Onirique” diselenggarakan di bawah naungan Cercle des Artistes de Saint-Paul-de-Vence, asosiasi seni bergengsi di kawasan Côte d’Azur. Dalam acara pembukaan, sang pelukis menyampaikan pidato tentang latar belakang karya, inisiatif pelestarian lingkungan, serta dukungan terhadap satwa liar Indonesia.

Lala Bastiani berencana menggelar pameran berikutnya di Saint-Paul-de-Vence tahun depan, serta tengah menjajaki peluang untuk melakukan pameran internasional pertamanya. Sebelumnya, ia telah berpartisipasi dalam beberapa pameran bersama di Surakarta dan Malang dengan gaya pointillism sebelum akhirnya menemukan bahasa visual khasnya di Prancis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *