Diva Minang: Rela Tempuh 800 Kilometer Demi Masakan Padang Autentik di Jerman

Jumat 30 Januari 2026, ini kisah saya dari Frankfurt ke Muenchen. Saya tiba di stasiun utama Frankfurt sekitar pukul 06:30 di saat langit masih gelap. Lantaran tengah musim dingin dan salju masih turun, perjalanan dengan ICE atau kereta cepat mengalami Verspaetung, alias keterlambatan sekitar 15 menit. Hal ini tidak mengurangi semangat untuk bertualang. Menempuh perjalanan 400 kilometer, saya tiba di Muenchen hampir pukul 11 waktu setempat. Untuk menghangatkan badan sambil menunggu waktu, saya mampir ke salah satu kampus ternama di kota ini, yaitu Technische Universitaet Muenchen. Saya sekadar berjalan jalan dan melihat suasana kampus. Setelah itu, sekitar pukul dua siang, saya menuju stasiun besar Muenchen Hauptbahnhof untuk bertemu teman. Dari sana kami berangkat bersama menuju restoran Diva Minang yang berlokasi di Ismaninger Strasse 17.

Sesampainya di lokasi, suasananya sudah cukup ramai. Ternyata sudah hadir beberapa tamu, termasuk rekan media dan tamu undangan lainnya. Acara hari itu merupakan peresmian khusus untuk undangan. Bisa dibilang seperti grand opening, lengkap dengan sambutan dari sejumlah pihak.

Saya acungkan jempol untuk organizer, karena acara yang mulai sekitar pukul 15.00 ini berjalan dengan serius tapi santai, hangat dan intimate. Mulai dari sambutan hingga pemotongan pita yang jadi penanda resminya Diva Minang hadir di jantung negeri Jerman.

Hadir Atase perdagangan KBRI Berlin Febi Adrian, Konsulat Kehormatan Indonesia di Muenchen Dr. Yorck Otto, hingga perwakilan Restoran Sederhana Nova Dana Eka Putri.

Di sela acara, saya sempat berbincang dengan perwakilan Diva Minang, Ashni Sastrosubroto dan Syally Armelitayang menceritakan banyak hal tentang restoran ini. Mulai dari konsep, sampai tantangan menghadirkan rasa Padang yang autentik di Jerman.

“Kalau dari segi rempah-rempah sih ada semuanya di Jerman, cuma beberapa kita emang dari Belanda. Misalnya daun singkong itu cuma ada, dan bisa beli di Belanda aja. Kulit pun juga gitu. tapi untuk paling semuanya emang sudah autentik seperti di Indonesia bumbu rempahnya, bumbu sederhananya udah sama-sama kayak di Indonesia yang emang harus kita adjust cuma level pedasnya aja sih jadi memang sebenarnya autentik cuman nggak pedas aja dan untuk mendapatkan level pedas dan rasa yang sesuai itu kita udah melakukan banyak R&D ya Kita sudah FGD kebanyak teman-teman lokal disini untuk nyobain masakan kita”.

Mereka juga ungkapkan alasan memilih kota Muenchen sebagai lokasi berdirinya restoran Diva Minang.

”Kalau secara data dan statistik ya, Muenchen itu berada secara lokasi geografis di tengah Eropa. Muenchen juga the richest state in Germany, dan multinational city, dimana orang-orangnya sudah berani mencoba dengan makanan-makanan baru. Di sini sudah banyak sekali makanan Korea, Chinese, Japan, Thailand, mereka suka sama makanan Asia. Makanya kita merasa memang Munchen tempat yang cocok Dan belum ada restoran di Indonesia juga sih di Munchen Jadi emang kayak sesuatu yang baru buat warga lokal juga.”

Selain ngintip dapurnya yang bersih dan cukup komplet, saya juga sempat ngobrol dengan Head chef Rayden Wisdom Mundy dan Chef Victory Miracle Mogot. Mereka yang merupakan lulusan Ausbildung Gastronomie di Jerman, sampai dikirim ke Indonesia untuk training di Restoran Sederhana. Tujuannya agar masakan yang nanti disajikan rasanya sudah sesuai standar.

Dalam menyajikan makanan Indonesia di Jerman. Mereka berbagi cerita soal tantangan masak makanan Indonesia di Eropa.

“Challenge-nya itu harus exact. Resepnya itu harus pasti banget. Jadi, mungkin di Jerman, masakannya kerap diartikan simple. Kitchen Jerman itu easy, salt, pepper. Nah kuliner Indonesia, salah dikit, rasanya bakal berubah.”

Nah, yang unik nih, tim Diva Minang di Jerman ini sampai mengirim bahan kering untuk bumbu yang ada di tersedia Jerman untuk dicek oleh tim Research & Development di Tanah Air. Hal ini dilakukan agar tim Diva Minang di Jerman nantinya bisa mengoptimalkan bahan-bahan yang ada di Jerman dan Belanda, agar sajian Diva Minang tetap berkualitas dengan cita rasa otentik khas Indonesia.

Kemudian, yang ditunggu pun tiba, yakni undangan bisa mencicipi hidangan dari Diva Minang. Dimulai dari menu pembuka berupa bakwan goreng, lalu hidangan utama khas Padang, dan ditutup dengan dessert berupa ketan hitam yang disajikan dengan es krim. Sajian penutup Ini asli enak bangettttt! Saya bisa bilang, ini adalah salah satu masakan Padang terenak yang pernah saya coba di Jerman. Dari bakwannya saja sudah terasa krenyes garing gurih dengan bumbu kacang yang pas untuk lidah orang Jerman. Jujur, untuk lidah Indonesia mungkin terasa kurang pedas ya, tapi tetap enak dan seimbang.

Untuk menu utama, saya memilih ayam bakar. Sementara untuk rendang, saya mengambil referensi visual dari teman teman lain. Ayam bakarnya diolah dengan bumbu yang meresap, datang dengan ukuran yang besar dan benar benar mengenyangkan.

Memang, jika dibandingkan dengan porsi di Indonesia, porsi di sini sedikit berbeda. Tapi menurut saya ini pas sekali untuk satu orang. Apalagi disajikan bersama sayur daun singkong dan gulai nangka yang rasanya mantap. Ditambah sambal hijau yang lezat, semuanya terasa padu di lidah. Oiya saya sempat coba dikit rendang milik teman, rendangnya empuk! Benar-benar yummy!!!

Saya juga berbincang dengan perwakilan dari KBRI Berlin, yaitu Febi Adrian selaku Atase Perdagangan. Ia ungkapkan bagaimana pemerintah akan terus mendukung hadirnya restoran Indonesia di luar negeri.

“Langkah konkret yang kami lakukan, yakni dengan mempromosikan ke warga Indonesia. Baik yang saat ada di luar (traveling, bisnis) biasanya ada yang menanyakan bagaimana makanan indonesia dan sebagainya itu akan kami tetap promosikan. Apalagi resto ini spesial mengangkat kuliner Padang. Begitu pun saat ada event internasional Indonesia yang ada di Munchen, kami akan perkenalkan juga..”

Usai acara sekitar pukul 18.30, resto pun didatangi para pengunjung Jerman dan ada juga diaspora Indonesia. Saya ketemu teman yang tinggal di Cologne yang membawa teman dari Spanyol untuk coba kuliner Diva Minang. Setelah tegur sapa dan pamitan, saya langsung pulang lagi ke Frankfurt am Main dan kembali menempuh jarak 400 kilometer menembus malam.

Total 800 kilometer yang melelahkan seharian, namun pengalaman kuliner di Diva Minang ini membuat saya tetap semangat, karena tidak hanya soal makan enak, tapi juga soal mengobati rindu rasa kuliner rumah di negeri orang.

Sebagai penutup nih, buat sobat Surat Dunia yang penasaran dengan menunya, bisa intip media sosial Diva Minang di @divaminang.de

Semoga kuliner Indonesia makin jaya di Manca negara, ini tentu jadi harapan kita semua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *