Bareng Wortschatz Bookclub, Yuk Main, Baca, dan Makin Kenal Indonesia!

Catatan Aulia Kurnia Hakim – Jerman

Halo, Sobat Surat Dunia! Sabtu, 19 September 2026, saya dan seorang teman bernama Aliya berkesempatan menjadi bagian dari kegiatan Wortschatz Book Club. Kegiatannya adalah membaca dan bermain bersama anak-anak diaspora Indonesia di Frankfurt, yang diberi nama ‘Baca dan Main Bersama’. Kegiatan ini berlangsung di ruang serbaguna KJRI Frankfurt, Jerman.

Kegiatan ini bukan cuma melibatkan orang dewasa, tetapi juga anak-anak mereka. Di sini, anak-anak tidak hanya bisa bertemu dan bermain dengan teman-teman sebaya, tetapi juga semakin mengenal bahasa dan budaya Indonesia. Hmmmm, kegiatannya seperti apa, ya? Ikuti, yuk!

Hari itu, teman saya, Ella, membacakan buku tentang kekayaan Indonesia, mulai dari makanan, tumbuh-tumbuhan, hingga berbagai buah-buahan khas dari sejumlah daerah. Ada sekitar lima anak yang mengikuti kegiatan kali ini. Biasanya, pesertanya bisa mencapai belasan anak. Mungkin karena saat itu masih musim panas dan masih banyak keluarga yang berlibur, pesertanya jadi lebih sedikit.

Menariknya lagi, orang tua juga ikut dilibatkan. Mereka bergantian membacakan cerita dan membantu menunjukkan kepada anak-anak betapa beragam dan kayanya Indonesia.

Kenapa kegiatan seperti ini penting? Anak-anak diaspora Indonesia di Jerman, meskipun salah satu atau kedua orang tuanya berasal dari Indonesia, sehari-hari tentu lebih banyak terpapar bahasa Jerman. Mereka menggunakan bahasa Jerman di sekolah, saat bermain, maupun ketika berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Sementara itu, bahasa Indonesia mungkin hanya mereka hendar atau gunakan selama beberapa jam saja di rumah. Makanya, kegiatan yang bisa membuat mereka semakin akrab dengan bahasa Indonesia menurut saya bagus banget.

Lalu saya ngapain? Saya jadi relawan saja. Siap membantu apa pun yang dibutuhkan, mulai dari menggeser meja dan kursi, menyiapkan camilan, sampai membantu mempersiapkan perlengkapan untuk kegiatan anak-anak. Selain itu, tentu saja jadi seksi dokumentasi.

Salah satu kegiatan yang menurut saya paling seru adalah crafting (kerajinan tangan). Kali ini kegiatannya menggunakan peta Indonesia. Sebelumnya, peta Indonesia sudah dicetak di kertas berukuran A3. Kemudian, Ella juga sudah menyiapkan berbagai gambar buah, makanan, dan tumbuhan khas Indonesia. Selanjutnya, anak-anak diminta menempelkan gambar-gambar tersebut ke daerah asal makanan, buah, atau tumbuhan tersebut.

Misalnya, durian banyak dikenal dari daerah mana? Sate Padang berasal dari mana? Lalu, tumbuhan dan buah-buahan khas Indonesia lainnya bisa ditemukan di daerah mana? Jadi, sambil bermain dan menempel gambar, mereka juga belajar makin kenal Indonesia. Asyik, kan?

Aktivitas seperti ini bukan cuma membantu anak-anak belajar tentang Indonesia, tetapi juga melatih kreativitas mereka. Kegiatan ini juga menjadi wahana untuk meningkatkan hubungan erat antara orang tua dan anak karena di sini orang tua juga berperan aktif. Entah jadi pencerita, membantu menggunting dan menempel, atau minimal menenangkan suasana hati (mood) anak yang mungkin hari itu agak tantrum karena rebutan sesuatu dengan temannya, hihihi.

Apalagi bagi keluarga yang tinggal jauh dari Tanah Air, mengenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada anak tentu punya tantangan tersendiri.

Kegiatan Wortschatz Book Club ini biasanya diadakan sekitar dua bulan sekali. Memang tidak terlalu sering, tetapi menurut saya tetap banyak manfaat yang bisa dirasakan. Tak cuma soal berbahasa dan makin kenal Indonesia, anak-anak juga bisa bermain dan belajar bersama. Sementara itu, para orang tua juga punya kesempatan untuk bertemu dan berbagi cerita, plus mengobati kangen dengan suasana Indonesia juga, hahaha.

Oh iya, urusan makanan juga nggak kalah seru. Selain saya membantu menyiapkan makanan ringan, biasanya para orang tua juga membawa camilan atau buah untuk dinikmati bersama. Jadi, setelah membaca, bermain, dan crafting, semuanya bisa duduk dan menikmati makanan bareng.

Buat saya, kegiatan sederhana seperti ini menunjukkan bahwa mengenalkan Indonesia kepada anak-anak yang tumbuh di luar negeri tidak selalu harus dilakukan dengan cara yang serius. Bisa lewat buku cerita, permainan, makanan, gambar, dan aktivitas kreatif yang membuat mereka penasaran dengan Indonesia.

Nah, kalau di kota atau negara tempat Sobat Surat Dunia tinggal, apakah ada kegiatan serupa untuk anak-anak diaspora Indonesia?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *