Dari Jajanan Tradisional hingga Tari Tanjung Gemerang, Indonesia Hadir di Jeddah Lewat Diplomasi Budaya

JEDDAH — Indonesia kembali memperkenalkan wajah budayanya kepada masyarakat Arab Saudi melalui cara yang sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari: makanan dan seni pertunjukan.

Dalam Asian Consuls General Club (ACGC) Food and Cultural Festival yang berlangsung Sabtu (26/9) di kawasan Roshan Mall, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Jeddah membawa sejumlah kuliner tradisional sekaligus pertunjukan budaya Nusantara. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan budaya bagi negara-negara anggota ACGC di wilayah setempat.

Di Paviliun Indonesia, pengunjung diperkenalkan dengan sejumlah jajanan tradisional yang mungkin terasa akrab bagi masyarakat Indonesia, tetapi menjadi pengalaman budaya tersendiri bagi masyarakat di Jeddah.

Ada bala-bala atau bakwan, risol sayur, getuk lindri, hingga kue pukis.

Jajanan tersebut bukan sekadar hidangan yang disajikan untuk dicicipi. Di dalamnya terdapat bagian dari keseharian masyarakat Indonesia—makanan yang tumbuh dari tradisi, hadir dalam berbagai kesempatan, dan diwariskan dari generasi ke generasi.

Kehadiran kuliner tradisional itu kemudian diperkuat dengan seni pertunjukan. Siswa-siswi Sekolah Indonesia Jeddah membawakan Tari Tanjung Gemerang, sebuah tarian asal Banyuwangi.

Perpaduan antara makanan dan kesenian tersebut membuat Indonesia hadir tidak hanya melalui cita rasa, tetapi juga melalui gerak dan ekspresi budaya.

Bagi KJRI Jeddah, keikutsertaan dalam festival ini merupakan bagian dari dukungan terhadap keanggotaan Indonesia dalam ACGC. Pada saat yang sama, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat setempat.

Diplomasi budaya memang tidak selalu berlangsung melalui forum resmi. Dalam kegiatan seperti ini, interaksi dapat berlangsung lebih dekat dan terbuka. Masyarakat dapat mengenal Indonesia melalui sesuatu yang dapat mereka lihat, rasakan, dan nikmati secara langsung.

Dari sebuah jajanan tradisional, misalnya, terbuka kesempatan untuk memperkenalkan lebih jauh tentang keberagaman Indonesia. Begitu pula sebuah tarian dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal daerah dan tradisi yang ada di baliknya.

Karena itu, keberadaan Paviliun Indonesia dalam festival budaya seperti ACGC memiliki arti lebih dari sekadar keikutsertaan sebuah negara dalam sebuah acara.

Ia menjadi ruang perkenalan.

Indonesia yang hadir di Jeddah bukan hanya melalui identitas sebagai negara, tetapi melalui potongan-potongan budaya yang merepresentasikan keragaman Nusantara.

Kegiatan tersebut juga dimanfaatkan KJRI Jeddah untuk memperluas jejaring kemitraan dengan para pemangku kepentingan setempat, termasuk kalangan yang dikenal sebagai Friends of Indonesia. Hubungan semacam ini penting karena pengenalan budaya pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai pertunjukan atau makanan, tetapi juga mengenai bagaimana masyarakat dari dua negara dapat semakin mengenal satu sama lain.

Di tengah masyarakat yang memiliki latar belakang budaya beragam, ruang interaksi semacam ini menjadi penting.

Melalui festival, budaya tidak hanya diperkenalkan sebagai sesuatu yang dipamerkan, tetapi menjadi sesuatu yang dapat dinikmati dan dibicarakan bersama.

Bagi Indonesia, pendekatan tersebut memberikan kesempatan untuk menunjukkan bahwa kekayaan Nusantara tidak berhenti pada nama-nama besar yang sudah dikenal luas. Di balik Indonesia terdapat begitu banyak tradisi lokal, kesenian daerah, dan kuliner yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Tari Tanjung Gemerang dari Banyuwangi yang dibawakan siswa-siswi Sekolah Indonesia Jeddah, misalnya, membawa salah satu bagian dari kekayaan budaya daerah ke ruang perjumpaan internasional di Jeddah.

Sementara bala-bala, risol, getuk lindri, dan kue pukis menghadirkan sisi lain dari Indonesia: tradisi kuliner yang sederhana, dekat dengan masyarakat, dan memiliki tempat tersendiri dalam keseharian.

Pada akhirnya, kegiatan seperti ACGC Food and Cultural Festival menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Arab Saudi juga dapat dibangun melalui jalur kebudayaan.

Bukan hanya melalui pertemuan antarpemerintah, tetapi juga melalui pertemuan antarmasyarakat.

KJRI Jeddah terus membuka ruang interaksi tersebut melalui pengenalan budaya Indonesia. Harapannya, semakin banyak masyarakat setempat yang mengenal Indonesia bukan hanya dari nama, tetapi juga dari keragaman budaya yang menjadi bagian penting dari identitas bangsa.

Dari sebuah paviliun di kawasan Roshan Mall, Indonesia membawa sesuatu yang sederhana namun bermakna: rasa dan budaya sebagai jembatan untuk saling mengenal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *