Dari Aspirasi Pelajar hingga Kerusuhan, Warga Indonesia di Prancis Menyoroti Dampak Demonstrasi

Demonstrasi yang berlangsung di sejumlah kota di Prancis pada 17–18 Oktober 2026 memperlihatkan bagaimana tuntutan sosial dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih kompleks ketika aksi massa diwarnai bentrokan, perusakan, dan penjarahan.

©Bazile Massabuau

Di tengah situasi tersebut, warga Indonesia yang tinggal di Prancis menyampaikan beragam pandangan, mulai dari dukungan terhadap aspirasi pelajar, kekhawatiran atas keamanan, hingga keprihatinan terhadap munculnya stigma terhadap komunitas imigran.

©Bazile Massbuau

Kepada Dini Kusmana Massabuau dari Surat Dunia, sejumlah diaspora Indonesia, pelajar, dan pengusaha menceritakan bagaimana mereka melihat situasi tersebut dari sudut pandang masing-masing. Bagi sebagian dari mereka, demonstrasi bukan sekadar peristiwa politik di negara tempat mereka tinggal, tetapi juga menyangkut kehidupan sehari-hari, pendidikan anak, aktivitas ekonomi, serta rasa aman keluarga yang jauh dari tanah air.

Demonstrasi yang diwarnai berbagai tuntutan sosial tersebut juga memunculkan pertanyaan mengenai batas antara kebebasan menyampaikan pendapat dan tindakan yang merugikan masyarakat. Di sisi lain, berkembangnya pembicaraan mengenai imigrasi membuat sejumlah diaspora khawatir bahwa tindakan sebagian orang dapat berujung pada prasangka terhadap komunitas yang lebih luas.

©Bazile Massabuau

Kekhawatiran orang tua terhadap keselamatan anak

Linda Ardirika, seorang ibu dari pelajar yang menempuh pendidikan di Montpellier, mengaku pada awalnya tidak terlalu khawatir ketika mendengar aksi demonstrasi yang dipelopori pelajar.

Menurut Linda, informasi yang diterima ketika itu menggambarkan demonstrasi sebagai aksi yang berlangsung damai dan tertib. Kekhawatiran baru muncul ketika situasi berkembang menjadi kerusuhan dan penjarahan, termasuk di supermarket dan pusat kota yang biasa dikunjungi anaknya untuk berbelanja maupun beraktivitas.

©Dini KM

“Cemas sudah pasti dan banyak keresahan lain yang kami rasakan. Yang paling membuat makin terasa berat karena kondisi tersebut di luar kemampuan kontrol kami,” ungkap Linda kepada Dini Kusmana Massabuau.

Sebagai orang tua yang mendampingi anak menjalani kehidupan di tanah rantau, Linda melihat situasi tersebut sebagai ujian tersendiri. Jarak dan keterbatasan kemampuan untuk mengawasi secara langsung membuat kekhawatiran semakin terasa.

© Bazile Massabuau

Namun, melalui komunikasi dan diskusi dengan anaknya, kecemasan itu perlahan berkurang. Ia justru merasa bangga karena anaknya mampu mengambil langkah antisipasi, mulai dari menyiapkan bahan makanan untuk beberapa hari hingga memilih tetap berada di apartemen dan hanya keluar setelah memastikan situasi di luar benar-benar aman.

Pengalaman Linda memperlihatkan sisi lain dari demonstrasi. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh mereka yang turun ke jalan, tetapi juga oleh keluarga yang harus mempertimbangkan keselamatan dan kebutuhan sehari-hari.

“Doa kami selalu untuk para saudara kami di tanah Prancis. Semoga demokrasi terus berjalan damai dan kondusif,” tuturnya.

Pendidikan menjadi salah satu persoalan yang disoroti

Di balik kerusuhan yang menjadi perhatian publik, persoalan pendidikan tetap menjadi salah satu isu yang perlu dicermati.

Brian Lee, mahasiswa program sarjana di Toulouse, berharap pemerintah Prancis menanggapi tuntutan pelajar dan mahasiswa, khususnya mengenai fasilitas serta infrastruktur pendidikan.Ia juga menyoroti transparansi proses penerimaan mahasiswa melalui Parcoursup dan Mon Master, dua platform yang digunakan dalam proses pendaftaran pendidikan tinggi di Prancis.

Kepada Dini Kusmana Massabuau, Brian menyampaikan harapannya agar pemerintah memberikan kejelasan mengenai proses pendaftaran tersebut. Menurutnya, transparansi menjadi hal penting agar generasi muda memperoleh akses pendidikan tinggi secara lebih jelas dan adil.

@Bazile Massabuau

Pandangan serupa disampaikan Nasya, pelajar Indonesia di Montpellier. Ia menilai demonstrasi dapat menjadi pengingat mengenai pentingnya partisipasi masyarakat, terutama anak muda, dalam menyampaikan aspirasi dan memperjuangkan perubahan yang berkaitan dengan masa depan mereka.

Sebagai mahasiswa internasional, Nasya juga merasa penting untuk memahami persoalan yang berkembang di lingkungan tempat ia menempuh pendidikan.

“Kita tidak harus selalu berada di barisan demonstrasi untuk menunjukkan kepedulian, tetapi penting untuk memahami apa yang sedang diperjuangkan,” ujarnya kepada Dini Kusmana Massabuau.

Meski demikian, Nasya menegaskan bahwa kebebasan berekspresi perlu berjalan seiring dengan tanggung jawab. Aspirasi yang disampaikan tidak semestinya menjadi pembenaran bagi tindakan perusakan maupun penjarahan yang merugikan masyarakat.

©Bazile Massabuau

Baginya, keberanian untuk bersuara dan penghormatan terhadap hak orang lain harus berjalan beriringan agar perubahan yang diperjuangkan tidak mengorbankan keselamatan bersama.

Dampak terhadap kegiatan belajar dan pandangan berbeda tentang sekolah, Karin, diaspora Indonesia di La Rochelle dan ibu dari pelajar di Prancis ini, menyoroti dampak demonstrasi terhadap kegiatan belajar di sekolah. Ia menceritakan bahwa aksi yang melibatkan pelajar sekolah menengah atas atau lycée telah mengganggu proses pembelajaran, termasuk ketika sekolah dibarikade dan kegiatan belajar harus dihentikan.

Kepada Dini Kusmana Massabuau, Karin menyampaikan kekhawatirannya terutama terhadap siswa yang sedang mempersiapkan Baccalauréat atau BAC, ujian penting yang menjadi salah satu tahapan menuju pendidikan tinggi.

©Bazile Massabuau

Menurut pengamatannya, gangguan kegiatan belajar selama beberapa minggu dapat menambah tekanan bagi siswa yang harus menyelesaikan materi pelajaran yang cukup banyak dan sulit.

Ia juga menceritakan bahwa sebagian teman sekolah anaknya memanfaatkan situasi tersebut untuk memperpanjang liburan ke Italia atau Spanyol. Kisah ini merupakan pengamatan pribadi Karin, bukan gambaran mengenai seluruh pelajar di Prancis.

Karin turut menyampaikan kekhawatiran bahwa penjarahan yang terjadi dalam rangkaian aksi tersebut dapat memperkuat prasangka terhadap imigran. Ia mengingatkan bahwa dampak sosialnya bisa meluas kepada mereka yang tidak terlibat dalam pelanggaran hukum.

Sementara itu, Ary Drean, seorang seniwati yang memiliki pengalaman mengajar di Prancis, melihat persoalan pendidikan dari sudut pandang berbeda.

Dalam percakapannya dengan Dini Kusmana Massabuau, Ary mengungkapkan bahwa ia memahami sejumlah keluhan mengenai sekolah, termasuk persoalan guru yang tidak hadir tanpa adanya pengganti. Berdasarkan pengalamannya dan percakapan dengan teman-temannya yang berprofesi sebagai guru, Ary menilai pekerjaan guru saat ini juga menghadapi tantangan, terutama dalam menangani kedisiplinan siswa dan komunikasi dengan orang tua.

Ary juga pernah mengalami pencurian laptop dan proyektor di tempat ia mengajar. Namun, berdasarkan pengalamannya memasuki sejumlah gedung sekolah, ia menilai kondisi fisik bangunan yang dilihatnya tidak selalu sesuai dengan gambaran buruk mengenai fasilitas sekolah.

“Jadi serba salah juga sih,” ujarnya ketika menggambarkan kompleksitas persoalan pendidikan.

Ary berpendapat bahwa perbaikan sekolah tidak hanya berkaitan dengan fasilitas, tetapi juga dengan hubungan antara guru, siswa, dan orang tua. Menurutnya, pendidikan mengenai disiplin dan etika di lingkungan keluarga turut berperan dalam membentuk perilaku anak di sekolah.

©Bazile Massabuau

Ia juga menyinggung persoalan jam sekolah, kenaikan biaya hidup, serta perdebatan mengenai pensiun dan bantuan sosial. Baginya, berbagai persoalan tersebut memerlukan pembahasan yang lebih luas dan tidak bisa dijelaskan hanya melalui satu penyebab.

Pandangan Ary menunjukkan bahwa tuntutan perubahan dalam pendidikan perlu dilihat bersama dengan pengalaman nyata para guru, siswa, dan keluarga, yang belum tentu memiliki penilaian sama terhadap kondisi sekolah.

Pelaku usaha khawatir terhadap keamanan dan kerugian

Dampak demonstrasi juga dirasakan oleh kalangan usaha, terutama ketika aksi berujung pada perusakan dan penjarahan.

© Bazile Massabuau

Eka Moncaree, seorang pengusaha, menilai peristiwa pada 17–18 Oktober harus menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi perlu disertai tanggung jawab serta penghormatan terhadap hak orang lain.

Kepada Dini Kusmana Massabuau, Eka menyampaikan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak masyarakat, tetapi perusakan dan penjarahan justru menimbulkan kerugian bagi pemilik usaha, masyarakat, dan lingkungan kota.

“Kita boleh memahami keresahan sosial yang mendorong masyarakat turun ke jalan, tetapi ketidakpuasan seharusnya disampaikan secara damai, bukan melalui kekerasan dan penjarahan,” kata Eka.

Ia juga menyampaikan kekhawatiran para pelaku usaha terhadap keamanan toko dan tempat usaha mereka. Eka menduga ada kelompok tertentu yang sengaja memanfaatkan situasi untuk menciptakan kekacauan dan berharap aparat dapat mengungkap pihak-pihak yang bertanggung jawab.

©Bazile Massabuau

Dugaan mengenai adanya pihak yang mengatur kerusuhan tersebut merupakan pandangan pribadi Eka dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta tanpa bukti serta hasil penyelidikan.

Dalam konteks ini, penting membedakan antara peserta demonstrasi yang menyampaikan tuntutan secara damai dan orang-orang yang melakukan tindak pidana. Keduanya tidak dapat begitu saja dianggap sebagai satu kelompok dengan tujuan yang sama.

Ketika persoalan kerusuhan dikaitkan dengan imigran

Salah satu persoalan yang mengemuka setelah kerusuhan adalah kecenderungan mengaitkan tindakan sebagian pelaku dengan latar belakang imigrasi.

© Bazile Massabuau

Diba, diaspora Indonesia yang tinggal di Paris, menyayangkan apabila imigran langsung menjadi sasaran tudingan secara kolektif.

Kepada Dini Kusmana Massabuau, Diba mengatakan bahwa banyak imigran berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan di Prancis, bekerja, menaati aturan, dan membangun kehidupan yang baik.

“Sedih rasanya melihat imigran langsung ditunjuk-tunjuk dan disapu rata. Padahal banyak dari kita sebagai imigran di sini yang berusaha untuk beradaptasi sebaik mungkin,” ujarnya.

Diba tidak menampik bahwa persoalan pelanggaran hukum juga dapat ditemukan di kalangan imigran. Namun, ia menilai pembahasan mengenai persoalan tersebut perlu mempertimbangkan berbagai faktor sosial, seperti kondisi ekonomi, lingkungan tempat seseorang tumbuh, hambatan bahasa, akses terhadap pekerjaan yang layak, dan pengalaman diskriminasi.

Menurut Diba, faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi proses integrasi seseorang ke dalam masyarakat. Meski demikian, faktor sosial bukan pembenaran bagi tindak kriminal, dan latar belakang imigrasi juga tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa seseorang terlibat dalam kerusuhan.

Ia mengingatkan bahwa isu imigrasi di Prancis telah lama menjadi persoalan sosial dan politik yang kompleks. Karena itu, menurutnya, peristiwa demonstrasi sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk menghakimi seluruh komunitas berdasarkan tindakan individu atau kelompok tertentu.

© Bazile Massabuau

Pandangan ini penting di tengah situasi yang memerlukan penegakan hukum sekaligus kehati-hatian dalam menyampaikan kesimpulan mengenai siapa yang bertanggung jawab atas kerusuhan.

Penanganan pelanggaran hukum perlu didasarkan pada bukti dan tindakan masing-masing pelaku, bukan pada asal-usul atau status imigrasi seseorang.

Menjaga ruang demokrasi tanpa mengabaikan tanggung jawab

Berbagai tanggapan diaspora Indonesia tersebut memperlihatkan bahwa demonstrasi di Prancis dipahami melalui pengalaman yang berbeda-beda.

Bagi orang tua, persoalan utama adalah keselamatan anak. Bagi pelajar, demonstrasi juga membuka ruang untuk membicarakan akses pendidikan dan masa depan generasi muda. Bagi guru dan diaspora lainnya, persoalan pendidikan berkaitan pula dengan kedisiplinan, peran keluarga, kondisi sekolah, dan tantangan sosial yang lebih luas.

© Bazile Massabuau

Sementara itu, bagi pengusaha, keamanan lingkungan usaha dan perlindungan terhadap masyarakat menjadi perhatian utama. Di sisi lain, sebagian diaspora mengingatkan agar situasi yang memanas tidak memperkuat prasangka terhadap komunitas imigran yang tidak terlibat dalam tindakan melanggar hukum.

Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa tidak semua orang menilai demonstrasi dari sudut yang sama. Namun, ada satu hal yang menjadi perhatian bersama: kebebasan menyampaikan pendapat perlu tetap memberi ruang bagi keselamatan, hak, dan kepentingan orang lain.

© Bazile Massabuau

Demokrasi bukan hanya tentang hak untuk menyampaikan tuntutan, tetapi juga tentang bagaimana perbedaan pendapat dikelola tanpa menghilangkan rasa hormat terhadap sesama. Penjarahan dan perusakan perlu ditangani sesuai hukum, sementara aspirasi yang disampaikan secara damai tetap perlu didengar dan ditanggapi secara serius.

Bagi warga Indonesia yang hidup di Prancis, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan bersama membutuhkan sikap kritis sekaligus bijaksana. Memahami akar persoalan sosial tidak berarti membenarkan kekerasan. Sebaliknya, menolak kekerasan juga tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyamaratakan atau mendiskriminasi kelompok tertentu.

Di tengah ketegangan yang terjadi, tantangannya adalah memastikan bahwa tuntutan perubahan, penegakan hukum, dan penghormatan terhadap keberagaman dapat berjalan beriringan.

Foto utama: ©Bazile Massabuau

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *