Gitar Bambu Indonesia seharga 700 euros langsung jadi incaran Para Musisi Di Musikmesse Jerman


Berita setempat
schedule 10 April 2019
Frankfurt, Jerman
56608772 438106653624705 2277530803841794048 n

Expo Frankfurt Musikmesse di mana para industri dunia musik berkumpul, di Paviliun Indonesianya komunitas bambu yang turut pameran, membuat pengunjung yang datang kaget dan terpukau. Baru kali ini mereka melihat alat musik dari bahan bambu dijadikan instrumen musik moderen.

Komunitas bambu Indonesia ini namanya sudah terkenal di Tanah Air. Di tangan kreatif para kelompok bambu di Kota Cimahi, Jawa Barat, bambu disulap menjadi barang bernilai jual tinggi. Bahkan, ragam produk terbuat dari bambu ini sukses menembus pasar dunia.



Adang Muhidin, pendiri Indonesia Bamboo Comunity (IBC) menceritakan cerita, awal mulanya menjadi pengusaha dibidang industri musik adalah perkenalannya dengan pemain biola bernama Abah Yudi pada 2011 dan berpikir membuat biola bambu.

"Saya sendiri tidak bisa bermain biola. Pertama kali membuat, biolanya tanpa suara. Jadi, walau pun digesek bagaimana juga tetap tidak ke luar suaranya," ucap Adang.

Sejak itu, Adang mengolah bambu menjadi alat musik di antaranya gitar dan bas. Lalu, ia mengunggah hasil karyanya di YouTube. Tanpa disangka olehnya, Kementerian Perdagangan mengundangnya untuk mengikuti pameran Java Jazz Festival pada 2012.

Di Frankfurt Musikmesse ini adalah yang pertama kalinya ia partisipasi di pameran Eropa. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan alat musik inovasi dari bambu di dunia internasional. Ternyata keikutsertaannya berkat dukungan dari Badan ekonomi dan kreatif (Bekraf) ini membuahkan hasil yang positif.

"Banyak yang kaget melihat alat musik bambu, bukan karenanya bambunya, tapi mereka heran bambu ternyata bisa menghasilkan berbagai macam alat musik dengan kualitas baik, dan bagi kebayakan orang ini adalah sebuah inovasi penting karena bambu adalah bahan yang dianggap ramah lingkungan, baik dari segi penanaman hingga tidak akan merusak atau menganggu alam," tutur Adang.

Di Paviliun Indonesia di Musikmesse ini, IBC hanya membawa beberapa alat musik saja. Yaitu gitar, bass dan biola. Gitar yang kami tawarkan mulai dari harga 700 euros dan bass mulai dari harga 800 euros. Kedua alat musik ini sejak awal pameran sudah banyak yang langsung mau membayar.

Adang Muhidin menjelaskan "Sayangnya di sini kami hanya memamerkan untuk memperkenalkan lebih luas kepada para musisi dan pengusaha musik. Jadi transaksi tidak bisa langsung dilakukan. Namun kami yakin, dengan pameran seperti ini, justru akan semakin banyak orang yang tertarik dan mengajak kami untuk bekerja sama, karena itu yang kami incar sebagai salah usaha pengembangan produk kami."

Alat musik produk dari IBC ini ada tiga jenis. Primitif, retro dan ektrim. Primitif dan retro memanfaatkan resonansi dari ruang bambu sehingga suaranya berbeda dengan dari kayu. Ektrim, suara hampir sama dengan kayu karena kami mengubah sifat bambu menjadi sama dengan sifat kayu dengan cara laminasi bambu.

Gitar dan bass yang mereka tawarkan dan banyak diminati adalah elektrik. Biola yang IBC pamerkan di Musikmesse ini akustik. Alat-alat musik ini, digunakan oleh Purwa Caraka Band saat konser di Musikmesse dan usai konser pengunjung semakin banyak yang mendatangi paviliun indonesia karena semakin penasaran dengan alat musik terbuat dari bambu.

Menurut Adang Muhidin, masyarakat harus tahu jika bambu itu jika diolah secara baik dan tepat kekuatan serta ketahanannya bisa melebihi kayu. Indonesia memiliki sekitar 15 persen dari variasi bambu di dunia. Maka merupakan kesempatan besar bagi Indonesia untuk bisa membudi dayakan bambu sebagai produk bersaing di dunia.


Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau

Dini Kusmana Massabuau, lahir di Jakarta 1973. Lulusan fakultas ekonomi Trisakti, dirinya menerjuni bidang jurnalistik dengan memulai karirnya di ANTV. Kemudia ia pindah ke Montpellier Prancis sejak tahun 2000. Menimba ilmu di Universitas Paul Valery, Montpellier 3, ia mengambil jurusan bahasa dan audio visual. Menjadi penulis untuk rubrik Surat Prancis di Kompas.com selama lima tahun dan juga jurnalis koresponden untuk Tribun News dan Kompas.com. Sejak tahun 2015 Ia menjadi kontributor untuk NET TV. Menulis adalah hal yang tak pernah bisa dipisahkan. Dua novel karyanya telah diterbitkan oleh Gramedia, yaitu 8 Comedie Bandrek dan 7 Malam di Maroko.



All Location Categories Author

Rekomendasi

Inilah fungsi Kartu Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (KMILN)

02 November 2017 - Montpellier, Perancis

Dini Kusmana Massabuau

Keren! Indonesia sukses besar di Village Internasional Gastronomie di Paris!

26 September 2017 - Paris, Perancis

Wonderful Indonesia

Pameran Karya Dua Seniwati Indonesia di Paris Memukau Pengunjung!

15 Februari 2018 - Paris, Perancis

Dini Kusmana Massabuau


Komentar

Silahkan Koneksi atau Mendaftar sebelum mengirimkan komentar.