Catatan Serangan 11 September di Mata Seorang Indonesia Imam Shamsi Ali (8)

Hari-hari berlalu di kota New York, bahkan di Amerika dan dunia umumnya, semua didominasi oleh peristiwa 9/11. Di berbagai kota di Amerika diadakan berbagai doa khusus untuk para korban dan keluarganya. Hampir 24 jam berita TV dan media lainnya juga didominasi oleh serangan 9/11.

Di kalangan masyarakat Indonesia di New York ada dua tiga orang yang bekerja di gedung WTC sebagai pelayan di restoran Windows of the World. Sebuah restoran yang terletak di lantai teratas gedung WTC. Salah satunya adalah Bambang Priatno, orang Indonesia keturunan Jawa beristerikan orang Amerika putih.

Dari beliaulah saya banyak mendapat cerita tentang keadaan gedung WTC yang sesungguhnya. Saya sendiri belum pernah mengunjungi gedung itu. Apalagi naik ke atasnya. Saya memang malas berkunjung ke tempat-tempat yang umumnya dikunjungi banyak orang.

Menurut Pak Bambang, yang juga aktifis masjid Al-Hikmah di kota New York ketika itu, gedung WTC itu sangat luar biasa. Dirancang sedemikian kuat, dengan pengamanan gedung yang juga luar biasa. Hampir semua perusahaan-perusahaan terkenal dunia memiliki kantor di gedung itu.

Wajar saja jika kantor-kantor Perwakilan bank-bank Indonesia seperti BI, BNI, BRI, BDN, dan lain-lain, semuanya berkantor di sekitaran gedung itu.

Realita itu pula yang kemudian menjadikan adanya teori konspirasi bahwa yang merancang peristiwa 9/11 itu adalah Yahudi. Karena menurut mereka yang berpikiran demikian, pada saat kejadian itu tak seorangpun Yahudi yang masuk kantor.

Tapi benarkah demikian? Benarkah bahwa tidak ada Yahudi yang masuk kantor dan karenanya tidak ada yang yang menjadi korban?

Menurut pak Bambang memang tidak banyak Yahudi yang meninggal di serangan WTC tersebut. Padahal banyak sekali dari kalangan mereka yang bekerja di gedung WTC. Namun menurutnya lagi hal itu dikarenakan rata-rata Yahudi yang bekerja di gedung WTC adalah profesional dan memiliki jabatan tinggi.

Karena itu, menurutnya beliau, orang-orang Yahudi rata-rata belum masuk di saat kejadian. Karena mereka adalah pegawai atasan yang datang ke kantor tidak selalu di awal waktu.

Selain itu, tuduhan bahwa tidak ada Yahudi yang meninggal di kejadian tersebut juga tidak akurat. Kenyataannya ada beberapa orang Yahudi juga menjadi korban.

Pada saat yang sama, di Minggu kedua setelah 9/11, di kota New York kembali akan diadakan sebuah perhelatan besar. Acara untuk mengenang serangan 9/11 sekaligus doa bagi korban dan Amerika. Acara yang dirancang oleh pemerintah kota New York dan negara bagian New York ini berskala nasional.

Acara tersebut dikenal dengan “National Prayer for America” atau berdoa secara nasional untuk Amerika. Rencananya akan dilangsungkan di lapangan Yankee stadium pada tanggalkan 23 September 2001. Yankee sendiri adalah nama baseball club di kota New York.

Dua hari sebelum acara itu saya kembali mendapat telpon dari kantor Walikota New York. “Imam, the Mayor office invites you to represent the Muslim community at the national prayer for Amerika….” (kota mengundang anda untuk mewakili komunitas Muslim di acara nasional untuk Amerika). Demikian panggilan telpon itu mengawali percakapan.

“Thank you. Such an honor to join the City” (terima kasih. Sebuah kehormatan untuk saya hadir dalam acara kota), jawab saya.

Tapi saya menyambung percakapan itu lagi: “Do we have to recite a prayer?” (Apakah harus berdoa?).

“No. You can chose to offer invocation, or recite verses from the Holy Book, or just deliver a statement” (Tidak harus. Anda bisa memilih berdoa, membaca Kitab Suci, atau menyampaikan statemen). Demikian dari kantor Walikota New York.

Tapi kantor Walikota mengingatkan: “For statement you can only deliver 1.5 minutes maximum” (untuk statemen anda hanya bisa menyampaikan maksimal 1.5 menit saja).

Setelah saya pertimbangkan tiga pilihan itu, saya memutuskan untuk membaca Kitab Suci. Tentu bagi kita adalah Al-Quran. Saat itu saya merasa bahwa membaca doa hanya akan repetitive (terulang-ulang) karena doa para tokoh agama pastinya akan sama. Walau tentunya memakai bahasa/ekspresi yang berbeda.

Selain saya juga memutuskan tidak membaca doa karena saat itu saya cukup galau untuk menentukan konten doa saya. Suasan kejiwaan saya kurang mendukung untuk itu. Bahwa di saat-saat kita diserang, diintimidasi, bahkan dilihat tidak loyal kepada negara ini, bahkan dianggap musuh kini diminta mendoakan Amerika.

Saya tentu ingin mendapat masukan dari Imam yang saya anggap dekat dengan walikota. Yaitu Imam E. Pasha dari Masjid Malcom X di Harlem. Setelah saya mendiskusikan dengan beliau tentang keikut sertaan saya, beliau setuju jika saya membaca Kitab Suci atau Al-Quran saja.

Rupanya untuk acara besar itu, memang hanya ada dua Imam yang diundang mewakili komunitas Muslim. Saya sendiri dan Imam Pasha. Kamipun sepakat agar beliau menyampaikan statemen singkat atas nama Komunitas Muslim di acara yang disiarkan ke seluruh dunia itu.

Sehari sebelum acara saya diundang Imam Pasha untuk bertemu di kantor masjidnya di kawasan Harlem. Masjid Malcom X adalah masjid yang bersejarah, terbangun dengan kubah besar berwarna hijau. Sejak serangan 9/11 masjid ini dijaga ketat, baik oleh Kepolisian New York, maupun oleh jamaah masjid sendiri dari kalangan Afro Amerika.

Pertemuan saya dengan Imam Pasha kali ini untuk membahas konten statemen yang akan dia sampaikan. Sekaligus menentukan ayat-ayat Al-Quran yang akan saya bacakan di lapangan Yankee keesokan harinya.

Di saat itu barulah saya tahu bahwa acara itu adalah acara besar dan penting. Selain pemerintah kota New York, juga akan hadir tokoh-tokoh nasional, termasuk mantan Presiden Bill Clinton yang baru saja digantikan oleh Presiden Bush. Juga hadir isterinya Hillary yang saat itu telah terpilih menjadi Senator mewakili New York State.

Kami kemudian memutuskan untuk membaca pilihan ayat-ayat dari tiga tempat dalam Al-Quran. Ketiga pilihan itu bukan tidak punya makna. Justeru pertimbangan utama adakah karena kita memanh ingin bahwa bacaan itu bukan sekedar membaca Al-Quran. Tapi yang terpenting adalah menyampaikan pesan-pesan jelas kepada masyarakat Amerika ketika itu.

Karenanya kami memutuskan untuk membacakan tiga pilihan tempat dari Al-Quran: 1. Surah Al-Hujurat (surah ke 49) ayat nomor 13 (tiga belas). 2. Surah An-Nisa (surah ke 4) ayat 135. Dan 3. Surah An-Nashr (surah ke 110) seluruhnya.

Dan agar makna dan pesannya sampai ke masyarakat Amerika dan dunia, kita memutuskan untuk mengusulkan ke kantor Walikota agar ada seseorang yang mendampingi saya dan menterjemahkan ayat-ayat yang akan saya baca. Dan kantor Walikota pun setuju dengan usulan kita.

Kita memilih seorang wanita yang berjilbab dari kalangan Afro Amerika. Pilihan wanita berjilbab itu juga bukan tanpa makna. Tapi menyampaikan pesan bahwa wanit Islam itu dapat tampil di publik dengan identitas keislamannya. Bukan seperti yang dipersepsikan selama ini bahwa wanita Muslimah itu selalu berada di balik pintun rumah.

Bagaimana suasan acara di esok harinya? Siapa saja yang hadir dan tentunya pesan-pesan apa saja yang ingin kami sampaikan dalam acara itu?

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *