Toledo Menjadi Saksi Sejarah Dinasti Umayyah

Catatan Caesar M. Putri

Perjalanan ke Toledo ini tidak pernah kami rencanakan, namun karena harus memperpanjang paspor anak kami, di KBRI Madrid maka kami memanfaatkan waktu untuk berkunjung ke kota yang pernah dijadikan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO tahun 1986 tersebut.

Toledo terletak di barat daya Madrid sejauh tujuh puluh kilometer dan bisa ditempuh hanya sekitar 30 menit menggunakan bus. Kami berangkat dari penginapan menuju Plaza Eliptica Madrid, sebagai titik berhenti bus. Sampai di Plaza Eliptica, kami turun ke lantai bawah hingga menemukan petunjuk arah pemberhentian bus Alsa. Antrian penumpang ternyata sudah mengular dan saya segera membeli tiket bus di mesin yang tersedia, namun bus sudah terisi penuh dan kami harus menunggu bus berikutnya. Bus dijadwalkan setiap tiga puluh menit, dan ini menandakan bahwa pergerakan orang dari Madrid menuju Toledo cukup intensif. Sesudah bus pertama meninggalkan halte, bus berikutnya tiba dan semua penumpang dipersilahkan naik. Beberapa penumpang ada yang membeli tiket di atas bus dan mungkin cara ini lebih mudah jika kita datang terlambat. Tidak sampai setengah jam, bus sudah terisi penuh dan mulai meninggalkan Madrid menuju Toledo.

Sesampainya di Estacio Autobus Toledo, bus berhenti dan kami para penumpang mencari jalan menuju pusat kota Toledo. Berjalan sejauh hampir dua kilometer menyusuri trotoar yang terbuat dari material batu seperti menyusuri sejarah masa lalu.

Bangunan-banguanan batu bata dan balon tertutup

Tepat di depan gerbang masuk menuju eskalator lima lantai yang akan mengantar kami naik ke kota Toledo, kami disuguhi bangun yang sudah runtuh kas arsitektur Islam. Sedikit menengok sejarah, bahwa Islam di Spanyol, yang kala itu disebut sebagai Andalusia, mengalami kejayaan pada masa kepemimpinan dinasti Umayyah. Tahun 711 M wilayah pemerintahan Umayyah mencapai semenanjung Iberia yaitu Spanyol dan Portugal. Salah satu yang menjadi jendral penakluk Andalusia saat itu Thariq bin Ziyad. Thariq dikenal sebagai pemimpin yang taat dan menghormati umat lain, yaitu kaum Nasrani dan Yahudi. Sebelum Thariq menakklukan Andalusia, kaum Yahudi terpojok oleh penguasa Kristen kala itu dipimpin Raja Roderick.

Acazar-of-toledo-day

Toledo yang berada di atas bukit Castilla-La Mancha di Spanyol Tengah, menjadi benteng kerajaan Cordoba ketika dinasti Umayyah berkuasa. Sebelum Muslim mengambil alih, Toledo menjadi ibu kota kerajaan Visigoth sejak abad ke-5. Semua bukti sejarah pemerintahan dinasti Umayyah hingga jatuh ke tangan Raja-raja Katolik, terekam jelas di Museo del Ejército.

Museum yang menjadi tujuan kami pertama kali di Toledo ini, berada menyatu dengan Istana Alcázar. Alcázar berasal dari kata “Al-Qasar” yang berarti benteng sebagaimana fungsinya bahwa Toledo menjadi benteng kerajaan islam yang berpusat di Cordoba. Sebagai situs sejarah, museum dan istana tersebut sangat dijaga eksistensinya. Sehingga ketika memasuki museum, seluruh bawaan kami harus melewati mesin pengecekan keamanan seperti di bandara. Sayangnya hanya museum Ejército yang dibuka, sedangkan istana Alcázar ditutup, saya berusaha mengkonfirmasi kapan dibuka, namun staff tidak bisa memastikan kapan istana tersebut akan dibuka kembali.

Di dalam museum yang terdiri dari empat lantai yang di dalamnya terdapat reruntuhan sebagian bangunan istana Alcázar ini, saya seperti berada di masa dinasti Umayyah, miniatur prajurit yang menunggang kuda, peralatan seperti pisau, pedang, tempat air dan ketapel semua tersimpan rapi di etalase kaca disertai dengan keterangan tertulis maupun audio.

Berbagai bedera-bendera bertulisakan huruf arab dan juga mata uang dengan angka Arab masih tersimpan dengan baik. Kami memasuki ruang audio visual untuk menyimak sejarah Andalusia, sejak sebelum ditaklukan Umayyah, pada masa Umayyah hingga ketika Jatuh ke tangan raja katolik dan berubah nama menjadi Spanyol.

Selesai menjelajahi sejarah Andalusia dibawah dinasti Umayyah, kami menuju ruangan museum yang menunjukkan awal mula kerajan Spanyol didirikan, di ruangan ini kami bisa menyaksikan bendera-bendera wilayah di bawah kekuasaan katolik, Spanyol dan juga peralatan perangnya.

Mezquita del Cristo

Puas menikmati museum dan foto di depan istana Alcázar, kami menuju ke sebuah masjid yang dibangun tahun 999 Masehi bernama Bāb al-Mardūm kemudian berubah menjadi gereja ketika Andalusia jatuh, dan diberi nama Mezquita del Cristo de la Luz, atau Cristo de la Luz Mosque. Bangunan yang kental dengan arsitektur islam dengan pilar-pilar bundar dan atap melengkung ini, masih berdiri kokoh dengan banyak lukisan di dinding dan lagit-langit yang mulai pudar.

Mezquita de Cristo
Mezquita de Cristo

Bangunan ini sepertinya tidak pernah digunakan untuk aktivitas keagamaan dan lebih untuk kunjungan wisatawan, seketika pikiran saya melayang membayangkan jika bangunan tersebut masih menjadi tempat solat, pasti lantainya bersih dan lebih terawat, namun begitulah perjalanan sebuah kehidupan, ada yang tinggal sejarah.

Kami kemudian mulai menikmati kota Toledo dengan arsitektur bangunannya yang indah. Tembok-tembok bangunan didominasi dari bata tanah liat dan batu alam, yang konon menjadi andalan arsitektur islam seperti pembangunan Piramid di Mesir.

Bangunan bernuansa Islam

Jalanan dan gang di Toledo dikeraskan dengan menggunakan bahan batu alam, menyusurinya melewati pintu-pintu lengkung penghubung antar jalan, seperti memasuki labirin masa lalu dinasti Umayyah. Tak terkecuali balkon bertutup rapat, yang dulu diperuntukkan melindungi wanita muslim agar bisa melihat keluar namun tidak bisa dilihat dari luar manambah kecantikan kota Toledo.

Toko suvenir

Menyusuri kota Toledo banyak kami temui toko-toko suvenir cantik berbahan baku kulit dan logam, seperti pedang, pisau, teko dan lainya, yang merupakah warisan Umayyah dan menjadikan Toledo menjadi pusat kerajinan logam Spanyol. Ada yang menarik, di sini saya menemukan toko souvenir dengan nama Medina, dengan warna hijau yang merupakan warna identitas umat muslim.

Selesai menikmati kota, kami kembali menyusuri jalanan meunju Catedral Primada de Toledo, bangunan yang sangat besar dan megah ini juga bisa disebut Toledo Cathedral. Sebuah bangunan gereja katolik Romawi yang dibangun sekitar abad 13.

Paroki

Berjalan sekitar dua puluh meter dari Cathedral terdapat sebuah paroki bertembok batu bata dengan menara khas menara masjid. Sebuah pemandangan yang membuat pikiran saya melayang mengumpulkan memori-memori tentang bangunan di Timur Tengah seperti di Madinah atau Mekkah. Di depan gereja terdapat sebuah plaza yang digunakan untuk Christmas market atau pasar Natal karena saat ini Spanyol masih musim libur Natal dan tahun baru.

Unversidad Castilla La Mancha

Mengakhiri perjalanan di Toledo, kami menyempatkan berkunjung ke Unversidad Castilla La Mancha. Tak lupa kami mengambil foto sisi banguanan universitas yang sangat identik dengan arsitektur islam. Selanjutnya kami kembali berjalan ke statsiun bus Toledo untuk kembali ke Madrid. Bus mulai meninggalkan Toledo, sebuah wilayah yang di kelilingi sungai Tajo, atau Sungai Tagus, menjadi saksi bisu bagaimana Islam pernah membangun peradaban di sana, menjadikanya kota yang indah, melahirkan sebuah sejarah yang selalu dikenang manusia untuk memberikan pelajaran bagi generasi masa kini dan masa mendatang.

2 tanggapan untuk “Toledo Menjadi Saksi Sejarah Dinasti Umayyah

  • 15 Januari 2023 pada 9 h 55 min
    Permalink

    MashaAllah ,keren bu 🙏🏻

    Balas
  • 22 Januari 2023 pada 15 h 32 min
    Permalink

    Suka sekali baca tulisan catatan perjalanannya.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *