Ini Pengalaman Saya Ikuti Pemilihan di Frankfurt Jerman Sebagai WNI

Halo Sobat Surat Dunia, pada hari Minggu tanggal 15 Maret 2026 Frankfurt am Main menyelenggarakan pemilihan Kommunale Ausländerinnen und Ausländervertretung (KAV). Pemilihan ini diperuntukkan bagi warga asing yang tinggal di Frankfurt untuk memilih perwakilan yang nantinya akan menyuarakan kepentingan komunitas migran di tingkat kota. Suara bisa diberikan dengan datang langsung ke TPS (Tempat pemungutan suara) atau melalui pos.


Saya terima undangan memilih sekitar 2 bulan lalu. Bagi saya pribadi, ini adalah pengalaman pertama ikut serta dalam pemilihan seperti ini di Jerman. Jujur, ada rasa deg-degan karena saya datang sendirian ke TPS. Bagi yang penasaran, kok bisa milih sih? Tenang saja, saya masih WNI alias warga negara Indonesia dengan paspor hijau berlogo garuda.
Nah, hal yang membuat saya semakin terdorong untuk berpartisipasi adalah karena lokasi TPS berada tidak jauh dari rumah saya. Berangkat pukul 09.50, jalan kaki kurang dari 5 menit dan saat sampai di lokasi pun untungnya belum ramai. Saat tiba, saya menunjukan surat undangan pemilihan, lalu saya diberikan surat suara berwarna abu-abu dengan halaman depan dominasi kuning.

Di dalam bilik suara, saya tidak mencoblos dengan paku, melainkan dengan pensil warna biru untuk memberi tanda silang (x) bagi nama yang saya pilih. Prosesnya juga cukup cepat, relatif mudah dan tertata dengan baik, sehingga saya dapat menggunakan hak pilih dengan nyaman. Oiya di sini kami tidak pakai tinta untuk menunjukan telah memilih, cukup kembalikan surat undangan.


Berbeda dengan di Indonesia yang memilih satu nama di kertas suara, setiap pemilih KAV memiliki hingga 37 suara yang dapat dibagikan kepada kandidat yang berbeda. Tiap kandidat bisa mendapat maksimal 3 vote atau suara. Sistem ini memberi ruang untuk memilih orang-orang atau kekompok yang dianggap mampu mewakili aspirasi komunitas migran secara luas.

Lantaran tidak banyak informasi yang tersedia tentang profil kandidat, saat menentukan pilihan, saya mencoba mempertimbangkan beberapa hal. Saya memilih seseorang yang saya kenal secara pribadi dan memiliki integritas baik. Selain itu, saya juga memberikan suara kepada beberapa kandidat perempuan dari berbagai daftar yang ada. Bagi saya, representasi perempuan dan keberagaman latar belakang dalam lembaga seperti KAV penting, agar perspektif yang muncul mencerminkan masyarakat Frankfurt yang multikultural.

KAV sendiri adalah badan perwakilan bagi warga asing yang memberikan saran, masukan, dan rekomendasi kepada pemerintah kota Frankfurt mengenai berbagai isu yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat migran. Topik yang sering dibahas meliputi integrasi, pendidikan, kesempatan kerja, partisipasi sosial, hingga akses terhadap layanan publik.
Walaupun KAV tidak memiliki kekuasaan legislatif seperti dewan kota, keberadaannya tetap penting karena menjadi jembatan antara komunitas migran dan pemerintah kota.
Pemilihan KAV di Frankfurt tahun ini berlangsung bersamaan dengan pemilihan tingkat lokal yang diselenggarakan di Bundesland Hesse, negara bagian tempat Frankfurt am Main berada. Di lokasi dan hari yang sama, banyak warga Jerman di berbagai kota di Hesse menggunakan hak pilih mereka dalam pemilihan lokal.
Bagi warga negara Jerman, pemilihan lokal biasanya mencakup beberapa hal penting. Mereka dapat memilih anggota dewan kota (Stadtverordnetenversammlung), yang berperan dalam menentukan kebijakan dan anggaran kota. Selain itu di beberapa kota juga terdapat pemilihan untuk wali kota (Oberbürgermeister atau Bürgermeister), yaitu kepala pemerintahan kota yang memimpin administrasi dan menjalankan kebijakan yang telah diputuskan oleh dewan kota.

Sebagai seorang warga asing yang tinggal di Frankfurt, harapan saya terhadap para perwakilan yang terpilih itu sederhana. Saya berharap Frankfurt dapat menjadi kota yang semakin inklusif bagi semua orang, dengan memberikan kesempatan yang sama bagi mereka yang datang dengan legal, tanpa memandang asal negara, agama, ras hingga latar belakang budaya.
Selain itu, program program yang berkaitan dengan integrasi juga harapannya sih semakin mudah diakses oleh masyarakat migran. Banyak orang asing yang sebenarnya ingin berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi di Jerman, namun terkadang terkendala hal informasi, biaya, atau birokrasi. Oleh karena itu, saya berharap kebijakan yang dihasilkan nantinya dapat membuat program integrasi lebih sederhana, terjangkau, dan mudah dijangkau oleh siapa pun yang membutuhkan.

