Diserbu Lebih dari 1.000 Orang, Indonesischer Kulturtag 2026 Hadirkan Kolaborasi Diaspora Indonesia di Jerman

Ollie
Catatan Aulia Kurnia Hakim – Jerman

Halo, Sobat Surat Dunia!

Sabtu lalu saya berkesempatan mengunjungi sekaligus menjadi bagian dari Indonesischer Kulturtag 2026 atau Hari Budaya Indonesia 2026. Acara yang bertempat di Saalbau Bornheim, Frankfurt am Main, ini merupakan hasil kolaborasi antara KJRI Frankfurt, PERMIF (Persatuan Masyarakat Indonesia Frankfurt), dan PPI FRADA (Persatuan Pelajar Indonesia Frankfurt-Darmstadt). Mau tahu keseruannya? Check this out!

Aulia K.H foto bareng diaspora Indonesia

Dimulai sejak pukul 12.45, acara dibuka dengan parade budaya, sambutan, serta berbagai pertunjukan hiburan. Dalam sambutannya, Acting Konsul Jenderal RI di Frankfurt, Ibu Oktavia Maludin, menyampaikan bahwa melalui tema Rhythm of Indonesia, acara ini diharapkan mampu menyatukan sekaligus menjembatani masyarakat Indonesia dan Jerman melalui budaya.

Sambutan Acting Konjen RI Frankfurt Oktavia Maludin. Dok KJRI Frankfurt

“Kami ingin mengajak kita semua melihat bahwa di balik keragaman budaya Indonesia terdapat semangat yang menyatukan seluruh elemen bangsa. Sebagaimana irama dalam sebuah musik, perbedaan dapat berpadu dan menciptakan harmoni yang indah. Kami juga berharap Indonesischer Kulturtag dapat menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara masyarakat Indonesia dan Jerman. Dalam bahasa Indonesia terdapat sebuah ungkapan yang sangat dikenal, yaitu ‘tak kenal maka tak sayang’. Kami percaya bahwa kedekatan dan persahabatan tumbuh dari saling mengenal.”

Indonesischer Kulturtag diisi dengan berbagai kegiatan para diaspora yang mempromosikan budaya Indonesia. Di antaranya pertunjukan gamelan oleh Gamelan Wacana Budaya, peragaan busana batik oleh anggota PPI FRADA, aksi pencak silat oleh Dr. Patrick Keilbart, permainan angklung oleh Angklung Frankfurt Orchestra (AFO), alunan suara merdu Marcus Soulful, permainan sasando oleh Romo Vincent, serta beragam tarian Nusantara yang dibawakan oleh PERMIF dan grup tari Iramanda.

Angklung Frankfurt Orchestra (AFO)
Dr. Patrick Keilbart

Banyak hal menarik hadir di atas panggung, termasuk sejumlah kolaborasi unik. Salah satunya penampilan AFO yang memainkan angklung untuk mengiringi Tari Janger yang dibawakan grup tari Iramanda. Kemudian, seniman angklung Ocky Herdian dari AFO juga mengajak para pengunjung belajar memainkan angklung secara interaktif. Selain itu, grup RnB Plus dengan apik mengiringi peragaan busana PPI FRADA. Tak ketinggalan, Ensemble Hamburg sukses membuat suasana semakin hangat lewat lagu “Tabola-bale”, “Dangdutan”, dan “Ekspresi”.

Tak hanya menyuguhkan hiburan di atas panggung, para pengunjung juga dapat mengikuti berbagai lokakarya menarik, seperti pijat Bali, menulis aksara Bali, membuat sekaligus mencicipi jamu, hingga belajar pencak silat. Salah seorang pengunjung, Ella Tuttaqwa, mengatakan bahwa dirinya tidak hanya berburu jajanan Indonesia, tetapi juga mengikuti salah satu lokakarya.

Workshop pencak silat

“Saya ikut workshop pencak silat yang membuka perspektif baru bahwa sebelum belajar teknik bela diri, fondasi seperti teknik pernapasan, pengendalian emosi, dan konsentrasi jauh lebih penting untuk dikuasai.”

Ella juga menambahkan,

“Terima kasih kepada seluruh tim Indonesischer Kulturtag yang telah menghadirkan acara yang hangat, inspiratif, dan terorganisasi dengan baik. Semoga penyelenggara terus menghadirkan kegiatan budaya yang semakin beragam di masa mendatang.”

Meski saya berpartisipasi sebagai liaison officer (LO) bagi sejumlah pengisi acara, saya tetap bisa melihat antusiasme masyarakat yang luar biasa, terutama saat menyambangi bazar kuliner. Ada berbagai hidangan, jajanan, dan minuman yang bisa dibeli para pengunjung. Nasi Padang Mbak Yuli dan Kopi Meramanis menjadi dua stan dengan antrean yang cukup panjang. Selain itu, ada pula stan kuliner dari Masjid Indonesia Frankfurt yang menawarkan beragam pilihan makanan dan jajanan. Saya pun ikut mengantre saat jeda acara untuk membeli batagor dan siomay di Dapur Haseup milik Teh Awat. Pokoknya seru banget!

Pengunjung juga berkesempatan mendapatkan bingkisan menarik dari Warindo serta mengikuti tombola atau undian. Jadi, bagi yang beruntung, tidak hanya kenyang menikmati kuliner dan hiburan, tetapi juga bisa membawa pulang oleh-oleh jajanan khas Indonesia. Lumayan, bisa sedikit mengobati rasa rindu akan Tanah Air.

KJRI Frankfurt memperkirakan, dalam satu hari penyelenggaraan, lebih dari 1.000 orang hadir di acara ini, baik warga Indonesia, diaspora, masyarakat Jerman, maupun pengunjung internasional.

Dok. KJRI Frankfurt

Pasalnya, lokasi Saalbau Bornheim cukup strategis di Frankfurt. Selain itu, area pertunjukannya juga nyaman karena pendingin ruangan (AC) dinyalakan selama musim panas. Para pengunjung dapat datang bersama keluarga untuk menyaksikan berbagai pertunjukan sambil menikmati aneka jajanan di bazar.

Oh ya, Saalbau Bornheim sendiri merupakan ruang publik yang pada akhir pekan ramai dikunjungi warga lokal. Saya bahkan melihat sendiri ada warga yang awalnya hanya mengajak anjingnya berjalan-jalan, tetapi akhirnya mampir untuk membeli makanan Indonesia. Hihihi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *