HUT 81 Tahun Kemerdekaan RI di Frankfurt: Sederhana, tetapi Bermakna

Catatan Aulia Kurnia Hakim – Jerman

Halo, Sobat Surat Dunia!

Senin, 17 Agustus 2026, saya berkesempatan hadir dalam peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang diselenggarakan di Wisma Indonesia, Frankfurt am Main.

Cuaca Frankfurt pagi itu sebenarnya kurang bersahabat. Langit terlihat abu-abu dan sempat membuat deg-degan. Apakah hujan akan turun saat upacara berlangsung?

Meski mendung menggelayut di langit Frankfurt, show must go on! Sekitar pukul sembilan lewat, upacara pun dimulai.

©KJRI Frankfurt
© KJRI Frankfurt

Konsul Jenderal RI Frankfurt, Ferry Akbar Pasaribu, bertindak sebagai inspektur upacara. Tahun ini, tugas pengibaran Sang Merah Putih dipercayakan kepada diaspora Indonesia yang berdomisili di Frankfurt am Main dan sekitarnya, yakni Muhammad Alif, Jatmi Trihatnawi, Budiarjo, Angelina Maria, Raisya Nauvalina, dan Avni Setiani.

Setelah upacara selesai, perayaan dilanjutkan dengan perkenalan Konsul Jenderal yang baru. Ya, benar banget! Tahun ini, Frankfurt kedatangan Konsul Jenderal Republik Indonesia yang baru. Dalam kesempatan tersebut, Konjen Ferry turut memperkenalkan anggota keluarga serta sejumlah keluarga baru KJRI Frankfurt.

Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng. Nasi kuning dari tumpeng beserta jajanan pasar pun dibagikan kepada masyarakat Indonesia yang hadir.

© KJRI Frankfurt

Di tengah suasana perayaan kemerdekaan, Konjen Ferry juga mengajak masyarakat untuk mengingat saudara-saudara di Tanah Air yang tengah berduka akibat bencana gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur. Doa pun dipanjatkan bersama untuk masyarakat yang terdampak.

© KJRI Frankfurt

Hal ini menjadi pengingat bahwa meskipun kita merayakan kemerdekaan dengan sukacita, rasa solidaritas terhadap saudara-saudara kita di Tanah Air tetap menjadi bagian penting dalam memaknai hari kemerdekaan.

Hujan memang sempat membuat rangkaian kegiatan terhenti sejenak. Namun, setelah hujan reda, acara kembali dilanjutkan dan suasana justru semakin meriah.

Saya tidak menyangka, di hari Senin, ratusan, bahkan hampir seribu diaspora datang ke Wisma Indonesia. Mereka menjadikan momen istimewa ini sebagai ajang silaturahmi dan berkumpul bersama.Beragam pertunjukan seni dan budaya Indonesia turut menghibur masyarakat yang hadir. Di antaranya, alunan angklung dari “Angklung Suara Bhinneka”, peluncuran buku yang mengangkat kisah diaspora, serta persembahan para senior yang tergabung dalam Selindo.

Mereka turut menyumbangkan suara. Ada pula senam bersama “melawan pikun” yang dipimpin oleh Komunitas Alzi-Jerman.Selain itu, penampilan Angklung Frankfurt Orkestra (AFO) dengan sejumlah aransemen lagu, serta beragam tarian tradisional Indonesia turut meramaikan acara.

Ada Pesona Indonesia dengan Denok Semarangan, Tari Merak Sunda dari diaspora asal Bayern yang dibawakan oleh Astrid, serta Tari Tor-tor yang dibawakan oleh grup tari Iramanda.

Bukan hanya ikut menikmati pertunjukan, sejumlah pengunjung bahkan ikut menyawer para penari. Gelak tawa pun memenuhi Wisma Indonesia.Dan tentu saja, perayaan tujuh belasan rasanya belum lengkap tanpa dangdut!

Penampilan Asep KDI lewat sejumlah lagu populer Indonesia dan lagu-lagu dangdut sukses membuat suasana semakin meriah. Asep juga mengajak masyarakat untuk ikut bergoyang bersama.

Tak lupa, rangkaian permainan berhadiah membuat suasana di Wisma Indonesia semakin semarak. Sssst… saya juga menjadi salah satu pemenang saat tebak lagu, loh! Hihi.

© KJRI Frankfurt

Hadiah dari sponsor berupa aneka makanan ringan Indonesia pun bisa dibawa pulang. Asyik!

Kuliner Indonesia, Tak Ketinggalan

Di bagian depan Wisma Indonesia, pengunjung juga bisa menikmati beragam kuliner Indonesia.

Ada bazar makanan dari komunitas Masjid Indonesia Frankfurt, Kopi Meramanis, serta berbagai UMKM yang dikelola oleh ibu-ibu diaspora Indonesia. Semuanya menjadi salah satu bagian yang paling ditunggu.

Mau batagor, siomay, bakso Malang, atau nasi Padang? Ada! Soal harga, yaaa… selayaknya harga bazar. Jangan sampai dirupiahkan ke euro, hihi.

Ada satu hal lain yang membuat perayaan tahun ini terasa istimewa. Sejumlah tamu dan perwakilan dari negara-negara sahabat turut hadir dan menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Indonesia di Frankfurt merayakan hari kemerdekaannya.

Harapan Konjen Ferry untuk Diaspora Indonesia

Dalam wawancara singkat, Konjen Ferry, yang saat itu baru sekitar tiga minggu bertugas di Frankfurt, mengaku mendapatkan kesan yang sangat positif terhadap masyarakat Indonesia yang ditemuinya.

Menurutnya, komunitas Indonesia di Jerman sangat beragam. Ada mereka yang sudah tinggal selama puluhan tahun, para pekerja profesional, hingga mahasiswa yang tengah menempuh pendidikan.

Konjen Ferry melihat keberagaman tersebut sebagai sebuah potensi besar. Ia berharap diaspora Indonesia di Jerman dapat ikut berkontribusi dalam pembangunan Indonesia, salah satunya dengan membangun hubungan dengan sekolah, institusi, maupun industri di Tanah Air.

“Kami melihat di sini juga diaspora Indonesia, baik yang masih sekolah maupun yang sudah bekerja, banyak sekali yang bekerja di industri. Saya mengharapkan diaspora dari Indonesia dapat membantu mendorong transformasi industri nasional, karena industri adalah salah satu elemen penting dalam mengakselerasi pertumbuhan perekonomian bangsa menuju negara yang maju.”

Terutama karena cukup banyak diaspora Indonesia di Jerman yang bekerja di sektor industri, Konjen RI berharap pengetahuan dan pengalaman mereka dapat ikut mendorong transformasi industri nasional serta mendukung perjalanan Indonesia menuju negara maju pada tahun 2045.

Memaknai Kemerdekaan dari Jauh dari Tanah Air

Mengisi 81 tahun Indonesia merdeka, bagi saya sendiri, juga berarti terus melanjutkan semangat kemerdekaan dalam bentuk yang berbeda.

Terutama bagi kita yang tinggal jauh dari Tanah Air, salah satunya adalah dengan menjadi diaspora yang membawa nama baik Indonesia. Berkontribusi melalui bidang kita masing-masing, menjadi pribadi yang dapat membanggakan diri sendiri, keluarga, dan tentunya Indonesia.

Jujur, peringatan hari kemerdekaan tahun ini terasa sedikit berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berlangsung lebih sederhana, tetap mengingat saudara-saudara kita di Indonesia yang tengah menghadapi bencana, sekaligus memaknai kebersamaan di tengah berbagai tantangan.

© KJRI Frankfurt

Karena pada akhirnya, kemerdekaan bukan hanya tentang sebuah upacara, pengibaran bendera, atau kemeriahan perayaan.Kemerdekaan juga tentang bagaimana kita, di mana pun berada, tetap merasa menjadi bagian dari Indonesia.

Nah, Sobat Surat Dunia, bagaimana dengan perayaan tujuh belasan di kota atau negara tempat kalian tinggal?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *