Menjaga Nyala Mimpi: Kisah Perjalanan Studi dari Bulaksumur ke Barcelona

Berkuliah di universitas terbaik tentu menjadi cita-cita bagi hampir semua orang, karena lingkungan yang baik tidak hanya memberikan pendidikan yang berkualitas, tetapi juga menumbuhkan cara pandang dan pola pikir yang positif. Mengenyam pendidikan di universitas top tiga di tanah air sudah menjadi cita-cita saya sejak bangku SMA, karena saya memiliki role model, yaitu kakak saya yang tiga tahun lebih dahulu diterima di universitas yang berada di wilayah Bulaksumur tersebut. Sejak SMA saya sering menginap di kos kakak di Karangmalang dan berteman dengan teman-teman kos yang juga berkuliah di universitas tersebut. Berawal dari universitas ini pula semangat saya untuk kuliah di luar negeri mulai tumbuh.
Hal ini didorong oleh cerita para dosen mengenai pengalaman mereka saat menempuh pendidikan di Eropa. Bukan hanya cerita akademik, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang menarik perhatian saya, mulai dari pengalaman tinggal di negara empat musim, kebiasaan berjalan kaki, bermain salju, hingga kesempatan berkunjung ke berbagai negara Eropa lainnya.

Mewujudkan sebuah mimpi harus didukung dengan usaha. Saya saat itu aktif mengikuti pameran pendidikan internasional yang sering diadakan di kampus atau di laur kampus. Karena kampus saya merupakan salah satu kampus terbaik di Indonesia, acara seperti ini cukup sering diadakan. Berbeda dengan kondisi saat ini yang mana informasi pendidikan luar negeri mudah diakses melalui internet, pada awal tahun 2000-an pameran pendidikan merupakan salah satu gerbang utama untuk mengetahui informasi universitas dan beasiswa. Mengunjungi stand dari satu universitas ke universitas lain menjadi pengalaman yang sangat menarik, apalagi biasanya disertai pembagian brosur dan suvenir. Masih kuat diingatan ketika mengunjungi stand pendidikan Belanda, salah satu negara incaran karena bunga Tulip adalah favorit saya dan latar belakang keluarga dari pihak ibu yang memiliki garis sejarah dengan negara tersebut. Jepang juga menjadi negara incaran berikutnya karena merupakan negara empat musim yang letaknya tidak terlalu jauh dari Indonesia serta memiliki budaya yang indah. Tidak hanya mengunjungi pameran pendidikan, saya juga mengambil Program Bahasa Inggris Satu Tahun yang ditawarkan oleh sebuah lembaga bahasa di Yogyakarta. Bahkan kursus Bahasa Jepang di Lembaga Indonesia–Jepang sebagai bekal kemampuan dasar pun saya ikuti.

Waktu berlalu hingga saya lulus sarjana. Namun cita-cita untuk bersekolah di luar negeri sempat tertunda karena saya diterima bekerja di perusahaan multinasional sebagai costing analyst. Saat itu saya sempat ragu, apakah harus langsung melanjutkan pendidikan atau bekerja terlebih dahulu. Pada akhirnya saya memilih bekerja, karena bagi saya bekerja juga merupakan bentuk pembelajaran dari para praktisi serta cara membuktikan bahwa ilmu yang saya peroleh dapat diterapkan.
Singkat cerita, takdir membawa saya melanjutkan jenjang magister namun karena alasan keluarga, saya memilih studi di dalam negeri, tepatnya di almamater S1 saya. Namun semangat itu tetap hidup hingga akhirnya saya bertemu dengan orang-orang yang kembali memotivasi. Ketika pada tahun 2013 selepas saya lulus magister, seorang peserta konferensi PMAA di New Zealand berkata, “Ph.D is your last academic journey, so take it overseas”. Nasihat tersebut semakin menguat ketika dosen pembimbing tesis pernah berkata, “Kalau S3, kamu sekolah di luar negeri saja.”

Ternyata mimpi itu masih Allah jaga. Pada tahun 2019, saya diterima pada jenjang doktoral di Spanyol melalui beasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, tempat saya mengabdi, tanpa perlu bersaing untuk beasiswa eksternal. Meski pada saat itu Spanyol belum banyak menjadi tujuan pelajar Indonesia akibat keterbatasan beasiswa pemerintah, negara ini ternyata memiliki universitas dengan reputasi global yang sangat unggul.



Universitat de Barcelona merupakan universitas nomor satu di Spanyol dan pernah masuk urutan ke 86 universitas terbaik dunia berdasarkan Best Global Universities 2016. Tanpa saya sadari, keputusan melanjutkan studi di universitas berperingkat tinggi ini turut memotivasi anak-anak saya. Suatu hari anak saya yang membersamai studi saya sejak sekolah dasar, yang kini telah dibangku SMA berkata, “Bu, ternyata Universitat de Barcelona itu top 1 in Spain, ya,” dengan wajah penuh kebanggaan.

Namun, sekolah di luar negeri tentu tidak selalu seindah postingan di media sosial. Ada tangis, tawa, tantangan akademik, serta dinamika kehidupan keluarga selama hampir lima tahun. Rasa ingin menyerah pernah muncul, tetapi dukungan suami, anak-anak, dan orang tua menjadi kekuatan utama untuk bertahan. Melihat anak-anak dapat merasakan pendidikan di Eropa menjadi motivasi tambahan. Saya juga mendapatkan “keluarga baru”, baik dari komunitas diaspora, penduduk lokal, maupun imigran dari negara-negra muslim. Selain itu, sejarah Islam yang kuat di Spanyol membuat saya merasa negara ini seperti rumah kedua. Rumah yang Ketika meninggalkanya ada rasa rindu untuk kembali.
Bahkan, dari perjalanan ini pula akhirnya saya benar-benar menginjakkan kaki di Belanda, negara yang pernah ada dalam impian saya sejak lama. Rasa bahagia semakin tumbuh ketika anak saya bisa mengikuti student exchange ke sebuah sekolah menengah pertama ke Belanda.

Perjalanan kami saat itu semakin berwarna ketika saya berkesempatan menjadi kontributor di media diaspora “Surat Dunia” yang menjadi kanvas untuk melukis kehidupan saya selama lima tahun dalam sebuah catatan Perjalanan.


Menutup cerita ini, saya berharap pengalaman ini dapat menjadi penyemangat bagi para perempuan, khususnya yang telah berkeluarga, bahwa tanpa menomerduakan keluarga, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tetap dimungkinkan dan memberikan banyak nilai.

Jadikan pendidikan sebagai ladang ilmu dan ibadah, bukan sekadar mengejar gelar. Sebab gelar hanyalah selembar kertas, tetapi ilmu dan pengalaman akan terus hidup dan memberi manfaat bagi diri sendiri serta orang di sekitar kita. Oleh karena itu, ketika memilih tempat studi, jangan hanya mencari yang paling mudah atau paling cepat lulus, tetapi pilihlah yang memberikan nilai dan makna, meskipun jalannya penuh tantangan.
Sebuah Catatan, 31 Desember 2025


MasyaAllah, sangat menginspirasi, anak kecil yang dahulu saya momong ternyata tumbuh menjadi anak yang hebat luar biasa, terus tumbuh dan berproses, semoga menebar kebermanfaatan, mengharymkan nama desa dan negara kita, sukses selalu dik marga.🥰🥰🥰
Salut dengan kegigihanmu mbak Caesar, semoga kelak akupun bisa seperti dirimu. Mbak tulis dong bagaimana bisa mendapatkan beasiswa di LN caranya dan syaratnya juga. Terimakasih