Serunya Mengisi Ramadan di Masjid Indonesia Frankfurt Jerman

Catatan Aulia Hakim -Jerman

Halo Sobat Surat Dunia, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalani. Tidak terasa, 2026 ini jadi Ramadan ke-5 saya di Jerman. Semakin tahun, puasa semakin pendek karena memasuki waktu musim dingin di mana matahari naik lebih lambat. Namun, terbenam lebih cepat, sehingga rasanya durasi puasa jadi mirip di Tanah Air, yaitu sekitar 12-13 jam dan pukul 6 sore sudah berbuka puasa.

d
Susana berbuka.
Dok. Nur Debus – Masjid Indonesia Frankfurt

Alhamdulillah, di Frankfurt am Main ada komunitas muslim dan juga punya masjid, namanya Masjid Indonesia Frankfurt atau Indonesische Muslimische Gemeinde in Frankfurt & Umgebung e.V. Masjid yang berada di area perkantoran di Frankfurt selatan ini beralamat di Strahlenberger Weg 16 Frankfurt am Main 60599.

Sepanjang Ramadan kegiatannya cukup banyak, di antaranya kajian. berbuka bersama, salat fardu dan tarawih berjamaah dan ada juga Taman Ramadhan 1447 Hijriyah.

Taman Ramadhan merupakan kegiatan yang diperuntukkan untuk anak-anak yang bernuansa islami di salah satu akhir pekan di bulan puasa. Tahun ini berjudul “Pasukan Kecil dengan Iman Besar: Kisah Keberanian Rasulullah & Sahabatdi Perang Badar’ dan digelar pada hari Sabtu, 28 Februari dari pukul 10.00-16.00.

Aktivitasnya macam-macam, di antaranya ada aneka lomba. Seperti lomba mewarnai, hafalan surat pendek, mengumandangkan Azan dan juga Amazing Race. Hadiah menarik sudah menanti bagi para pemenang dan peserta.

Meski Sabtu lalu streik alias sejumlah armada transportasi lumpuh lantaran demo, tidak mengurangi semangat puluhan peserta dan juga tim hore untuk datangi masjid, termasuk saya. Dalam kesempatan meliput kemeriahan acara ini, saya cukup takjub melihat antusias anak-anak, panitia dan juga orang tua. Dari yang ikutan lomba, sampai mereka yang hanya berlarian lantaran bersua dengan sebaya. Selain itu, ada juga anak-anak yang menangis panggil mama-papa, karena mungkin ngantuk dan lapar hehehe.

Tidak hanya lomba individu, para peserta berusia 5-11 tahun ini juga mengikuti Amazing Race dalam bentuk grup. Mereka ditemani Betreuer atau pendamping datang ke beberapa pos. Di sana para peserta wajib menyelesaikan tantangan dan menjawab pertanyaan. Tantangannya ada games, ada juga hafalan dan masih banyak lagi. Sementara untuk pertanyaan, semua bernilai reliji dan tersaji dalam bahasa Indonesia dan Jerman.

Menurut salah satu panitia Sinta Santika, lomba ini dibuat untuk menyemarakkan bulan suci, ”Alhamdulillah dengan segala tantangannya, kegiatan ini hadir untuk semarakan Ramadan apalagi di sini muslim sebagai minoritas. Hal kayak gini tentu jadi terasa banget”. Wah, saya setuju sih!

Sementara, untuk momen berbuka puasa bersama, tentu jadi yang ditunggu. Sejak setahun atau dua tahun lalu aturannya agak sedikit berbeda. Usai mendengar kultum sebelum berbuka dan Azan berkumandang, para jemaah dipersilakan membatalkan dengan kurma dan air putih/teh hangat lalu, jemaah bisa menunaikan Salat Magrib berjamaah dan dilanjutkan dengan makan besar plus ramah tamah. Setelah itu, ada yang pamit pulang, ada pula yang bertahan untuk salat Isya dan Tarawih.

Oiya, jika ingin bergabung, para jemaah diminta untuk mendaftar atau menelpon terlebih dahulu agar panitia bisa mendata jumlah jemaah dewasa dan anak.

Mirip seperti tahun-tahun sebelumnya, di tahun 2026 ini kembali Masjid Indonesia Frankfurt mengundang Ustaz Hartanto Saryono, Lc. Al Hafizh. Ustaz Hartanto tidak hanya hadir sebagai penceramah, tetapi juga imam salat dan guru privat Tahsin. Ceramah beliau tidak hanya bisa disaksikan secara offline di Masjid, tetapi juga online terbatas via zoom dan YouTube masjid.

Dok. Nur Debus – Masjid Indonesia Frankfurt

Di tahun ini juga, saya upayakan minimal seminggu sekali ikut berbuka puasa di Masjid Indonesia. Saya bahkan ikut mengajak teman muslim Jerman keturunan Maroko untuk ikut bergabung bersama, karena berbuka di masjid ini bisa diikuti siapa saja, asal mendaftar. Setiap harinya ada puluhan yang mendaftar dan tentu saja saat akhir pekan lebih banyak. Pasalnya, jamaah tidak hanya dari Frankfurt, tapi juga kota-kota lain seperti Wiesbaden, Mainz, Giessen, dan masih banyak lagi. Masha Allah!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *