Cokelat Indonesia Mulai Mendunia: Dari Bandung Menembus Pasar Eropa

Catatan Sita Phulpin

“Sudahkah Anda mengenal cokelat Indonesia?” Begitulah diaspora Indonesia yang membantu memperkenalkan stan Terve asal Bandung menyapa para pengunjung pada pameran cokelat Showcolat di Palais de la Bourse, Bordeaux, Prancis, yang berlangsung pada 1–3 Mei 2026.

Terve menjadi satu-satunya stan asal Indonesia, bahkan satu-satunya dari Asia, dalam pameran internasional yang untuk pertama kalinya digelar di kota anggur Bordeaux tersebut. Memang terlihat satu stan dari Inggris yang menawarkan cokelat asal Sumba di antara produk-produknya yang sebagian besar menggunakan kakao dari Afrika dan Amerika Latin.

“Apakah Indonesia memiliki perkebunan kakao?” tanya para pengunjung yang mampir ke stan perusahaan pengolah cokelat skala menengah asal Bandung itu.

“Tentu saja! Bahkan Indonesia termasuk tujuh besar negara penghasil kakao dunia,” jawab petugas dengan antusias.“Oh, saya baru tahu kalau Indonesia juga penghasil kakao,” ujar salah seorang pengunjung.

Percakapan seperti itu sangat sering terjadi ketika cokelat Indonesia berpartisipasi dalam berbagai pameran cokelat bertaraf internasional di Eropa. Meskipun menghasilkan sekitar 160.000 ton biji kakao per tahun dan menempati peringkat ketujuh dunia, Indonesia belum dikenal luas sebagai negara penghasil kakao berkualitas.

Selama ini, kualitas biji kakao Indonesia belum dianggap setara dengan standar premium dunia. Biji kakao Indonesia lebih banyak digunakan untuk produksi cokelat massal sehingga harganya masih relatif rendah. Padahal, kualitas kakao Indonesia sebenarnya dapat ditingkatkan secara signifikan.

Selain pengelolaan kebun yang baik, penanganan pascapanen juga harus dilakukan secara serius, terutama pada tahap fermentasi dan penyangraian biji kakao. Sayangnya, masih banyak petani kakao di Indonesia yang belum memberikan perhatian khusus terhadap proses fermentasi, padahal tahapan ini sangat menentukan kualitas akhir biji kakao.

Aprilia Melissa

Hal inilah yang kini giat dilakukan oleh Aprilia Melissa, pengusaha cokelat asal Bandung sekaligus Media Relations Asosiasi Cokelat Bean-to-Bar Indonesia. Tanpa mengenal lelah, perempuan energik ini turun langsung ke berbagai perkebunan kakao di berbagai daerah di Indonesia. Meski kebun-kebun tersebut bukan miliknya, melainkan milik para petani lokal yang menjadi mitra kerjanya, Aprilia tetap aktif membina dan mengedukasi mereka agar mampu menghasilkan biji kakao berkualitas tinggi.

Tujuannya sederhana, yaitu meningkatkan nilai jual kakao Indonesia melalui kualitas yang lebih baik.

“Kita jangan hanya puas dengan kuantitas, tetapi juga harus meningkatkan kualitas,” tegas peraih Anugerah Kreator Bandung 2025 untuk kategori kewirausahaan tersebut.

Aprilia Melissa, yang juga merupakan pendiri Papyrus Photo dan Lets Go Gelato, menegaskan bahwa dirinya berkomitmen untuk hanya memproduksi cokelat premium.

Menurutnya, salah satu cara memperkenalkan cokelat Indonesia ke dunia internasional adalah dengan aktif mengikuti berbagai pameran dan kompetisi cokelat dunia.

“Saya akui biaya yang harus kami keluarkan untuk mengikuti berbagai pameran memang tidak sedikit. Namun, dari situ pasar cokelat dunia dapat melihat keseriusan kita. Tidak bisa hanya ikut sekali lalu menghilang,” jelas ibu empat anak tersebut.

Saat ini, produk cokelat Terve telah berhasil menembus pasar Jepang. Ke depan, lulusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan ini berharap dapat memperluas pasar hingga ke Eropa.

Mengikuti pameran internasional juga menjadi sarana penting untuk memahami peta selera konsumen terhadap cokelat. Setiap negara, bahkan setiap kota, memiliki preferensi yang berbeda.

Di Prancis, misalnya, dengan tingkat konsumsi cokelat sekitar 6,4 kilogram per orang per tahun, masyarakat cenderung menyukai dark chocolate atau cokelat hitam. Menariknya, preferensi antara masyarakat Paris dan Bordeaux pun memiliki perbedaan.

Sementara itu, masyarakat Swiss dan Belgia yang dikenal sebagai penikmat cokelat dengan tingkat konsumsi masing-masing sekitar 10 kilogram dan 7,5 kilogram per orang per tahun, lebih menyukai milk chocolate atau cokelat susu.

Kegigihan Aprilia dalam mengangkat nama cokelat Indonesia mulai membuahkan hasil. Sejumlah penghargaan internasional berhasil diraih oleh Terve.

Salah satunya adalah medali emas yang diraih cokelat single origin asal Ransiki, Pegunungan Arfak, Manokwari Selatan, Papua Barat, dalam ajang Cacao of Excellence 2023 yang diselenggarakan oleh International Center for Tropical Agriculture.

Pada awal 2026, Terve kembali meraih penghargaan perak dalam International Chocolate Awards 2026 melalui produk Terve Aceh Tenggara Dark Chocolate 70%.

Berkat berbagai pencapaian tersebut, nama Terve mulai dikenal oleh para pelaku industri cokelat dunia.

“Wah, enak sekali!” komentar banyak pengunjung setelah mencicipi berbagai produk cokelat olahan UMKM asal Bandung ini.

“Saya datang ke stan Anda karena rekomendasi seorang teman yang tadi membeli cokelat di sini. Katanya, Anda memiliki cokelat yang sangat enak. Saya ingin mencicipi dan membelinya juga,” ujar Fabrizio, seorang pembuat cokelat asal Italia yang turut membuka stan dalam pameran tersebut.

“Mamma mia! Bagaimana Anda bisa membuat cokelat selezat ini?” serunya setelah mencicipi dark chocolate 78% asal Flores.

Kebanggaan pun muncul ketika melihat kenyataan bahwa cokelat Indonesia mulai diterima dan digemari oleh para pencinta cokelat dunia. Berbagai pengalaman dari pameran internasional menunjukkan bahwa nama cokelat Indonesia mulai mendapat perhatian.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah Indonesia memberikan perhatian yang lebih serius terhadap komoditas kakao nasional. Selain meningkatkan dan menjaga konsistensi kualitas biji kakao serta proses pengolahannya, dukungan terhadap promosi cokelat Indonesia di tingkat internasional juga sangat diperlukan.

Akan menjadi pencapaian besar apabila Indonesia mampu kembali merebut posisi sebagai salah satu dari tiga besar negara penghasil kakao dunia sebagaimana pernah diraih pada masa lalu.

Sudah waktunya Indonesia dikenal bukan hanya sebagai penghasil kakao dalam jumlah besar, tetapi juga sebagai produsen cokelat premium yang berkelas dan dicari oleh para chocolatier terbaik dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *