Panas Ekstrem di Jerman Saya Terpaksa Mengungsi ke Hotel

Halo, Sobat Surat Dunia! Jerman lagi panas-panasnya, nih. Bahkan, tahun ini bisa dibilang menjadi salah satu musim panas paling ekstrem yang pernah saya rasakan sejak tinggal di sini. Suhunya tembus lebih dari 40 derajat Celsius. Itu baru suhu yang tercatat, ya. Kalau melihat angka feels like-nya, kadang bisa terasa 2–3 derajat lebih panas lagi.

Kebetulan saya tinggal di Frankfurt, di daerah yang agak berada di atas bukit. Kedengarannya memang enak karena biasanya anginnya lebih sejuk. Namun, masalahnya apartemen yang saya huni berada di lantai paling atas. Bangunannya juga sudah tua dan, seperti kebanyakan rumah di Jerman, tidak memiliki AC. Saya hanya mengandalkan satu kipas angin. Jadi, begitu pulang ke rumah, rasanya seperti masuk ke dalam oven.

Sempat ada kejadian yang bikin panik. Kunci rumah saya tidak bisa diputar sama sekali alias macet! Kemungkinan karena logam di dalam pintu memuai akibat suhu yang terlalu panas. Akibatnya, saya tidak bisa masuk ke rumah. Mau tidak mau, saya harus keluar lagi dan menunggu berjam-jam hingga suhu mulai turun. Untungnya, setelah udara sedikit lebih dingin sekitar pukul 21.00, pintunya akhirnya bisa dibuka. Pengalaman ini cukup bikin deg-degan. Soalnya, kalau sampai harus memanggil tukang kunci di Jerman, biayanya bisa mencapai 95 euro atau hampir Rp2 juta!

Masalahnya tidak berhenti sampai di situ. Rumah saya juga dekat taman, jadi nyamuknya luar biasa banyak. Jujur saja, rasa gatal dan kulit yang memerah justru terasa lebih parah dibandingkan saat saya tinggal di Indonesia.
Minyak kayu putih dan gel antinyamuk sepertinya sudah tidak mempan lagi. Apa jangan-jangan nyamuk atau serangga di Eropa memang semakin kuat karena harus bertahan melewati empat musim?Saking tidak nyamannya, saya bahkan sempat mengambil langkah yang menurut saya cukup mahal, yaitu staycation semalam di hotel hanya supaya bisa tidur di kamar ber-AC. Memang lumayan mahal, sekitar 40 euro atau sekitar Rp800 ribu semalam untuk kamar sederhana berukuran 14 meter persegi dengan fasilitas dasar, mirip hotel budget seperti OYO atau RedDoorz di Indonesia. Namun, saya memilih itu daripada tidak bisa tidur dan malah stres. Ya sudahlah, anggap saja sebagai self-reward.

Untungnya, masih ada beberapa cara untuk bertahan. Misalnya, pergi ke pusat kota, mal, perpustakaan, atau kalau saya biasanya ke kampus. Lumayan bisa menikmati AC untuk sekadar mendinginkan badan. Namun, sepertinya banyak orang berpikiran sama, sehingga tempat-tempat tersebut juga menjadi penuh dan tetap terasa gerah. Hahaha.

Nah, sebenarnya kenapa tahun ini Eropa bisa sepanas ini? Ternyata penyebabnya merupakan kombinasi beberapa faktor. Saat ini Eropa sedang berada di bawah fenomena yang disebut heat dome, yaitu area bertekanan udara tinggi yang seolah-olah menutupi wilayah Eropa dengan sebuah “tutup”. Akibatnya, udara panas terperangkap dan sulit keluar. Pada saat yang sama, angin dari Afrika Utara membawa udara yang sangat panas hingga ke Eropa. Karena langit juga cenderung cerah tanpa banyak awan, sinar matahari terus memanaskan permukaan bumi.
Para ilmuwan juga menjelaskan bahwa perubahan iklim membuat gelombang panas seperti ini menjadi lebih sering terjadi, berlangsung lebih lama, dan jauh lebih ekstrem dibandingkan beberapa dekade lalu.

Lalu mungkin ada yang bertanya, “Kalau sepanas ini, kenapa rumah-rumah di Jerman jarang menggunakan AC?”
Sebenarnya ada beberapa alasan.
Pertama, banyak rumah di Jerman merupakan bangunan lama yang memang tidak dirancang untuk pemasangan AC. Renovasinya pun tidak mudah dan biayanya cukup mahal.
Kedua, musim panas di sini relatif singkat, biasanya hanya sekitar tiga bulan. Jadi, banyak orang merasa sayang jika harus membeli AC yang mungkin hanya dipakai selama beberapa minggu dalam setahun.
Ketiga, sampai beberapa tahun lalu, musim panas di Jerman memang masih tergolong nyaman. Karena itu, banyak orang merasa kipas angin saja sudah cukup. Baru belakangan ini gelombang panas terasa semakin ekstrem.
Akibat kondisi ini, penjualan kipas angin dan AC pun meningkat. Di beberapa negara, bahkan ada korban meninggal akibat dehidrasi, tenggelam saat berenang atau berendam, serta berbagai insiden lain yang dipicu cuaca panas. Peringatan mengenai panas ekstrem juga terus bermunculan di berbagai media.
Perusahaan kereta Jerman, Deutsche Bahn, bahkan mengizinkan penumpang untuk menjadwalkan ulang perjalanan mereka secara gratis jika membatalkan perjalanan akibat cuaca panas.

Selain itu, ada sekolah yang mengubah jadwal belajar atau bahkan meliburkan murid karena suhu di dalam ruang kelas sudah terlalu tinggi. Banyak sekolah di Jerman memang belum dilengkapi AC.
Kalau saya sendiri, selain lebih sering mencari tempat yang ber-AC, saya juga jauh lebih banyak minum agar tidak mengalami dehidrasi. Air putih yang saya minum bisa lebih dari 2 liter setiap hari. Saya juga jadi lebih rajin mandi. Dalam sehari bisa 2–3 kali karena gerah. Di Eropa sebenarnya kalau tidak banyak beraktivitas memang tidak terlalu berkeringat, tetapi rasa gerahnya itu lho! Rasanya ingin terus berendam di kolam.

Selain itu, saya juga rutin memakai sunscreen, topi, dan kacamata hitam saat bepergian. Saya berusaha menghindari keluar rumah pada jam-jam paling panas, biasanya sekitar siang hingga sore hari.
Nah, kalau di Indonesia sendiri bagaimana? Menurut kalian, lebih enak menghadapi panas ekstrem seperti di Eropa atau panas di Indonesia yang relatif lebih stabil sepanjang tahun?

