Atdikbud KBRI Paris Paparkan Strategi Internasionalisasi Bahasa dan Budaya Indonesia di Prancis di Seminar Atdikbud-UNESCO
Paris, 1 Agustus 2026 — Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Paris tampil sebagai pembicara dalam Seminar Atdikbud dan Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO. Seminar dibuka oleh Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Fadli Zon, dan dilanjutkan dengan sesi bertajuk “Internasionalisasi Bahasa dan Budaya Indonesia di Prancis dan Jerman” yang disampaikan oleh Dr.oec.HSG Syarifa Hanoum, Atdikbud KBRI Paris dan Dr. rer. nat. Roniyus Marjunus, Atdikbud KBRI Berlin. Sesi tersebut dimoderatori oleh Prof. Dr. Yuli Rahmawati, Atdikbud KBRI Canberra.

Dalam forum tahunan yang mempertemukan seluruh Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI dari berbagai belahan dunia ini, Atdikbud KBRI Paris memaparkan bahwa penguatan posisi bahasa dan budaya Indonesia di panggung global tidak dapat dilepaskan dari fondasi hubungan bilateral Indonesia–Prancis yang kokoh, yang semakin diperkuat oleh komitmen kedua kepala negara pada peringatan 75 tahun hubungan bilateral Indonesia–Prancis pada tahun 2025. Penguatan tersebut tercermin dalam komitmen kerja sama di berbagai bidang strategis, termasuk pendidikan, kebudayaan, riset, dan mobilitas antarmasyarakat (people-to-people).
Di bidang pendidikan, kerja sama Indonesia–Prancis kembali diperkuat pada tingkat Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi kedua negara melalui Joint Working Group (JWG) France–Indonesia 2026 yang diselenggarakan di Angers, Prancis, pada bulan Juli 2026. Forum bilateral tersebut berhasil memfasilitasi penandatanganan 40 nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) antarinstitusi pendidikan tinggi dari kedua negara. Sementara itu, di bidang kebudayaan, penguatan kerja sama dilakukan melalui pertemuan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Fadli Zon, dengan Menteri Kebudayaan Prancis, Madame Catherine Pégard, pada bulan April 2026 di Paris. Pertemuan tersebut membahas penguatan komitmen kerja sama di bidang pelindungan dan promosi warisan budaya, permuseuman, industri budaya, transformasi digital, serta perluasan kolaborasi antara institusi dan pelaku budaya kedua negara.

Kantor Atdikbud KBRI Paris sendiri memiliki beragam program diplomasi bahasa dan budaya yang selaras dengan arah strategis yang dicanangkan dalam berbagai kesepakatan bilateral pada level presiden maupun para menteri. Dalam pilar diplomasi bahasa, Program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) yang dikelola oleh Kantor Atase Pendidikan KBRI Paris terus menunjukkan perkembangan yang positif. Program BIPA dilakukan setiap tahunnya sejak tahun 2019, diselenggarakan melalui kolaborasi dengan INALCO, Université de La Rochelle, dan Université Le Havre. INALCO menawarkan pendidikan bahasa Indonesia–Melayu hingga jenjang magister dan doktoral yang terintegrasi dengan kajian sastra, sejarah, masyarakat, dan budaya Asia Tenggara. Université de La Rochelle menyelenggarakan program Licence Langues Étrangères Appliquées jalur Inggris–Indonesia yang mencakup keterampilan bahasa, penerjemahan, serta kajian masyarakat dan budaya Indonesia. Sementara itu, IUT Le Havre memperkenalkan bahasa dan budaya Indonesia kepada mahasiswa dari berbagai program studi melalui pembelajaran bahasa dasar dan kegiatan lintas budaya.
Pada pilar diplomasi budaya, Kantor Atdik KBRI Paris secara khusus mengundang pelaku seni Indonesia yang berbasis di Prancis, Kadek Puspasari, untuk hadir dan berbagi pengalaman mengenai dinamika diplomasi budaya dari bawah (ground-up). Kadek memaparkan kiprah Asosiasi Pantcha Indra, komunitas seni musik dan tari tradisional Indonesia yang berbasis di Université Paris Nanterre, dalam upaya pelestarian budaya Indonesia sejak tahun 2021 dan penyelenggaraan konser gamelan tahunan secara rutin. Penguatan diplomasi bahasa dan budaya juga diperkokoh melalui sinergi dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Paris melalui program Café des Langues, yakni ruang interaksi informal yang mempertemukan mahasiswa Indonesia dan Prancis untuk berlatih bahasa sekaligus mengenal budaya Indonesia secara lebih dekat.
Ke depan, Atdik KBRI Paris juga terus memperluas jejaring kolaborasi dengan mengajak berbagai komunitas budaya di Indonesia untuk bekerja sama dengan komunitas budaya Indonesia di Prancis guna mendukung program internasionalisasi budaya Indonesia, termasuk dengan memanfaatkan berbagai skema dukungan yang disediakan oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia. Selain itu, KBRI Paris juga mengundang guru-guru bahasa Prancis sebagai pengajar maupun pendamping pembelajaran BIPA yang menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa pengantar. Di sisi lain, pusat-pusat bahasa di perguruan tinggi juga dapat berperan dalam mendukung penyelenggaraan kelas BIPA tingkat mahir yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar utama. Saat ini, Atdikbud KBRI Paris bekerja sama dengan Pusat Bahasa Universitas Telkom dalam pengelolaan BIPA Kelas Mahir.
Penyelenggaraan Seminar Atdikbud-UNESCO tahun ini menjadi momentum penting untuk bertukar praktik baik (best practices) antar-Atase Pendidikan dan Kebudayaan RI di seluruh dunia. Model pilar terpadu yang memadukan penguatan kesepakatan akademik, penyelenggaraan kelas BIPA yang terstruktur, serta keterlibatan komunitas seni dan mahasiswa diharapkan dapat memperkuat upaya internasionalisasi bahasa dan budaya Indonesia, sekaligus semakin mengukuhkan posisi bahasa Indonesia di tingkat internasional. Dalam konteks tersebut, Atdikbud KBRI Paris berperan sebagai penghubung strategis antara kementerian terkait di tingkat pusat, perguruan tinggi, lembaga kebudayaan, komunitas diaspora, pelajar, dan mitra Prancis guna memastikan agar berbagai inisiatif diplomasi bahasa dan budaya berkembang secara berkelanjutan, terkoordinasi, serta memberikan dampak yang lebih luas bagi penguatan hubungan Indonesia–Prancis.

