Dari Sunda ke Debussy, Gamelan Indonesia Kembali Bergema di Hamburg
HAMBURG, JERMAN — Lebih dari seabad setelah gamelan Indonesia memukau penonton Eropa dan meninggalkan jejak dalam sejarah musik Barat, bunyi khas Nusantara itu kembali membuka ruang dialog budaya di Eropa. Kali ini, jejak tersebut ditelusuri melalui sebuah gelaran budaya di Hamburg, Jerman, yang mempertemukan gamelan Sunda, karya Claude Debussy, dan musik kontemporer Indonesia.

Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg bekerja sama dengan Sagonese e.V. dan Museum am Rothenbaum, Kulturen und Künste der Welt (MARKK) menggelar program bertajuk “From West Java’s Tea Plantations to Debussy: The Global Life of a (Sundanese) Gamelan” pada 6 September 2026.
Acara tersebut membawa publik Jerman menelusuri perjalanan panjang gamelan Sunda dari Jawa Barat menuju panggung internasional. Salah satu kisah yang menjadi perhatian adalah perjumpaan gamelan dengan dunia musik Eropa pada Paris Expo 1889, yang kemudian turut membuka wawasan baru bagi komponis Prancis Claude Debussy.
Sejarah itu tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dihidupkan kembali melalui musik.
Kelompok Gamelan Margi Budoyo binaan KJRI Hamburg membuka rangkaian pertunjukan dengan musik tradisional Nusantara. Setelah itu, pianis muda Indonesia Calvin Abdiel membawakan sejumlah karya Debussy.

Pertunjukan kemudian berkembang menjadi dialog lintas tradisi. Abdiel menampilkan European premiere “Rapsodia Nusantara No. 27 – Sriwijaya” karya komponis Indonesia Ananda Sukarlan, sebelum gelaran ditutup dengan penampilan perdana “Waktu, yang Rindu Pulang” karya Marisa Sharon Hartanto.
Karya terakhir tersebut mempertemukan gamelan dan piano dalam satu komposisi, menciptakan percakapan musikal antara warisan musik Nusantara dan tradisi piano klasik Eropa.

Bagi Indonesia, kisah gamelan dan Debussy memiliki arti lebih dari sekadar sejarah musik. Ia menunjukkan bagaimana budaya Nusantara telah lama berinteraksi dengan dunia dan mampu memberikan pengaruh sekaligus terus berkembang melalui perjumpaan dengan kebudayaan lain.
Dari Jawa Barat menuju Paris pada akhir abad ke-19, kemudian kembali terdengar di Hamburg pada abad ke-21, perjalanan gamelan menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu tinggal di tempat asalnya. Ia dapat berpindah, beradaptasi, dan menemukan makna baru tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Gelaran di Hamburg juga menjadi bagian dari upaya diplomasi budaya Indonesia di Jerman. Melalui musik, Indonesia tidak hanya memperkenalkan kesenian tradisional, tetapi juga mengajak masyarakat internasional memahami perjalanan, keberagaman, dan relevansi budaya Nusantara dalam dunia kontemporer.
Pertemuan gamelan Sunda dan karya Debussy akhirnya menjadi sebuah cerita tentang perjalanan budaya: bagaimana bunyi dari Nusantara menyeberangi batas geografis, memasuki ruang musik dunia, dan kembali hadir dalam bentuk baru untuk generasi masa kini.
Di Hamburg, perjalanan itu kembali menemukan panggungnya.

