HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT V (78B)

Karya RD. Kedum

“Puyang!” Dua penjaga menyapa berbarengan ketika melihat Puyang Naga Merah mendekat. Mereka langsung sujud, mencium tangan Puyang Naga Merah.
“Bagus, kalian bekerja sangat baik. Puyang melihat semuanya. Mereka yang punya kerajaan di lereng kebun teh ke arah Gunung Agung bukan?” Tanya Puyang Naga Merah yang diiyakan kedua penjaga. Aku segera menelisik kerajaan yang dimaksud. Benar, mereka penghuni sebuah kerajaan kecil di lembah arah ke dusun Gunung Agung, sebelah kanan gunung Dempu.
“Puyang, demi keamanan gunung ini, dan sebelum terjadi gesekan dengan kita, izinkan aku memindahkan kerajaan mereka. Aku akan menemui rajanya untuk meminta mereka pindah dari sana.” Ujarku pada Puyang Naga Merah. Nampak Puyang berpikir sejenak.
“Bukankah jika aku yang memindahkan, itu lebih baik agar tidak terjadi perang dan banyak korban, Puyang?” Lanjutku lagi. Semua terdiam. Keputusan ada pada Puyang Naga Merah. Aku menatapnya. Berkali-kali beliau menatapku. Aku tahu beliau merasa tidak tega karena aku seorang perempuan harus bekerja sendiri menghadapi raja yang ganas itu. Sementara mereka bukan tidak bisa membantu, tapi demi menghindari munculnya perang besar makanya selama ini lebih banyak diam. Dan aku memang tidak ingin melibatkan nenek gunung untuk urusan ini. Bagaimana pun tugas nereka cukup berat menjaga gunung ini tetap asri dan aman.

“Puyang bukan tidak percaya padamu, Cung. Puyang tidak berani mengambil keputusan untuk mengizinkanmu menghadapi kerajaan itu. Sebab, kami sudah sepakat untuk tidak mengganggu satu sama lain.” Ujar Puyang Naga Merah.
“Tapi kenyataannya mereka berani masuk wilayah kita dan mengganggu di sini, Puyang. Jika aku turun tangan mana tahu dia jika aku Cucung Puyang Pekik Nyaring.” Ujarku. Puyang Naga Merah kembali terdiam.
“Raja mereka berilmu tinggi, Selasih. Dan kejam. Dia penghisap darah, dan suka makan daging manusia. Ah! Lebih baik jangan, Cung. Biarkan saja, toh mereka sudah di usir dari sini.” Puyang Naga Merah lagi dengan nada tidak tega.
“Biarkan Cucungku main-main ke sana, Naga. Kita lihat saja, apa yang akan dilakukan nya.” Suara Puyang Pekik Nyaring. Aku jadi malu karena ketahuan ngotot.
“Puyang…” Suaraku agak bertahan.
“Iya Selasih. Segeralah kau turun, akan kau pindahkan ke mana kerajaan itu. Ingat, tidak mudah memindahkan mereka, kau harus kalahkan dulu rajanya.” Suara Puyang Pekik Nyaring kembali. Mendengar itu, kukatakan akan kupindahkan ke salah satu pantai di laut Bengkulu yang masih kosong.

Akhirnya Puyang Pekik Nyaring setuju. Aku minta izin pada beliau dan Puyang Naga Merah. Kedua pengawalku dan dua penjaga gunung kupamiti juga. Mereka tetap menunggu di sini.
Aaauuugggghh…grrh… Dua ekor harimau Sumatera menyembul dari arah depan. Rupanya dia ingin ikut aku. Aku menolaknya. Kehadiran mereka bisa membuat masyarakat di sekitar itu ketakutan, karena mereka bukan makhluk kasat mata. Meski mereka memiliki insting yang tajam. Aku langsung mendekati keduanya. Sepasang Harimau Sumatera ini milik paman penjaga. Mereka sering patroli keliling gunung Dempu. Akhirnya kuminta keduanya tetap berada di sini bersama Puyang Naga Merah dan penjaga gunung.

Aku baru saja menginjakan kaki di halaman istana kerajaan jin yang suka mengganggu. Rupanya kehadiranku sudah mereka ketahui mereka lebih dulu. Mereka menyambutku dengan seringai.
“Mau apa kau kemari harimau kecil. Kau ingin mengantarkan nyawa!” Ujar seorang pengawal. Perawakannya gempal, pendek, hitam dan bermata merah. Satu lagi bertanduk, telinganya seperti telinga kambing yang melewer, bertaring, namun berjalan seperti orang pengkor. Aneh-aneh sekali bentuk mereka. Aku menahan nafas sedikit. Aroma anyir dan busuk menyeruak dari istana mereka.
“Aku ingin bertemu dengan raja kalian. Izinkan aku berjumpa padanya, Paman.” Ujarku yang disambut mereka dengan tawa dan seringai mematikan.
“Hebat sekali nyalihmu ingin bertemu dengan rajaku. Kau ingin menyerahkan diri untuk menjadi santapan beliau?” Lanjutnya lagi. Kali ini aku mencium bau busuk dari semburan mulutnya. Aku istighfar berkali-kali kala tercium bau mematikan tersebut.
“Segeralah panggil Raja kalian, aku ingin bicara. Aku akan memindahkan kerjaan kalian. Karena kalian tidak henti mengganggu kehidupan manusia yang berkunjung ke puncak gunung” Ujarku lagi.
“Tidak semua yang menganggu itu kami. Ada puluhan kerajaan bangsa kami di sini!” Nada mereka semakin marah.
“Tapi yang berani datang ke puncak tadi kalian. Kalian masuk ke dalam tubuh pendaki itu. Tidak usah menyangkal. Aku melihat dengan kepala dan mata sendiri.” Ujarku. Tiba-tiba ratusan balatentara menyerangku berbarengan. Aku tidak berniat membunuh mereka. Mereka semua kubuat kaku saja, tidak bisa bergerak. Tubuh mereka kukunci. Semakin mereka mengerakkan tenaga dalam untuk melepaskan diri, maka akan semakin erat pula mengikat mereka. Dalam sekejap aku mendengar suara geraman amarah mereka memenuhi lembah. Mirip suara dengungan ribuan lebah.
“Kurang ajar, lepaskan prajuritku!” Bentak penjaga istana lagi. Aku kembali minta bersua rajanya baru akan kulepaskan mereka.

Melihat aku tetap ngotot ingin bersua dengan raja mereka, mereka langsung menyerangku dengan gencar. Berkali-kali hantaman dan dorongan mereka lakukan. Aku berusaha menghindar. Dalam keadaan terpaksa pukulan kami beradu dan kami sama-sama terpental. Aku sengaja tidak mengeluarkan tenaga maksimal karena tidak ingin melukai mereka. Meski demikian aku tetap berhati-hati. Ilmu mereka tidak bisa dikatakan ringan. Mereka memiliki ilmu dan tenaga yang luar biasa.
“Keluarkan ilmumu, kutu babi. Jangan mempermainkan kami. Kami tidak suka di permainan !” Ujar penjaga yang masih dengan gencar mengeluarkan ajian-ajiannya. Kulihat gerakan dan ilmunya sungguh aneh. Ketika meraup tanah, tanah bisa berubah menjadi kabut untuk menutupi pandanganku. Ternyata ini adalah salah satu keahlian mereka guna melumpuhkan lawan. Sehingga mereka dengan mudah membekukku. Ternyata cara ini pula mereka menciptakan kabut untuk menghalangi para pendaki yang menjadi target mereka. Mereka pandai bermain sihir. Berbeda dengan penjaga gunung Dempu. Jika mereka memberi peringatan pada para pendaki yang nakal, mereka cukup memanggil angin, kabut, atau hujan. Lalu mereka kumpulkan.
“Permainan apa ini Paman?” Ujarku sambil menyentil kabut ciptaannya lalu dalam sekejap kusesap di jariku.
“Jangan sombong kamu kutu babi. Ini baru permulaannya saja. Bangsamu tak akan pernah menang berhadapan dengan kami. Buktinya, puluhan bangsa manusia sudah kami sesatkan dan celakakan. Mereka menjadi budak-budak kami!” Ujarnya sambil tertawa. Mendengar itu aku terperangah. Benarkah kata makhluk ini? Menjadi budak mereka? Demi mendengar itu muncul keinginanku untuk mengetahui keberadaan bangsa manusia yang pernah mereka ambil. Sambil menghindari pukulan mereka kucari keberadaan korban-korban mereka. Diam-diam aku pecah diriku menjadi dua.

Aku merinding ketika masuk ke dalam satu ruangan banyak sekali kerangka manusia. Apakah mereka mati karena mereka bunuh, atau kerangka yang mereka ambil dari kuburan-kuburan sekitar. Aku belum tahu. Namun yang jelas di sudut ruangan yang anyir ini ada semacam tempat ritual. Aku kaget ketika melihat seorang perempuan dalam keadaan terikat. Rambutnya berwarna pirang, agak ikal sepanjang pinggang. Setelah kudekati wajahmu bukan wajah orang Indonesia. Seorang noni-noni Belanda. Dia menangis histeris dalam keadaan terikat. Wajah dan tubuhnya babak belur. Aku tidak paham bahasa Belanda yang diucapkannya kecuali kata ‘help me‘ ketika dia melihat aku. Dia minta tolong.

Bismillahi rohamanir rahim!
Aku mencoba memahami bahasanya, berdialog padanya.
“Siapa namamu? Dari bangsa jin atau bangsa manusia?” Tanyaku.
“Aku manusia. Namaku Arabella. Aku warga negara Belanda.” Ujarnya.
“Mengapa kamu berada di sini?” Tanyaku lagi. Dia menangis kembali. Suara tangisnya begitu menyayat. Sedih sekali.
“Ayahku bernama Dehaan, salah satu orang kepercayaan pemerintah Belanda, mengelolah perkebunan teh di sini. Kami pernah tinggal di kaki gunung Dempu. Suatu hari, ketika aku berjalan-jalan bersama ayahku di lereng gunung, menikmati hijau kebun teh yang baru tumbuh, dan mengawasi para pekerja, tiba-tiba aku terpeleset dan masuk ke jurang.” Arabellah menangis kembali. Aku membiarkannya menangis meski hatiku ikut tersayat mendengarnya.
“Lalu kau mati?” Tanyaku.
“Aku tidak tahu apakah aku mati atau tidak. Tiba-tiba aku berada di sini. Aku ditawan segerombolan jin yang kejam. Aku menjadi pemuas nafsu raja jin dan ponggawa-ponggawanya,” suara Arabella tercekat. Aku rasa ingin menangis mendengarnya. Baru kuketahui jika bangsa jin menyukai manusia, bahkan mejadikan manusia sebagai pemuas nafsunya.
“Aku mereka sandera hingga kini.” Ujar Arabellah kembali.
“Berapa usiamu? Tahun berapa kau disandera mereka?” Tanyaku lagi.
“Usiaku dua puluh dua tahun. Saat itu menjelang ulang tahunku yang ke dua puluh tiga, Tahun 1919. Tolonglah aku. Lepaskan aku dari cengkraman Raja jin yang jahat ini. Aku sudah tidak tahan. Aku merasakan sakit luar biasa. Aku juga rindu pada ayah dan ibuku. Mereka tidak pernah mendoakan aku. Mereka lupa padaku.” Arabellah berurai air mata.

Aku tertunduk. Hatiku sangat ibah melihat kondisi Arabellah. Puluhan tahun dia disiksa seperti ini. Sejak tahun 1919? Zaman kolonial Belanda ketika mengembangkan sayap memperluas perkebunan teh-nya hingga ke Sumatera. Jauh sebelum Indonesia merdeka. Kasihan sekali gadis ini. Arabella diculik, sengaja digelincirkan oleh raja jin yang jahat itu rupanya.
“Yaa Allah..” Aku tak mampu menahan air mata.
“Tolong aku, lepaskan aku dari sini. Aku ingin tenang” Ujarnya lagi. Aku segera berpikir bagaimana menyelamatkan Arabellah dari cengkraman raja jin. Sementara mereka hendak aku usir dari sini.
Huf..huf….huf!
Aku melepaskan rantai yang mengikat kedua kaki, tangan, dan leher Arabellah. Selanjutnya dia kupagari.
“Kau tetap diam, tenang di sini. Nanti akan kubantu. Aku akan menyelesaikan raja jin terlebih dahulu.” Ujarku sedikit tidak sabar. Aku kembali menyatu melawan para pengawal yang menghadang. Sebenarnya bisa saja aku langsung menemui rajanya. Tapi aku sengaja memberi peluang padanya agar datang sendiri ke mari.
Hiiiat!!! Hap hap hap!
Dua pengawal kubuat kaku tak bergerak seperti prajurit lainnya. Selanjutnya semua prajurit dan pengawalnya kuikat satu sama lain. Sengaja kubuat demikian agar mereka tidak bisa kabur.

“Ayooo…mana lagi prajurit kalian? Keluarlah. Kalian memang harus diberi pelajaran!” Sengaja suaraku kubesar-besarkan diiringi tenaga dalam. Tak lama angin berhembus pelan. Lama kelamaan berubah kencang. Benar saja beberapa prajurit andalannya ke luar langsung berdiri di hadapanku.
“Siapa kamu? Berani sekali masuk dan berteriak-teriak ke kerajaan kami. Mengganggu saja!” Ujar di antara mereka.
“Mana raja kalian? Aku hendak bertemu. Mengapa dari tadi hanya kalian saja yang ke luar. Apakah raja kaliam tidak berani bertemu denganku?” Aku mulai memancing mereka.
“Tak perlu bertemu junjungan kami. Hadapi kami. Apa keperluanmu? Kau membawa sesembahan untuk kami?” Tanyanya lagi. Sesembahan? Akhirnya aku bertanya pada mereka sesembahan apa yang dimaksud. Tenyata, banyak bangsa manusia yang melakukan ritual di sini, membawa sajen dan menyerahkan darah ayam cimani kepada mereka. Yang datang para dukun-dukun santet yang bersekutu dengan bangsa jin. Baru kutahu pula jika di sisi gunung Dempu ini dijadikan tempat ritual bangsa manusia yang bersekutu dengan jin untuk mencelakakan manusia. Mengetahui ini, tanpa ragu-ragu aku sudah bulat akan mengusir mereka dari area gunung Dempu ini.

“Aku hendak bertemu dengan raja kalian. Aku akan pindahkan kalian dari sini. Kalian harus pindah karena keberadaan kalian sungguh mengganggu. Kalian jahat suka mencelakakan manusia” Ucapku sedikit mendesak. Mendengar akan kupindahkan mereka marah bukan main lalu mengajak aku bertarung.
“Tidak usah bertarung, percuma saja. Kalian tetap harus pindah dari sini.” Ujarku. Mereka tidak peduli lalu serentak menyerang. Beberapa kali aku berusaha mengunci mereka dengan maksud agar tidak bergerak seperti prajurit lainnya. Tapi selalu gagal. Mereka mampu menolaknya. Kuakui mereka berilmu lebih tinggi dibandingkan penjaga dan prajurit lainnya.
“Kau tidak akan biasa mengikat kami, anak manusia. Jangan samakan kami dengan prajurit-prajurit itu. Lebih baik kau pergi dari sini sebelum kami ambil dirimu.” Ujar salah satu mereka.
“Ah! Kita tangkap saja. Lalu kita persembahkan kepada raja kita. Raja kita pasti senang mendapatkan persembahan baru.” Ujar yang lain lagi sambil tertawa lebar. Aku tidak mau terpancing emosi oleh mereka.
“Tidak usah ditangkap, aku datang ke mari untuk menyerahkan diri pada raja kalian. Panggillah beliau ke mari.” Ujarku.
“Ah! Kami tidak percaya. Kalau kamu mau menyerahkan diri mengapa prajurit kami dibuat kaku, lalu kami pun di serang?” Salah satu mereka kembali mengajak berdebat.
“Sengaja kubuat kaku, sebab kalau tidak mereka lebih dulu menodai aku sebelum aku mempersembahkan diri pada raja kalian. Mereka ganas sekali melihat perempuan.” Pancingku. Rupanya bangsa jin satu ini mudah sekali ditipu. Mereka bangsa jin yang bodoh. Mendengar perkataanku mereka percaya saja, lalu ngomel-ngomel pada prajurit-prajuritnya.
“Bodoh kalian, sudah tahu dia datang untuk raja kita, kalian ganggu !” Ujarnya setengah membentak. Aku senyum-senyum dalam hati.
“Sekarang panggillah raja kalian” Ujarku pelan.

Tak lama di antara mereka memanggil rajanya. Dalam sekejap sang Raja sudah berdiri di hadapan kami. Melihat fisiknya beliau memang sangat pantas menjadi raja jin. Bertubuh besar, menyeramkan. Taringnya mirip seperti kumis, melengkung ke samping. Bertanduk satu, mata merah, perutnya buncit dan hanya memakai cawat. Saparuh tanduknya tertutup mahkota. Seluruh tubuhnya berbulu lebat. Tangannya menggenggam tongkat berkepala ular. Yang lebih menyeramkan adalah kalung yang dipakainya tengkorak manusia.
“Sungguh besar nyalihmu. Kudengar engkau ingin menyerahkan diri padaku anak manusia?” Sang Raja tertawa lebar.
“Benar, tetapi dengan syarat.” Ujarku santai yang disambutnya kembali dengan tawa menggelegar.
“Apa syaratnya?” Sambungnya.
“Kita bertarung terlebih dahulu. Jika aku kalah, maka aku akan serahkan diri bulat-bulat. Tapi jika engkau yang kalah, kalian harus tinggalkan tempat ini” Ujarku.

Mendengar syarat yang kuajukan, raja Jin marah bukan main. Matanya menyala seperti api.
“Baru kali ini aku ditantang oleh anak manusia. Perempuan kecil pula. Apa tidak salah?” Ujarnya sambil menggeram dan menganggap remeh aku.
“Bagaimana, terima syarat yang kutawarkan bukan? Kalian harus pindah” Ujarku.
Bum!!!
Aku kaget, beliau memukulkan ujung tongkatnya. Bumi jadi bergetar.
“Baik, aku akan penuhi syarat yang kau ajukan. Jika kau mampu melawanku dengan tiga jurus saja, maka kerajaanku akan pindah dari sini. Tapi jika kau kalah, maka kau akan jadi budakku. Mengabdi di sini Ujarnya kembali sambil tertawa lebar. Akhirnya aku mengerahkan kemampuanku membaca gerakan dan pikirannya. Apa yang disampaikan raja Jin ini tidak sama dengan yang ada di dalam pikirannya. Beliau bahkan ingin memakanku. Air liurnya beberapa kali dia telan. Untuk memancing nafsunya, kusebarkan aroma yang disukainya dari tubuhku, aroma darah.

Ternyata pancinganku tepat. Raja Jin semakin tidak sabar. Dengusan nafas laparnya terdengar sangat berat.
“Baik raja Jin, aku terima tantanganmu tiga jurus saja. Ingat alam semesta menyaksikan janjimu. Jika dalam tiga jurus aku mampu mengalahkanmu, maka kalian angkat kaki dari sini.” Ujarku kembali. Aku menggerakkan tangan ke atas, suara yang baru kuucapkan kubuat memantul berkali-kali. Selanjutnya aku bersiap-siap melakukan serangan. Sembari mengokohkan kuda-kuda dan tenaga dalam, aku mulai berdoa dan meningkatkan zikirku. Yang kuhadapi bukan jin biasa. Ilmunya sangat tinggi.
“Jurus pertama!” Aku berteriak. Sang raja Jin tertawa sampai seluruh tubuhnya bergoyang-goyang. Ternyata beliu sudah menyiapkan jurus seperti benteng menghadapi setiap pukulan. Beliau tidak bergeser sedikitpun dari posisi berdirinya. Dan pukulan-pukulan yang menyerangnya, mampu beliau kembalikan. Artinya pukulan itu akan mental dan menyerang balik lawan. Akhirnya aku berubah haluan. Semula aku akan lawan beliau dengan pukulan halilintar dan matahari sekaligus, kuurungkan. Aku mengumpulkan kekuatan air laut. Dengan cepat tubuhnya kukurung dengan air. Lalu kukerahkan kekuatan pada air tersebut untuk menyerang bentengnya seperti menghantam karang di laut. Lalu kukerahkan agar air laut berzikir sambil menghantamnya. Demikian juga alam semesta, kuajak bersuara bersama. Baru beberapa detik sang Raja sudah mulai kelelahan. Konsentrasinya buyar. Makin lama pertahanannya makin lemah.
DuuuuaRR!
Suara ledakan menghancurkan benteng raja Jin.
“Hentikan suara itu anak manusia, telingaku sakit dan panas. Lanjutkan jurus ke dua.” Ujarnya kewalahan. Aku tahu dia berkali-kali hendak mengerahkan ilmunya namun selalu gagal karena tak mampu melawan suara zikir yang mendengung.

Tak lama aku melihat dia menghentakkan kaki lalu memukulkan tongkatnya tiga kali. Tak lama muncullah suara melengking mirip jutaan suling. Suara melengking tersebut melawan dengung zikir. Tak lama bumi serasa diguncang. Dua kekuatan beradu. Aku semakin menguatkan tenaga dalam untuk terus mendengungkan zikir. Kali ini aku duduk bersila. Kuhimpun zikir yang di alunkan semesta. Kuarahkan semua pada raja Jin. Aku melihat dua benturan dasyat mengeluarkan ledakan-ledakan. Anehnya kekuatan zikir semakin berlapis. Suara suling yang bisa menghancurkan gendang telinga itu tak mampu menembus zikir yang kukerahkan. Tiba-tiba tongkatnya berubah menjadi naga. Dengusan dari hidungnya mengeluarkan hawa panas. Ketika mulutnya mengangah mengeluarkan api, kekuatan zikir kuarahkan sebagian ke rongga mulutnya. Naga jelmaan tongkat raja Jin mengeliat. Tubuhnya terhempas ke sana ke mari. Tak lama tubuhnya pun kaku.

Melihat tongkatnya tak berdaya, raja Jin semakin marah. Tubuhnya bergetar hebat. Sementara kekuatan zikir terus menggempur dirinya tanpa harus kubantu. Aku melihat tubuh besarnya sedikit bergoyang. Raja jin hanya bisa bertahan. Aku segera menghimpun kekuatan. Aku berusaha mematahkan pertahanannya.
Hiiiiiaaaat! Allahu Akbar!
Tubuh raja Jin tumbang. Badannya tertelentang. Kubuat dia tidak bisa bangkit.
“Ampun aku menyerah kalah. Aku menyerah… ” Ujarnya sambil menggeram menahan sakit. Sebagian tubuhnya seperti terbakar.
“Iya, kau sudah kalah. Belum sampai ke jurus tiga. Sekarang, tubuhmu tidak bisa bergerak lagi bukan? Sama dengan prajuritmu. Jika aku mau, dengan mudah menewaskan kalian. Nah, sekarang, sesuai dengan perjanjian kita, kalian harus pindah dari sini.” Aku mengangkat tangan lalu kuperlihatkan daerah baru untuk mereka. Sang raja Jin setuju. Akhirnya kulepas ikatan yang membelenggu dirinya dan prajuritnya.

“Oooaaauuuuh!!” Raja Jin memanggil semua rakyatnya. Tangannya bergerak menghimpun rakyatnya untuk berkumpul. Tak lama semua rakyatnya berkumpul lalu dengan kekuatannya, raja Jin mengarahkan rakyatnya ke tempat baru. Berangsur-angsur istana mereka sepi. Terakhir tinggallah Raja Jin dengan beberapa pengawalnya.
“Kemana perempuan Belanda itu? Mengapa dari tadi aku tidak melihatnya?” Raja Jin bertanya pada pengawalnya seperti baru sadar.
“Perempuan itu urusanku. Bukan milikmu lagi. Berapa tahun kamu menyiksanya. Aku sudah tahu semuanya. Beliau kalian seret dan sengaja seakan-akan mati jatuh ke jurang bukan? Lalu dia kau jadikan pemuas nafsumu. Sekarang silahkan kalian pindah tanpa membawa perempuan Belanda itu. Aku tidak akan diam jika kamu kembali menawan manusia untuk memuaskan nafsu bejadmu. Camkan itu!” Ujarku dengan nada mengancam. Raja Jin mulai terdiam. Tak lama raja Jin sujud dan mohon diri pergi ke tempat baru membangun istana baru kembali.

Aku menarik nafas lega. Aku bersyukur tidak ada yang mati. Aku segera menghampiri Arabella. Kutanyakan dimana jasadnya? Dia bilang dia diletakkan di dalam kendi di dalam gua tidak jauh dari tempatnya di tahan. Aku segera mencari benda yang dimaksud. Tidak lama kendi yang dimaksud kutemukan. Kendi itu sudah berlumut dan berdebu bahkan nyaris tidak terlihat bentuknya seperti kendi. Tapi seperti bongkahan tanah saking lamanya. Ada beberapa benda lainnya di dalam gua ini. Namun nampaknya mereka adalah korban-korban yang dimakan oleh bangsa jin itu.
Aku segera membuat lubang, lalu menguburkan kendi itu layaknya memakamkan manusia. Kita dari tanah, maka akan kembali ke tanah.
“Terimakasih, Nona. Kau sudah menolongku. Kau sudah membebaskan aku dari cengkraman raja jin yang jahat itu. Sekarang izinkan aku pulang” Ujarnya. Aku membantu memutuskan ikatannya dengan bangsa jin. Arabellah menuju alam barzah.
Selanjutnya aku kembali membuat lubang. Tulang belulang yang berserakan kukumpulkan, lalu kumasukkan ke dalam lubang. Mereka kukubur satu tempat. Selanjutnya aku doakan mereka. Setelah semuanya beres aku kembali menemui Puyang Naga Merah dan paman pengawas di puncak.

“Masya Allah, sungguh luar biasa. Tanpa memakan korban, kau berhasil memindahkan mereka Selasih. Dengan mudahnya kau menundukkan raja jin fasik itu” Puyang Naga Merah berdecak-decak kagum.
“Puyang bisa saja. Semua berkat doa Puyang, Paman, dan semua sesepuh di sini” Ujarku sedikit malu. Aku takut sekali jika muncul riak bangga dari dalam dadaku. Kuhapus dengan berulang kali beristighfar.
“Ilmu itu yang kau peroleh ketika tirakat itu, Selasih?” Tanya Punyamu Naga Merah. Aku tersenyum menjawabnya. Aku sendiri tidak tahu apakah mendapatkan kekuatan baru dari tirakat yang kujalani. Aku hanya menjalankan perintah sesuai petunjuk. Aku berzikir berusaha mendekatkan diri pada Sang Maha tanpa mimpi harus mendapatkan sesuatu, kecuali belajar ikhlas dan meraih kedamaian batin. Apakah karena efeks ikhlas itu mampu melawan raja Jin yang zolim? Aku tidak tahu. Biarlah Puyang Pekik Nyaring saja yang menjelaskannya.

Aku menoleh pada anak-anak pendaki. Sekarang keadaan sudah tenang. Tidak ada hujan, angin, atau pun kabut. Di salah satu tenda aku mendengar suara murotal. Rupanya Puyang Naga Merah, Paman Penjaga, dan Paman Pengawal ikut menyimak murotal yang dilantunkan salah satu pendaki. Efeksnya, Puncak Dempu menjadi sangat damai. Semua menyimak. Bahkan angin pun enggan untuk berhembus kencang. Sekali lagi aku mengagumi kebesaran sang khalik. Ketika mendengar ayat-ayat-Nya dibacakan, semua menyimak dengan saksama.
“Puyang, sudah waktunya aku dan Paman Pengawal pulang. Terimakasih kebersamaan ini Paman, Puyang” Ujarku sembari menyalami mereka. Akhirnya kami berpisah. Puyang kembali ke telaga. Paman penjaga kembali berkeliling bersama dua harimaunya. Aku dan dua pengawal kembali ke kerajaan Pekik Nyaring sembari membenak tanda jempol harimau di kening beberapa pendaki.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *