HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT VI (93A)

Karya RD. Kedum

Aku pulang kembali ke Bengkulu setelah dua malam berada di Timur Laut Banyuwangi menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di sana. Peringatan hari besar Islam pertama kali di kerajaan Timur Laut Banyuwangi.

Masih terngiang rangkaian acara Maulid yang dihadiri oleh semua tokoh dan rakyat kerajaan. Aku bangga rakyatku bisa berbaur dan saling membantu meski Tuhan yang disembah berbeda. Tidak sedikit para pandita memberikan sumbang saran bahkan turun tangan langsung membantu persiapan acara itu. Pasalnya, peringatan Maulid yang pertama kali di Timur Laut Banyuwangi juga melibatkan bangsa manusia, dan mengundang tamu seorang Syech dari Madina, bangsa jin muslim.

Seperti janjiku, Alif ikut ke Timur Laut Banyuwangi bersamaku. Demikian juga Eyang Kuda. Di Timur Laut Banyuwangi, Alif bertemu dengan beberapa orang kawannya sesama santri, juga dengan gurunya. Menurutnya selama dia mengenal alam gaib, baru kali ini dia merasakan sebuah perjalanan yang menyenangkan. Apalagi ketika kuajak singgah ke tanah Besemah. Dia semakin kaget dan tidak percaya jika aku bisa ke luar masuk ke kampung nenek gunung yang menurutnya jauh dari dugaannya. Dia pikir aku hanya bisa bolak-balik ke kerajaan Timur Laut Banyuwangi saja.
“Kapan-kapan akan aku akan ajak Bang Alif ke gunung Bungkuk, bertemu Putri Bulan kembali, wanita hebat kepercayaan Datuk Ratu Agung itu” Ujarku dalam perjalanan. Mata Alif menatapku makin tak percaya.
“Jadi di alam bunian belantara gunung dan bukit Sumatera kau pun sudah bolak-balik, Kanjeng Putri Selasih?” Alif berdecak-decak seperti suara cecak. Kuceritakan sekilas bagaimana aku bisa berkerabat dengan bangsa nenek gunung sepanjang Bukit Barisan ini. Alif mendengarkan dengan saksama. Padahal hal yang kulakukan seperti ini bukan aneh.
Apalagi dibandingkan dengan di pulau Jawa. Pulau Jawa itu pusatnya ilmu gaib. Maka tidak usah heran jika terdengar tokoh-tokoh spiritual tertentu yang sakti mandraguna. Baik dari golongan hitam mau pun dari golongan putih. Berbagai kajian keilmuan ada di pulau Jawa. Bahkan jual beli tuyul, pesugihan, santet sampai pada ilmu karomah, ada di sana. Bergantung dengan pribadi masing-masing.

Malam peringatan hari besar itu dikemas meriah. Seorang Syech dari bangsa jin datang memberikan pencerahan. Beliau menyampaikan hikma maulid dengan bahasa Arab lalu diterjemakan oleh seorang Kyai. Leluhurku dari tanah Besemah pun hadir. Demikian juga Eyang Putih beserta murid-muridnya yang lain, Puyang Purwataka dan santrinya, ditambah lagi Kyai dan santri dari seputaran Jawa Timur dari bangsa manusia. Untuk kesekian kalinya aku melihat tarian rumi yang religius itu. Sebuah zikir yang memiliki daya Allah, bergerak seperti planet di luar angkasa, berputar pada porosnya.

Lagu-lagu gambus religius dilantunkan begitu memukau. Aku seperti berada di Timur Tengah, di hamparan padang pasir, melihat lengkung kaki langit berwarna jingga. Irama musiknya mampu menarik imajinasi kita menghentak-hentak dalam bahasa Arab yang sebagian besar tak kupahami artinya. Sesekali kuikuti lirik salawat dan doa yang dikutip menjadi lagu. Tapi kala mataku terlempar pada kelompok santri dari bangsa manusia, mereka dengan antusias bergoyang-goyang mengikuti. Ternyata seni islami ini sudah biasa bagi mereka. Mereka pun ikut hanyut dalam syair yang indah itu.

Melihat aku gembira, Nyai Ratih tersenyum puas. Dialah yang telah mengatur rangkaian acara yang sedemikian meriah dan khusuk. Semua tertatah rapi. Tentu saja dibantu oleh tokoh dan prajurit serta rakyatku yang beragama Hindu. Acara yang dikemas sedemikian rupa, seakan-akan mereka sudah sangat pengalaman. Padahal baru pertama kali acara seperti ini dilaksanakan di negeri Timur Laut Banyuwangi.

Dalam tausianya, Syech yang berasal dari Madina itu mengatakan, Timur Laut Banyuwangi, adalah salah satu kerajaan besar yang pernah beliau kunjungi, memiliki tingkat toleransi, dan budaya yang tinggi. Salah satu yang beliau kritisi adalah rakyatku mampu mengubah diri mereka seperi sosok manusia. Sehingga secara merata, yang hadir di majelis ini semuanya terlihat indah dan rapi bersosok manusia. Di tengah tausianya beliau bercerita tentang jamaah yang menunaikan rukun islam yang ke lima, yaitu naik haji di bulan haji. Mereka yang datang dari berbagai penjuru dunia, namun ketika menunaikan haji, mereka mengubah diri seperti manusia. Meski tidak sedikit makhluk astral yang bersosok asli seperti manusia, namun banyak juga yang sosoknya tidak asli, sosok manusia. Terakhir beliau mendoakan bangsa manusia, agar ketakwaan semakin meningkat dan semakin diberi rahmat kemudahan untuk berkunjung ke alam tak kasat mata.

Tak sedikit yang terharu kala perjalanan Nabi pilihan itu dikupas sedemikian rupa oleh Syech. Tuturannya yang indah dan lembut dan mudah diterima, sehingga dapat kusimpulkan, beliau seperti padi bernas yang masak. Warnanya indah, tidak mendongak. Justru merunduk gambaran sikap yang rendah hati. Aku merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan makhluk-makhluk Allah yang mengajarkan aku tentang adab, ilmu, penghayatan tentang hidup, filosofi dan tanda-tanda alam. Semua bermuara mengajarkann tentang ikhlas dan pandai bersyukur.

Pagi ini Alif datang ke rumah. Namun dia tidak bertemu denganku. Dia hanya bertemu dengan Bapak dan Ibu. Kata Bapak mereka ngobrol cukup lama. Bapak memuji-muji Alif sebagai anak muda yang dewasa, dan sopan. Banyak pengalaman hidup dan rajin ibadah. Yang membuat Bapak kagum, dia anak seorang ulama terkenal, berpendidikan tinggi, dari keluarga terdidik, namun beliau tidak menampakkan kesombongan. Aku mendengar suara Bapak sudah lain. Nampaknya Bapak setuju jika aku dekat dengan Alif.
“Kata Alif, dia hendak manyusulmu ke sekolah. Ketemu tidak?” Tanya Bapak sambil menatapku.
“Tidak ada jumpa Bang Alif. Tadi di sekolah hanya sebentar mengambil ligalisir ijazah. Selanjutnya ke rumah Neti, karena dia baru pulang dari dusun” Jawabku sambil menggeleng. Selanjutnya kami semua diam. Aku tidak berani bertanya lebih banyak. Wajah Bapak nampak sedikit kecewa. Bapak tidak tahu jika Alif ikut denganku ke Banyuwangi.

Usai salat Isya, seperti biasa aku menyempatkan diri untuk berzikir. Memusatkan diri pasrah pada Sang Maha Hidup. Tak lupa aku akhiri dengan doa. Esok aku dan kawan-kawanku bersama-sama hendak mengisi formulir seleksi mahasiswa untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri. Kawan-kawanku sibuk sekali dalam menentukan pilihan. Sementara aku berpikir jika tidak lulus seleksi ke Perguruan Tinggi, akan kemana? Apa aktivitasku? Langkah apa yang harus kulakukan?
Tidak sedikit kawan-kawanku memilih pulau Jawa untuk menuntut ilmu. Sementara aku tidak tertarik. Justru aku ingin tetap di Sumatera.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, semula berniat hendak tidur, istirahat. Tapi tiba-tiba pikiranku justru beralih hendak pergi ke luar. Aku jadi rindu ingin main ke pantai. Sudah lama rasanya tidak ke pantai Kualo, pantai Jakat, pantai Panjang, pantai Sungai Suci. Jadi teringat bagaimana awal aku tinggal di Bengkulu ketika pertama kali bermain ke pantai. Lalu beberapa kali betarung dengan makhluk laut, mau pun ratu buaya di muara. Pernah bersama Eyang Kuda menyisir pantai. Berjumpa dengan pengasuh Putri Gading Cempaka ketika berjalan-jalan ke pantai Panjang bersama nenek Ceriwis. Ah, banyak sekali rupanya pengalaman gaib yang kutemui di Pantai Bengkulu ini.

Kali ini aku bukan hendak mencari musuh, atau bertarung dengan makhluk-makhluk astral yang ada di laut. Namun aku hanya sekadar ingin menapakkan kaki ke pantai, merasakan air laut yang mendesir menyentuh pantai. Menikmati irama ombak. Apalagi malam ini kulihat langit nampak lebih bersih dan terang.

Baru saja aku membaca Bismillah hendak melangkah, tiba-tiba desir angin membuatku menoleh. Masya Allah, ada Alief datang. Beliau meragasukma. Darahku terkesiap karena melihat beberapa makhluk mendekat dan menampakan ketidaksukaannya pada Alif. Aku segera menyongsongnya lalu berhadapan dengan makhluk yang hendak membokongnya dari belakang.
“Stop! Apa yang hendak kalian lakukan?” Ujarku mengembangkan tangan. Alif kaget melihat aku tiba-tiba berada di belakangnya. Dia tidak bisa berkata-kata. Mungkin Alif tidak menduga jika ada yang hendak membokongnya.
“Kamu temannya ya. Baguslah! Aku tidak suka dengan kalian” Ujar makhluk besar tinggi dengan wajah dan bentuk tubuh menyeramkan.

Tanpa babibu lagi, makhluk itu langsung menyerangku. Senjata yang berada di punggungnya, langsung dikeluarkannya. Melihat gelagatnya yang tidak baik, Alif mau maju. Namun segera kutahan. Aku bukan ingin meremehkannya. Namun Alif tidak tahu jika jin laut ini ganas dan kasar. Rata-rata mereka sulit untuk dikedalikan.
“Bang Alif berdiri saja di sini, pagari diri, dan zikir. Biar aku akan menghadapinya” Ujarku pada Alif. Meski nampak semula tidak terima akhirnya Alif patuh juga. Dia mulai membaca syalawat, lalu melakukan pemagaran pada dirinya.

Aku mulai mengatupkan telapak tangan. Berusaha mengimbangi kekuatan yang sudah dikirimkan oleh makhluk bertubuh besar itu. Makhluk iseng ini, serius hendak mencelakakan. Tujuannya hanya hendak menunjukkan kemampuan, kesaktian, dan berharap siapa pun makhluknya harus tunduk padanya. Jika melihat makhluk lain yang memiliki kelebihan dia justru sangat benci dan ingin membunuhnya.
Busss….busss!
Ujung tanganku kusapukan ke hadapan makhluk astral tersebut. Tiba-tiba muncul angin dasyat menyerang Sang makhluk astral. Tubuhnya sedikit terdorong ke belakang. Sementara aku masih berdiri.
“Hei! Berhenti anak manusia. Siapa kau sebenarnya. Dari mana kau dapatkan ilmu itu? Kau jangan main-main denganku. Aku dapat membunuhnu segera. Kapan saja” Ujarnya berteriak.
“Untuk apa kau tahu siapa aku. Tidak penting juga kau tahu. Tidak ada urusan dam kepentingan” Jawabku tak kalah kencang. Apalagi melihat dia mengayun-ayunkan pedangnya pertanda meremehkan.

Aku berdiri memperhatikan gerak-gerik lawan. Agak lama kutunggu, tapi nampaknya dia tidak melakukan gerakan ancaman lagi. Aku sedikit heran. Padahal sebelumnya dia sangat bernafsu hendak membunuh aku dan Alif.
“Siapa kau sebenarnya, anak manusia. Ilmu panca bayu segoro itu hanya dimiliki oleh eyang guruku dan Nini Ratu. Mengapa bisa berada padamu. Ribuan tahun aku mengabdi pada beliau, ribuan tahun pula aku bertapa, jangankan menguasai ilmu itu, untuk sekadar tahu dasarnya saja tidak kumiliki. Ilmu yang hanya akan turun pada mereka yang memiliki garis keturunan. Apa hubungannya kau dengan beliau. Kau anak manusia, sedangkan Eyang Guru dan Nini Ratu, bangsa kami” Lanjutnya lagi. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Diam-diam kubuka auraku agar dia melihat apa yang ada pada diriku. Tanpa kuduga, makhluk besar bertampang sangar ini langsung menjatuhkan diri.
“Ampunkan hamba, Kanjeng Ratu. Ampunkan hamba! Hamba pengembara, meninggalkan Timur Laut Banyuwangi, setelah kerajaan mulai runtuh. Ampunkan hamba..” Makhluk astral ini menunduk, enggan mengangkat kepala. Aku jadi terharu. Ternyata meski ganas seperti apa pun, makhluk ini masih ingat dan hormat pada pemimpinnya.
“Bangunlah Paman, panjang ceritanya. Apakah Paman berkenan kembali ke Timur Laut Banyuwangi?” Tanyaku sembari mengibaskan tangan agar dia melihat keadaan Timur Laut Banyuwangi. Matanya terbelalak.
“Kanjeng, izinkan aku pulang. Aku rindu kampung halamanku” Makhluk astral sesegukkan. Wajahnya mengekspresikan kerinduan yang sangat.
“Tentu saja boleh pulang, Paman. Dengan syarat Paman harus berubah sikap. Jika selama ini Paman suka berpetualang, menakhlukkan kerajaan-kerajaan yang paman temui, kalau kembali ke Timur Laut Banyuwangi, Paman harus berubah. Saya tidak mengizinkan wargaku berbuat jahat, menyakiti sesama makhluk hidup. Jika Paman berkenan mematuhi aturan di Timur Laut Banyuwangi, akan kubuka pintu gerbangnya” Ujarku kembali.

Mendengar syarat yang kutawarkan, ekspresi makhluk astral ini menampakkan kesungguhan dan kepatuhan. Beliau menyampaikan apakah aku mengizinkan jika membawa keluarganya. Aku mengangguk mengizinkan. Akhirnya beliau menggerakkan tangannya ke atas, beliau memanggil anggota keluarganya. Masya Allah, anaknya ratusan. Semuanya diperintahnya untuk sujud padaku.

Akhirnya atas permintaannya, makhluk astral ini kukembalikan ke Timur Laut Banyuwangi bersama keluarganya, dengan syarat dia harus mengubah dirinya menjadi sosok manusia. Aku segera mengirim beliau dan keluarganya ke istana. Di sana Nyai Ratih dan pengurus kerajaan telah menunggu, membuka pintu gaib menyambut Paman makhluk astral beserta istri dan anak-anaknya. Tak lupa kuingatkan agar beliau memeluk salah satu agama di Timur Laut Banyuwangi.

Sepeninggal paman dan keluarganya, aku menarik nafas lega. Kutoleh Alif masih berdiri kaku seperti orang kena hipnotis.
“Bang, kenapa?” Tanyakku. Benar saja, Alif seperti orang kaget. Ketika kuala nampak sedikit gelagapan.
“Mudah sekali kau menakhlukkan makhluk itu. Bahkan mengembalikan ke kerajaanmu” Wajah Alif masih tidak percaya. Aku tersenyum melihat ekspresianya seperti aneh.
“Mengapa harus heran, bukankah hal seperti ini lazim dilakukan oleh bangsa kita?” Ujarku lagi. Alif menggeleng-gelengkan kepalanya tidak jelas.
“Hanya guruku yang bisa seperti ini. Aku tidak bisa. Dan baru kali ini aku melihat kejadian di depan mata” Lanjutnya lagi. Sekali lagi Alif mengatakan jika ingin menguasai ilmu seperti ini maka dia harus mengamalkan wiridan tertentu, puasa, dan tirakat. Aku hanya menyambutnya dengan senyum. Sebab aku tidak pernah melakukan tirakat khusus, puasa khusus, atau wiridan khusus. Kecuali solat lima waktu, solat sunat, lalu berzikir.

Akhirnya aku bertanya, Alif hendak ke mana. Rupanya dia sengaja datang ke mari hendak menemuiku. Sebaliknya, dia bertanya aku hendak ke mana. Kusampaikan jika aku hendak pergi ke pantai.
“Malam-malam ke pantai? Apa tidak bahaya? Mengapa tidak tunggu siang saja?” Ujarnya bernada khawatir.
“Aku sudah lama tidak jalan-jalan ke pantai di Bengkulu ini. Rindu juga rasanya” Ujarku lagi. Alif menatapku tak berkedip. Dia masih tidak yakin jika aku benar-benar hendak jalan-jalan ke pantai malam ini.
“Ayo, kalau mau ikut. Nampaknya malam ini bahaya mengintai Bang Alif jika jalan sendiri” Ujarku. Sejenak kulihat Alif diam memikirkan keputusan yang hendak dia ambil. Kepalanya kadang terangkat, kadang menunduk. Aku dengan sabar menunggu dia berpikir untuk mengambil keputusan.
“Baik, aku akan temui. Sekalian aku hendak belajar banyak dengan Kanjeng Ratu. Siapa tahu, setelah ini aku diangkat jadi murid Kanjeng Ratu” Ujar Alif sembari menunduk dan mengatupkan telapak tangan. Aku hanya tertawa kecil menyambut candaannya. Akhirnya kami berjalan cepat dibantu angin.

Sepanjang jalan aku tidak banyak bercerita kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan Alif yang terkesan polos. Dia memang asli anak pondok, lurus dan tidak banyak ulah. Bukan sepertiku sedikit liar dan blusukan.
“Kau tidak takut berjalan ke mari? Aku ngeri melihat makhluk-makhluk astral berupa-rupa. Apalagi itu, mata mereka nanar, liar menatapmu. Aku khawatir mereka akan mengganggu, dan aku tidak mampu melindungi. Karena aku tidak pandai bertarung sepertimu” Nada Alif agak cemas setelah melihat kerumunan beberapa sosok sengaja mendekat dengan bentuk-bentuk yang aneh. Bahkan seperti hendak menerkam saking ingin dekat pada kami.
“Biarkan saja mereka mendekat. Jika mereka mengganggu baru kita balik membela diri. Mereka penasaran melihat bangsa manusia berani berkeliaran di kampung mereka. Makanya mereka sepeti hendak menguji kemampuan kita” Sambungku sambil menepis beberapa makhluk yang mendekat agar minggir dan memberikan jalan.

Aku tahu Alif mulai tidak nyaman melihat makhluk astral yang sudah mulai berani mencoleknya. Bahkan bekas colekan di lengan Alif mengeluarkan aroma bangkai. Beberapa kali kulihat Alif berusaha membersihkan namun aroma busuk itu tidak mau hilang juga. Alif sudah mulai merasa pusing dan ingin muntah. Melihat kondisinya aku segera membantunya. Aroma busuk di lengannya kubersihkan. Lalu kuganti dengan aroma harum menyegarkan. Alif seperti bernafas kembali. Berkali-kali mengucapkan terimakasih padaku.

Kali ini aku dan Alif lebih mendekat ke bibir pantai. Mendekati ombak yang berdesir. Pasir yang halus terasa lebih dingin. Di kejauhan lampu nelayan seperti menari-nari seirama ombak. Cahayanya berpendar-pendar menimpa laut yang berombak sedikit tenang.
“Kanjeng Ratu, lihat di sana, seperti adab kobaran api!” Alif mengagetkan aku. Aku segera menoleh ke arah yang ditunjuk. Benar, di lepas laut aku melihat kobaran api menyala-nyala seperti membakar minyak tumpah. Semakin lama semakin melebar. Aku diam sejenak menatap kobaran yang makin lebar.
“Apakah ada kapal yang karam atau terbakar? Lihat banyak sekali yang menyambut nyala api itu. Mereka ke luar dari dasar laut, dan sebagian dari darat” Ujar Alif menahan suara. Mungkin dia merasa ngeri melihat kondisi laut seperti lautan api itu. Belum lagi suara berisik makhluk astral seperti menari di kobaran api. Gerakan mereka mirip sebuah ritual. Api semakin membumbung tinggi. Aku mulai penasaran untuk mendekat.
“Bang Alif mau kuajak ke sana?” Tanyaku. Alif langsung menggeleng. Dia menolak keinginanku.
“Nanti bahaya untukmu. Sekali lagi aku belum tentu sanggup melawan jika mereka mengajak aku bertarung” Ujarnya cemas.
“Mengapa harus takut? Bukankah kekuatan doamu seperti tembok baja bisa menghancurkan kekuatan-kekuatan makhluk astral itu?” Ujarku memancingnya. Tapi Alif tetap bersikeras menolak.
“Tidak! Bahaya jangan dicari” Ujarnya mengajak aku terus berjalan. Akhirnya kami kembali melanjutkan perjalanan menyisir bibir pantai.

Sambil berjalan jiwa penasaranku masih memberontak. Akhirnya diam-diam aku memecah diriku menjadi dua. Selanjutnya kusuruh untuk mengawasi kobaran api yang melebar di laut mencari informasi penyebabnya. Kulihat bayanganku segera menghampiri kobaran api itu
“Bang, kita duduk di sini dulu yuk” Ajakku setelah merasakan ada energi yang membuat bayanganku sedikit terdorong. Aku segera menambahkan energi untuk membantunya. Rupanya kobaran api yang menyebar di atas laut ada perwujudan sosok-sosok makhluk astral. Apakah ada hubungannya para dukun yang hendak melakukan aksinya di Bengkulu ini? Aku membatin.
“Bang, ayo berzikir” Ujarku buru-buru dan langsung melindungi Alief dengan pagar gaibku. Instingku mengatakan jika akan ada pertempuran di sini. Aku mulai siap-siap melakukan tindakan. Bang Alief sepertinya patuh dengan perintahku. Dia langsung duduk bersila dengan tangan sedekap ke dada, lalu berzikir. Tubuhnya langsung bergoyang-goyang. Tak lama kulihat cahaya berwarna ungu, biru, kuning, merah berbaur menjadi satu ke luar dari tubuhnya. Melihat cahaya itu, Alief sudah memiliki kekuatan yang bisa melindungi dirinya dari berbagai ancaman gaib.

Duuuar!!
Air laut seperti bukit memancar ke atas. Namun ketika jatuh tidak membuat kobaran api di laut mati. Rupanya itu pukulan balik bayanganku ke arah beberapa api yang menyerangnya. Dalam batin aku heran, aneh-aneh sekali sosok dan ilmu yang dimiliki oleh makhluk astral ini. Apakah mereka satu kerajaan atau hanya satu sosok namun mempunyai kemampuan memecah diri menjadi banyak.

Aku melihat semua ikan menjauh karena air laut berubah menjadi panas bahkan ada yang mendidih.
“Kanjeng Ratu, bahaya! Apa tidak lebih baik kita menghindar saja” Suara Alif di tengah zikirnya. Lalaki yang kupanggil Abang ini masih saja memanggilku Kanjeng Ratu. Kulihat tubuhnya bergetar menahan energi yang mulai terasa menyerang. Radiasi energi api dasyat sekali. Dari jarak jauh saja bisa memberi efeks panas luar biasa. Aku mencoba menghalangi energi yang membuat hawa panas di sekitar kami. Dengan satu gerakkan aku berhasil menghalau nyala api kembali ke tengah laut.

Huf! Huf! Huf!
Enam bayanganku segera pecah dan menyebar membuat formasi melawan kekuatan api. Aku sengaja memecah diri karena melihat kobaran api nampaknya sangat ganas. Rupanya mereka makhluk astral sengaja menampakkan diri, memancingku. Mereka adalah salah satu ghodam dua puluh lima dukun yang masih bertahan. Mereka hendak memamerkan keganasannya untuk menakut-nakuti aku. Dan kehadiranku sudah ditunggu-tunggu mereka, sengaja menghadangku.

Enam bayanganku serentak mengangkat tangan tinggi-tinggi. Kekuatan angin samudera yang dikombinasikan dengan angin kutub segera berputar dari segala penjuru. Tak lama, kobaran-kobaran api itu digulung menjadi satu. Aku melihat pusaran angin berubah persis seperti lempengan tembaga yang dibakar.

Dari sisi pantai, aku terus memberikan kekuatan pada enam sosok bayanganku. Alif juga mengirimkan energi meski kulihat dengan susah payah dia mencoba mendesak untuk mendorong lawan. Sesekali kubantu dari belakang. Tak lama bara seperti lempengan semakin lama semakin mengecil. Kini berubah seperti tali yang sangat panjang. Aku berdiri lalu menghentikan kaki ke bumi dan enam bayanganku serentak melakukan gerakkan memutar. Bara yang semula mirip tali yang memanjang tersebut dengan cepat digulung hingga persis sebuah bola. Semula seperti bola raksasa, namun semakin lama seperti di press, bola apinya semakin kecil. Pada satu kesempatan, kutangkap dan kugenggam.

Pelan-pelan debur ombak kembali tenang. Angin pun kembali normal. Bayanganku kembali menyatu dengan tubuh. Alif menyelesaikan zikirnya dengan doa. Ketika dia membuka mata, kulihat kulitnya sedikit merah. Diam-diam aku menetralisirnya agar kembali normal.
“Masya Allah! Dayat sekali. Aku benar-benar takjub dengan kejadian barusan, Kanjeng. Allhu Akbar! Masya Allah…Yaa Allah…Allah Akbar” kata Alif yang ngos-ngosan berusaha mengatur pernafasan. Melihat ekspresianya, aku memakluminya. Beliau memang bukan petualang, petarung, dan senang menghadapi tantangan di lapangan. Tapi dia adalah pezikir yang tak ingin mengubris hal-hal yang berkaitan dengan benturan dengan makhluk astral.
“Jika sudah berani masuk pada alam meragasukma, Abang harus kuasai ilmu bela diri, Bang. Sebab, di alam gaib, makhluk astral lebih bahaya dan berani dibandingkan di alam nyata” Lanjutku kembali. Alif masih berusaha mengendalikan dirinya. Nampaknya dia memang tidak biasa menghadapi tantangan seperti ini.
“Aku jadi malu. Mestinya aku yang melindungi Kanjeng. Tapi ini sebaliknya, justru Kanjeng yang melindungi aku” Nada suaranya masih memburu. Aku tersenyum mendengarnya. Paling tidak aku telah memberi pengalaman padanya saat ini, bahwa dalam hidup tidak semudah yang kita bayangkan. Jutaan bahkan milayaran tantangan yang harus kita jalani. Tinggal bergantung kita, sanggupkah kita menyelesaikan tantangan itu dengan bijak dan tepat.
“Andai malam ini aku tidak bersama kanjeng Ratu. Entah akan bagaimana nasibku. Guruku sudah mengingatkan bahkan melarangku untuk pergi tanpa pengawalan. Ternyata aku diberikan pelajaran berharga malam ini. Alhamdulilah” Lagi-lagi Alif mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Bola api yang kugenggam terasa panas meski sudah kusalurkan energi dingin. Kekuatan makhluk astral di dalamnya luar biasa. Dia memberontak ingin melepaskan diri. Beberapa kali aku menguatkan genggaman demi mengurung makhluk astral agar tidak lepas lagi.
“Makhluk sejenis apa yang Kanjeng takhlukan itu? Mengapa dia hendak menyerang Kanjeng?” Tanya Alif lagi.
Mereka jin dari kasta jen. Kasta yang rendah dalam kehidupan bangsa gaib. Biasa jin jenis ini dimanfaatkan oleh dukun yang menakhlukannya. Dia makhluk yang licik dan menguasai banyak ilmu sihir. Dia juga mampu mengubah dirinya menjadi bentuk lain sesuai yang dikehendakinya” Ujarku. Alif mengangguk-angguk.

Alif baru tahu kalau dalam kehidupan jin memiliki kasta atau tingkatan. Alief menggaguk-angguk ketika kukatakan bangsa jin juga ada kelompok bagsawan. Kelompok jin bagsawan ini disebut jin marid. Mereka lebih cerdas, tingkat keilmuannya tinggi. Bahkan kehidupan mereka seperti kehidupan manusia. Mereka punya aturan berupa agama, adat dan berbudaya.
“Aku tidak bisa membedakan bangsa jin ini dari golongan mana. Yang kutahu, mereka adalah makhluk Allah yang tugasnya sama seperti kita untuk patuh dan sujud pada Allah SWT” Lanjut Alif lagi.

Aku kembali fokus pada bola api perwujudan makhluk astral yang kukunci, akhirnya makhluk ini kukembalikan ke laut. Dia bangsa jin laut yang hidup di dasar laut. Sengaja kuletakkan dia di dalam gua gelap di antara karang di dasar laut yang paling sepi. Biarlah dia terkurung di sana. Tidak ada satu pun yang mampu membebaskannya.

Akhirnya aku dan Alif bangkit dari duduk. Kami berjalan ke Selatan. Kembali menyisir pantai. Sepajang jalan Alief banyak bertanya tentang kehidupan makhluk astral. Termasuk juga jenis koloni mereka, dan hidupnya di mana.
“Itu makhluk astral jin imph dari kelas yang paling rendah. Mereka tidak mengganggu dan membahayakan manusia. Wujudnya kadang seperti asap. Nampaknya Bang Alif sering bersua dengan makhluk jenis itu ya. Mereka jin yang mudah sekali dipanggil dengan matra-mantra sederhana. Nah kalau yang itu, itu namanya jin filiot. Jin yang satu itu cukup cerdas. Dia biasa menjadi mata-mata para dukun. Dia licik dan suka berkhianat. Biasanya jin seperti ini gampang sekali dipelihara oleh dukun-dukun karena dia juga pandai sihir. Otak kelompok jin satu ini tidak cerdas. Mereka masuk dalam golongan kelas jin yang rendah. Namun mereka punya kemampuan mengubah diri mereka menjadi apa saja sesuai dengan yang dikehendakinya. Kadang dia menjadi perempuan, kadang menjadi laki-laki tampan dannlain sebagainya”. Ujarku menjelaskan golongan bangsa jin berdasarkan ciri-cirinya.

Aku dan Alif berhenti ketika di hadapan kami berdiri tembok tinggi seakan-akan menghalangi air laut. Tanpa disadari ternyata kami sampai di pantai Jakat, perbatasan dengan Tapak Padri. Aku memilih berjalan di air, menuju lampu kerlap -kerlip para nelayan yang mencari ikan. Alif mengikutiku dari belakang. Kepalanya asyik menoleh ke sana-ke mari memperhatikan makhluk astral yang lalu lalang. Kadang dia menjerit tertahan kala ada makhluk tinggi besar yang berjalan seakan hendak menabraknya. Kadang melompat, ketika ada makhluk astral bentuknya seperti hewan merangkak dengan tangan dan kaki panjang. Aku membiarkan dan menertawakannya. Selagi tidak membahayakan kubiarkan Alif mengatasi dengan caranya.
“Please! Tolong aku Kanjeng. Bagaimana caranya aku bisa berjalan santai seperti Kanjeng. Tidak ada perasaan was-was. Sepanjang jalan aku cemas” Ujar Alif menarik nafas panjang. Melihat ekspresinya muncul juga rasa kasihkan. Rupanya keilmuannya belum sampai tahap ini. Aku segera meluruskan tangan ke arah tubuhnya.
Kuberikan kekuatan baru agar jiwanya makin mantap dan tidak ada rasa takut. Kembali kutambahkan energi padanya. Kali ini ia kuberi gerakan-gerakan kuntau. Dalam sekejap dia praktikkan sambil melompat dan berputar.
“Kumpulkan energi ke unjung tangan, ya.. hantamkan ke pasir” Aku mengarahkan Alif yang baru menikmati kemampuan barunya.
DuuuaR!!!
Alif kaget sendiri dengan kemampuannya. Dia menatap heran pada lubang besar yang membentuk sumur dan dipenuhi air. Sekali lagi matanya melihat ke pasir yang berlubang, lalu menatap ujung tangannya lekat-lekat. Semua terasa aneh tapi nyata. Di balik rasa herannya yang tinggi namun terpancar pula kebahagian yang dalam. Desah Alhamdulilah, masya Allah, dan Allahu Akbar silih berganti mengalir di bibirnya.
“Aku bisa melakukannya, kemampuan darimana ini? Oh! Kanjeng Ratu memberikan aku kemampuan? Ini bisa kugunakan untuk berkelahi?” Ujarnya masih dengan nada tinggi karena kaget.
Dengan cepat tanganku bermain, mencoba menyerangnya.
Ow!!
Aku kaget ternyata Alif belum siap menerima serangan yang mendadak itu. Tubuhnya terpental jauh. Aku segera menyambar tubuhnya dan mengobati luka dalamnya segera. Seketika Alif muntah darah. Padahal serangan yang kulakukan ringan saja. Tidak terlalu kuat. Hanya kecepatannya tidak sama dengan main biasa.
“Maafkan aku Bang, kukira Abang Alif siap menerima serangan. Mulai sekarang, tingkatkan kepekaan Bang. Sebab dalam kehidupan gaib, banyak hal yang tidak terduga terjadi. Dan gerakkan-gerakan makhluk astral itu secepat angin” Ujarku mengingatkan. Alif bersandar di batu karang duduk di pasir basah. Dadanya turun naik. Apakah dia masih akan terus melanjutkan perjalanan menyisir pantai bersamaku, atau ingin dipulangkan ke pondok pesantrennya. Entahlah. Aku menunggu keputusannya sembari menatap gerakkan ombak yang lembut. Berharap tidak muncul makhluk-makhluk astral dari laut untuk menguji Alif yang masih terkapar lelah.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *