Prancis–Indonesia Teguhkan Kemitraan Budaya, Joko Anwar Terima Penghargaan Seni Tertinggi Prancis

Paris — Menteri Kebudayaan Prancis Rachida Dati menerima kunjungan Menteri Kebudayaan Indonesia Fadli Zon di Paris pada 11 Desember 2025 untuk membahas perkembangan implementasi kemitraan budaya antara Prancis dan Indonesia. Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama bilateral di bidang kebudayaan yang terus berkembang dalam beberapa tahun terakhir.

Pertemuan tersebut berlangsung dengan kehadiran sejumlah institusi kebudayaan utama Prancis, antara lain Centre national du cinéma (CNC), Centre national du livre (CNL), Centre des monuments nationaux (CMN), Grand Palais–RMN, La Fémis, serta Aliph Foundation. Diskusi difokuskan pada evaluasi dan tindak lanjut berbagai program kerja sama, khususnya di bidang perfilman, pelestarian warisan budaya, sastra, dan pengembangan sumber daya manusia kebudayaan.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan Prancis menganugerahkan tanda kehormatan Chevalier dans l’ordre des Arts et des Lettres kepada sineas Indonesia Joko Anwar. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk pengakuan atas kontribusinya yang signifikan terhadap dunia perfilman serta perannya dalam memperkuat dialog dan pertukaran budaya antara Indonesia dan Prancis. Joko Anwar juga dijadwalkan menjadi tamu kehormatan pada Festival de Gérardmer 2026, salah satu festival film bergengsi di Prancis.

Selain itu, Rachida Dati turut menyoroti peran penting para perantara budaya yang telah menjembatani hubungan Prancis dan Indonesia selama bertahun-tahun. Apresiasi tersebut tercermin dalam peluncuran buku Indonesia, Cahaya Gemilang (Indonésie, lumières inouïes) karya novelis Prancis Alexis Salatko, yang mengangkat kisah para tokoh dan dinamika pertukaran budaya antara kedua negara.

Pertemuan ini menegaskan komitmen bersama Prancis dan Indonesia untuk terus memperkuat diplomasi budaya sebagai fondasi hubungan bilateral, sekaligus membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi para seniman, sineas, penulis, dan pelaku budaya dari kedua negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *