Pameran Amalia Laurent di Marseille: Menelusuri Jejak Ingatan dalam Batik
Di sebuah ruang pamer di Marseille, kain-kain batik terurai seperti fragmen ingatan yang belum selesai diceritakan. Pola-pola berulang memenuhi ruang, menghadirkan ritme visual yang tenang namun menghanyutkan. Dalam pameran tunggal terbarunya, Amalia Laurent tidak menampilkan batik sebagai objek folklor atau simbol eksotisme semata. Ia menjadikannya medium untuk membaca tubuh, sejarah, spiritualitas, dan perpindahan budaya yang terus bergerak dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lahir di Paris pada tahun 1992 dan bekerja antara Paris serta Nîmes, Amalia Laurent merupakan seniman franco-Indonesia yang dikenal melalui praktik artistiknya yang menggabungkan tekstil, sejarah, dan riset budaya. Ia merupakan lulusan Royal College of Art, London pada tahun 2018 dan saat ini tengah menempuh studi doktoral sejarah abad pertengahan di EHESS Paris. Pada periode 2024–2025, ia juga menjadi residen di Villa Medici, Roma, pengalaman yang memperluas eksplorasinya mengenai hubungan antara ruang, warisan budaya, dan transmisi pengetahuan.
Namun dalam pameran di Marseille ini, perhatian Amalia Laurent tertuju pada sesuatu yang lebih intim: bagaimana batik bekerja sebagai arsip hidup.

Batik sering kali dipahami sebagai kain tradisional yang hadir dalam upacara adat atau simbol identitas nasional. Akan tetapi, bagi Amalia Laurent, batik adalah bahasa visual yang menyimpan jejak spiritualitas, perjalanan sejarah, dan relasi manusia dengan ruang serta tubuhnya sendiri. Melalui susunan tekstil, repetisi motif, dan instalasi spasial yang puitis, ia mengajak pengunjung membaca batik sebagai bentuk pengetahuan yang diwariskan secara turun-temurun.


Di tangan Amalia Laurent, motif-motif tradisional Indonesia tidak diperlakukan sebagai ornamen dekoratif semata. Pola-pola itu dibaca ulang sebagai penanda migrasi, memori perempuan, perpindahan budaya, hingga pengalaman kolektif masyarakat yang terus berubah. Repetisi dalam batik menjadi metafora tentang bagaimana manusia belajar, mengingat, dan meneruskan kehidupan.

“Pameran ini lahir dari hubungan saya yang terus berlanjut dengan batik sebuah teknik tradisional Indonesia yang menggunakan lilin untuk menciptakan motif. Dari sana, saya semakin mendalami teknik cap batik dan pola tekstil tradisional Indonesia, yang memungkinkan motif diulang dan dilapiskan di seluruh permukaan kain.”
Ungkap Amalia Laurent
Dalam pameran ini, Amalia Laurent mengeksplorasi teknik cap batik, alat cetak tembaga tradisional yang memungkinkan motif dicetak berulang di atas kain. Baginya, proses pengulangan tersebut bukan tindakan mekanis, melainkan bagian dari transmisi budaya yang hidup.

“Melalui tekstil, cetakan, ritme, dan cara karya-karya ditempatkan di dalam ruang, saya melihat repetisi sebagai cara belajar dan mewariskan di mana gerakan, motif, dan suara terus direproduksi, diteruskan, dan dibawa dari satu masa ke masa lain. Bagi saya, repetisi bukan mengulang hal yang sama persis, melainkan sesuatu yang hidup, dibentuk oleh ingatan, warisan, dan gerak kolektif.”
Tambah Amalia….
Pernyataan tersebut terasa menjadi inti dari keseluruhan pameran di Marseille: tradisi bukan benda mati, melainkan organisme budaya yang terus berubah mengikuti manusia yang membawanya.

Karya-karya Amalia Laurent juga secara halus menyinggung sejarah kolonialisme dan industrialisasi yang perlahan mengubah posisi batik dari praktik keseharian menjadi komoditas budaya. Dalam proses itu, banyak pengetahuan tradisional terutama yang diwariskan oleh perempuan pembatik perlahan tersingkir dari narasi besar sejarah seni dan budaya. Melalui instalasi tekstilnya, Amalia mencoba menghadirkan kembali suara-suara yang lama terpinggirkan tersebut.
Namun ia tidak berhenti pada kritik sejarah semata. Pameran ini justru membuka ruang untuk membaca ulang warisan budaya secara lebih intim dan personal. Batik tidak ditempatkan sebagai simbol “keaslian” yang beku, melainkan sebagai sesuatu yang terus bergerak, berubah, dan dinegosiasikan antara lokal dan global, masa lalu dan masa kini, spiritualitas dan politik.

Ada suasana meditatif dalam keseluruhan ruang pamer. Kain-kain tidak hanya dilihat, tetapi terasa seperti “menghuni” ruang bersama tubuh pengunjung. Pola-pola berulang menciptakan ritme yang perlahan membawa pengunjung masuk ke dalam lapisan memori yang lebih dalam tentang laut, perjalanan, perempuan, spiritualitas Jawa, hingga sejarah perpindahan manusia.

Pada akhirnya, pameran Amalia Laurent di Marseille bukan hanya tentang batik. Ia adalah percakapan panjang mengenai bagaimana manusia menyimpan pengetahuan melalui tubuh dan kebiasaan sehari-hari. Di tengah dunia modern yang bergerak cepat dan serba instan, karya-karyanya mengingatkan bahwa warisan budaya terkadang hidup dalam sesuatu yang sederhana: pola yang terus diulang di atas selembar kain, diam namun tetap berbicara dari generasi ke generasi.
Amalia Laurent “All that we se or seem, is but a scene within the scene”
14 Mai – 27 Juni Sissi Club, 16 cours Joseph Thierry, Marseille.

