Cerita di Balik Pekerjaan sebagai Perawat Lansia di Hong Kong

Catatan Lutfiana Wahid-Hong Kong

Peluang kerja di Hong Kong bagi warga negara Indonesia umumnya adalah sebagai pekerja rumah tangga (domestik). Sektor ini merupakan salah satu yang paling populer bagi Pekerja Migran Indonesia. Pekerjaan ini tidak memerlukan gelar sarjana dan tidak harus berpenampilan menarik (good looking). Namun, Anda harus melalui proses rekrutmen yang resmi. Pekerjaan utamanya meliputi mengurus rumah tangga, menjaga anak-anak, merawat lansia, memasak, serta bekerja di alamat yang tercantum dalam kontrak kerja.

Sedikit berbagi pengalaman (sharing) tentang salah satu pekerjaan yang pernah saya kerjakan. Tentu saja setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda karena perbedaan majikan, budaya (culture), jenis pekerjaan (job), dan lain sebagainya. Setiap pekerjaan pasti memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, namanya juga bekerja ikut orang. Intinya, majikan membutuhkan tenaga kita dan kita membutuhkan pekerjaan.

Pekerjaan pertama saya di Hong Kong adalah menjaga anak berusia 7 tahun. Tugas saya mengurus segala kebutuhannya, mulai dari menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan seragam sekolah, mengantar dan menjemput sekolah, mengantar dan menjemput kursus, berbelanja ke pasar, hingga memasak. Waktu terasa sangat cepat karena sejak pagi saya sudah sibuk dengan jadwal yang tersusun hingga keesokan paginya. Dalam pekerjaan ini kita harus disiplin, cekatan, dan memiliki inisiatif.

Karena ingin mencari suasana baru, akhirnya saya pindah majikan dengan pekerjaan yang berbeda, yaitu merawat seorang lansia yang saat itu masih sehat dan berusia 85 tahun.

Usia tersebut mungkin sudah di atas rata-rata bagi kita orang Indonesia. Namun, di Hong Kong, usia tersebut masih tergolong sehat dan mandiri. Beliau tidak pernah menikah dengan status single, dan di Hong Kong hal itu sangat wajar. Berbeda dengan di negeri +62, yang kadang usia di atas 30 tahun belum menikah sudah dianggap perawan tua.

Pada awal masuk kerja, tentu saya membutuhkan proses adaptasi. Setiap pekerjaan dan lingkungan baru pasti memerlukan penyesuaian. Di awal bekerja saya selalu diawasi dan diamati. Beliau memang cerewet dan pelit, tetapi sebenarnya baik.

Seiring berjalannya waktu, beliau mulai percaya kepada saya. Bahkan, beliau takut jika saya pulang ke Indonesia. Dari hal-hal kecil, saya selalu berusaha menerapkan sunnah Rasulullah, seperti minum dengan duduk, membaca Bismillah, dan memegang gelas dengan tangan kanan. Berdakwah di lingkungan kerja adalah salah satu langkah yang tepat untuk memperkenalkan Islam serta menunjukkan bagaimana akhlak seorang muslim.

Semua aktivitas beliau dan pekerjaan sehari-hari saya yang mengatur. Kami hanya tinggal berdua. Mulai dari beliau bangun tidur hingga kembali tidur, semua saya yang mengontrol. Menurut saya, pekerjaan ini adalah pekerjaan yang paling santai karena tidak banyak tuntutan dan saya tidak bekerja di bawah instruksi langsung majikan. Bisa dibilang rumah itu saya yang mengatur karena tidak berada di bawah kontrol majikan. (Majikan yang menandatangani kontrak dengan saya tidak tinggal bersama. Saya tinggal di Wan Chai, sedangkan majikan tinggal di Chai Wan.)

Setiap kali hendak makan atau minum, saya selalu membiasakan membaca doa dan mengucapkan Bismillah. My Princess Boboku (nenek) tidak pernah makan lebih dahulu sebelum saya duduk di meja makan dan mempersilakan beliau makan. Bahkan, ketika makan buah pun beliau tidak pernah mengambil sendiri jika belum saya berikan. Jadi, kami selalu makan bersama.

Jam makan malam di Hong Kong bertepatan dengan waktu adzan Maghrib. Saat itulah biasanya beliau sudah lapar dan sering datang melihat ke dapur. Saya berkata, “Tunggu sebentar, telat lima menit kita makan. Aku berdoa dulu (salat).” Alhamdulillah, beliau memahami. Selain itu, aplikasi adzan di HP saya menggunakan suara yang cukup keras sehingga terdengar di seluruh ruangan. Awalnya beliau bertanya itu suara apa, lama-kelamaan beliau paham bahwa itu adalah waktu saya berdoa.

Sekitar pukul 20.00 pekerjaan sudah selesai. Kami berdua biasanya menonton TV bersama. Namun, ketika beliau hendak masuk kamar untuk tidur, saya belum mengizinkan beliau tidur sebelum menemani saya menyelesaikan membaca Al-Qur’an satu juz.

Kami duduk di sofa. Saya mengambil Al-Qur’an, lalu beliau berkata, “Ini tulisannya bukan A, B, C. Aku kan tidak mengerti.” Saya menjawab, “Kamu tidak harus bisa membaca. Cukup temani aku dan dengarkan aku membaca, nanti setelah selesai baru tidur.” Beliau pun menuruti perkataan saya. Sambil saya memegang tangannya yang keriput, tetapi lembut, beliau terlihat merasa nyaman meskipun tidak mengerti apa yang saya baca. Sesuai janji saya, setelah selesai satu juz, beliau saya persilakan tidur.

Tempat tidur sudah saya siapkan dengan membuka selimutnya. Ada satu ritual yang tidak pernah saya lewatkan, yaitu membaca doa bersama. Setelah saya selimuti dan beliau masih memegang tangan saya, saya berkata, “Kamu ikuti instruksi saya, tirukan saya mengucapkan apa.”

“Bismillah. Oh Allah, ngo yiu fenkau, daiju ngo, ngo siuong deng ciu haisan hou cing san kinhong dongmai hoi hoisam. Aamiin.”

(Bismillah. Ya Allah, aku mau tidur. Jagalah aku. Besok pagi aku ingin bangun dengan sangat segar, sehat, dan sangat bahagia. Aamiin.)

Kami mengucapkannya tiga kali sebelum saya meninggalkan kamarnya sambil beliau masih memegang tangan saya. Setelah itu saya mengucapkan, “Co dau, good night,” lalu menutup pintu kamar. Sebelumnya saya juga selalu membacakan doa sebelum tidur meskipun beliau belum menirukannya.

Setelah itu saya melanjutkan aktivitas saya, yaitu salat Isya, kemudian beristirahat sambil bermain gadget hingga akhirnya tidur.

Menjelang dini hari beliau terbangun. Karena tidak melihat saya di tempat tidur, beliau mencari saya ke kamar mandi, tetapi tidak menemukan saya. Lalu beliau berjalan pelan-pelan dan melihat saya sedang duduk di atas sajadah di dapur. Beliau bertanya, “Kamu sedang apa pagi-pagi duduk di sini?” Saya menjelaskan, “Aku sedang berdoa, salat.” Setelah selesai, saya melepas mukena dan mengantar beliau kembali ke kamar. Saya berkata, “Tidur lagi ya, belum waktunya bangun. Sebentar lagi aku juga tidur lagi.” Beliau mengangguk tanpa protes.

Sekitar pukul 07.30 atau kadang pukul 07.45 saya sudah bangun kembali. Setelah semua pekerjaan pagi selesai, saya masuk ke kamar beliau sambil mengucapkan, “Cousan” (selamat pagi). Sebelum beliau bangun dari tempat tidurnya, saya membacakan doa bangun tidur:

“Alhamdulillahil ladzi ahyana ba’da ma amatana wa ilaihin nusyur.”

Doa ini saya baca sendiri tanpa beliau mengikuti. Setelah itu saya lanjutkan dengan doa versi saya agar beliau ikuti sambil saya memegang tangannya.

“Toce Allah kamciu ngo haisan hou cingsan kin hong dong mai hou hoisam. Yat yat hoi hoisam.”

(Terima kasih ya Allah. Pagi ini aku bangun tidur dengan sangat segar, sehat, dan sangat bahagia. Semoga setiap hari selalu bahagia.)

Beliau tersenyum bahagia sambil berkata, “Lei hou hou yan a” (Kamu orang yang sangat baik). Saya pun menjawab, “Yanwei lei hou yan” (Karena kamu orang baik).

Hari-hari kami lalui dengan sederhana, menjalani rutinitas sambil menanamkan nilai-nilai Islam di dalamnya. Hal-hal kecil yang mungkin dianggap sepele oleh sebagian orang.

Aktivitas di luar rumah dilakukan di sekolah atau panti khusus lansia (elderly) dan penderita demensia. Kegiatannya dimulai pukul 10.30 hingga sore sekitar pukul 16.30, meliputi olahraga, makan siang, bermain, mewarnai, bernyanyi, atau mengerjakan kerajinan tangan yang ringan. Saya selalu mendampingi beliau. Saat jam makan siang, saya pulang sebentar ke rumah untuk makan dan salat Zuhur, kemudian kembali lagi ke panti.

Di luar sana mungkin ada yang memanggil majikannya di belakang dengan sebutan seperti “tuyul” untuk anak majikan, “Mak Lampir” untuk majikan perempuan, atau “gerandong” untuk nenek. Saya hanya ingin mengingatkan bahwa mereka adalah jalan rezeki yang Allah SWT berikan kepada kita. Melalui merekalah kita mendapatkan penghasilan. Apakah pantas kita menyebut mereka dengan panggilan yang buruk, sedangkan kita ikut makan dari rumah mereka dan menikmati upah yang kita terima setiap bulan?

Semoga sharing saya ini bermanfaat.

Barakallahu fiikum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *