Indonesia Tampil untuk Pertama Kalinya di Festival Danses et Musiques du Monde di Paris

Festival Danses et Musiques du Monde untuk pertama kalinya digelar di Parc des Expositions Porte de Versailles, Paris 15, sebuah lokasi pameran bergengsi di kota Paris. Acara ini berlangsung bersamaan dengan Salon de Tourisme, ajang tahunan yang menjadi wadah promosi pariwisata internasional sekaligus mencerminkan keberagaman budaya dunia yang penuh warna.

Dalam festival tersebut, kekayaan budaya Nusantara turut diperkenalkan oleh Asosiasi Khatulistiwa. Sesuai dengan misinya, asosiasi ini menghadirkan ragam seni tari yang mencerminkan keragaman identitas budaya Indonesia.

@Rosy photographe

Empat tarian ditampilkan, masing-masing mewakili daerah yang berbeda, yaitu tarian dari Purbalingga (Jawa Tengah), Tortor dari Sumatera Utara, Indang dari Sumatera Barat, serta tarian dari Kalimantan Timur. Setiap tarian membawa cerita, filosofi, dan karakter yang khas dari daerah asalnya.

Festival ini juga diikuti oleh berbagai negara, di antaranya China, Thailand, Jepang, Bulgaria, Spanyol, Peru, wilayah Andes, Kuba, Île de la Réunion, Côte d’Ivoire, Île Maurice, Antilles, serta Prancis sebagai tuan rumah.

Keberagaman peserta menjadikan festival ini sebagai panggung persahabatan global yang mempererat hubungan antarbangsa melalui harmoni tarian dan musik.

Partisipasi Asosiasi Khatulistiwa dalam festival ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Sebelumnya, mereka juga telah diundang untuk tampil dalam Salon de Tourisme International, dan pada tahun ini mendapat kehormatan sebagai undangan khusus. Kesempatan ini tidak hanya menjadi ajang memperkenalkan budaya Nusantara kepada dunia, tetapi juga memberikan dampak positif bagi para murid yang terlibat.

Mereka menjadi semakin termotivasi untuk mempelajari teknik menari dengan lebih serius, mendalami karakter setiap tarian, serta memahami budaya daerah secara lebih mendalam.

“Saya senang bisa diundang untuk tampil di festival ini. Selain memperkenalkan ragam budaya Nusantara, saya juga melihat semangat murid-murid yang semakin berkembang dalam belajar tari dan memahami budaya Indonesia,” ujar Ary Drean pendiri sekaligus ketua Association Khatulistiwa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *