La Fête de la Musique: Harmoni Angklung Indonesia di Tengah Musim Panas Prancis
Setiap tanggal 21 Juni, Prancis merayakan La Fête de la Musique (pesta musik), sebuah perayaan musik yang telah menjadi tradisi nasional sejak 1982. Pada hari itu, musik hadir di mana-mana, di jalanan, taman, alun-alun, hingga restoran dengan semangat berbagi dan menikmati musik secara gratis.
Karena tahun ini 21 Juni bertepatan dengan hari ketika Restoran O Bali tutup, perayaan pun dimajukan menjadi 20 Juni. Pilihan ini juga memiliki tujuan lain: memberikan ruang yang lebih tenang agar para pengunjung dapat menikmati dan mengenal lebih dekat suara khas angklung, alat musik bambu warisan budaya Indonesia yang mungkin masih asing bagi sebagian besar masyarakat Prancis.


Suasana restoran pun dipenuhi nuansa Indonesia. Diaspora Indonesia bersama para sahabat Prancis dan pengunjung dari berbagai negara berkumpul menikmati pertunjukan budaya yang memadukan musik, lagu, dan tarian dalam sebuah kebersamaan yang hangat.
Sebanyak 18 anggota tampil bersama dalam sebuah kolaborasi yang memadukan musik, tari, dan lagu. Dengan mengenakan batik, kami memperkenalkan kekayaan budaya Indonesia melalui pertunjukan yang mengajak semua orang untuk ikut merasakan kegembiraannya.


Pertunjukan angklung menjadi pembuka yang menarik perhatian. Setiap pemain memegang nada yang berbeda sehingga tercipta harmoni indah saat lagu-lagu dimainkan bersama. Di antaranya adalah “Tanah Airku”, yang menghadirkan suasana haru bagi banyak diaspora Indonesia, kemudian lagu Prancis On descend de la montagne”, serta “J’ai perdu le Do de ma clarinette” yang liriknya adalah Prancis bercampur Indonesia, membuat para pengunjung Prancis merasa akrab dan ikut bernyanyi.

Suasana semakin semarak ketika penampilan dilanjutkan dengan lagu “Marilah Kemari” yang diiringi petikan gitar, disusul lagu legendaris Prancis “Les Champs-Élysées”. Perpaduan lagu Indonesia dan Prancis menghadirkan jembatan budaya yang begitu alami, memperlihatkan bahwa musik mampu menyatukan siapa pun tanpa mengenal bahasa.

Kemeriahan belum berhenti. Seluruh peserta kemudian mengajak para pengunjung menari bersama melalui tarian Poco-Poco dan Maumere. Gerakan yang mudah diikuti membuat banyak tamu, baik warga Prancis maupun pengunjung dari berbagai negara, ikut bergabung. Gelak tawa dan tepuk tangan memenuhi ruangan, menciptakan suasana yang hangat di tengah cuaca musim panas.


Yang paling membahagiakan adalah antusiasme para pengunjung. Banyak yang baru pertama kali mengenal angklung dan penasaran bagaimana alat musik bambu itu dimainkan. Beberapa bahkan mencoba memainkannya sendiri setelah pertunjukan selesai. Ada pula yang menyampaikan keinginan untuk bergabung dengan kelompok angklung, belajar menari, hingga mengikuti kursus membatik setelah melihat para peserta tampil mengenakan batik.
Pemilik Restoran O Bali, Pak Iwan, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas penampilan tersebut. Beliau berharap kegiatan budaya seperti ini dapat semakin sering hadir sebagai bagian dari animasi dan hiburan di restorannya.
Momen yang paling mengharukan terjadi saat lagu “Tanah Airku” dimainkan. Beberapa warga Indonesia yang telah lama menetap di Prancis tampak terdiam, bahkan menitikkan air mata karena terbawa rindu akan kampung halaman. Di sisi lain, para pengunjung Prancis yang telah memahami makna lagu tersebut melalui penjelasan para peserta meminta agar lagu dinyanyikan kembali. Mereka ingin menikmati sekali lagi keindahan melodi sekaligus pesan yang terkandung di dalamnya.
Tidak hanya masyarakat umum, sejumlah delegasi bisnis dari Indonesia yang hadir juga memberikan tanggapan positif. Mereka merasa bangga melihat bahwa di perantauan masih ada komunitas yang dengan penuh semangat terus menjaga, memperkenalkan, dan merayakan budaya Indonesia.

La Fête de la Musique tahun ini menjadi lebih dari sekadar perayaan musik. Bagi diaspora Indonesia di Prancis, momen ini menjadi ruang untuk berbagi identitas, membangun persahabatan lintas budaya, sekaligus memperkenalkan Indonesia melalui bahasa yang paling mudah dipahami semua orang: musik, tarian, dan kebersamaan.
Di tengah hawa panas yang ganas, denting angklung yang berpadu dengan lagu-lagu Indonesia dan Prancis menjadi pengingat bahwa budaya memiliki kekuatan untuk mendekatkan manusia. Setiap penampilan bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah cerita tentang Indonesia yang terus hidup dan bergaung, jauh dari tanah kelahirannya.
Dokumentasi ©Fathimah Haura Insiyya

