Paris Gelar “Périple Keroncong”, Mengajak Publik Menyelami Akar Musik Keroncong Indonesia

Catatan Sita Phulpin

Pertama di Eropa

Untuk kesekian kalinya warkop “Le Maung” yang berada tepat di jantung kota Paris, menggelar kegiatan budaya. Kali ini acara yang tampil adalah seputar musik keroncong. Pada hari Jumat, 19 Juni 2026, dengan tajuk “Périple Keroncong” atau “Perjalanan Panjang Keroncong” hadirin diajak menyelami akar musik keroncong Indonesia. Bisa dikatakan acara ini merupakan yang pertama di Eropa, mengupas dan menyelami musik keroncong yang belum (begitu) dikenal oleh publik Prancis.

©Laras Pitayu

Café Le Maung yang terletak di 51, rue Grenata, Paris 75002 dan Asosiasi Seni 7+ memadukan diskusi, demonstrasi musik, diselingi sesi pemutaran piringan hitam jadul dan pameran seni seputar musik keroncong. Tentu saja karya-karya lukis Airis Sabrina yang ditampilkan menampilkan dunia keroncong.

©Sita Phulpin
©Sita Phulpin

Bagi seniman muda ini, acara ini menjadi ajang perdana pameran lukisan-lukisannya. Acara diskusi malam itu dibuka oleh Yuliana Huyn, kurator programasi budaya di Café Le Maung, sekaligus pengurus asosiasi Seni 7+, pendukung acara malam itu. Serangkaian kegiatan keroncong ini juga didukung oleh Dewan Pimpinan Pusat GEKRAFS. Andriyadi Mardin, ketua DPLN (Dewan Pimpinan Luar Negeri) GEKRAFS Prancis, menyempatkan hadir malam itu.

Menguak sejarah keroncong

Dengan gaya ‘sersan’ serius tapi santai, kedua narasumber Kus Adi Nugroho dan Eduardo Erlangga menyajikan diskusi berbobot dengan suasana penuh kehangatan. Meskipun keduanya mengaku bukan musisi profesional, namun kecintaan mereka pada musik keroncong, membuat keduanya dengan tekun melakukan penelitian. Terbukti, tanpa berpura-pura sebagai musikolog, hasil penelitian mereka selama dua tahun sangat menarik dan berbobot.

©Sita Phulpin
©Sita Phulpin

Melalui paparan beberapa slide, Eduardo Airlangga, doktor bidang geografi dari Universitas Sorbonne Paris, menyajikan tinjauan historis perjalanan musik keroncong dari sudut pandang geografi, utamanya menyangkut perjalanan kolonial melewati Kepulauan Maluku. Nyatanya sejarah perjalanan keroncong Indonesia tak bisa dilepaskan dari perjalanan pencarian rempah-rempah bangsa-bangsa Eropa, langsung ke sumbernya akibat jatuhnya kekaisaran Byzantium ke tangan kekaisaran Otoman. Tak pelak, kehadiran bangsa Portugis awal abad ke-16, disusul Belanda akhir abad ke-16, kemudian Jepang pada pertengahan abad ke-20 dan pergolakan menuju kemerdekaan Indonesia memberi sumbangan besar pada perkembangan musik keroncong populer di Indonesia.

©Sita Phulpin

Sedangkan Kus Adi Nugroho, ahli automotif yang juga anggota Kroncong Mambo Paris, menjabarkan beberapa instrumen musik khas keroncong, termasuk instrumen pendahulunya. Salah satunya adalah penggunaan gitar berukuran kecil, instrumen musik yang mudah dibawa para pelaut saat mereka berlayar untuk mengisi waktu luang saat berada di tengah lautan. Penggunaan ukulele merupakan pengaruh dari musik kepulauan Hawai yang sempat mereka singgahi.

©Sita Phulpin

Dijelaskannya bahwa nama keroncong itu sendiri ternyata berawal dari suara “crong – crong” yang dihasilkan gitar kecil yang mereka pakai itu. Dari sejarah kehadiran musik keroncong di wilayah nusantara, tak salah bila kemudian orang mengasosiasikan musik keroncong dengan musik kepulauan. Alunanannya terkesan santai, menentramkan hati, membawa angan kita melayang ke daerah pantai dengan angin silir semilir yang menyejukkan hati.

Demo musik keroncong

Hadirin makin terkesan saat lagu-lagu periode awal keroncong seperti lagu Nina Bobo, Burung Kakak Tua dan lain-lain diperdengarkan melalui piringan hitam, analog gramofon maupun elektrik, koleksi pribadi mereka masing-masing. Rekaman langka yang mencerminkan kekayaan warisan musik keroncong.

©Laras Pitayu

Suasana makin meriah saat Kus dan Ratna Indira, guru musik sekaligus pemain flute dan ukulele cak dalam kelompok Kroncong Mambo, mendemonstrasikan ritme keroncong. Publik diajak langsung mempraktikkan ritme khas keroncong melalui instrumen cak dan cuk. Di akhir acara, Laras Pitayu, vokalis Kroncong Mambo mengajak publik Bersama-sama menyanyikan lagu “Keroncong Kemayoran”. Publik, terutama orang Indonesia, begitu antusias menyanyikan lagu legendaris itu.

©Sita Phulpin

Suasana malam itu benar-benar menyenangkan, rasa-rasanya tak ingin berakhir. Harapan publik menyaksikan penampilan utuh group Keroncong Mambo terpaksa belum bisa dipenuhi. Selain karena terbatasnya waktu, malam itu adalah malam diskusi keroncong, bukan konser keroncong. Diperlukan ijin tersendiri untuk menggelar konser. Namun publik tak perlu khawatir, suatu hari Keroncong Mambo pasti akan hadir dalam sebuah konser keroncong, salah satu warisan budaya musikal Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *