Film Indonesia Borong Tiga Penghargaan di Fantasia Film Festival 2026 Kanada

Sabtu, 25 Juli 2026, menjadi malam membanggakan bagi perfilman Indonesia di ajang Fantasia Film Festival yang berlangsung di Cinéma du Musée, Montréal, Provinsi Québec, Kanada. Sutradara Wregas Bhanuteja hadir untuk menerima langsung penghargaan kritikus film dari Association québécoise des critiques de cinéma (AQCC) atas film Para Perasuk (Levitating).

Film Indonesia kembali berjaya di Fantasia Film Festival. Setelah tahun lalu Kitab Sijjin dan Illiyyin karya Hadrah Daeng Ratu meraih penghargaan Cheval Noir untuk kategori Sutradara Terbaik, tahun ini Para Perasuk menerima penghargaan dari AQCC, sementara Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) karya Edwin berhasil membawa pulang dua penghargaan Cheval Noir, yakni untuk kategori Efek Praktis Terbaik (Best Practical Effects) dan Skenario Terbaik.

Film “Para Perasuk” produksi Rekata Studios bersama Taiwan, Prancis dan Singapura ini menceritakan perjuangan Bayu  menjadi perasuk terbaik di desa dimana warganya merasa senang dan terpuaskan ketika kerasukan roh. Film yang masuk seleksi Sundance, Miami, Minneapolis dan Moov ini dimainkan oleh penyanyi kondang Anggun yang berperan sebagai guru Asri. Fantasi Festival memutar film ini dua kali dan keduanya mendapat sambutan yang cukup meriah dari para pemerhati sinema serta penikmat festival film yang menjadi favorit banyak sineas ternama ini.

Sementara film “Monster Pabrik Rambut” yang hanya diputar satu kali dalam Fantasia Festival ini sempat disebut di berbagai media lokal sebagai film yang tidak boleh dilewatkan lantaran meraih penghargaan Berlinale. Tidak heran ketika para penonton malam itu bertepuk tangan dan bersorak sorai pada beberapa adegan seru dalam film berdurasi 96 menit ini. Film produksi Palari Films bekerjasama dengan Jepang, Jerman dan Singapura ini menceritakan seorang Putri yang menyelidiki apakah ibunya memang meninggal lantaran tidak tidur karena terlalu lama lembur atau karena kerasukan monster. Film ini dimainkan oleh maestro tari Didik Nini Thowok yang memerankan Maryati sang pemilik pabrik. Kita nantikan penayangan film horor ini dan film-film terbaik Nusantara lainnya via OTT.

Wregas Bhanuteja, seniman asal Yogyakarta dan lulusan Institut Kesenian Jakarta, telah lama dikenal sebagai salah satu sineas Indonesia yang konsisten menorehkan prestasi di festival film internasional. Film pendeknya Lembusura terpilih berkompetisi di Berlinale 2015. Setahun kemudian, ia mencatat sejarah sebagai sutradara Indonesia pertama yang meraih penghargaan di Festival de Cannes melalui film pendek Prenjak (In the Year of Monkey) yang memenangkan Leica Cine Discovery Prize pada ajang Semaine de la Critique 2016. Pada 2023, film panjangnya Budi Pekerti (Andragogy) melakukan pemutaran perdana dunia di Toronto International Film Festival. Saat ini, Budi Pekerti dapat disaksikan di Netflix, sementara para penikmat film dapat menantikan peluncuran Para Perasuk melalui platform OTT (Over-the-Top).

Sementara itu, sutradara Edwin kembali membuktikan kiprahnya di panggung perfilman internasional. Sineas yang dikenal melalui berbagai film peraih penghargaan ini sebelumnya telah mencatatkan prestasi di sejumlah festival bergengsi dunia, termasuk dengan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas yang meraih Golden Leopard di Locarno Film Festival 2021. Di Fantasia Film Festival 2026, Edwin kembali mencuri perhatian melalui Monster Pabrik Rambut (Sleep No More) yang berhasil membawa pulang dua penghargaan Cheval Noir, yakni untuk kategori Efek Praktis Terbaik (Best Practical Effects) dan Skenario Terbaik.

Narsum: Association de la communauté indonésienne du Québec 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *