Batik Indonesia Menjadi Media Terapi Seni bagi Pasien di Prancis

Prancis, Surat Dunia – Seni lukis tidak selalu berhenti pada sebuah karya. Bagi Erlina Doho, seni juga dapat menjadi ruang bagi seseorang untuk mengekspresikan perasaan, menemukan kegembiraan, sekaligus menjadi penyegar jiwa.

Erlina Doho

Hal itu ia rasakan ketika membimbing para pasien dalam kegiatan Art et Thérapie di sebuah rumah sakit jiwa di Clermont de l’Oise, Prancis.

Atelier ini berada dalam pengawasan psikiater RSJ. Para seniman yang dipercaya untuk membimbing pasien pun tidak dipilih sembarangan. Mereka harus melalui proses seleksi yang dilakukan oleh pihak psikiater bersama para seniman, sesuai dengan bidang dan kompetensinya.

Selama atelier berlangsung, para pasien juga didampingi oleh beberapa perawat yang sudah mengenal kondisi dan karakter masing-masing pasien. Peserta atelier sendiri merupakan pasien RSJ yang mengikuti kegiatan berdasarkan rekomendasi dan surat dari dokter atau psikiater.

Menurut Erlina, keberadaan atelier ini bukan sekadar memberikan kegiatan seni kepada pasien, tetapi menjadikan seni sebagai salah satu sarana terapi bagi mereka. Karena itu, proses pemilihan seniman dilakukan dengan sangat selektif dan penuh kehati-hatian.

Para seniman yang dipilih merupakan seniman profesional yang memiliki diploma sesuai bidang seni yang ditekuni. Hal ini penting karena pihak RSJ memiliki tanggung jawab untuk menjaga dan melindungi pasien, terutama karena sebagian dari mereka berada dalam kondisi psikologis yang rentan.

Dalam lingkungan yang terjaga seperti inilah Erlina kemudian membawa batik Indonesia sebagai salah satu media untuk membantu pasien mengekspresikan diri melalui seni.

Pada awalnya, para pasien diajak mengekspresikan diri melalui tinta dan cat dengan teknik melukis pada umumnya.

Memasuki tahun ketiga, Erlina mencoba memperkenalkan sesuatu yang berbeda, yaitu seni lukis Batik menggunakan canting.

“Saya memberanikan diri mengusulkan kepada pihak rumah sakit untuk membimbing para pasien dengan teknik khusus menggunakan canting. Saya bersyukur mereka memberikan kepercayaan kepada saya untuk mempraktikkannya bersama para pasien,” .

ujar Erlina

Pengalaman tersebut ternyata mendapat respons positif dari para pasien. Mereka menikmati proses melukis dengan canting dan mulai menghasilkan karya dengan ekspresi mereka masing-masing.

“Saya merasa bahagia melihat bagaimana para pasien, dengan masalah mereka masing-masing, bisa menikmati proses berkarya dan berekspresi secara artistik dengan teknik seni lukis yang berasal dari tanah kelahiran saya, Indonesia,” .

ungkapnya

Bagi Erlina, memperkenalkan teknik Batik dalam kegiatan terapi seni juga memiliki makna personal. Teknik tersebut merupakan bagian dari perjalanan pendidikannya sebagai seniman.

Ia mempelajari teknik seni Batik dari Bapak Mahyar, seorang pakar seni Batik yang juga menjadi guru seni lukisnya di Sekolah Seni Rupa Yogyakarta pada 1990 hingga 1994. Setelah itu, Erlina melanjutkan studi seni lukis di Central Academy of Fine Arts di Tiongkok.

Kini, pengalaman dan pengetahuan tersebut ia bawa ke lingkungan yang berbeda, yaitu menjadi bagian dari kegiatan terapi seni bagi para pasien di Prancis.

Tahun ini menjadi kali kelima Erlina diundang untuk mengikuti Stage d’été Art et Thérapie di rumah sakit tersebut. Pengalaman selama beberapa tahun itu membuatnya semakin melihat bahwa seni dapat menjadi media komunikasi yang tidak selalu membutuhkan kata-kata.

“Saya terharu melihat para pasien ternyata mampu berkarya lukis Batik dan mereka menyukainya. Bagi saya, ini menjadi penyegar jiwa dan obat jiwa mereka,”

tuturnya

Melalui canting, malam, dan warna, para pasien diberikan ruang untuk menciptakan karya sesuai dengan kemampuan dan ekspresi mereka. Bagi Erlina, proses tersebut jauh lebih penting daripada hasil akhir sebuah lukisan. Menurut seniwati ini lewat lukis Batik, kita berbagi semangat seni kehidupan.

Dari Indonesia ke Prancis, Batik dalam kegiatan tersebut tidak hanya hadir sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sebuah teknik seni yang membuka ruang ekspresi dan kegembiraan bagi mereka yang mengikutinya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *