FROM BADUY TO PARIS, bersama Amanda – Lekat

Amanda Indah Lestari sebagai Creative Director dari « LEKAT » yang menyandang eco-ethical fasion brand adalah satu-satunya perancang muda dari Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam forum TRANOÏ International Fashion Trade Show , Women’s Edition, di Caroussel du Louvre Paris dari tanggal 2 sampai tanggal 5 Maret 2018.

TRANOÏ berasal dari bahasa Itali yang artinya « ENTRE NOUS » atau « BETWEEN US », merupakan salah satu forum yang paling diincar oleh para ahli mode dari seluruh dunia untuk memperkenalkan produknya, karena di sinilah para peserta bisa bertemu dengan para buyers yang berpotensi untuk menjadikan label perusahaannya lebih terkenal di dunia internasional.

Dalam kesempatan ini LEKAT juga diundang oleh KBRI Paris melalui Atase Perdagangan untuk menghadiri Buyers Networking Gathering pada hari Rabu tanggal 7 Maret 2018 bersama pemilik brand-brand lainnya seperti Mel Ahyar First dan SOE yang sama sama turut meramaikan Paris Fashin Week (PFW) di Paris tahun ini.

Menurut Press Release dari KBRI, acara buyers gathering kali ini diutamakan untuk mempertemukan para buyers Perancis dengan pelaku usaha Indonesia khusunya di bidang Fashion Apparel & Clothing yang diwakili oleh LEKAT & Mel Ahyar First.

Siapakah Amanda  – LEKAT ?


Setelah saya berkenalan dan berbincang-bincang dengan Amanda yang memperkenalkan dirinya Mandy sebagai panggilan akrabnya, maka saya lebih mengenal siapa itu Mandy, sang Perancang muda yang kelihatannya kalem dan rendah hati tapi diam-diam sangat kreatif dan punya visi dan misi yang kuat.

Begitu selesai sekolah di Desain Grafis di Universitas Pelita Harapan dia memulai dengan berbisnis aksesori pada tahun 2012. Pada tahun 2013 barulah dia menambah kegiatanya dengan merancang koleksi busana « prêt à porter ».

Dari permulaan Amanda memang ingin bekerja sesuai dengan jiwanya yang mengagumi budaya Indonesia sebagai tanah airnya. Dia bercita-cita untuk menciptakan sesuatu yang ada hubungannya dengan kebudayaan lokal, sesuatu yang etnik yang mengandung segi sosial dan budaya Indonesia untuk dipekerkenalkan ke seluruh dunia.

Itulah visi dan misi yang dipunyai oleh Mandy yang kini koleksi bajunya dengan materi utamanya kain tenun Baduy, sedang nge-trand di Indonesia dan mungkin sebentar lagi di Luar Negeri.

Untuk mengenal lebih akrab lagi siapa Mandy, saya berbincang-bincang tidak hanya dengan Mandy sendiri, karena dia kadang-kadang sibuk melayani pengunjung lain, tapi saya berbicara dengan seluruh anggota team dan keluarganya yang hadir pada hari itu. Mereka betul-betul ramah dan terbuka.



Terutama Puji, ibunya yang sangat lincah dan ramah, yang merupakan salah satu « ambassador » dari LEKAT dengan cara memakai koleksi LEKAT setiap saat, kapan saja, di mana saja.

Memang bangga sekali mendengar nama Baduy disebut-sebut di Paris. Bangga dengan LEKAT yang berhasil membawa nama harum Baduy sampai ke Paris.

Walaupun bukan orang Baduynya sendiri yang mendarat di Paris, hanya hasil karyanya, hanya kerajinan tangannya, tapi buat LEKAT : membawa kerajian tangan seseorang atau sekelompok orang ke suatu tempat, memilikinya dan memakainya, maka kita akan ingat atau ingin tahu siapa pembuatnya, bagaimana membuatnya, bagaimanakah kebudayaan mereka, bagaimana kehidupan sehari-hari mereka, bagaimana cara berfikir mereka, apa filosofi mereka dll. Di setiap modelnya ada ceritanya, yaitu cerita seorang wanita penenun di Baduy. Begitu tutur Mandy.

Kenapa LEKAT pilih kain tenun khas Baduy untuk koleksinya ? 

Menurut Mandy,
alasannya yang pertama adalah karena saat itu belum ada atau belum banyak perancang yang menjamahnya. Mereka kebanyakan menggunakan kain tenun dari NTTdan Sumatra. Pokoknya dari luar Jawa. Padahal di Jawa Barat juga ada tenunan di Banten, yaitu di Baduy. Oleh karena itu, setelah mengadakan penelitian tentang perteksilan terutama kain tenun di Indonesia ahirnya dia memutuskan memilih kain tenun dari Baduy.

Alasannya yang kedua, ternyata kainnya ringan , motifnya geometris dan sangat sederhana, hanya bermain dengan garis-garis dan kotak-kotak. Tidak ada motif binatang atau bunga sehingga mudah dikombinasi mudah di « matching » !

Menurut Mandy, model-model koleksi LEKAT juga banyak mengikuti kebiasaan orang Baduy yang sering dan senang mencampur adukan warna seenaknya. Dalam satu model baju bisa campuran beberapa motif dan beberapa warna. Keren dan ceria memang  hasilnya !

Keistimewaan lain dari kain tenun Baduy yang Mandy sukai adalah di ujung tenunan selalu ada benang tersisa, seperti belum selesai yang justru dia pergunakan untuk kombinasi atau finishing.

Mandy bercerita bahwa ternyata orang Baduy senang sekali ketika tahu bahwa kebudayaan dan hasil karya mereka disenangi banyak orang. Merekapun ahirnya sangat bangga dan lebih rajin lagi bertenun sehingga dengan hasil perdagangan kain tenun mereka, kehidupan sehari-hari mereka bertambah makmur.

Kenapa Amanda pilih nama LEKAT untuk labelnya ?

Nama LEKAT dia ambil dengan harapan bahwa sekali orang memakai baju koleksinya maka akan selamanya baju tersebut lekat di hati mereka.

Alasan saya bertemu dengan LEKAT dan kesan saya tentang model-model LEKAT yang dipamerkan di Paris.

Saya sengaja datang ke Paris untuk bertemu dengan LEKAT terus terang karena ada BADUY nya dan ingin berkenalan dengan pembawa Btenun Baduy ke Paris. Itu yang membuat hati saya tersentuh dan tiba-tiba ingin bertemu dengan LEKAT.

Apa ? Baduy Banten sampai ke Paris ? Terbayang dalam ingatan saya kampung Baduy dan orang-orang Baduy yang lekat di hati saya karena saya lahir di Banten dan sering bertemu dengan mereka. Bahkan saya pernah sampai ke Baduy dalam bersama suami.

Kebanyakan koleksi yang saya lihat di Paris kali ini, dari segi warna condong ke warna netral dan kalem seperti putih, hitam , abu-abu dan krem . Ada juga sih warna-warna lain yang ceria seperti merah, biru langit, hijau. Pokoknya kebanyakan warnanya tidak menyolok, agar lebih banyak orang yang bisa memakainya, menurut Amanda. Model yang LEKAT tampilkan saat itu juga sangat berfariasi sehingga banyak pilihan.

Sepertinya semua generasi dari umur 17 tahun sampai 77 tahun akan menemukan model yang cocok buat dipakai. Bahkan bagi yang biasa mengenakan baju muslimpun akan dengan mudah memilih koleksi LEKAT ini karena memang panjang bajunya juga berfariasi dan modelnya yang tidak terlalu ketat.

Pokoknya semua orang dari semua kalangan dan semua umur, bisa memakai baju LEKAT yang kaya dengan detail jahitan tangannya dan « patchwork » nya yang membuat model tersebut menjadi unik dan ceria sekaligus.

Pada umumnya model-model baju LEKAT mudah dipakai oleh siapa saja, di mana saja, kapan saja, praktis, ringan dan cocok buat wanita aktif, apalagi dasarnya adalah katun, sangat nyaman dipakainya.

Ketika saya mencoba dan memakai baju-baju LEKAT, rasanya saya merasa leluasa untuk bergerak dan serasa menjadi lebih muda entah kenapa…


Mulai sekarang saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk memakai baju yang ada tenun Baduynya.

Bagi yang berminat untuk mendapatkan koleksi cantik dari karya Amanda ini bisa melihat di:
https://www.lekatdihati.com/

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *