Bandoengmooi Sajikan Pertunjukan Juragan Kumed

Masalah yang tidak terpisakan dalam kehidupan masyarakat kita adalah isu pengelolaan sampah. Semakin bertambah jumlah penduduk suatu wilayah semakin bertambah pula volume sampah yang dibuang. Praktek pengelolaan sampah pada umumnya, sampah yang dihasilkan dari rumah-rumah khususnya sebatas diangkat oleh petugas pengumpul sampah, bahkan masih ada yang dibuang di sembarang tempat dan ke sungai.

Bandoengmooi sebagai komunitas seni yang konsen pada persoalan lingkungan hidup pada kesempatan ini menggelar kembali pertunjukan musik dan teater bertemakan lingkungan khusunya tentang sampah.

Pertunjukan musik yang berjudul Tarasi (Tatalu Kreasi Tradisi) dan teater berjudul Juragan Kumed karya/sutradara Hermana HMT dan penata musik Iwa Thamaswara digelar pada Jumat, 8 November 2019 pukul 15.30 dan 19.30 wib. di Gedung Kesenian Rumentang Siang, Jl. Baranang Siang, Kosambi Kota Bandung.

Hermana pimpinan Bandoengmooi mengatakan, pergelaran musik dan teater ini merupakan buah kerjasama dengan bank bjb, UPTD Pengelolaan Kebudayaan Daerah Jawa Barat, Komunitas Seniman Rumentangsiang (KSR), dan Jabarsatu.com juga SENI.CO.ID sebagai media Partner dalam rangka evaluasi atau resital hasil pendidikan seni musik tradisional Sunda dan teater daerah yang dilakukan oleh komunitas seni Bandoengmooi sepajang tahun 2019 dengan para pemain Acil, Dio, Hafidz, Jajang, John, Dewi, Zahra, Noval, Hasna,Yulia, Yudha, Aliyyul, Amelia, Bagja, Daniel, Dimas, Egy, Ferly, Firman, Ilma, Ikhsan, M. Angga, Maulina, P. Anggita, Rangga, Rian, Rizki, Rivany, Taufik, Vera dan Yopi.

Bandoengmooi tiap tahun senantiasa melakukan pendidikan non formal dengan memberi pelatihan seni pada masyarakat sekitar Bandung Raya tanpa dipungut biaya dan menggelar pertunjukan seni terutama teater tradisional Jawa Barat (Longser) dan teater modern Indonesia,” ujar Hermana dalam keterangan tertulisnya yang diterima Redaksi. Lebih lanjut Hermana mengatakan, pada 2019 ini setelah melakukan pelatihan dasar akting tahap pertama di bulan Januari sampai April 2019 dan gelar pertunjukan drama berjudul Pakaian dan Kepalsuan di bulan Juli 2019, pada tahap dua pelatihan seni di Bandoengmooi bekerjasama dengan SMKN 10 Bandung. Sebanyak 20 siswa/siswi SMKN 10 Bandung magang di Bandoengmooi dari tanggal 1 Agustus s.d 30 Oktober 2019.

Dalam kegitan ini semua peserta magang proses bareng bersama anggota Bandoengmooi yang sudah lama dan semuanya menginap di sanggar selama 3 bulan. Hasil proses ini diantaranya digelar Kirab Budaya Bangbarongan Munding Dongkol (25/8/2019), pertunjukan seni Longser (26/9/2019) berjudul Benclang-Benclung, pertunjukan musik berjudul Tarasi dan teater berjudul Juragan Kumed (8/11/2019) dan pertunjukan seni Jawa Barat yang digelar di Anjungan Jawa Barat Taman Mini Indonesia Indah (15/12/2019).Hermana menegaskan, Bandoengmooi gelar pertunjukan seni bukan sekedar ingin menghibur para apresiatornya, tapi lebih dalam dari itu tiap pertunjukan harus memiliki muatan edukasi, membangun kecerdasan dan kesadaran pada masyarakat tentang permasalahan sosial dan tentang kelestarian lingkungan hidup.

“Pertunjukan teater Juragan Kumed bukan kisah nyata, ceritanya benar-benar piktif namun terinspirasi oleh peristiwa yang cukup menggemparkan dunia, yaitu tragedi longsornya tempat akhir pembuangan sampah di Leuwigajah Kota Cimahi tahun 2005 dan menewaskan lebih dari 150 orang. Lewat pertunjukan ini kami ingin mengingatkan kembali pada masyarakat bahwa sampah senantiasa menimbulkan hal buruk bagi kehidupan dan lingkungan. Sebaliknya sampah bisa bermanfaat bagi kehidupan jika dikelola dengan baik, diantaranya sampah bisa menghasilkan berbagai produk baru (hasil daur ulang), pupuk, makanan ternak, gas dan listrik,” jelas Hermana.Juragan Kumed diambil dalam bahasa Sunda yang mengandung arti orang kaya kikir. Yakni mengisahkan seseorang bernama Somad yang masa mudanya hidup miskin, kemudian masa tuaanya berubah menjadi orang yang memiliki kekayaan belimpah dan tidak mau sedikitpun berbagi pada orang lain.

Somad yang kikirnya luar biasa itu selalu berhitung untung rugi, jika baginya menguntungkan maka dia sambut dengan baik dan tak peduli yang menguntungkan bagi dirinya merugikan bagi orang lain. Seperti halnya mengijinkan sebagian tanah yang dimilikinya dijadikan pusat pembuangan sampah, asalkan tipping fee atau biaya sewa tanahnya sangat menguntungkan.

Tempat pembuangan sampah milik Somad menimbulkan keresahan sebagian besar masyarakat disekitarnya. Sampah yang kian menggunung telah mencemari udara, tanah, air dan menyebabkan orang meninggal. Masyarakat sudah banyak protes, tapi Somad tidak peduli. Dia memilih cara-cara jahat, yakni dengan menyuap Kepala Desa agar dapat meredam warganya dan membereskan persoalan-persoalan yang timbul, yang dianggap mengganggu segala usaha dalam menumpuk kekayaan bagi dirinya.

Disisi lain Somad selalu kesepian. Dia patah hati, karena ditinggal pergi oleh Euis teman masa kecilnya. Dia berharap besar Euis bisa dipersunting menjadi istri sejatinya, tapi bertupuk sebelah tangan karena Euis lebih mencintai laki-laki lain. Dalam kesendirian Somad senantiasa merindukan Euis sekaligus membencinya. Somad marah-marah dan menangis sendiri jika terkenang pada masa lalunya bersama Euis. Somad yang sudah tua masih berharap Euis bisa kembali dan menikah dengan dirinya, tapi setelah Euis ada di hadapannya Somad tetap tidak berdaya. Di usianya yang sudah tua, Juragan Kumed tetap sombong. Tapi, bersama keangkuhan yang sudah membatu pada jiwanya, dia tidak bisa lari dari takdirnya. Juragan Kumed mati termakan sumpah serapah sendiri, dia terbawa banjir dan tertimbun sampah yang longsor tergerus air akibat hujan lebat.

Sedangkan gagasan yang ditawarkan lewat musik berjudul Tarasi, Hermana berharap kreasi seni tradisi Sunda terus dikembangkan agar selamanya bisa tercium mewangi keberbagai pelosok negeri bahkan luar negeri. “Seni musik tradisional Sunda mesti mengglobal dan mewarnai musik modern atau kontemporer yang sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia, Jawa Barat khususnya,” pungkas Hermana.

Nara sumber: Seni.Co.ID/ AEM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *