HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT II (35)

Karya RD. Kedum

Udara sangat dingin. Aku masih asyik bermimpi ketika nek Kam membangunkan aku. Aku tidak tahu sekarang ini berada di mana. Juga tidak tahu waktu sudah menunjukkan pukul berapa. Kalau tidak salah aku baru dengar dua kali ayam berkokok. Artinya waktu baru menunjukkan pukul tiga dini hari. Belum subuh.

Aku berjalan mengiring nek Kam dari belakang. Tanpa alas kaki. Tak lama menyusul di belakangku lima nenek gunung. Dengus nafasnya terdengar kencang sekali seperti mengusir rasa dingin. Macan Kumbang berjalan cepat sejajar denganku. Aku berjalan sembari mengelus-ngelus tengkuknya. “Kita mau kemana?” Bisikku pada Macan Kumbang. “Mau mucung ghukam” Balas Macan Kumbang. “Kemana?” bisikku lagi. Macan Kumbang kembali berbisik. Katanya di kebun kekek Haji Yasir. “Kalau ke sana, tidak perlu kita berangkat malam-malam seperti ini. Kenapa tidak siang saja. Ambil saja sesukanya. Dijamin Kakek Haji Yasir tidak marah” Ujarku agak keras.

Rupanya nek Kam mendengar ocehanku. “Persoalannya, bukan masalah boleh atau tidak. Kita tidak berniat maling. Tapi kalau siang hari kita berjalan lalu dilihat orang alangkah banyaknya nenek gunung, bisa heboh sekampung. Mereka akan ketakutan” Ujar nenek Kam. Akhirnya aku memilih diam. Apa yang disampaikan nek Kam benar. Dan yang membuatku lebih memilih diam, aku baru sadar, pasti nek Kam memberi pelajaran baru lagi untukku malam ini. Akhirnya aku memfokuskan diri, mencoba berjalan dengan tidak bertenaga.

Perkiraanku kami berjalan sudah sangat jauh. Mengapa tidak sampai-sampai ke kebun kakek Haji Yasir? Baru saja aku berpikir demikian, rupanya di hadapanku sudah ada jarau pintu pagar untuk masuk ke kebun kakek. Kami serentak naik. Aku masih berjalan di samping Macan Kumbang. “Kakek Haji Majani dan Kakek Haji Yasir masih tidur nyenyak. Lihatlah” Bisik Macan Kumbang. Aku Melihat kedua kakekku sejenak. Kubetulkan selimut keduanya. Mereka tidak menyadari jika aku datang. Menurut Macan Kumbang meski pun mereka terjaga, tetap saja mereka tidak bisa melihat sosokku. Aku sendiri bingung mengapa tidak bisa? Apa bedanya dengan kehidupanku sehari-hari? Akhirnya kami melanjutkan kembali perjalanan, menyusul nek Kam dan nenek gunung lainnya. Mereka berjalan lurus ke utara, bukan ke timur.

Artinya tidak jadi mengambil buah ghukam di hilir kebun Kakek Haji Yasir. Dalam hati aku bertanya-tanya. Mau kemana? Aku mulai meningkatkan kamampuanku yang jarang sekali kugunakan. Berjalan ringan seperti di dorong angin, membaca fenomena alam. Aku mulai memerhatikan aktivitas semua makhluk yang kami temui. Kami bukan lagi memasuki kebun kopi dan ladang. Tapi sudah memasuki wilayah hutan, semak belukar, dan rumpun bambu. Kabut tipis mengendap jatuh di daun-daun. Oh! Ternyata hutan belantara ini seperti pasar. Banyak sekali makhluk hidup yang beraktivitas di sini. Simpang siur ke sana kemari dengan macam bentuk rupa. Kami terus berjalan. Aku saja yang terheran-heran melihat mereka simpang siur. Yang lain tidak peduli, mereka seperti tidak melihat jika ada mahkluk lain di sini. Aku nyaris bertabrakan dengan makhluk bertubuh kurus nyaris cuma tulang berbungkus kulit melintas pelan persis di hadapanku. Kepalanya besar dan matanya bundar. Kemudian ada satu paha berjalan melompat-lompat. Selanjutnya aku melihat raksasa dengan senjata di tangan berjalan seperti menghentam bumi. Ada anak kecil berwajah nenek kakek. Wajah mereka jelek-jelek. Nyaris aku hampir muntah ketika melihat kepala menggelinding dengan rambut kusut dan darah terus mengalir sebatas leher. Matanya melotot, lidahnya ke luar-luar. Dalam hati sebenarnya aku ingin protes mengapa harus lewat sini? Mengapa tidak jalan lain saja? Di antara mereka ada yang menatapku dengan ekspresi marah. Mungkin marah karena mereka tahu aku dapat melihat mereka. Atau mereka ingin memakanku. Air liur dan lidah mereka menunjukkan mereka lapar.

“Apa nama kampung ini Macan Kumbang. Aku sudah tidak kuat” Ujarku mau muntah. Bau amis yang menyengat seakan hendak mengocok isi perut. Apa yang bisa kuambil perjalanan di kampung aneh ini. Kecuali rasa serem. Jika bisa memilih, lebih baik aku berada di tengah ratusan nenek gunung dibandingkan berada di perkampungan seperti ini. Lagi-lagi aku nyaris tabrakan dengan makhluk yang aneh. Kali ini perempuan dengan wajah tua tanpa busana, buah dadanya nyaris sampai ke tanah. Maksumai! Giginya yang hitam menyeringai melihat padaku. Kadang makhluk ini bisa menyerupai manusia atau anggota keluarga yang hendak dikelabuinya. Dia paling suka menculik anak kecil. Makanya ketika melihatku seperti melihat boneka. Pingin megang, tapi tidak bisa. “Diam sajalah. Yang penting kita lewat dan mereka tidak mengganggu kita. Mata mereka memang melihat padamu. Karena kamu dianggapnya aneh mungkin, paling cantik” kata Macan Kumbang menggodaku. Aku tersenyum kecut dibilang cantik. Gaya kelelakian kok cantik?

Kami sampai di pinggir hutan. Aku tidak tahu hutan apa ini. Namun yang jelas aku melihat ada jurang yang menganga, di bawahnya mengalir sungai yang dalam. Di seberang, belantara tak kalah lebatnya. Aku belum juga mengerti mengapa kami berada di sini. Uniknya di pinggir hutan ini ada lapangan kecil yang datar, hanya ditumbuhi rumput kecil. Bersih dan rapi. Nampaknya tempat ini selalu dirawat. Kuperhatikan sekelilingnya. Pohon bambu berjajar seperti pagar dengan daun menguntai ke tengah serupa payung. Suara satwa malam layaknya tinggal di hutan, suara burung hantu, kalong, jangkrik, ada kunang-kunang, dan satwa lainnya. Di timur bulan sabit terlihat malu-malu di balik awan. Tapi aku seperti melihat cahaya mistis dari sela-sela daun bambu. Untung tidak ada angin. Sehingga suara gemerisik daun tidak ikut meramaikan malam ini.

Aku hanya mendengar deru sungai mirip seperti desah. Apa bila didengarkan dengan seksama kadang seperti gemelutuk orang memecah batu. “Suara sungai, ya Kumbang. Sungai apa ya? ” tanyaku. “Sungai Endikat. Kita berada di tepi sungai Endikat. Itu di jurang itu sungai di bawahnya. Kita berada di ketinggian bukit” Ujarnya. “Ini tempat apa?” sambungku lagi. Aku penasaran dengan tempat ini. Kok bisa bersih dan rapi seperti ini. Lalu mengapa jauh-jauh datang kemari ramai-ramai. “Ini tempat pertemuan para nenek gunung. Banyak tempat pertemuan yang sengaja dibuat di daerah kita ini. Ini tempat pertemuan yang kecil-kecil saja. Tapi kalau membahas masalah besar, biasanya akan dirapatkan di gunung Dempu” Ujar Macan Kumbang. Aku manggut-manggut. Rupanya bangsa nenek gunung ini utamanya bangsa manusia harimau memiliki forum diskusi juga. Keren. Ada forum diskusi, ada forum pengajian, dan entah apalagi. Ternyata makhluk ini mengadakan rapat juga. Aku senyum-senyum sendiri.Aku tertarik ingin menyimak bagaimana cara rapat dan apa yang dirapatkan. Apakah mirip ketika Bapakku berkumpul dengan banyak orang menyelesaikan dan mendamaikan ketika ada orang yang bertikai? Aku belum berani duduk. Takut dibilang kurang sopan.

Untuk mengurangi rasa canggungku aku mendekati nenek Kam. Beliau mengatur ini itu sambil menggerakan telunjuk. Entah apa yang diperintahkan suaranya tidak jelas. Apa nek Kam punya bahasa lain selain bahasa manusia? Kuperhatikan gerak bibirnya. Aku mencoba mencerna setiap kata yang beliau ucapkan. Mengapa kedengarannya aneh? Asing sekali di telingaku. Aku mendengar nek Kam mirip orang yang tengah menggerutu. Tidak jelas. “Husss….dengarkan saja, itu memang bahasa di alam sana. Baru dengar ya..” “Oh, nek Kam itu sedang memerintahkan apa? Kok aku mendengarnya mirip seperti baca mantera. Nggak jelas?” ujarku mau tertawa. “Husstt!” Macan Kumbang mencubitku. Aku menahan sakit sambil cekikikan. Nek Kam sekilas menoleh padaku. “Lama-lama juga kamu bakal tahu” kata Nek Kam. Aku menutup mulut. Membiarkan Macam Kumbang melet-melet mengejekku. Nek Kam memerintahkan Macam Kumbang memetik daun jarak yang tumbuh di bibir jurang. Lalu menyusunnya melingkar. Rupanya daun tersebut dipakai untuk duduk para nenek gunung. Aku melihat ada dua lembar daun jarak yang belum diduduki. Dalam hati kukira Macan Kumbang kelebihan mengambil daun. Salah hitung. Rupanya ketika semua sudah duduk melingkar, tak berapa lama muncul sepasang nenek gunung sudah sangat sepuh. Semua memberi hormat pada keduanya. Aku ikut-ikutan memberikan hormat dengan cara mereka. Menunduk sedalam-dalamnya beberapa saat. Baru mengangkat kepala ketika beliau berkata “iya”.

Tak berapa lama, salah satu macan kumbang yang sudah sepuh membuka pembicaraan suara beliau sangat berwibawa. Rupanya aku diajak memerhatikan pertemuan, semacam rapat bukan mucung ghukam seperti obrolanku bersama Macan Kumbang tadi. Untung kakek yang sepuh ini berbicara menggunakan bahasa manusia. Kalau mereka menggunakan bahasa Uluan, aku bakal ileran, bengong saking tidak pahamnya . Aku mulai berani mengangkat kepala memerhatikan sepasang nenek gunung sepuh ini. Sang kakek, bermata cekung, alisnya panjang, kumisnya panjang, jenggotnya pun panjang dan berwarna putih. Sedangkan si nenek, di tangannya menggenggam alat penumbuk sirih, tak henti-henti bergerak. Kebaya lama yang dipakainya, nampak serasi dengan kain. Tengkuluk melilit di kepala, sambil mengangkat sebelah kaki, sedikit membungkuk, si nenek sesekali memasukan sirih yang ditumbuk ke mulutnya.

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Putri Selasih. Makin besar sudah makin berani saja kamu sekarang. Sudah tidak takut lagi melihat makhluk berkaki empat ha?” Senyumnya mekar sampai-sampai matanya yang kecil tertutup semua. Aku kaget, ternyata beliau mengenalku? “Alhamdulilah Puyang, makin lama makin terbiasa.” Ujarku setengah gugup. Aku menunduk kembali sedalam-dalamnya. Aku tidak tahu apakah sudah benar apa salah aku panggil Puyang. Selebihnya beliau mengacungkan jempol. Lalu mata beliau menyapu semua yang hadir satu-satu. Nenek Kam duduk agak terpisah dengan yang lain. Nek Kam lebih dekat duduk dengan puyang berdua itu. Sedangkan aku lebih memilih mepet dengan Macan Kumbang.

“Bagaimana Adil, sudah batas mana tugas yang aku berikan padamu. Aku dengar kamu menemukan kendala. Ada apa?” Ujar kakek Sepuh. “Ternyata Puyang yang datang ke Bukit Larangan itu bukan budak Besemah. Tapi para pendatang dari Lampung. Mereka tidak hanya bersenjata bedil, Puyang. Tapi juga pakai ilmu penunduk. Jadi beberapa ingunan kita mereka tangkap dan dibawanya sampai ke seberang. Maafkan Puyang, kemampuan kami sungguh tidak sebanding dengan yang mereka miliki” Ujar nenek gunung yang dipanggil Adil. Kulihat Puyang menarik nafas panjang. Dadanya yang bidang sedikit maju. Lama aku melihatnya diam. Nampaknya beliau sedang berpikir. Lalu kulihat beliau mengangguk kecil seperti mendapatkan ide baru.

“Kapan kalian akan ke perbatasan lagi? Berapa ekor ingunan kita mereka lumpuhkan? Apa yang kalian lakukan untuk mengurangi korban?” Ujar Puyang kembali. Nenek gunung Adil langsung menjawab, akan segera mungkin kembali ke sana. Katanya dia akan berangkat ke perbatasan secepatnya bersama empat orang anak buahnya. Selanjutnya beliau menuturkan, hal yang paling membuat mereka marah bingung adalah para pemburu itu padai menaklukan setue dengan cara dimantera-manterai. Akibatnya, setue – setue itu tanpa sadar mendekat dan tunduk. Dengan demikian mereka sangat mudah menangkap setue. Lalu setue-setue itu mereka masukan ke dalam kerangkeng. Hingga sekarang, sudah ada lima ekor setue yang hilang. Mereka di bawa ke seberang, artinya ke pulau Jawa.

Aku mulai paham. Rupanya Puyang mengintrogasi kerja para nenek gunung yang menjaga hutan larangan di perbatasan tanah Besemah dengan Lampung. Hari-hari ini pemburuan terhadap harimau makin marak. pemburu-pemburu itu tidak hanya membawa senjata tajam saja. Tapi mereka menggunakan mantera-mantera untuk menakhlukan harimau di hutan itu. Aku pun ikut berpikir. Berarti ini ancaman besar buat kucing raksasa di hutan perbatasan itu. Ini tidak bisa dibiarkan. Berarti mereka membawa dukun, orang sakti! Demi mendengar penuturan itu, aku sedikit gemetar. Lima? Lima ekor setue? Nenek gunung? Alangkah Banyaknya? Mereka dimasukkan ke dalam kerangkeng? Mereka patuh tidak ada perlawanan? Oh! Tiba-tiba tubuhku seperti robot. Menegang dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku merasakan ada sesuatu yang lain dalam tubuhku. Namun aku tak mampu menolaknya. Aku berusaha mengendalikan diri. Aku tidak tahu siapa yang masuk dalam tubuhku. Sudah cukup lama aku tidak merasakan seperti ini.

Dulu, sebelum aku mengenal berbagai macam hal dari Nek Kam dan Macan Kumbang, aku memang pernah jadi perantara Datuk dari Gunung Talang. Lalu gadis manis yang mencari kepalanya di pangkal jembatan Endikat ilir, selebihnya justru aku sudah masuk dalam dimensi lain. Dan saat ini pun aku berada dalam dimensi itu Tapi mengapa aku masih seperti ini. Oh! Aku berusaha menggapai tubuh Macan Kumbang yang duduk di sampingku. Tapi semuanya nampak membiarkan aku. Apakah mereka tidak tahu kalau aku seperti didera hal aneh? Batinku berteriak memanggil Nek Kam. Aku sedih sekali, nek Kam hanya menatapku saja. Tidak ada usaha untuk menolongku. Sementara aku seperti terombang-ambing, lalu berguncang. Aku mencoba menolak dengan tangan ke atas ketika seberkas cahaya seperti meluncur hendak menghantamku. Aku tak mampu lagi untuk berteriak minta tolong. Aku heran, mengapa mereka masih saja diam. Bahkan nek Kam dan Macan Kumbang ikut seperti penonton. Mereka tidak menolongku. Dalam hati aku menggerutu. Kejam sekali mereka?

“Pasrah Cung, jangan kau tolak. Biarkan cahaya itu masuk ke dalam tubuhmu” Suara Puyang pelan. Aku mulai sedikit lega. Pantas tidak ada satupun yang tergerak membantuku. Ternyata mereka tahu akan ada sesuatu yang datang. Tapi cahaya apa ini? Mengapa harus aku? Akhirnya aku terlentang. Aku sudah tak sanggup duduk. Kupasrahkan jiwa dan ragaku. Bahkan jika saat ini aku mati, aku sudah siap. Aku tidak bisa apa-apa. Kupejamkan mata. “Yaa Rabb…aku merasakan seperti berada di alam lain. Apakah ini yang disebut kematian? Aku berada dalam ruang kosong dan sepi. Sepi sekali. Seberkas cahaya itu makin dekat. Semula terlihat berwarna kuning, semakin dekat warnanya berubah menjadi ungu. Lagi-lagi aku merasakan tubuhku menegang. Aku kembali pasrah pelan-pelan, cahaya itu menyusup melalui dadaku. Aku merasakan sesak seketika. Dadaku serasa sangat penuh. Cahaya itu serasa menghantam, menggelinding, lalu mengaduk-aduk dadaku. Aku kembali terpejam berusaha konsentrasi. Kubuang jauh-jauh rasa takut. Demikian juga ketika tubuhku berguncang, aku ikuti gerakan itu. Akhirnya reda juga. Aku seperti merasakan ada beban dalam diriku. Akhirnya aku mencoba untuk bangun. Barangkali dengan cara duduk dapat mengurangi dadaku yang terasa penuh. Belum sempat aku bertanya apa yang terjadi padaku, lagi-lagi aku seperti diserang cahaya.

Kali ini warnanya putih seperti salju. Menggelinding cepat ke arah kepalaku. Aku mencoba menahannya dengan menutup kepalaku dengan kedua telapak tangan. Namun cahaya itu seperti angin. langsung menembus ke seluruh tubuhku. Seketika aku merasakan tubuhku beku. Aku terhempas kembali. Kaku sekaku-kakunya. Bukan menggigil lagi. Dalam hati terlintas, seperti inilah mati. Iya aku sudah mati. Tapi aku masih bisa membuka mata. Para nenek gunung masih duduk melingkar, sembari komat kamit entah apa yang diucapkan mereka. Puyang nampak mengatupkan telapak tangan ke dada. Kadang mengayun ke atas seolah-olah mengumpulkan enegi. Nenek Puyang juga mengatupkan mata. Masing-masing dari tubuh mereka mengeluarkan cahaya keemasan. Kadang hijau biru, kuning, ungu, seperti gelombang. “Selasih, satukan hawa panas dengan hawa dingin di tubuhmu pelan-pelan. Pusatkan pikiranmu Cung. Puyang akan bantu. Yang lain teruskan syalawat kalian. Kita satukan kekuatan berkumpul di tubuh Selasih” kembali Puyang mengarahkan aku. Aku nerasakan ada dua kekuatan beradu di tubuhku. Lama kelamaan terasa seperti air denga gula. Menyatu dan rata. Ketika sudah dianggap cukup. Aku disuruh bangun. Baru saja aku berdiri, tangan Puyang bergerak ke atas. Tiba-tiba tubuhku diangkatnya. Lalu dilemparkannya ke dalam jurang. Aku terkesiap. Darahku serasa hilang. Aku meluncur ke dalam jurang cepat sekali. Mirip seperti anak panah. Aku berpikir keras apa yang harus kulakukan. Aku tak sempat berpikir mengapa aku dilempar. Yang ada adalah aku tidak mau mati sia-sia menghantam batu atau masuk ke dalam arus Endikat yang deras. “Hiiiaaaaat!!!” Suaraku menggema mengisi ruang Endikat malam itu. Aku yakin, semua makhluk yang ada di situ pasti mendengar teriakanku. Kukerahkan kemampuan meringankan tubuhku. Aku undang angin agar aku tidak terlempar ke bawah, tapi terlempar ke bukit seberang sungai. Tanpa kusangka, apa yang kupikirkan terjadi. Tubuhku salto di udara berulang kali naik ke atas, lalu melanting ke atas bukit seberang Endikat. Aku berdiri di ujung ranting yang kecil sekali. Sedikitpun rantingnya tidak goyang. Belum sempat aku menyadari kemampuanku yang aneh tapi nyata, tiba-tiba puluhan sinar menyerangku dari seberang.

Rupanya semuanya adalah Senjata. Penciumanku langsung dapat mengetahui marabahaya . Ada miang buluh, ada racun ular, ada jaring berupa jaring laba-laba, ada duri enau yang hitam dan kasar, ada duri rotan, ada juga miang jelatang. Semuanya bukan barang biasa. Tapi semuanya bergerak seperti makhuk yang bernyawa. Gerakkannya cepat dan benar-benar hendak menyerang. Entahlah, tanganku reflek saja memegang perisai seperti payung dan langsung melindungi tubuhku. Entah darimana asalnya aku tidak tahu. Aku merasakan tanganku kesemutan. Hantaman benda-benda itu benar-benar dasyat. Tak lama berselang, aku seperti penari berputar-putar menuju seberang. Di sana Puyang, Nek Kam, dan nenek gunung sudah menungguku dengan serangan baru. Aku kembali di serang pukulan-pukulan mereka yang maha dasyat. Namun pukulan mereka seperti menembus dinding. Lewat saja dari tubuhku. Akhirnya aku bisa mendarat persis di hadapan mereka. “Sudah Puyang…sudah..aku capek, aku takut. Ada apa denganku Puyang?” Aku terbata-bata sembari menarik nafas putus-putus. Ingin rasanya menangis. Mereka ini memperolok aku atau apa? Mengapa aku dilempar dan diserang? Bukankah aku anak kecil? Apa aku dijadikan kelinci percobaan untuk menguji kemampuan mereka? Berbagai prasangka membuat aku tidak simpati dengan nek Kam, Macan Kumbang, Puyang dan nenek gunung saat itu. Aku ingin menangis. Benar saja, akhirnya melihat orang-orang yang kukira sayang padaku, tapi berniat mencelakaiku membuat aku menangis. Aku heran, sebelumnya mereka seperti hendak mengajariku. Tapi lama kelamaan mengapa seperti menghendaki aku mati.

Aku menjadi emosi. Tanpa berpikir panjang aku membabibuta menyerang mereka dengan jurus-jurus kacau. Aku melampiaskan emosiku. Seketika tongkat Puyang berubah menjadi ular, mulutnya mengaga lebar siap menerkamku. Nyaris aku kena sebetan ekornya. Akhirnya aku berusaha untuk tenang. Aku harus serius melawan ular di hadapanku ini. Aku mulai berusaha mengendalikan diri. Mulailah aku berpikir strategi untuk melawan ular dari tongkat Puyang. Melihat sabetan ekornya yang maha dasyat, aku takut akan merusak pohon bambu yang berjajar keliling. Akhirnya kupancing ular itu untuk turun ke lembah. Aku meluncur menuju sungai. Ternyata jurang ini sangatlah dalam. Cukup lama aku baru bisa mencapai darat. Aku langsung berdiri di atas salah satu batu yang menonjol di sungai. Kutunggu ular besar itu meluncur ke bawah. Ternyata ular itu memang ganas sekali. Dari udara dia sudah menyemburkan racunnya ke arahku. Kuarahkan tangan kananku untuk menangkap racunnya. Sungguh di luar dugaan terjadi benturan antara racun dan cahaya biru. Benturan itu memercik hingga berubah menjadi api. Aku kaget sendiri. Padahal harusnya racun itu tersedot oleh cahaya biruku. Tak lama aku melihat sosok melayang dari atas. Jubahnya mirip sayap yg mengepak. Ular itu ditangkapnya dengan ringan. Tiba-tiba ular berubah mejadi tongkat kembali. Ternyata Puyang! Aku kaget melihat orang tua sepuh ini. Gerakannya gesit dan ringan. Secepat kilat, tubuhku ditangkapnya, lalu terbang ke atas bukit lagi. Hanya dalam sekejap mata, aku sudah berdiri di arena pertemuan tadi. Semua mata memandangku. Nek Kam dan Macan Kumbang senyum-senyum.

“Horeeeeee….Putri Selasih hebat!!” Tiba-tiba Gundak bertepuk tangan dan melompat-lompat. Entah datang darimana. Bukankah baru tadi pagi dia dijemput bapaknya untuk pulang ke bukit Selepah? “Nah, Adil, Putri Selasihlah yang akan menyelesaikan mantera pemburu setue gunung di perbatasan itu. Dia akan membantu kalian” Ujar Puyang. Aku terperanga dibuatnya. Duniaku kok semakin hari semakin aneh. Apa maksudnya? “Aku ikut! Tenang saja Selasih aku akan menemani. Iya kan Puyang…boleh ya” Kata Gundak bergelayut manja di tangan puyang. Mengapa dia manja sekali? Pikirku. “Ini cicit tunggalku, Selasih. Tapi dia tidak bisa sepertimu. Dia tidak punya bakat untuk dititipi berbagai macam ucap dan kepandaian. Jalan garisnya lain.” Ujar Puyang. Aku mengangguk kecil. Dari obrolan itu baru kuketahui beliau Puyang Ulu Bukit Selepah, leluhur Gundak.

Bulan sabit sudah mulai naik pas di atas kepala. Cahaya redupnya seakan menaungi bukit yang telah menjadi saksi pertemuan malam ini. Alam tampak hening. Aku berlari memeluk nek Kam dengan erat. Ingin rasanya protes, mengapa tidak pernah memberitahu aku tiap kali hendak memberi pelajaran baru. Selalu tiba-tiba. Dan aku serasa gila dibuatnya.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *