HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT II (38)

Karya RD. Kedum

Aku serasa seperti masih berada di perbatasan memandang hutan yang porakporanda. Dan terus membatin, memohon maaf pada pohon-pohon yang telah tumbang. Pada satwa yang rumahnya telah rusak dan terusik.

Aku setengah terjaga kala ada yang mengucapkan salam dan memanggil nenek Kam. “Assalamualaikum! Nek Kam…Nek…huuuu…ade jemenye (ada orangnya)?” Aku mendengar suara di bawah memanggil-manggil nenek Kam. Mataku sangat berat untuk dibuka. Rasanya aku baru sebentar telelap. Macan Kumbang kulihat tidur-tidur ayam. Matanya merem melek. Nenek Kam menongolkan kepala di pintu pondok. “Oii…naik Bujang. Mau kemana? Sengaja singgah atau ada keperluan lain?” Suara nek Kam. “Mau nyampaikan pesan Ruhai, Nek. Katanya mau nitipkan Dedek malam ini. Soalnya beliau mau nungguk’i bagok’an (kondangan) ke Menteralam. Dedek pasti tidak mau ikut ke sana. Sebab Kakek Haji dua-duanya juga ke sana” Ujar orang yang dipanggil Ujang. Aku terlonjak kaget. Lah wong aku di sini sejak beberapa hari lalu. Mengapa ibu mau menitipkan Dedek? Hampir saja aku berteriak kalau tidak diberi kode sama nek Kam. “Oo iya..terimakasih Ujang, kata Ruhai gimana? Dedek akan diantar siapa kemari?” Kata nek Kam lagi. “Nanti sore diantar Sainal, kemari” lanjutnya lagi. Aku makin bingung. Dedek akan diantar Sainal? Sainal salah satu pekerja kebun kopi Bapakku. Dedek yang mana? Aku jadi bingung. Wow! Apa mungkin beberapa hari ini ada orang lain yang menggantikan aku di rumah Ibu agar Ibu tidak merasa kehilangan? Tapi siapa? Mengapa nek Kam tidak memberitahu aku?

Aku langsung mencoba ke tempat Ibu. Kulihat Ibu sibuk di dapur sedang memasak. Aku naik melalui tangga samping langsung menuju dapur. Di dekat jendela ada perempuan sebayaku dan wajahnya persis aku sedang asyik makan nasi goreng. Dia kaget ketika melihatku. Mata kami beradu. Kuamati sedalam mungkin. Dia bukan belahan diriku. Tapi sosok lain yang menyerupai aku. Baru saja aku hendak mendekatinya dan bertanya suara nek Kam memanggil menyuruhku pulang. “Pulang Selasih, pulang sekarang!” Aku Berbalik badan. Kubuka mata dan melihat nek Kam masih berdiri dekat pintu. “Siapa dia, Nek?” Tanyaku. Nenek Kam tersenyum kecil. Kuikuti gerakkannya dengan pandanganku. “Kawan Nenek, sengaja Nenek suruh biar ibumu tidak gelisah karena kamu lama di sini. Biasa Ibumu kan cerewet. Nenek lama nggak ke sana dia pasti marah. Apalagi kita berdua lama meninggalkannya. Janji dua hari berubah enam hari. Bisa merepet mulutnya panjang sampai gunung ke Dempu” kata nek Kam.

Aku tersenyum mendengarnya. Jadi beberapa hari ini Ibuku didampingi Dede palsu? Dan beliau tidak sadar. Dikiranya aku anak manis patuh dan selalu dekat dengannya? Baru saja aku hendak kembali berbaring dekat Macam Kumbang, tiba-tiba suara Gundak memanggil-manggilku. Aku mencoba fokus pada suara halusnya. “Selasih…Selasih…obati aku, Selasih. Aku ingin tinggal di pondok nenek Kam saja. Mari Selasih. Jemput aku” Ujarnya setengah menangis. Suaraku serasa tercekat ditenggerokan. Aku harus bilang apa? “Aku tidak bisa bangun Selasih. Aku tidak akan sembuh kalau tidak kamu yang mengobati. ” Ujarnya lagi. Aku hanya bisa menatap nek Kam yang mengawasiku sambil menumbuk sirih. Nenek Kam menggeleng. “Katakan kamu tidak punya kemampuan apa-apa” ujar nek Kam. Aku pun mematuhi. Kusampaikan pada Gundak. Tapi Gundak tidak terima. “Tidak! Kamu jangan berbohong! Seluruh ilmu puyang telah kau warisi. Baik ilmu pengobatan maupun ilmu bela diri. Jemput aku. Paling tidak lihat aku.” Ujarnya agak memaksa. “Aku harus minta izin Puyang Ulu Bukit Selepah dulu, Gundak. Aku tidak mau lancang. Maafkan aku” Ujarku perih. Aku bisa bayangkan betapa sakitnya jika melihat luka-lukanya semalam. Tapi tidak mungkin Gundak tidak diobati oleh puyang Ulu Bukit Selepah.

Selebihnya aku mendengar suara tangis Gundak. Gundak terisak. Semakin siang, aku merasakan tubuhku meriang. Tapi nenek Kam berulang kali menyuruhku mandi, walau sebenarnya aku enggan. Rasanya takut sekali dengan air. Dingin! Akhirnya aku pergi juga ke pancuran. Aku mencium aroma nenek gunung di tubuhku. Aku ingin menghilangkannya dengan cara mandi bersih-bersih. “Bagaimana menghilangkannya aroma itu Dede, jika nenek gunung itu adalah kamu!” Selasih tertawa lepas. “Ah bukan! Aku manusia. Yang nenek gunung itu kamu!” Jawabku.

Selebihnya dia hanya tertawa dan aku hanya senyum-senyum seakan-akan mengatai diri sendiri. Sejenak aku bermain dengan air pancuran. Kuresapi dinginnya. Aku menggigil seketika. Air yang menimpa kulitku nyaris tak terasa. Kuambil rumput yang berdaun halus tumbuh di dinding-dinding dekat pancuran. Kuambil beberapa lebar lalu kuremuk-remuk. Aku gosok gigi dengan rumput itu. Seketika mulutku beraroma rumput. Kebiasaan seperti ini sering aku lihat ketika orang -orang dusun ini pergi ke air. Mereka menggosok gigi dengan rumput itu. Kata kakek, getahnya membuat gigi kita kuat. Apakah mitos aku tak tahu. Yang jelas belum ada yang melakukan penelitian jika rumput ini bisa menguatkan gigi. Aku cuma ikut-ikutan saja. Belum selesai kumur-kumur kembali aku mendengar suara halus Gundak.

“Kau kejam Selasih. Kau tega membiarkan aku sakit dan terluka.” Tuhan! Suara Gundak kembali mengiang. Kali ini bukan rintihan dan tangis minta dikasihani. Tapi nadanya sudah mulai marah dan kecewa. Aku segera menyelesaikan mandi. Setengah terburu-buru aku kembali ke pondok dan ganti pakaian. “Aku sudah mengemis minta tolong. Tapi tetap saja kau tidak mau menolong. Kau kejam Selasih” ujarnya lagi. Aku seperti tertuduh dibuatnya. Kutatap Macan Kumbang dengan ekspresi tidak paham. Apa yang harus kulakukan aku tidak tahu. Sementara batinku masih terasa berat membayangkan peristiwa tadi malam. “Selasih, kau ingat-ingat apa tugas yang belum kau selesaikan tadi malam?” Suara Puyang Pekik Nyaring mengagetkanku. Puyang berbicara melalui batin. “Apa itu Puyang?” Jawabku serius. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang kulakukan tadi malam. Rasanya tidak ada yang belum tuntas. “Maafkan aku Puyang. Aku lupa…” Ujarku menyesali diri. “Pagar gaibmu belum dibuka. Para jin dukun-dukun itu sedang mengaum lapar. Mereka tidak bisa ke luar. Mereka masih terkurung.” Ujar Puyang Pekik Nyaring. Aku bagai tersengat. Aku menyesali diri. Betapa lalainya aku. “Maafkan Puyang, aku lupa. Apa yang harus kulakukan puyang? Apakah aku harus ke sana. Dan jin-jin itu diliarkan begitu saja?” Tanyaku. “Berangkatlah ke sana bersama paman Raksasa. Buka pagar gaibnya, lalu semua jin serahkan dengan paman.”

Belum selesai Puyang Pekik Nyaring berinteraksi denganku paman Raksasa sudah berdiri di hadapanku. Oh! Tampilan Paman Raksasa sudah berubah. Beliau memakai celana dan baju telo belango panjang. Baru tadi malam kami berpisah, namun perasaanku seperti sudah berbulan-bulan. Ekspresinya nampak sangat gembira. “Alhamdulilah…kita bersua lagi anakku yang manis. Assalamulam..Asslam…Assalamual..” Paman terbata-bata mengucapkan salam. “Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh…Paman.” Ujarku membantu meluruskan ucapan salamnya. Akhirnya Paman mengulanginya kembali dengan mengeja pelan-pelan. Aku cekikikan mendengarkan beliau seperti orang cedal. “Paman, keluarkan lidah paman.” Ujarku. Ketika beliau mengeluarkan lidahnya, secepatnya kusapu dengan mantra agar lidahnya lebih lembut bergerak dan tidak kaku dan tebal. Dari jauh aku mendengar suara Puyang Pekik Nyaring, Kakek Andun, Puyang Ulu Bukit Selepah, dan Kakek Njajau tertawa serentak. Apakah mereka sedang berkumpul sehingga tahu aktivitasku? Aku membatin. “Tidak. Kami berada di tempat masing-masing, Selasih. Laksanakan tugasmu yang belum selesai.” Lanjut Puyang Pekik Nyaring. “Baik Puyang, aku akan segera pergi.”Jawabku.

Aku membangunkan Macan Kumbang yang tertidur sambil duduk untuk mohon diri. Nenek Kam entah kemana sudah tidak ada di pondok. Aku melongok ke dapur. Entah siapa yang membersihkan dapur nenek Kam, tampak bersih dan rapi. Tapi Nenek tidak ada. “Ganti pakaianmu” Macan Kumbang melemparkan pakaian untukku mirip kulit harimau. Nampaknya berbeda dengan pakaianku semalam. “Ini untuk siang hari. Kalau malam hari seperti yang kau pakai tadi malam” lanjutnya lagi. Oh rupanya pakaian siang dan malam jika hendak pergi petualang ke alam sana berbeda-beda? Aku segera ganti pakaian. Aku sudah siap-siap berangkat bersama paman Raksasa. Aku hanya pamit dengan nek Kam melalui batin. Paman Raksasa langsung meraih tubuh dan mendekapku. Aku minta pertolongan angin untuk segera membawa kami berdua. Macan Kumbang hanya melambaikan tangan lalu melanjutkan tidurnya kembali.

Aku bersama paman Raksasa sudah di atas. Langit tampak bersih. Bukit, kebun, ladang, sungai, terlihat kecil. Baju paman Raksasa nampak melambai-lambai sampai mendengarkan bunyi seperti tepuk tangan. Matahari sudah mulai naik. Terasa perih di kulit. Rasa meriang tubuhku sejak bangun tidur tadi hilang sama sekali. Merasa diberi tugas dan harus tanggungjawab membuat rasa demamku hilang tiba-tiba. Berkali-kali aku memerhatikan wajah paman Raksasa senyum-senyum. Entahlah apa yang membuatnya sangat bahagia. “Paman, senyum-senyum sendiri kenapa?” Tanyaku ikut tersenyum. “Paman bahagia sekali bisa bertemu denganmu, anakku. Yang lebih membuat Paman bahagia bisa pergi bersama-sama denganmu. Paman merasakan seperti hidup di alam yang baru. Sungguh berbeda dengan alam yang sebelumnya. Sekarang hidup paman lebih terarah. Dan ternyata sangat indah. Paman merasakan batin Paman lebih damai.” Ujarnya membuatku terharu.

Tak berapa lama kami berdua sudah dekat dengan perbatasan. Dari jauh aku melihat hamparan hutan belantara. Sementara bagian medan pertempuran tadi malam terlihat lebih terbuka. Tanah yang kugeser tempat mengubur kakek Putih masih nampak merah. Aroma darah para dukun dan rombongannya menguap. Amis. Membuat aku ingin muntah. Setelah sampai aku segera turun. Aku mencoba menutup indera penciumanku. Aku mencoba meminta tanah terbuka untuk mengubur dukun dan pemburu. Tiap kali kubuka, tiap kali pula tanah tertutup kembali. Pahamlah aku. Bumi tak mau menerima jasad para dukun ini. Nauzubillahi minzalik! Akhirnya aku hanya mendoakan mereka. Kulihat paman Raksasa berusaha mengkhusukan diri ketika aku berdoa. Matanya melirik-lirik gerakanku. Ikut menengadakan tangan lalu mengusap wajah pertanda akhir doa. Akhirnya kuambil daun-daun kering untuk menutup tumpukan tubuh mereka. Lalat hijau sudah mulai berdatangan. Aku berjalan ke arah tempat mengurung para jin pengikut dukun. Betul rata-rata mereka sudah bangun dari tidur. Mereka lapar dan minta makan. Wajah beringas mereka sungguh tidak bersahabat. “Hai para jin. Aku akan buka pagar ini. Tapi dengan syarat kalian harus patuh pada kami. Kalian harus ikut kami. Dukun kalian sudah mati. Kalian tidak akan dapat makanan dari mereka lagi!” Ujarku. Mereka menggeram marah. Mata mereka nanar. Aku segera membuka pagar gaibku. Setelah bebas mereka serentak menyerangku.

Paman Raksasa tidak tinggal diam. Satu gerakan ditangkapnya jin-jin itu, lalu disimpannya dalam genggamannya. “Kalian ikut aku. Kalau melawan akan kubunuh kalian!” Ancamnya. Para jin tidak ada yang berkutik. Mudah sekali pekerjaan siang ini. Aku nyaris tak mengeluarkan puluh setetes pun. Aku kembali memanggil angin bermaksud hendak pulang. Aku memilih menempel dan berpegangan di telapak kaki paman Raksasa. Baru saja hendak naik, tiba-tiba ada serangan gaib yang diarahkan pada kami berdua. Aku segera mengarahkan telapak tangan menolaknya. Benturan mengeluarkan percikan api. Aku mencari tahu siapa yang berani menyerang. Rupanya siluman elang mengepak-ngepakan sayap hendak menerkam. “Hati-hati Paman. Elang ini hendak menyerang kita. Nampaknya dia marah karena kita menyimpan jin-jin ini. Mungkin siluman elang ini yang menguasai mereka.” Ujarku sembari terus mengawasi gerakannya. Akhirnya aku turun dari telapak kaki paman Raksasa. Paman Raksasa sudah mulai melakukan penyerangan balasan dengan mengeluarkan cahaya dari permata di keningnya. Berulang kali elang mengelak menghindari serangan maut paman Raksasa dan melakukan balasan melalui kepak sayapnya. Luar biasa makhluk ini. Biasanya siluman ini akan terlihat lebih berenergi jika malam hari. Ini ditengah terik matahari tidak pengaruh sama sekali. Siluman elang masih lincah bergerak.

“Paman, izinkan aku melawannya.” Aku langsung meluncur ke udara. Selendang pemberian kakek Ulu Bukit Selepah langsung mengembang dan memukul sayap siluman elang. Sejenak siluman elang oleng. Aku tahu sayapnya sudah cidera. Namun aura membunuhnya masih tetap menyala. Elang kembali menukik. Kusapukan selendang untuk melindungi serangannya yang bertubi-tubi. “Hati-hati Selasih!” Teriak paman Raksasa melihat kaki si elang hendak mencengkramku. Kali ini kubiarkan elang agak mendekat padaku. Kepakan sayapnya kencang sekali. Setelah jaraknya agak dekat dengan cepay ujung selendangku mengikat kakinya. Kukencangkan ikatannya dengan menyalurkan energi. Elang berputar-putar masih terus mengepakkan sayap. Elang melengking tinggi. Teriakan yang ke luar dari mulutnya diikuti dengan kekuatan tenang dalam.

Dianelang sakti. Bukan elang siluman kalau tidak punya kemampuan. Demikian pula dengan elang ini. Tahu kakinya terikat dia putar tubuhnya mencoba memelintir selendangku. Melihat lilitan semakin pendek, dan paruhnya siap mematukku, kusiapkan pukulan melalui tangan kiriku. Dasstt!Dasstt! Dua pukulanku tepat mengenai dadanya. Elang menjerit seketika. “Kuliiiiik…kuliiiiiak!!” Tubuh elang menukik tajam ke bumi. Kulepaskan ikatan selendangku lalu kuangkat kembali, kupukulkan pada tubuh elang yang hendak jatuh. Suara keras seperti benturan dua bukit terdengar keras dan memekakkan. Tubuh siluman elang gosong seketika. Lalu ambruk ke tanah. Tanah berubah menjadi hitam. Aku menarik napas lega. Demikian juga paman Raksasa. “Saya kira tugas semalam sudah selesai paman. Ternyata hari ini kita masih dihadapkan dengan rangkaian urusan perdukunan.” Ujarku. “Sebenarnya, masih ada lagi yang menjadi sesembahan mereka, Selasih. Mereka di bawah kendali Ratu dari pantai Laut Selatan” ujar paman lagi. “Siapa Paman?” Tanyaku ingin tahu. “Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul?” jawabnya . “Siapa pula Kanjeng Ratu Nyi Roro Kidul itu, Paman?” Selanjutnya Paman Raksasa menjelaskan beliau penguasa laut Selatan Jawa. Aku manggut-manggut. Penguasa laut itu seorang perempuan? “Jadi para dukun ini kekuatannya dibantu oleh Kanjeng Ratu Pantai Selatan itu ya, Paman?” Ujarku lagi. Paman mengangguk.

Selanjutnya beliau bercerita, berapa banyak dukun yang menjadi budak sang ratu. Agar mereka kuat dan sakti. Mereka selalu mempersembahkan tumbal. Para tumbal itu menjadi budak sang ratu. Ketika kami berniat pulang, kembali aku dikagetkan. Kali ini tepuk tangan berkali-kali. Aku menoleh Sungguh, nyaris aku tidak percaya Gundak berdiri di atas tebing. “Bukankah itu Gundak, Paman?” Tanyaku. Aku melihat dia berdiri tegak tanpa luka. Bukankah baru tadi pagi dia merengek minta dibantu diobati luka-lukanya? Apakah mungkin dia sembuh secepat itu? Lukanya tadi malam cukup parah, dan banyak pula. Sekarang Gundak ada di sini. Tempat yang teramat jauh dari Bukit Selepah. “Kau hebat Selasih…hebat sekali!! Aku perhatikan pertarungan tadi. Dan kau sempurna!” Ujarnya sambil melompat dan mendekat. Aku masih belum bisa berkata-kata. Merasa tidak yakin jika di hadapanku ini Gundak. Kuperhatikan sesaat. Benar! Ini bukan hantu Gundak atau makhluk gaib yang mengaku Gundak. Tapi ini Gundak beneran. “Mengapa di sini? Bukankah tadi kamu masih menangis-nangis memanggilku minta diobati?” Ujarku heran. “Puyang Ulu Bukit Selepah baik padaku. Aku diobatinya. Terus dibantu pula oleh nenek Kam. Sembuh! Dari Puyang aku tahu kamu ke perbatasan. Diam-diam aku kemari.” Matanya berbinar-binar bahagia.

Ternyata Gundak ini bandel. Suka kabur sesuka hati. Apa dia tidak tahu bahaya di rimba? Apalagi Gundak tidak sepenuhnya punya bekal untuk membela diri?. Akhirnya Gundak bergabung dengan kami dia kusuruh duduk di kaki kiri paman Rakasa. Sedangkan aku di kaki kanannya. Angin membantu mengangkat kami bertiga. Rupanya Gundak takut ketinggian. Baru sebatas ujung pohon dirinya sudah gemetaran. Akhirnya aku keluarkan selendang pemberian buyutnya, kubentang dan kami duduk bertiga. Matahari sudah semakin tinggi. Teriknya sudah mulai menyengat di kulit. Sesekali aku menatap ke bawah, menikmati hutan, kebun, sawah, sungai, dan bukit yang berundak-undak seperti lukisan. Gundak nampak tersenyum bahagia. Ini pengalaman pertama baginya berada di angkasa seperti burung. Aku sengaja meminta angin sedang. Agar Gundak merasa puas. Tapi tak urung muncul rasa khawatiranku. Bagaimana kalau Gundak selalu minta jalan-jalan dengan bantuan angin ini. Benar saja belum selesai aku berpikir Gundak berbicara. “Selasih, kapan-kapan ajak aku keliling Besemah dengan selendangmu ya.” Ujarnya antusias. “Iya…lalu aku jatuhkan kamu di Ulu Bukit Selepah..” Ujarku sambil tertawa. Gundak hanya tersenyum sambil menikmati angin yang mengelus wajah dan rambutnya yang panjang.

Ketika sampai di pondok nek Kam, aku kembali melipat selendang dan melilitkannya kembali ke leher. Paman Raksasa mohon diri untuk segera kembali ke lereng Merapi belakang gunung Dempu. Aku mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Kutitip salam untuk puyangku di sana. Dalam hati, aku ingin juga ke sana. Kapanlah aku diajak dan diizinkan kakek Pekik Nyaring menginjak tanah leluhurku. Sekejap saja, paman Raksasa menghilang. Aku menarik nafas panjang. Sekarang tinggal Gundak. Celingak-celinguk tidak berniat pulang. “Kamu nggak pulang, Gundak? Bagaimana kalau kamu dicari?” Ujarku masih berdiri. “Siapa yang nyari? Nanti juga mereka tahu aku di sini. Mana nenek Kam?” Ujarnya langsung naik pondok. Di dorongnya pintu dan langsung masuk. “Nenek Kam kemana, Selasih? Apa beliau masih di Ulu ya” tanya Gundak dari jendela. Aku hanya mengangkat bahu. Masih berdiri di halaman pondok, aku mencoba berinteraksi dengan Puyang Pekik Nyaring. Kusampaikan tugasku telah selesai. Dan paman Raksasa telah pulang. Puyang Pekik Nyaring menjawab penuh suka cita. Selanjutnya beliau meminta agar aku tetap waspada dan hati-hati. Aku mengiyakan. Bagaimanapun Puyangku lebih peka terhadap apa yang akan terjadi dibandingkan aku.

Baru saja aku naik tangga. Aku mendengar suara gemuruh mirip seperti bukit longsor. Aku berhenti sejenak dan mencoba memusatkan pikiran mendeteksi sumber suara. Hilang! Aku kembali naik dan duduk di garang. Gundak ada di dalam pondok. Entah apa yang dilakukannya. Aku lebih memilih di luar menunggu nenek Kam pulang dan Macam Kumbang. Tak lama Gundak ikut ke luar dan duduk di jenjang tangga. Aku kembali mendengar suara gemuruh. Kembali kupusatkan panca inderaku. “Gundak, kamu mendengar suara gemuruh tidak?” Ujarku. Gundak hanya menggeleng. Sementara aku mendengarnya semakin dekat. Akhirnya aku bersiap-siap dengan berbagai kemungkinan. Aku mencoba membaca siapa yang datang. Dari jauh aku melihat tiga nenek gunung turun bukit. Dan mereka menuju kemari. Tak lama berselang, benar saja. Tiga nenek gunung berukuran besar ke luar dari sela-sela pohon kopi berjalan merunduk menuju halaman pondok. Melihat kehadiran tiga nenek gunung itu, Gundak marah. “Mengapa kalian kemari? Siapa suruh kalian kemari. Aku tidak mau selalu dikawal. Aku ingin pergi sendiri. Pulanglah!” Ujar Gundak setengah marah. Tiga nenek gunung hanya menunduk diam di tanah. Aku memerhatikan adegan ini dengan seksama. Tiga nenek gunung ini adalah pengawal Gundak. Tapi Gundak tidak mau diikuti oleh mereka. Gundak ingin bebas. “Kami disuruh mendampingimu, Gundak. Kami tidak berani pulang kalau tidak bersamamu.” Ujar nenek gunung yang lebih tua. Gundak menghentak-hentakan kaki tanda tidak setuju. Aku hanya senyum-senyum melihat tingkahnya. Ternyata di alam sana ada juga anak yang kolokan seperti Gundak. Lelaki beranjak remaja, ganteng, dan dimanja. Wajahnya bertekuk kecewa. Sesekali melihat padaku. Aku hanya senyum-senyum melihatnya sewot tapi tidak ada tempat untuk melampiaskan emosinya.

Akhirnya untuk menghibur Gundak, kuajak dia ke pinggir kebun untuk memetik buah sali. Wajah Gundak berubah gembira. Tiga nenek gunung pengawalnya, dia larang ikut. Mereka disuruhnya untuk tetap diam di tempat. Mendengar itu aku protes. Gundak harus belajar bagaimana bersosialisasi yang baik. “Kita tidak boleh semena-mena Gundak. kamu tidak boleh melarang mereka ikut kita. Mereka sudah jauh-jauh turun bukit disuruh mendampingimu. Menjagamu. Hargai mereka” Ucapku. Gundak bersikeras tidak mau diikuti tiga nenek gunung pengawalnya. “Kan ada kamu yg bisa menjaga aku Selasih.” Ujar Gundak. Akhirnya kujelaskan, bukan perihal bisa mejaga atau tidak. Tapi hargai dan beri mereka kesempatan untuk menjalankan amanah sesuai dengan tugasnya. Akhirnya Gundak patuh dengan apa yang kusampaikan. Rupanya badan saja besar. Tapi etika dan kepekaan sangat kurang. “Sekarang, bicaralah dengan Bapakmu. Sampaikan pada beliau bahwa kamu ada bersama Selasih di pondok nek Kam, bersama tiga pengawalmu. Saat ini diajak Selasih memetik buah sali.” Ujarku mengajari.

Wajah Gandak langsung berubah. “Nanti aku dilarang dan disuruh pulang. Tidak jadi ngambil sali…” Ujarnya ragu. Kembali aku menyakinkan. Jangan pernah berprasangka buruk, apalagi sesuatu yang belum dicoba tapi telah menyimpulkan seakan-akan sudah pasti. “Meskipun orang tuamu tahu keberadaanmu, tapi tak ada salahnya minta izin dan memberitahu agar mereka merasa punya anak dan dihargai sebagai orang tua” ujarku. Sekali lagi Gundak mematuhi. Kulihat dia bersedekap lalu berkata-kata yang tak kupaham apa maknanya. Tak lama dia buka matanya dan bangkit dengan wajah ceria. Akhirnya kami pergi. Sementara nek Kam dan Macam Kumbang tidak kuketahui keberadaannya. Matahari telah lewat di atas kepala. Bayangan tubuh sudah mengarah ke timur. Kami menyisir sela-sela pohon kopi. Kadang harus menunduk, berbelok, sesuai bentuk ranting kopi yang mengembang. Tiga nenek gunung di belakang kami nampak ikut gembira. Ekspresi Gundak sudah tidak marah lagi. “Hmmm….ada bau nenek gunung di sini.” Ujar Gundak. Daun hidungnya mengemang-ngembang. “Sisa baunya aja tu..kemarin mereka bekerja memetik kopi dan merumput.” Ujarku. Gundak mengangguk kecil.

Kami melanjutkan kembali perjalanan. Tak lama berselang, kami sampai si pinggir kebun. Buah sali semakin ranum. Warna ungu tua dan mengkilap membuat aku menelan ludah. Melihat itu Gundak langsung mengembangkan kaki hendak naik. “Hei…hei..tunggu! Jangan naik dulu. Nggak sopan. Di pohon ini ada raja semut keghengge. Minta izinlah dulu!” Ujarku. Lagi-lagi gundak bingung. Baru saja aku berbicara seperti itu, benar saja muncul ratu semut menyapaku. Dan mengizinkan kami naik setelah pasukannya mengamankan diri terlebih dahulu. Aku melihat keghengge tergesah-gesah masuk ke sarangnya. Tidak berapa lama, tidak satupun keghengge yang berjalan di pohon, ranting, dan daun. Akhirnya dengan bebas aku dan Gundak mengambil sali dan memilih yang besar-besar. Gundak kularang makan sali di atas pohon. Beberapa kali aku melihat Gundak menelan ludah. Jakunnya yang mulai tumbuh turun naik. “Kapan kita boleh makan buah sali ini, Selasih? Ternyata banyak sekali pantangan ya ikut kamu.” Ujarnya. Aku tersenyum menanggapi perkataan Gundak. Menurutku, justru kehidupan di alamnya paling banyak yang harus dipatuhi. Kehidupan sarat etika. Semua akfivitas penuh adab. Mengapa Gundak heran? Justru aku yang heran kalau Gundak tidak tahu. “Gundak mana punya perhatian soal adab, Selasih. Dia suka melawan arus..” Selasih setengah berbisik. Aku tersenyum. “Diamlah kau, biar aku yang akan mengajarinya. Bila perlu kuhajar dia.” Ujarku sambil masih memetik buah sali.

Tiga nenek gunung di bawah pohon seperti prajurit duduk berbaris. Sesekali lidahnya keluar-keluar merasakan nikmatnya buah sali yang kulempar pada mereka. Setelah kurasakan cukup aku mengajak Gundak turun. Tapi rupanya dia belum mau. Kujelaskan, kalau kita kelamaan kasihan para keghengge. Mereka harus mencari makan untuk anak-anak mereka. Baru Gundak mau turun. Benar saja ketika kami turun pasukan semut keghengge ke luar serentak. Aku pamit dengan ratu keghengge. Kami rencana kembali ke pondok nek Kam. Tiba-tiba salah satu nenek gunung berlari kencang ke hilir. Aku heran! Tanpa babibu aku langsung mengejarnya. Rasa ingin tahu membuat aku lari lebih kencang darinya. “Mau kemana sanak?” Ujarku mengimbangi larinya. “Aku mendengar sepupuku minta tolong di lembah itu. Sepertinya ada sesuatu yang tidak beres.” Ujarnya. Aku langsung membaca mantra anginku agar segera sampai pada lokasi yang dimaksud. Dalam waktu singkat, aku telah sampai. Ternyata ada enam anjing hutan sedang menggigit nenek gunung. Nenek gunung itu tidak berdaya. Dia sudah kehabisan tenanga. Kaki kirinya luka robek Dia berusaha berguling-guling, namun karena yang mengeroyok banyak tidak memberikan perlindungan yang berarti.

Hiiiiiiat!! kugempur mereka dengan badai angin. Seketika anjing-anjing hutan itu terjerengkang cukup jauh. Suara mereka ramai mengisi lembah. Di antara mereka ada yang tidak bisa bangkit lagi. Terluka atau mati. Aku mendekati nenek gunung segera. Langsung kutempelkan tanganku. Kutansfer energi untuknya. Luka-lukanya kuobati segera apa adanya. Kulihat tiga di antara enam anjing hutan ini menyeringai padaku. Menampakkan taring-taring mereka yang tajam. Sinar mata mereka nampak buas. Tapi aku lebih tertarik dengan sosok yang berdiri di pojok. Dalam hati aku bertanya siapa makhluk itu? Kepalanya anjing, tubuhnya manusia? Apakah anjing-anjing liar ini miliknya? “Heiii kutu anjing!! Berani sekali kau melukai anak-anakku! Siapa kau ha! Berani sekali menghalangi anakku tanggerang berburu. Kau bangsa manusia, berani mencampuri urusanku? Artinya berani mati!” Ujarnya marah. Aku balik menatapnya tajam. Kumunculkan taring dan wajah nenek gunung sejenak. Melihat aku, wajahnya jadi sedikit berubah. Dia mundur selangkah. “Jika kau mengganggu para nenek gunung, maka akan berhadapan denganku. Anak-anakmu telah melukai saudaraku. Maka mereka harus bertanggunjawab!” Ujarku tak kalah gertak. Anak-anaknya satu persatu mundur melihat aku maju. Diseretnya saudaranya yang terluka gara-gara hentakanku.

Tak lama Gundak dan kawan-kawannya tiba. Suara menggeram marah nampak dari ekspresi mereka. Kuperhatikan siluman anjing ini mulai membuka jurus untuk menyerangku. Cakar-cakarnya mulai merekah. Matanya berkilat. Kucoba membaca di mana letak kelebihan makhluk satu ini. Oh, ternyata dia hebat dalam mencakar dan mencabik. Tak jauh besar dengan nenek gunung rupanya. Sreeeet!! Selendang kutarik dari leher. Aku mulai siap-siap mengarahkannya pada lelaki berkepala anjing ini. “Kasihan sekali kalau kau harus mati di tanganku kutu anjing!” Ujarnya memancing amarahku.

Aku tidak peduli. Aku hanya fokus pada gerakannya. Siluman anjing mulai merunduk siap menerkam aku. Ketika tubuhnya melayang secepat kilat kupukul dengan ujung selendang. Suara nyaring seperti petir terdengar sepanjang lemba. Karena siang, percikan apinya tidak terlihat. Ternyata siluman anjing ini memiliki kemampuan juga. Dengan mudah dia menghindari pukulanku, siluman itu melentingkan tubuh ke atas. Sebelum tubuhnya turun kuarahkan lagi pukulanku. Kali ini kuiiringi dengan angin badai. Aku tak beri kesempatan padanya untuk membuka penyerangan baru. Akhirnya dia hanya bisa mengelak mencoba bertahan dari pukulanku. Dusstt!!!! Ujung selendangku mengenai bagian perutnya yang terbuka. Siluman melengking panjang menahan sakit. Tubuhnya meluncur ke bumi dan mengeluarkan suara seperti batu jatuh dari bukit. Sejenak siluman itu diam tak bergerak. Namun tak lama kemudian dia bangkit lagi dan berdiri. Dalam hati aku kagum juga dengan makhluk ini. Seperti punya nyawa serep saja. Tiba-tiba dia angkat kepalanya ke atas, moncongnya medongak lalu melengking panjang sekali. Suaranya menggema serem mengisi lemba dan bergema. Siang hari saja begini seremnya, apalagi jika malam hari. Siapapun yang mendengarnya pasti akan bergidik.

Aku mencoba menahan kekuatan energinya. Gundak dan nenek gunung lainnya kuberikan perisai untuk mereka menolak kekuatan energi yang dikeluarkan makhluk berkepala anjing ini. Kalau tidak, bisa pecah gendang tiliga mereka. Tiba-tiba aku melihat makhluk ini mengembangkan tangan ke atas. Dia ambil energi matahari. Bara api mulai mendekat ke telapak tangannya yang mekar. Aku segera mengeluarkan bola es meski tidak terlalu maksimal. Paling tidak untuk mengimbangi apinya cukuplah. Setengah main-main kulempar bola es dan tepat mengenai apinya. Tiba-tiba dia menjerit karena apinya berubah beku. Aku senyum sendiri melihat ketakutannya. Siluman anjing memutar tubuh lalu meraih ke enam anaknya. Kemudian menghilang. Siluman itu kabur. Kuhalangi nenek gunung yang berniat mengejarnya. “Biarkan dia pergi. Dia dan anaknya sudah terluka. Mari kita bawa keponakanmu itu ke pondok nenek Kam. Akhirnya kami berjalan menuju pondok, sementara nenek gunung yang terluka berada di punggung nenek gunung yang bertubuh tinggi besar. Dari obrolan sepanjang jalan kuketahui namanya Gali, lelaki kira-kira berusia empat belas tahun berperawakan sedang, kekar, bebulu tebal, dominan warna hitam. Menurutnya dia kebetulan melintas di lembah itu tahu-tahu telah dikepung anjing hutan dan tak sempat untuk melawan apalagi melarikan diri. Aku melihat beberapa bagian tubuhnya robek dan luka dalam. Tapi tak separah luka yang pernah dialami Gundak. Gundak berjalan pelan di belakangku. Dari tadi dia hanya diam saja. Selintas mereka berdua seperti sebaya. Bedanya Gundak berperawakan sedang, jika sedang menjadi nenek gunung, bulunya lebih dominan warna kuning tua dan panjang. Dalam tubuhnya ada jiwa petualang. Hanya saja karena dia anak semata wayang, orang tuanya sangat menyayanginya. Oleh karena itulah Gundak selalu tidak diizinkan pergi sendiri. Bapaknya memberikan. tiga pengawal padanya. Sambil berjalan, aku mengambil beberapa lembaran daun liar yang tumbuh di semak-semak. “Untuk apa daun-daun itu, Selasih?” Gundak bertanya. Kujawab untuk obat Gali agar cepat sehat. Gundak menampakan wajah tidak sukanya. Aku jadi heran. Mengapa dia tidak suka? Padahal tidak merepotkan dia? Lagi pula apa salahnya menolong sesama? Bukankah dirinya bisa berjalan bersamaku karena pernah ditolong nenek Kam? Kalau tidak mungkin dia sudah mati. Akhirnya aku tidak mempedulikannya. Rasa simpatiku hilang. Aku benci caranya menolong pakai takaran. Apalagi menampakan wajah tidak senang. Gundak seperti kacang lupa kulit.

Sesampai di pondok rupanya nenek Kam sudah pulang. Beliau heran aku membawa pasien untuknya. Sekilas aku ceritakan sembari memberikan daun-daun yang kuambil. Nenek Kam langsung menangani Gali. Sementara aku, beliau minta untuk menyatukan kembali kulit Gali yang koyak. Aku segera melakukan perintah nenek Kam. Pelan-pelan kulitnya yang terkoyak menyatu. Lalu kutambahkan tenanga dalam agar lukanya benar-benar menyatu. Sementara lukanya yang dalam dibersihkan nenek Kam dengan ramuan daun yang kubawa. Yang lain hanya mengamati sambil sesekali mengelus Gali. Gundak duduk. bersandar di pojok sendiri. Sejak tidak kupedulikan gegara aku mengambil daun-daun obat, suara ramainya hilang. Buah sali hasil petikan kami hanya dimain-mainkannya setengah lesu. Tidak ada gairah untuk memakannya. Padahal tadi nampaknya dia nafsu sekali ingin memakannya bahkan ketika masih di atas pohon beberapa kali menelan ludah. Tak lama berselang dia ke luar. Kukira akan duduk di garang. Tenyata tidak. Gundak turun dan pergi. Sempat juga kusapa mau kemana? Dari jauh dia menjawab mau pulang. Aku Mengamit temannya agar segera menyusul Gundak. Biarlah Gali tinggal di sini. Nenek Kam sependapat denganku. Akhirnya tiga nenek gunung pengawal Gundak menyusul pulang. Derap kaki mereka terdengar makin jauh.

“Assalamualaikum…Nek Kam…Nek..” Suara Mang Sainal dari bawah menaiki anak tangga. Nenek Kam langsung mengusap wajah dan tubuhku. Juga wajah dan tubuh Gali. Selebihnya aku dan Gali disuruhnya diam. “Waalaikum salam, naiklah Sainal. Ngantarkah Dedek, au?” jawab nek Kam. Gali memandang padaku. Dia juga heran barangkali melihat ada nenek gunung menyerupai aku. Aku hanya senyum-senyum memandangnya. “Iya Nek, disuruh Ibunya ngantar Dedek. Malam ini mereka ke Mentralam. Dan ini titipan endunge (ibunya) gulai kalang dalam ghuas.” Lanjut mang Sainal. Perempuan yang mirip denganku langsung duduk dekat nenek Kam. Setelah kuamati, ternyata dia perempuan tua yang mengubah diri seperti aku. Untung Mang Sainal tidak lama. Alasannya takut kesorean sampai di kebun. Takut ketemu kawan Nek Kam di jalan. Maksudnya takut ketemu nenek gunung. Nek Kam tertawa cekikikan menatap sahabatnya, nenek Sulijah. Selama ini nek Kam tidak pernah bercerita tentang nenek gunung satu ini. Rupanya beliau teman nek Kam di dusun Ulu makan sirih dan bercerita.

“Terimakasih, Sulijah. kamu sudah membantuku. Bagaimana rasanya menjadi Dedek? Enak kan? Dimanja sama Ibunya.” Tanya nenek Kam. “Ah, tidak! Capek. Serba tidak boleh. Kalau menasehati sekalian pula marah-marah. Merepet nggak berhenti-henti. Untung kamu yang minta tolong Relingin. Kalau orang lain sudah kutinggalkan.” Ujar nenek Sulijah. Petang itu pondok nenek penuh dengan tawa. Banyak hal lucu yang diceritakan nenek Sulijah. Ternyata nenek Sulijah ini kocak sekali. Gali tak luput kena godaannya. “Hei Gali, lihat kami berdua. Pandanglah dari kacamatamu sebagai seorang lelaki. Kira-kira kalau kamu harus memilih, siapa di antara kami berdua ini yang akan kau pilih? Aku atau Relingin?” Ujarnya membuat wajah Gali merah padam karena malu. Sementara aku terpingkal-pingkal mendengar itu. Nenek Sulijah ada-ada saja. Langit makin gelap. Satwa pengantar petang sudah mulai senyap. Hanya burung taktaraw yang berteriak memberi pertanda jika jelang magrib tiba. Aku ikut bergegas wudu di pancuran. Di timur pertanda bulan akan terbit malam ini meski bulatnya belum sempurna.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *