Terjebak di Negara Amerika Latin, Argentina Saat Pandemi Corona

Editor: Dini Kusmana Massabuau

Catatan Olivia Purba

Bagaimana rasanya pada saat traveling ke luar negeri, namun malah terjebak dan tidak bisa kembali lagi ke Tanah Air? Inilah yang saat ini saya alami. Rencana saya untuk liburan di Argentina selama 3 minggu berubah menjadi karantina 2 bulan.

Saat artikel ini di tulis, saya sedang berada di Argentina dalam misi keliling dunia selama 6 bulan sambil memperkenalkan budaya Indonesia. Saya memulai perjalanan saya di Eropa selama 2 bulan sebelum pindah ke Maroko, Afrika dan akhirnya ke Amerika Selatan. Pada saat saya tiba di Amerika Selatan tepatnya Brazil dan kemudian pindah ke Argentina di bulan Februari 2020, virus Corona atau COVID 19 belum sampai ke benua ini. Situasi global dunia bahkan belum separah saat ini. Perbatasan masih dibuka karena pada awal tahun 2020 virus Corona masih berkonsentrasi di Cina dan Asia Timur.

Saya berada di Buenos Aires

Ketika ditemukan kasus postif Corona pertama di Argentina pada tanggal 6 Maret 2020, pemerintah Argentina langsung bertindak tegas dengan membatalkan semua penerbangan masuk dan keluar. Saat WHO (World Health Organisation) akhirnya mendeklrasikan status Corona sebagai pandemik pada tanggal 11 Maret 2020, Pemerintah Argentina pun langsung tegas mengeluarkan kebijakan karantina total untuk pecegahan penyebaran virus Corona efektif per 20 Maret 2020. Alasan sikap tanggap Pemerintah Argentina didasari pada fakta, bahwa layanan kesehatan di Argentina tidak mampu menangani pasien virus corona dalam skala besar sehingga mereka berusaha mencegah penyebaran kasus Corona secara meluas.

Tindak lanjutnya pun sangat tegas, polisi beredar di jalanan dan mengintograsi masyarakat yang tidak punya alasan jelas untuk ke luar rumah. Penduduk yang hendak berpergian lebih dari 1 km dari tempat tinggalnya wajib membawa kartu identitas dan surat pernyataan yang menegaskan alasan jelas kenapa mereka berada di luar. Bagi mereka yang melanggar peraturan akan didenda. Hanya jurnalis, profesional bidang kesehatan, dan masyarakat yang bekerja di industry esensial seperti makanan dan farmasi yang dapat bekerja.

Suasana ibu kota Argentina, Buenos Aires semenjak diberlakukannya sangat sepi. Hanya ada beberapa penduduk yang keliling dengan tas belanja karena masyarakat diizikan untuk keluar hanya untuk kebutuhan mendasar seperti belanja kebutuhan sehari hari dan obat-obatan. Selain itu dibatasi jumlah maksimal orang untuk masuk satu toko. Misalnya, di toko farmasi 24 jam dekat rumah maksimal adalah 10 orang dalam satu gedung dan di toko kelontong kecil adalah 4 orang. Satu keluarga hanya boleh ke luar satu orang untuk ke luar belanja sehari-hari. Jarak antrian satu dengan yang lain adalah satu meter.

Selain di larang untuk ke luar, toko-toko juga ditutup termasuk restoran dan bar. Hanya sedikit restoran yang beroperasi dan sebagian besar hanya melayani takeaway. Sehari sebelum karanina total, masyarakat mengantri di supermarket untuk membeli barang kebutuhan sehari-hari. Untungnya antriannya sangat rapi dan tertib. Tidak ada ‘panic buying’ besar-besaran dan stok kebutuhan mendasar selalu dipastikan tersedia. Saya salut sama masyarakat Argentina yang taat peraturan dan selalu menjaga jarak pada saat antri.

Jalanan menjadi sangat sepi

Ketika pemerintah mengumumkan per tanggal 15 April untuk wajib menggunakan masker, implementasinya berjalan mulus. Saya tidak melihat satupun orang di jalanan yang ke luar tanpa masker, meskipun hanya berupa selembar kain yang diikatkan di mulut. Yang terlihat melanggar akan di denda.

Masa karantina “pencegahan dan wajib”, yang diumumkan langsung oleh Presiden Argentina Alberto Fernandez di televisi, pada awalnya ditetapkan hingga 31 Maret. Namun, mengingat angka korban pasien Corona semakin hari semakin bertambah, Presiden Fernandez akhirnya memutuskan untuk memperpanjang kebijakan tersebut hingga tanggal 12 April dan kemudian di perpanjang setiap 2 minggunya dengan mengevaluasi hasil, yakni hingga 26 April, 10 Mei, 24 Mei dan terkahir hingga 7 Juni. Masa karantina ini akan terus di perpanjang apabila jumlah korban Corona positif masih terus bertambah.

Rencana saya untuk liburan di Argentina selama 3 minggu berubah menjadi karantina 2 bulan. Permasalahannya tidak ada pesawat penerbangan carteran kembali ke Indonesia karena memang tidak banyak warga negara Indonesia yang berada di Argentina. Sementara warga negara lain seperti paspor Unieropa, Amerika Serikat dan Australia punya pilihan penerbangan carteran yang disediakan oleh pemerintahnya, meskipun harganya tidak murah.

Begitu mendengar kabar penutupan perbatasan, saya berinisiatif menghubungi KBRI untuk melapor diri. Untungnya pihak Kedutaan Indonesia di Argentina sangat perhatian terhadap warga negaranya, bahkan memiliki staf khusus yang didedikasikan untuk berkomunikasi mengenai situasi COVID. Staf kedutaan menemani saya mengambil uang di bank, membantu pindah akomodasi untuk sewa jangka panjang, mengadakan briefing dengan Ibu Dubes secara online dan memberikan kebutuhan mendasar sehari hari seperti beras, sayur, kecap dan saus dan bumbu ala Indonesia yang saya kangenin. Yang paling berkesan adalah ketika Duta Besar Indonesia di Argentian, Bu Niniek Kun Naryatie, datang sendiri ke tempat tinggal saya untuk sementara selama saya terkebak di Argentina ini, beliau datang untuk membagikan bingkisan lebaran yakni lontong sayur,ayam, telur, dan kue kering, khas Indonesia. Kangen saya akan makanan Indonesia terobati untuk sementara.

Bersama Ibu Dubes Niniek Kun Naryatie

Di sisi lain, Pemerintah Argentina memberikan kelonggaran perpanjangan visa secara gratis selama 30 hari dari masa kadarluarsa mengingat situasi yang tidak kondusif bagi warga negara asing seperti saya untuk kembali ke negara masing-masing.

Sebelumnya pihak KBRI di Buenos Aires mengirimkan saya bumbu nasi goreng, sambal ati, rendang, santan, dan saus pedas karena mereka tau saya kangen masakan Indonesia. Padahal bumbu-bumbu tersebut susah sekali di dapat di benua Amerika Latin. Setiap hari saya meningkatkan keterampilan saya dengan memasak hidangan yang lebih sulit dari yang saya masak sebelumnya. Ternyata ada hikmahnya juga di balik pandemik ini, saya menemukan hobi baru, memasak. Dan yang ada saya malah jadi keterusan suka masak sampai bisa membuat berbagai macam kue.

Saya mencoba tetap aktif selama karantina dengan mengupdate blog traveling saya, menulis draft buku baru, olahraga plus yoga di rumah dan rajin memasak. Kegiatan tersebut membantu saya untuk menjadi lebih baik dan tetap kreatif/produktif selama masa karantina Covid di Argentina hingga perbatasan di buka kembali dan penerbangan kembali ke Indonesia tersedia.

Dengan situasi sekarang, saya semakin yakin bahwa manusia bisa berencana namun namun Tuhan yang menentukan. Saya sudah merencanakan perjalanan ini dari tahun lalu secara detail termaksud booking semua pesawat, penginapan dan menentukan rute perjalanan. Siapa yang sangka bahwa pandemik akan muncul tepat di saat saya sedang berperjalanan.

Akibatnya semua bookingan saya di batalkan dan saya terjebak di negara yang saya tidak tau bahasanya dan tidak kenal siapapun. Namun saya memilih untuk tidak stres dan menggunakan waktu yang diberikan sekarang untuk berkreasi dan menjadi produktif karena saya yakin selalu ada rencana baik di balik semua kejadian yang kita alami.

Olivia Purba (lahir di Berastagi) adalah seorang travel addict yang sudah keliling ke 52 negara di 6 benua. Pengalaman travelingnya sudah dibukukan di buku “Traveling Aja Dulu: Jalan-jalan Gratis ke 35 negara” (Gramedia). Ia juga penulis buku “Daily Routines To Be A Happy Person” (Divapress). Ikuti update perjalanannya www.travelingajadulu.com 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *