HARIMAU SUMATERA HEWAN BERADAT IV (63B)

Karya RD. Kedum

Tanpa pikir panjang, melihat aku berhenti, si nenek asal duduk saja di tanah. Melihat beliau duduk, aku buru-buru jongkok.
“Hmmm..kalau melihat wajahmu, kamu sedang risau. Tapi anak muda memang terlalu banyak masalah. Apalagi belum menikah seperti kamu.” Ujarnya kembali tertawa. Aku hanya membalasnya dengan senyum.

Hal ini tidak terlalu penting untukku. Yang penting adalah siapa nenek ini sebenarnya. Aku ingin tahu.
“Nenek siapa? Mengapa nenek sendiri di tempat sepi ini?” Ujarku rada lugu. Lagi-lagi beliau tertawa memperlihatkan gigi hitamnya.
“Kamu jangan pura-pura. Sepi itu terlihat kalau di alam manusia. Kamu sednag berada di alam kami, justru akulah yang patut bertanya berani sekali bangsa manusia sepertimu datang ke mari. Sendiri lagi. Apa kamu tidak takut digoda oleh makhluk-makhluk gunung? Soalnya banyak juga bangsa kami yang lajang dan hidung belang. Kalau kamu mereka gendam, pelet, kamu bakal lupa dengan pacarmu dan lupa pula dengan diri sendiri,” lanjutnya lagi sambil menunjuk ke arahku. Aku kaget melihat kukunya. Panjang sekali. Bahkan kuku itu melengkung hitam. Mengerikan. Mengapa si nenek tidak menyamar jadi putri yang cantik saja seperti sinar matanya yang bening itu. Aku membatin.

“Sini lihat telapak tanganmu. Siapa namamu.” Ujarnya lagi. Aku mendekat padanya. Wajahnya kembali tertutup rambutnya yang tergerai. Kaki kanannya yang berlipat melebihi bahunya. Kuulurkan tanganku sembari kutiupkan kabut agar beliau tidak bisa membaca garis tangan. Aku hanya menyebutkan namaku, Putri Selasih. Matanya tiba-tiba membelalak menatapku. Entah apa yang membuatnya membelalak. Aku tetap menampakan ekspresi biasa saja.
“Mengapa kamu tutup telapak tanganmu, Putri Selasih! Kamu tidak suka saya lihat telapak tanganmu?” Tanyanya tajam. Aku menjawabnya dengan senyum. Tentu saja tidak semudah itu aku mau dibaca tentang garis tanganku. Biarlah aku menjalani takdirku tanpa campur tangan siapa-siapa dan apa adanya. Apalagi di telapak tanganku ada mustika biru kakek Andun. Aku khawatir benda itu mencuat menampakkan sinarnya. Nanti aku malah dibilang sombong, menantangnya. Kan berabe.
“Kamu mau coba-coba denganku? Rupanya kecil-kecil kamu berisi juga. Makanya berani melangkahkan kaki ke sini?!” Bentaknya.

Aku segera minta maaf. Aku jelaskan, aku bukan siapa-siapa. Aku tidak punya apa-apa. Aku berusaha menanggapinya dengan datar meski terlihat ekspresinya masih marah.
“Nama nenek siapa? Bagaimana aku hendak menjelaskan jika ada yang bertanya bahwa aku bersua dengan seorang nenek yang hebat, berambut panjang, berbaju serba hitam, berkuku panjang juga, berdiam di perut gunung Bungkuk?” Ujarku berusaha untuk tidak menyinggungnya.
“Iya, nenek sudah tua, keriput, bongkok, dan bergigi hitam,” lanjutnya lagi. Mendengar kalimat terakhir ini nyaris tawaku meledak jika tidak melihat sinar tajam matanya menatapku. Si nenek membuang muka. Aku kembali melihat punggungnya. Melihat beliau seperti tidak terima, akhirnya aku minta maaf lagi, dan mohon diri untuk melanjutkan perjalanan. Lama aku menunggu jawabannya, tapi meski sudah berulang-ulang si nenek tetap diam.

Akhirnya aku berinisiatip meninggalkan si Nenek. Aku kembali menikmati jalan yang dilalui manusia. Kuabaikan keindahan-keindahan yang memukau di dimensi lain itu. Biarlah lain kali saja. Suatu saat aku ingin berjalan di jalan para lelembut kerajaan gunung Bungkuk itu.
“Hei! Tidak sopan!” Suara si nenek kembali membentakku. Aku kembali berhenti lalu membalikkan badan menatapnya. Posisi si nenek masih seperti tadi. Diam dan membelakangi. Aku mencoba melihat ke arah pandangnya. Apa ada yang menarik di sana? Tidak ada. Aku hanya melihat semak belukar berumput kecil menjuntai hingga disisi tebing.
“Nenek, mohon maaf. Saya minta izin untuk melanjutkan perjalanan. Saya mau bertemu Putri Bulan. Saya sengaja melalui jalan ini, karena saya ingin tahu medan untuk sampai ke puncak. Sekali lagi mohon maaf jika saya kurang sopan.” Ujarku lagi. Kutunggu kembali beberapa saat. Tapi lagi-lagi si nenek tidak menjawab. Apalagi memutar badan menatapku. Akhirnya kembali aku melangkah. Kali ini kupercepat meminta bantuan angin. Dalam sekejab aku meluncur ke atas. Kira-kira sudah tidak terlihat lagi oleh Si Nenek, aku kembali berjalan pelan. Baru beberapa langkah, di hadapanku Si Nenek sudah berdiri lagi dalam posisi menyamping. Wajahnya kembali tidak terlihat. Tertutup rambutnya yang panjang.

Melihat sosok beliau sudah di atas mendahuluiku, aku mulai merasa tidak nyaman. Aku mulai membaca apa maunya nenek tua ini. Tiba-tiba beliau ada di hadapanku, tidak membuatku heran. Dari awal aku sudah memperkirakan beliau bukan makhluk biasa-biasa saja. Tapi dengan menghadang jalanku, Si Nenek sedang mencari masalah padaku.
“Mohon maaf, Nek. Sekali lagi maafkan saya. Bukan saya lancang. Tapi saya minta izin untuk melanjutkan perjalanan. Saya hendak bertemu dengan Putri Bulan,” aku kembali menangkupkan ke dua tangan memberi hormat pada orang tua ini. Seperti sebelumnya, aku tidak mendapatkan jawaban. Akhirnya aku tetap berjalan ke arahnya, lalu berusaha melintas di sampingnya. Melihat aku masih hendak lewat beliau mundur, sehingga jalan yang akan kulalui tertutup tubuhnya. Aku menggeser ke kanan, beliau maju menghadang. Nyaris aku menabrak tubuh ringkihnya. Pahamlah aku beliau tidak menginginkan aku melanjutkan perjalanan. Akhirnya tanpa bicara, aku meluncur turun. Kukerahkan angin untuk membawaku kembali ke lembah. Dalam waktu singkat aku sudah berada kembali di tempat ketika bertemu dengan sepasang nenek gunung di dekat pintu gerbang. Aku mencari-cari ke duanya. Tidak ada. Akhirnya aku berpikir sejenak, apakah aku tetap naik ke puncak gunung dengan cara meluncur langsung ke puncak, atau lewat jalan lain, jalan hutan di sisi barat? Jalan sesekali dipakai oleh para penjelajah hutan dan pemburu. Atau pulang mengurungkan niatku untuk bertemu Putri Bulan malam ini? Belum sempat aku memutuskan untuk melanjutkan perjalanan atau tidak, tiba-tiba si nenek ada lagi tidak jauh dari tempatku berdiri. Aku mengangkat bahu tidak mengerti. Aku tidak mau berbicara padanya lagi. Sudah cukup! Batinku sudah mulai marah melihat tingkahnya. Aku sudah turun kembali dari perut gunung. Tapi si nenek masih menyusulku. Aku malas berurusan dengannya. Aku segera membaca mantra memanggil angin. Dalam sekejap angin berpusar menggulungku lalu meluncur meninggalkan si nenek sendiri. Aku memutuskan pulang. Aku mencoba melihat ke belakang apakah beliau menyusul atau tidak. Ternyata tidak. Aku menarik nafas lega. Baru saja aku fokus dengan anginku, tiba-tiba di sampingku si nenek juga terbang. Rambutnya meriap-tiap disapu angin. Banju hitamnya pun seperti melekat di tubuhnya yang ringkih. Aku hanya membatin, apa maunya nenek ini. Melihat beliau merapat ke sisiku, aku pacu anginku lebih cepat lagi. Aku arahkan angin ke tempat Eyang Kuda. Sambil membatin kucari keberadaan Eyang Kuda. Semoga beliau sudah selesai mengadakan kajian agama di masjid Jamik malam ini. Tak lama Eyang Kuda memanggilku dan pemberitahu jika beliau sudah kembali ke Sentot. Yaitu ke makam Setot Alibasyah, junjungannya.

“Eyang, aku diikuti nenek-nenek dari gunung Bungkuk.” Ujarku masih membatin. Aku hanya mendengar desah nafas Eyang. Aku segera menuju Sentot. Kulihat Eyang Kuda duduk di sudut ruangan bersama seorang lelaki bertubuh kecil, kurus dan pendek. Selintas seperti anak kecil. Sementara Eyang Kuda seperti biasa tidak lepas dengan blangkonnya. Lelaki di sebelahnya mengenakan baju gamis putih. Duduk bersila sambil memegang tasbih. Tanpa sorban arau peci seperti kiayi pada umumnya. Mataku tertuju pada tongkat di sampingnya. Aku terkejut. Mengapa tongkatnya mirip tongkat nenek yang mengikutiku tadi. Kutatap wajahnya sambil membatin, apa hubungannya nenek gunung Bungkuk dengan kakek teman Eyang ini? Aku mulai bertanya-tanya.
“Kenalkan Datuk Sarik. Ini cucuku Putri Selasih.” Eyang mengenalkan aku. Aku sujud memberikan salam hormat padanya. Datuk Sarik? Aku mengeja namanya dalam hati.
“Aku sudah kenal sejak dulu dengan cucumu ini Eyang. Tapi baru kali ini bisa bertatap muka. Alhamdulilah. Ternyata tidak salah apa yang diceritakan beberapa saudara kita di Utara. Termasuk nenek Halamah yang mengatakan pernah jumpa Selasih. Beliau sangat senang berjumpa dengan Selasih, dan mengakui kalau Selasih berilmu tinggi, lalu disayangi para leluhur nenek gunung Bukit Barisan.” Ujar Datuk Sarik agak berlebihan. Aku hanya menganggukan kepala dan kembali menunduk.
“Kamu darimana Selasih?” tanya Eyang Kuda. Kuceritakan saja usai berinteraksi dengan Eyang pada waktu pengajian tadi, aku berniat ke gunung Bungkuk melalui jalan yang biasa dilalui para pendaki untuk bertemu dengan Putri Bulan. Aku ceritakan juga kalau di jalan aku bertemu dengan sepasang nenek gunung penjaga pintu gerbang gunung Bungkuk. Selanjutnya baru sampai di perut gunung, aku dihadang seorang nenek tua yang sudah bongkok. Tapi tidak tahu namanya, dan beliau menghadang perjalananku gara-gara aku tidak mau memperlihatkan telapak tangan. Ternyata beliau tersinggung. Ketika aku hendak melanjutkan perjalanan selalu beliau halangi. Karena aku enggan berselisih dengan beliau, akhirnya aku meluncur turun. Aku tinggalkan Si Nenek. Ternyata masih saja aku diikuti. Hingga ketika aku mau ke sini beliau merapat ke sisiku. Setelah aku turun kutoleh beliau sudah tidak ada. Entah kemana?” Ceritaku pada Eyang.

Eyang Kuda mengangguk-angguk. Lalu kata Eyang mengapa tidak aku layani saja untuk bertempur dengannya. Aku hanya menjawab, tidak tega karena beliau orang tua. Di samping itu masalah untuk bertempur sangat kecil cuma gara-gara beliau tidak kuizinkan melihat telapak tanganku.
“Mengapa tidak kau lihatkan saja telapak tanganmu? Bukankah beliau berniat baik?” Lanjut Eyang Kuda lagi. Aku katakan saja biasanya jika melihat telapak tangan akan berbicara tentang garis nasib. Tentang takdir seseorang. Kujelaskan jika aku tidak mau dibaca tentang takdir. Aku juga tidak mau diramal tentang nasib dan masa depanku. Sebab ramalan justru akan memunculkan rasa was-was pada diri kita. Aku mau jalani takdirku apa adanya tanpa rekayasa. Seperti aku berjumpa dengan Eyang Kuda, lalu hari ini berjumpa pula dengan Datuk Sarik. Ujarku ikut duduk bersila. Datuk Sarik dan Eyang Kuda tersenyum lebar. Eyang kembali bertanya, apakah aku yakin nenek yang kutemui itu hendak melihat jalan takdirku? Aku terperangah. Eyang benar, nenek itu hanya ingin melihat telapak tanganku. Beliau tidak ada mengatakan hendak meramal nasibku. Aku menyesal. Betapa mudahnya aku mengambil kesimpulan dan mencurigai seseorang, padahal belum tentu apa yang dilakukannya akan berefeks atau memunculkan keburukan pada diri kita. Aku menatap Eyang Kuda sambil menyesali sikapku.

“Selasih, coba kau tatap Datuk Sarik dengan mata batinmu. Apa yang bisa kau lihat pada diri beliau?” Eyang Kuda menatapku. Aku melihat sepenuh jiwa Datuk Sarik. Kebaca dengan mata batinku. Masya Allah! Seketika aku langsung sujud pada beliau. Beliaulah nenek yang kutemui tadi. Sejenak aku bingung, mengapa beliau menyamar jadi perempuan? Datuk satu ini rada aneh.

Eyang kembali bertanya, darimana aku tahu kalau beliaulah yang menyamar jadi nenek-nenek tadi? Aku jelaskan pertama tongkatnya, ke dua mata batinku melihat beliau sengaja menyamar menjadi nenek-nenek untuk mengelabui aku.
“Bukan mengelabui! Tapi ingin melihat sampai dimana ketajaman batinmu. Benar kata kakek Andun, kamu suka abai. Suka meremehkan kemampuan.” Ujar Eyang Kuda memotong pempembicaraanku. Aku langsung memeluk beliau. Eyang Kuda benar sekali, di sinilah kelemahanku. Malas mengolah rasa. Datuk Sarik tertawa terbahak-bahak sambil bercerita pada Eyang Kuda bagaimana beliau tiba-tiba muncul menghadangku berkali-kali dalam sosok perempuan tua. Tidak menjawab ketika aku bertanya dan minta maaf, akhirnya aku dibilang ngambek meluncur turun, kabur dan kukejar. Kata Datuk Sarik sambil tertawa lebar sampai tubuhnya bergoyang-goyang. Nampaknya beliau sangat puas dapat membuatku marah.
“Untung aku masih menghargai Datuk sebagai orang tua, aku masih sabar. Kalau aku tidak sabar, sudah kuhantam Datuk dari atas ketika Datuk maju mundur.” Ujarku ikut tertawa.

Akhirnya kami bertiga ngobrol panjang lebar tentang banyak hal. Datuk Sarik ternyata memang sangat lucu. Bahasa Bengkulunya sangat kental. Beliau bercerita bagaimana dia pernah mengelabui beberapa orang pemburu sekaligus pemikat burung. Ketika mereka mendaki Datuk Sarik mengubah dirinya menjadi burung yang cantik. Burung langka yang vum pernah ada di hutan Bengkulu. Lalu katanya beliau pura-pura jinak. Si pemburu berusaha mendekat hendak menangkap. Aku geser sedikit, ketika pemburu itu hendak menangkap lagi, aku kembali bergeser. Sesekali kubiarkan tangannya tersentuh buluku, ujaranya lagi. Akhirnya pemburu makin penasaran dan terus mengejar. Lama-lama tanpa dia sadari dirinya makin jauh masuk ke dalam hutan larangan. Dia lupa jalan pulang. Akhirnya aku sesatkan dia ke arah hutan menjauhi gunung Bungkuk. Perasaannya masih di gunung Bungkuk padahal dia menjauhi gunung Bungkuk. Sambung Datuk Sarik kembali sambil terkekeh-kekeh.

Ketika kutanya mengapa sampai Datuk iseng seperti itu. Dengan enteng beliau berkata, siapapun yang hatinya tidak bersih akan kubelokan ke jalan pulang. Dia tidak akan kuizinkan naik gunung.
“Jadi aku tadi Datuk hadang karena menurut Datuk hatiku tidak bersih?” Protesku. Beliau buru-buru mejawab, mengatakan jika aku berbeda. Beliau justru ingin mengajarkan sesuatu. Tapi sayang katanya aku terlalu cepat emosi.
“Gara-gara risau karena jatuh cinta, kamu tidak dapat pelajaran dari saya.” Kata Datuk Sarik masih tertawa. Aku juga ikut tertawa. Ternyata beliau jiwa humor yang tinggi. Kocak dan isengnya mirip kakek Njajau.

Datuk Sarik bercerita panjang lebar. Dari ceritanya kuketahui Datuk Sarik adalah salah satu penjaga gunung Bungkuk yang suka marirupa. Beliau sebenarnya petapa di salah satu sudut gunung Bungkuk. Kerap menghalangi orang yang hendak naik. Apa lagi kalau tahu orang tersebut tidak bersih batinnya.
“Akhirnya malam ini aku batal bertemu Putri Bulan gara-gara Datuk Sarik.” Ujarku.
“Percuma juga, Putri Bulan sedang tidak ada di puncak gunung Bungkuk.” Ujar Datuk Sarik. Lalu kutanya kemana Putri Bulan? Mengapa tidak ada di gunung? Aku setengah tidak percaya. Siapa tahu Datuk Sarik sengaja mempermainkan aku lagi. Tak lama Datuk Sarik menggerakkan tangannya seperti membentangkan sesuatu di hadapannya.
“Lihatlah, kau Kenal mereka bukan?” Kata Datuk Sarik. Tiba-tiba aku seperti melihat film yang sedang ditanyang. Aku melihat sosok Putri Bulan bersama Macan Kumbang di suatu tempat. Banyak orang di sana. Tampaknya seperti tempat pesta atau pasar. Jantungku berdegup kencang. Satu sisi aku bahagia Macan Kumbang dan Putri Bulan bisa bersama. Bahkan kerap aku berdoa keduanya bisa sejodoh. Tapi satu sisi aku merasa cemburu karena keduanya sudah tidak perhatian lagi padaku. Mereka pergi berdua saja. Apalagi Macan Kumbang. Tidak ada lagi perhatiannya padaku. Lama aku menatap keduanya dengan perasaan tidak menentu. Kadang rasanya hidup ini tidak adil. Aku ingin seperti mereka. Bisa pergi jalan-jalan, bercerita, menikmati alam dengan orang yang kita cintai. Sementara aku? Aku seperti baru sadar. Hari-hariku selama ini selalu disibukkan dengan urusan makhluk asral, berpetualang di alam gaib dan berkelahi melulu. Lalu kapan aku bisa menikmati hidup normal apa adanya seperti kawan-kawaku yang lain tanpa direpotkan dengan dunia tak kasat mata lagi? Aku berdiri dengan perasan perih. Sementara Datuk Sarik seperti menutup lagi layar yang dibentangnya. Hilanglah bayangan Putri Bulan dan Macan Kumbang.

“Datuk, Eyang, aku ingin pulang ke Besemah. Aku ingin melihat nenekku. Aku rindu.” Ujarku sedikit galau. Tapi ternyata Eyang Kuda melarang.” Kalau hanya sekadar rindu minta bantu Datuk Sarik saja.” Katanya. Tak lama Datuk Sarik kembali mengembangkan tangan seperti tadi. Lalu aku melihat Nenek Kam tengah tidur lelap. Ah, ini kan malam hari bagi kehidupan manusia. Wajar kalau nenek Kam sedang tidur. Aku ingin sekali memeluk dan menyentuhnya. Lama aku menatap nenek Kam. Aku ingin sekali tidur di sampingnya seperti dulu, memeluknya, lalu malam-malam diajaknya masuk ke luar hutan sembari mengajarkan tentang banyak hal padaku. Tidak terasa air mataku meleleh.
“Ternyata cucumu anak tanah Besemah ini cengeng juga, Eyang. Cengeng dan perasa. Bahaya ini. Ini ciri-ciri karakter yang labil” Ujar Datuk Sarik menatap Eyang Kuda. Aku buru-buru menghapus air mata. Aku dibilang Datuk labil? Benarkah? Ah, Datuk seperti tidak pernah muda. Aku kan manusia biasa, dalam kehidupan sebagai manusia banyak hal yang harus kujalani dengan tidak berpura-pura. Satu sisi kehidupan gaib pun menjadi bagian hidupku harus kujalani pula. Menempatkan diri di tengah kehidupan manusia biasa tidak mudah. Karena tiba-tiba dalam kehidupan nyata jiwa harus berinteraksi dengan dunia tak kasat mata. Aku membatin sembari terus menatap nenek Kam.
“Libur sekolah aku akan pulang ke Besemah, Eyang. Bukan pulang dengan batin saja, tapi ingin pulang dengan jasadku.” Ujarku.
“Banyak sekali keinginan-keinginan di dadamu, Selasih. Manusia kok banyak sekali masalah ya?” Datuk Sarik kembali tertawa.

Aku menguap beberapa kali. Baru terasa jika aku letih. Waktu sudah mendekati subuh. Sudah pukul empat pagi. Sebentar lagi nampaknya Eyang Kuda dan Datuk Sarik akan ke masjid Jamik. Masjid singgahan para lelembut. Aku segera pamit pulang. Sebelum pulang Datuk Sarik memberikan sesuatu padaku yang ditiupkannya ke telapak tanganku. Kami berjanji akan bersua kembali di gunung Bungkuk suatu saat bersama Eyang Kuda.

Jalanan Kampung Bali hingga ke Rawa Makmur masih sepi. Beberapa kendaraan kulihat melintas sebelum azan subuh tiba. Mereka para pedagang mengejar waktu untuk segera menggelar dagangannya ke Pasar Minggu. Pasar tradisional, pusat pasar di Bengkulu sejak dulu. Konon pasar ini adalah adalah pasar yang digelar sepekan sekali. Setiap hari Minggu. Lama-kelamaan menjadi pasar yang besar terus berkembang hingga kini. Aku buru-buru menuju rumah
“Putri Selasih‚Ķselamat pagi? Puas ya petualang sendiri. Coba kalau mau beramah-ramah denganku, kan bisa kutemani. Dijamin kamu tidak akan kesepian lagi.” Tiba-tiba siluman ular putih menyapaku lagi. Sejenak aku berpikir, apa perlu kuhantam makhluk satu. Tapi kembali kunasehati diriku, jangan terlalu mudah mengambil kesimpulan. Belum tentu makhluk asrama satu ini berniat jahat meski kelihatan nyeleneh. Buktinya kakek Njajau, Datuk Sarik, adalah sosok-sosok yang kadang membuat kita ikut senewen.
“Selamat pagi siluman ular. Selamat istirahat. Capek kan ngikutin manusia seperti aku.” Sapaku menahan diri agar tidak terlihat emosi.
“Terimakasih Selasih, aku tidak capek, karena dari tadi aku menunggu di sini sambil menjaga rumahmu. Selamat istirahat juga Selasih. Izinkan aku tinggal di sini ya” Nada suaranya ramah, tidak seperti tadi. Kulempar senyum padanya. Aku bergegas wudu, menunggu waktu subuh tiba. Angin berhembus pelan. Terasa sangat dingin. Bulan semakin condong ke barat. Bayangan pohon bunga tanjung seperti sosok penari andung bergoyang-goyang anggun ke sana kemari.

Bersambung…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *