Delapan Seniman Indonesia Tampil di Salon Destructuralisme Figuratif Art Project ke-6 di Paris

Sita Phulpin – France

Sejumlah karya seniman Indonesia hadir di antara karya-karya seniman dari berbagai negara dalam pameran seni rupa bertajuk Salon Destructuralisme Figuratif Art Project ke-6 di Paris. Pameran yang digagas oleh Asosiasi Destructuralisme Figuratif ini merupakan pameran bersama para seniman yang menampilkan karya-karya seni nonstruktural, yang memporak-porandakan figur, rupa, dan bentuk. Pameran ini mengobrak-abrik norma-norma seni konvensional yang telah menjadi pakem dalam karya dan bentuk-bentuk keindahan klasik atau tradisional. Masyarakat awam lebih mengenalnya dengan sebutan seni rupa abstrak.

Subjektivitas seniman merupakan penggerak utama dalam proses berkarya. Eksplorasi dan pengalaman pribadi sang seniman terhadap suatu bentuk terasa sangat kental.

Karya Raexsyaf Arrahman, bentuk mata bahan dari lilin

Pameran kolektif ini digelar di Serre de l’Orangerie, atau rumah kaca di Parc André Citroën, yang berada di distrik ke-15 Paris, pada 3–11 Oktober 2026. Selain Ronny Jiang, seniman Indonesia yang juga merupakan pendiri dan ketua Asosiasi Destructuralisme Figuratif, ada tujuh seniman Indonesia lainnya yang turut menampilkan karya mereka. Mereka adalah Airis Sabriena, Aytra (Ahmad Edi), Dandy Diwangkara, Fatkur Rokhim, Gravila Pranata, Muhammad Yakin, dan Raexsyaf Arrafman.

Karya-karya para seniman Indonesia tersebut tidak begitu saja bisa hadir dalam pameran itu.

Ronny Jiang, ketua dan pendiri Asosiasi Destructuralisme Figuratif sekaligus ketua panitia Salon Destructurakisme Figuratif Art Project

“Bukan karena saya sebagai ketua gelaran acara ini adalah orang Indonesia, lalu seniman Indonesia bisa begitu saja ikut dalam pameran tahunan ini. Semuanya melalui proses kurasi yang ketat,” ujar Ronny Jiang di sela-sela acara pembukaan pameran.

Sebelumnya, Yuliana Huyn dari asosiasi Seni7, sebuah asosiasi Indonesia yang bergerak di bidang penyelenggaraan pertunjukan dan pameran seni, melakukan seleksi awal.

“Saya memilih karya-karya para seniman Indonesia yang sesuai dengan tema yang diusung oleh penyelenggara. Karya-karya tersebut kemudian kita ajukan ke panitia untuk diseleksi lagi. Dewan juri terdiri dari 12 orang,” jelas Yuliana, yang lebih akrab dipanggil Sandhy.

Ketujuh seniman Indonesia yang diajukan kepada penyelenggara masing-masing menampilkan sesuatu yang berbeda. Tiap seniman memiliki konsep, teknik, dan media yang berbeda. Tujuannya agar penikmat seni yang datang bisa melihat secara jelas perbedaannya dan mudah mengingat mereka. Di dunia yang cenderung menginginkan penyeragaman seperti saat ini, keberagaman itu sendiri justru menjadi suatu kekuatan.

“Benang merahnya adalah destruktur bentuk,” imbuhnya.

Latar belakang para seniman Indonesia yang mengikuti pameran itu pun beragam. Ada yang murni mendedikasikan diri di dunia seni, seperti Muhammad Yakin dari Yogyakarta, Aytra, dan Raexsyaf Arrafman, yang terkadang mengambil pekerjaan tambahan sebagai barista di sebuah kafe di Paris.

Muhammad Yakin, kelahiran Bukittinggi, telah malang melintang di dunia seni rupa dan mengikuti berbagai pameran seni, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dia pernah meraih The UOB Painting of the Year (Indonesia) 2024, sebuah penghargaan seni rupa bergengsi di Asia Tenggara yang diberikan oleh The Overseas Union Bank Singapore. Tahun ini, dia juga mengikuti pameran Artjog di Museum Nasional Yogyakarta dan Artjak Jakarta.

Sementara itu, Aytra mulai menceburkan diri sepenuhnya ke dunia seni pada tahun ini. Pameran ini merupakan pameran kolektif ketiganya.

Aytra

Seniman lainnya, seperti Airis Sabriena, Dandy Diwangkara, Fatkur Rokhim, dan Gravila Pranata, berkarya di tengah kesibukan mereka bekerja di bidang lain.

Givi, panggilan akrab Gravila Pranata, secara jujur mengakui bahwa pekerjaan utamanya di dunia perhotelan justru bertujuan untuk mendukungnya berkarya di bidang seni. Dia mengerjakan karya-karyanya sepulang bekerja.

Gravila dan karyanya

Dalam pameran ini, Givi menggunakan bahan baku kulit telur yang dibalut dan diukir dengan tanah liat untuk mengekspresikan diri. Baginya, seluruh kehidupan bermula dari telur. Tanah liat menjadi simbol bahwa manusia, yang berasal dari tanah, pada akhirnya akan kembali menjadi tanah.

Karya Gravila

Seperti Givi, Airis Sabriena, seorang insinyur yang telah meraih gelar master di bidang pertanian-pangan di salah satu universitas ternama di Paris, belum ingin melepaskan pekerjaannya di bidang agrobisnis. Meskipun sejak remaja dia telah akrab dengan dunia seni, dia sadar bahwa dirinya belum siap menjadikan seni rupa sebagai sumber penghidupan utamanya.

Airis Sabriena dan karyanya barong Bali

Dandy Diwangkara, seorang arsitek yang merupakan mantan penari balet di London, mengusung kertas sebagai bahan dalam karya-karyanya kali ini.

Dandy menggunakan bahan-bahan yang 100 persen didaur ulang. Kertas menjadi media utama bagi mantan penari balet di London ini dalam berkarya.

Dandy Diwangkara dan karyanya

“Bagi saya, kertas mendominasi hidup kita. Kertas memiliki berbagai makna. Sejak lahir, hidup kita tak pernah lepas dari kertas. Sepanjang hayat, status kita ditentukan oleh kertas. Begitu lahir, nama kita harus dicatat di atas kertas, di Kartu Keluarga, KTP, ijazah. Meskipun sekarang nyaris semuanya sudah terdematerialisasi, pada dasarnya semua itu berangkat dari kertas.“

Sita dan Dandy

“Karya-karya yang saya tampilkan semuanya berasal dari kertas dan bahan daur ulang. Sengaja saya menggunakan kertas bekas yang tidak mulus, seperti halnya hidup manusia. Tidak mulus, penuh guratan-guratan pengalaman hidup yang tak perlu kita sembunyikan,” jelas arsitek yang bermukim antara Marseille dan London ini.

Karya Dandy Diwangkara

Bagi Fatkur Rokhim, yang pernah bekerja di bidang perhotelan dan menempuh pendidikan sebagai seorang floris, pameran ini menjadi ajang perdana baginya setelah didorong untuk menampilkan karya oleh Seni7.

“Dia ini sangat berpotensi di dunia art digital. Nantinya kami akan berkolaborasi dengan Fatkur,” tutur Sandhy menutup percakapan.

Mudah-mudahan semakin banyak seniman Indonesia yang berhasil mengikuti pameran seni rupa berskala internasional, baik di Prancis maupun di negara-negara lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *